Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 9


__ADS_3

Diko memarkirkan mobilnya di halaman kantornya. Ia termenung sejenak.


Diremasnya stir yang sedang dipegangnya sambil memejamkan mata. Hatinya benar-benar kacau. Pagi ini moodnya turun karena memikirkan omongan ayahnya tadi.


Dilangkahkannya kakinya turun dari mobil. Kemudian ia pun masuk ke dalam kantornya.


Diko adalah seorang arsitek. Ia dan Joehanssen, teman semasa kuliahnya mendirikan sebuah perusahaan arsitektur profesional yang bernama D' Nuansa. Perusahaannya ini belum terlalu besar namun terbilang cukup sukses untuk kategori perusahaan yang baru berdiri selama 4 tahun. Diko dan Joe merintis usaha ini dari nol hingga saat ini. Mulai dari mereka berdua, kini mereka sudah mempunyai 24 orang karyawan yang bekerja untuk mereka di perusahaan ini.


Diko menghabiskan seluruh tabungannya yang telah ia kumpulkan dengan bekerja di perusahaan asing selama 5 tahun untuk join mendirikan D' Nuansa dengan Joe. Oleh karena itu, tak heran Diko memang selalu fokus untuk bekerja. Karena ia tahu, betapa sulitnya merintis semua ini dari awal sehingga Diko ingin selalu total dalam bekerja.


Diko masuk ke dalam ruangannya. Terlihat Joe sedang berdiskusi dengan seorang karyawan bagian design interior. Diko terus melangkah dan duduk di mejanya.


Memang Diko dan Joe seruangan, untuk memudahkan mereka dalam bekerja dan mengambil keputusan


Joe melirik sahabatnya itu. Terlihat wajah yg datar tanpa senyum sedikitpun. Joe pun kembali melanjutkan diskusinya.

__ADS_1


Sampai akhirnya Joe telah selesai. Ia kembali melirik ke arah Diko. Terlihat Diko sedang fokus pada layar laptopnya.


Ia tidak mau mengganggu Diko yang sedang bekerja, dibiarkannya sahabatnya itu fokus dengan laptopnya. Walapun sebenarnya ia penasaran kenapa Diko terlihat tak bersemangat hari ini.


Diko memang sedang fokus pada layar laptopnya, tapi pikirannya melayang kemana-mana. Ia mencoba untuk berkonsentrasi namun tak juga bisa.


Ia pun menarik nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya yang empuk. Ia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya.


Joe yang melihat apa yang sedang dilakukan Diko langsung yakin bahwa ada yang tidak beres. Ia langsung berdiri dan duduk di kursi yang ada di hadapan Diko.


"Lu kenapa? Ada masalah?" tanya Joe membuka obrolan.


Di dalam otaknya berkecamuk bahwa seandainya Tia harus gagal menikah karena dirinya yang belum bisa menemukan jodoh, Tia pasti benci pada dirinya. Tia pasti kecewa. Diko tidak mau itu terjadi.


Diko menghela nafas berat dan menarik posisi kursinya ke dekat meja sehingga kini ia berhadapan dengan Joe.

__ADS_1


"Apakah standart kebahagiaan orang tua itu adalah pernikahan anaknya?" ucap Diko dengan tatapan menerawang.


Joe terdiam dan heran dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Apa menurut mereka menikah itu menjamin kebahagiaan?" lanjutnya.


"Kan masih banyak kebahagiaan yang lain selain menikah, dan nikah itu kan juga pake proses, bukan asal-asalan" ucapnya sambil melipat kedua tangannya ke atas dada.


Joe mulai paham kemana arah pembicaraan sahabantnya itu.


"Lu diminta untuk segera nikah?" tanya Joe memastikan.


"Tia rencananya nikah bulan depan karena calon suaminya akan pindah tugas. Berhubung calon suaminya itu tentara, jadi bakal sulit untuk izin kalau baru penempatan. Apalagi keluar kota berhari-hari. Dan bokap nyokap ga ngeizinin gue untuk dilangkahin. Mereka minta gue nikah sebelum ataupun barengan sama Tia" jelasnya panjang lebar pada Joe.


"Masalahnya gue ga bisa memutuskan untuk nikah secepat itu" lanjutnya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong lu udah punya calonnya?" tanya Joe yang penasaran, karena setahunya Diko sudah lama sekali tidak punya pacar.


"Kalau gue punya, gue ga bakal bingung Joe" jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


__ADS_2