
Riana mendengar suara ramai dari lantai bawah. Sepertinya Diko dan keluarganya sudah tiba.
Riana semakin deg-degan. Perasaanya campur aduk kini. Tak lama lagi dirinya akan dipinang oleh seseorang.
Dan besok sudah jadi istri orang. Rasa nya seperti mimpi.
Perasaan baru saja ia dan Mei di kantor sedang menggalaukan perihal jodoh yang belum jelas kedatangannya. Tiba-tiba kini ia sudah dilamar.
Memang Tuhan adalah planner terbaik baginya. Disaat ia galau dan bingung, Tuhan kirimkan jawabanNya.
Sekitar 30 menit terdengar samar-samar perbincangan antara kedua keluarga di lantai bawah, tiba-tiba Farah, anak sulung Budhe Retno masuk ke dalam kamar Riana.
"Dek, udah waktunya keluar. Ayo" ucapnya pada Riana yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Mbak, aku deg-degan banget ini" ucap Riana sambil mengelap dahinya yang sedikit berkeringat.
"Udah ga apa-apa, dulu Mbak pas lamaran juga deg-degan, biasa itu. Nanti kamu jawab iya iya aja biar cepet dan ga keliatan grogi. Ayo kamu gandengan sama Mbak, kita turun" ucap Farah sambil mengambil tangan Riana agar bergandengan dengannya.
Mereka berdua keluar dari kamar, kemudian menuruni tangga.
Semua mata langsung tertuju pada Riana.
Riana terlihat begitu cantik dan anggun. Dengan mengenakan kebaya putih bermodel sheath dress berbahan brukat yang melekat fit di tubuhnya, menonjolkan bentuk tubuhnya yang indah dan menawan Riana menuruni satu persatu anak tangga dengan perlahan. Ditambah dengan tatanan rambut ala blow bun alias sanggul modern yang membentuk pita disertai sematan beberapa bunga kecil berwarna putih yang mempertahankan kesan cute dan girly semakin membuat kecantikannya terpancar sempurna.
Air mata Budhe Retno dan Tante Risna yang tak lain adalah saudara kandung ayahnya seketika meleleh. Mereka sedih bercampur haru melihat Riana yang sebentar lagi akan menikah namun tak bisa ditemani oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Sambil berjalan menuruni tangga, Riana memandangi betapa bagusnya dekorasi acara hari itu. Backdrop bertema bunga-bunga berwarna putih tulang yang bertuliskan nama Riana dan Diko membuat suasana lamaran kian kental terlihat. Budhe Retno benar-benar total dalam mengatur segalanya.
Sesampainya dilantai bawah, Riana di pandu oleh Farah untuk duduk di tengah-tengah antara Budhe Retno dan Pakdhe Heri.
Kemudian ia ditanya oleh Pak Ridwan selaku wali dari Diko atas kesediaannya untuk menerima lamaran Diko.
Riana pun mengangguk setuju. Para keluarga serentak mengucapkan alhamdulillah.
Dipandanginya wajah Diko yang kebetulan sedang memperhatikan dirinya. Disunggingkannya senyum yang begitu manis sebagai pertanda bahwa saat ini dirinya begitu bahagia.
Diko pun membalas senyuman manis Riana, sembari berdoa di dalam hati bahwa ini adalah benar pilihan terbaiknya.
Tak lama kemudian acara lamaran telah selesai di laksanakan. Anggota keluarga terlihat menikmati hidangan yang telah tersedia, ada juga beberapa yang sedang berfoto ria bersama Riana dan Diko sang calon pengantin.
Namun, memang mereka semua tak bisa terlalu lama menikmati suasana karena jadwal yang padat karena acara pernikahan akan berlangsung esok hari.
Kedua keluarga bergegas bertolak ke hotel untuk melakukan meeting dengan wedding organizer dan beberapa vendor terkait acara besok.
Kedua keluarga pun menginap di hotel tersebut guna memudahkan akses untuk segala keperluannya. Segala sesuatunya harus dilakukan seefisien mungkin mengingat acara akan berlangsung di pagi hari.
"Mas," ucap Riana sesaat sebelum menuju kamar masing-masing setelah meeting.
"Ini ATM yang kamu kasih ke aku kemarin" ucap Riana sambil merogoh tasnya kemudian memberikan sebuah kartu ATM pada Diko.
"Terus kok dibalikin?" tanya Diko.
__ADS_1
"Budhe Retno ga mau Mas soalnya kalau kamu yang tanggung semua acara" jawab Riana sambil terus menyodorkan kartu ATM milik Diko.
"Aku ga mau Ri, ini acara kita. Kasian Budhe Retno udah repot, capek juga ngurusin ini semua" ujar Diko sambil menolak.
"Mas, aku juga udah bilang begitu ke Budhe dan Pakdhe" jawab Riana.
"Terus?" tanya Diko.
"Ya tetep ga mau. Budhe bilang mereka sudah janji sama Papa bakal ngurusin aku sampai aku nikah. Bahkan sebelum Mama meninggal, mama nitipin satu surat tanah ke Budhe untuk biaya nikahan aku kalau Mama udah ga ada" jawab Riana mulai berkaca-kaca.
"Tapi kemarin Budhe balikin suratnya ke aku. Budhe ga mau pake itu Mas. Budhe bilang aku juga anaknya mereka, bukan orang lain" lanjut Riana dengan air mata yang mulai menetes.
"Aku ga bisa ngomong apa-apa lagi Mas jadinya" ucapnya lagi.
Riana mengusap air matanya yang menetes mengingat kebaikan keluarganya pada dirinya.
Diko sontak menarik tubuh Riana ke pelukannya. Dipeluknya wanita itu, diusap punggungnya untuk menenangkannya.
"Kamu beruntung Ri punya keluarga yang sangat baik. Udah, jangan sedih, ada aku" ucap Diko.
"Nanti kita coba ngomong lagi ke Budhe dan Pakdhe ya, mana tau mereka mau terima" lanjut Diko sambil melepaskan tubuh Riana.
Dilapnya air mata Riana yang masih tersisa di ujung matanya.
Riana mengangguk sambil ikut mengusap sisa air mata yang masih membasahi wajahnya.
__ADS_1