
Sebuah nomor tak di kenal tampak sedang melakukan panggilan ke ponsel Diko pagi itu.
Riana yang baru saja keluar dari kamar mandi mengambil ponsel tersebut karena melihat sosok Diko tak ada di dalam kamar. Ia berjalan keluar kamar dan melihat Diko sedang berada di ruang TV.
"Mas, handphone kamu bunyi nih" ucap Riana sambil menyodorkan ponsel milik suaminya.
"Dari siapa sayang?" tanya Diko.
"Hmm, ga tau, ga ada namanya" jawab Riana kemudian.
Diko mengambil ponsel tersebut dan segera menjawabnya.
"Halo" sapa Diko.
Riana masih berdiri di sana menunggu jawaban siapakah yang menelepon suaminya.
Tiba-tiba wajah Diko mendadak berubah.
"Tidak perlu, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan" ucap Diko dengan intonasi suara yang tinggi.
Darah Riana langsung berdesir. Ia menebak Pramudya lah yang sedang menelepon Diko.
"Silahkan bicarakan apa yang ingin anda bicarakan di kantor polisi" ucap Diko lagi.
Sepertinya Pramudya tetap keukeuh ingin bertemu dengan Diko dan Riana. Ia memohon agar Diko mau untuk bertemu dengannya di mana pun tempat dan waktu yang Diko inginkan. Ia juga berjanji ini tak akan lama.
__ADS_1
Melihat Diko yang masih bersikeras, Riana duduk dan mengelus punggung tangan suaminya dengan lembut.
"Oke, baik. Jam 1 siang ini di kantor pengacara Yohanes Law Firm di daerah Jagakarsa" ucap Diko dengan nada bicara yang cukup tegas.
Kemudian ia tampak meletakkan ponselnya.
"Mau apa lagi dia?" ucap Diko kesal.
"Kita lihat saja Mas bagaimana itikad dia nanti" jawab Riana menenangkan Diko.
"Pagi-pagi sudah bikin orang kesal saja" ucap Diko sambil mendengus sebal.
"Udah ayo kita sarapan dulu dari pada kamu kesal ga karuan" ucap Riana sambil menarik tangan Diko menuju meja makan.
Di atas meja makan sudah terhidang dua mangkok bubur ayam yang tampilannya benar-benar menggugah selera. Bi Yum memang yang terbaik untuk urusan perut majikannya.
"Udah salah, sekarang telat pula. Sebenarnya dia serius ga sih?" ucap Diko kesal.
Sudah pukul 13.30 lebih, namun Pramudya belum kunjung menampakkan batang hidungnya.
Diko yang memang sudah kesal sejak awal kini menjadi semakin kesal.
Pak Yohanes selaku pengacara mereka hanya bisa tersenyum. Ia paham posisi Diko saat ini.
"Kita tunggu 10 menit lagi, kalau dia tidak datang juga berarti dia tidak mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, kita bubar saja" ucap Pak Yohanes.
__ADS_1
Baru saja Pak Yohanes menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sekretarisnya masuk ke dalam ruangan.
"Maaf Pak, ada Pak Pramudya di luar" ucap sekretarisnya tersebut.
"Suruh langsung masuk" jawab Pak Yohanes yang diikuti anggukan sekretarisnya.
Tak lama kemudian terlihat Pramudya masuk ke dalam ruangan tersebut dan juga didampingi oleh pengacaranya.
Pak Yohanes mempersilahkan mereka untuk masuk dan duduk di bangku yang berada berhadapan dengan Riana dan Diko.
"Maaf kami terlambat dan telah membuat semuanya menunggu" ucap Pramudya.
Diko langsung membuang muka dengan wajah yang terlihat malas untuk mendengarkan alasan Pramudya.
"Baik, karena semua telah hadir. Kita langsung saja ya" ucap Pak Yohanes.
"Berdasarkan info dari klien kami, Pak Pramudya ingin menyampaikan sesuatu. Silahkan langsung di sampaikan saja" ucap Pak Yohanes lagi.
"Baik Pak, klien kami ingin menyampaikan permohonan maaf pada Bu Riana dan Pak Diko secara langsung" ucap pengacara Pramudya.
"Saya benar-benar menyesal dan meminta maaf dari hati saya yang paling dalam. Tak ada kata lain selain maaf yang bisa saya ucapkan. Tapi satu hal, tak ada sedikitpun niat buruk saya terhadap Riana, apalagi niat untuk menyakiti. Saya benar-benar terbawa suasana saat itu, saya tidak berniat jahat. Saya tahu apapun alasan saya, apa yang telah saya lakukan itu adalah sesuatu yang salah. Dengan adanya upaya saya menghapus beberapa bagian video itu juga saya akui itu kebodohan saya yang saya lakukan karena saya panik dan takut. Saya meminta maaf dengan sangat tulus, apa yang saya ucapkan ini benar-benar dari hati dan yang sebenarnya" ucap Pramudya.
"Baik, sudah cukup? Kita akan mempersilahkan Pak Diko ataupun Bu Riana untuk memberikan tanggapannya" ucap Pak Yohanes yang berperan sebagai penengah di sini.
"Kemudian, ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan" ucap Pramudya dengan cepat. Ternyata ia belum selesai berbicara.
__ADS_1
"Saya memohon dengan sangat, Pada Riana dan suami untuk mempertimbangkan kembali atas laporannya ke kepolisian. Saya begitu berharap agar laporan tersebut tidak di teruskan, saya tahu tindakan saya ini begitu lancang. Bukannya saya tidak ingin menerima hukuman untuk perbuatan saya, saya memikirkan nasib perusahaan saya jika saya tidak ada, dan juga reputasinya yang pasti akan sangat menurun drastis karena kejadian ini. Saya akui semua ini kesalahan saya, sekali lagi saya memohon dengan sangat untuk kembali mempertimbangkan tentang laporan itu" ucap Pramudya menyelesaikan penjelasannya.
Riana dan Diko tampak berpandangan mendengar ucapan Pramudya.