Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 3


__ADS_3

"Tuh dengar sendiri kan kalau aku memang ga sengaja masuk ke sini!" ucap Diko membela diri.


Riana merengut dan tetap kesal melihat Diko yang tanpa penyesalan dari tadi malah marah-marah padanya.


"Dik, lu di kamar nomor berapa? Ini gue ke sana," ucap temannya dari seberang telepon yang masih terhubung dari tadi.


Diko menatap Riana seolah meminta jawaban, kemudian dengan masih manyun dan kesal Riana memberi isyarat melalui jari tangannya yang menunjukkan angka empat.


Dengan cepat Diko memberitahu temannya untuk segera menemuinya di kamar nomor empat. Ia sudah tak sabar ingin cepat-cepat membersihkan nama baiknya di mata pemilik kamar yang tak lain adalah Riana.


Mendengar bahwa teman Diko mau ke kamarnya, dengan sigap Riana langsung berdiri sambil membalut tubuhnya dengan selimut dan pergi berpakaian. Diko melirik dengan ujung matanya, terlihat sekilas tubuh Riana yang hanya menggunakan celana dalam pink dan bra berwarna senada. Sebagai lelaki normal, pemandangan itu cukup membuatnya menelan ludah.


Sambil menunggu temannya datang, Dikopun memungut baju kaos kerah berwarna navy miliknya yang berada di lantai kemudian segera memakainya dan terduduk di pinggir tempat tidur. Ia masih tak habis pikir bisa-bisanya ia mengalami hal memalukan seperti ini. Ia merasa benar-benar kebablasan kali ini.

__ADS_1


Terus dipijitnya kepalanya yang masih terasa berat dan pusing. Ia berfikir bahwa tak seharusnya ia mabuk tadi malam. Kalau saja ia bisa menolak minuman-minuman yang disuguhkan oleh teman-temannya semalam, mungkin kejadian ini tidak perlu terjadi.


Tiba-tiba lamunan Diko dikejutkan suara ketukan pintu. Riana yang telah selesai berpakaian langsung berlari mengintip dari balik gorden, terlihat seorang lelaki berdiri di sana. Kemudian ia membukakan pintu dan terlihat seseorang yang dikenalnya tengah tersenyum tidak enak hati. Lelaki itu tak lain adalah penghuni kamar nomor sepuluh yang sudah dikenalnya sejak awal masuk ke kos ini.


"Mas Rio??? Ini teman kamu?" tanyanya pada lelaki yang ternyata bernama Rio itu.


"Hehehe, iya Ri. Maaf ya temanku salah masuk ke kamar kamu. Soalnya dia mabuk berat tadi malam. Kamu jangan marah ya, ini salahku. Seharusnya aku antar dulu ke kamarku, tapi karena aku ada urusan mendesak jadi aku suruh ke kamar duluan." jelas Rio sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Riana hanya menjawab dengan menyunggingkan senyum. Ia tak tahu harus berkata apa.


"Yaudah Mas Rio, ga apa-apa. Aku juga salah karena lupa kunci pintu," jawab Riana.


"Cepetan lu minta maaf sama Riana" ucap Rio sambil melotot pada Diko.

__ADS_1


"Hehhh, cepetan!" lanjut Rio sambil menarik lengan Diko yang terlihat ogah-ogahan tersebut.


"Iya iya, yaudah maaf ya" ucap Diko seadanya.


Rio semakin tidak enak pada Riana karena melihat sikap Diko yang sangat tidak bersahabat tersebut.


"Yaudah Ri, kita pamit dulu ya. Sekali lagi, kita minta maaf" ucap Rio untuk kesekian kalinya.


"Iya Mas," jawab Riana sambil tersenyum ramah.


Kemudian dua lelaki itupun pergi meninggalkan kamar Riana. Terdengar Diko yang mengomel pada Rio sambil berjalan keluar.


"Nih kunci kamar lu, cepetan anter gue ambil mobil ke parkiran club tadi malam," ucap Diko sambil bersungut-sungut.

__ADS_1


Rio yang tahu bahwa temannya sedang kesal, hanya menurut saja sambil berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya untuk mengantarkan Diko.


Di sepanjang jalan ia hanya bisa pasrah mendengar omelan Diko padanya.


__ADS_2