Tamu Hati Tak Diundang

Tamu Hati Tak Diundang
BAB 66


__ADS_3

"Kalian baik-baik saja kan Ri?" tanya Bu Hesti saat ia dan Riana sedang memasak untuk makan malam.


"Baik Ma, aku sama Mas Diko sehat" jawab Riana sambil memasukkan ayam ungkep ke dalam wajan.


"Bukan begitu maksud Mama. Tapi, hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Bu Hesti kembali.


"Oooh, ituu" jawab Riana yang mulai gugup.


"Baik kok Ma, aku sama Mas Diko baik-baik aja" jawabnya dengan salah tingkah.


"Hmm, syukurlah. Mama harap kalian akur terus. Kalau seandainya ada yang tidak kamu sukai dari Diko, Mama mau kamu beritahu Mama ya Ri. Biar nanti Mama yang bantu supaya Diko lebih baik lagi" ucap ibu mertuanya sambil memandang Riana penuh harap.


"Iya Ma, udah Mama jangan pikirin yang macam-macam ya. Aku sama Mas Diko mudah-mudahan selalu akur, selalu sama-sama sampai tua" jawab Riana mencoba menenangkan.


"Aamiin. Mama juga berdoa begitu untuk kalian. Diko itu kadang-kadang memang ngeselin, tapi dia juga penyayang" ucap Bu Hesti.


"Iya Ma, Mas Diko selalu baik sama aku. Mama tenang aja ya" jawab Riana sambil mengelus lengan ibu mertuanya itu.


"Eh ada apa ni? Kok serius banget?" tanya Tia yang baru saja memasuki dapur berniat untuk membantu.


"Ih kepo banget sih kamu, ini rahasia kita kan Ri?" goda Bu Hesti sambil merangkul Riana.


"Ih nyebelin banget sih pake rahasia-rahasiaan. Yaudah ah aku pergi aja kalau gitu" rajuk Tia pura-pura mau keluar dapur.


"Dih, gitu aja ngambek" ucap Bu Hesti lagi.


Tawa mereka pun terdengar ramai memenuhi dapur disertai suara gemericik minyak goreng dari dalam penggorengan.

__ADS_1


Riana lega bisa melihat ibu mertuanya kembali ceria dan bisa tertawa lepas seperti saat ini.


...***...


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Tapi Riana tak juga bisa memejamkan matanya.


Ia gelisah sambil meringkuk memegangi perutnya. Berkali-kali ia berpindah posisi untuk mencari posisi paling nyaman tapi tak juga ia temukan.


Perutnya terasa kram, paha dan betisnya linu luar biasa. Riana mengalami dismenore karena kedatangan tamu bulanan.


Keringat dingin mengucur di dahinya karena menahan sakit. Tiba-tiba, muncul rasa mual tak tertahankan.


Riana langsung melompat turun dari tempat tidur kemudian segera ke kamar mandi. Ia muntah sejadi-jadinya mengeluarkan isi perutnya saat itu.


Diko terperanjat kaget. Ia langsung melihat apa yang sedang terjadi pada Riana di dalam kamar mandi.


"Kamu kenapa? Apa salah makan?" tanya Diko panik.


Riana menggeleng, ia lemas karena baru saja muntah.


Diko menangkap tubuh Riana yang lunglai seperti tak bertenaga. Dipapahnya, kemudian dibaringkannya di tempat tidur.


"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Diko sambil meraba dahi Riana.


"Aku sudah biasa begini kalau lagi haid. Seluruh badanku terasa sakit, terutama di sini dan di sini" ucapnya lemah sambil menunjuk perut dan pahanya.


"Terus biasanya gimana? Kamu ada obatnya?" tanya Diko yang baru kali ini menghadapi wanita yang sedang PMS.

__ADS_1


"Obatnya di rumah. Aku ga bawa" jawabnya.


"Ya ampun, kalau gitu aku cari pereda nyeri di dapur ya" ujar Diko yang berniat turun dari tempat tidur.


Riana sontak menarik lengan Diko.


"Ga usah Mas, mudah-mudahan sebentar lagi enakan" jawab Riana menolak.


"Terus sekarang gimana? Aku harus apa supaya kamu enakan?" tanya Diko sambil mengelus rambut Riana yang basah karena keringat dinginnya.


Riana menggeleng tak menjawab pertanyaan Diko karena sedang merasa kesakitan.


Diko pun berinisiatif mengelus perut Riana dengan lembut. Riana merasakan ada kenyamanan yang membuatnya sedikit merasa lebih baik.


"Gimana? Udah enakan?" tanya Diko sambil terus mengelus perut istrinya.


Riana mengangguk sambil berusaha tersenyum.


"Yaudah kamu tidur ya biar hilang sakitnya" ucap Diko.


Riana mengangguk kemudian memejamkan matanya mencoba untuk tidur.


Diintipnya sedikit, terlihat Diko yang masih terduduk di sampingnya dengan tangan yang terus mengelus perutnya dengan lembut. Matanya terlihat terpejam, serta kepalanya terangguk-angguk sambil menahan kantuk.


Ada rasa bahagia menyelinap dalam diri Riana melihat perhatian Diko. Diko yang semakin hari semakin terlihat berbeda dari Diko yang dulu.


Kini Diko yang ia benci perlahan berubah nenjadi seorang Diko yang penyayang dan penuh perhatian.

__ADS_1


__ADS_2