
Amelia mengerjapkan matanya, suasana di dalam kamarnya memanas, dia melihat sudah ada bunda dan ayah di kamarnya, dia juga melihat ada suami dan ibu mertuanya.
"Bunda?" panggilnya, masih terasa pusing dan perih di bagian sudut bibirnya.
"Amelia!" ucap bunda sembari memeluk Amelia.
"Oh, tuan putri sudah bangun! baguslah! sekalian saja semuanya diperjelas!" ucap Dahlia.
"Ibu!" ujar Arga hendak melarang ibunya.
"Sudah Arga! Kamu tidak usah melarang ibu!"
"Tadi, Dokter bilang, bahwa Amelia sedang mengandung! Itu anak siapa?" tanya Dahlia menatap tajam ke arah besannya.
"Apa? Hamil?" gumam Amelia tidak percaya, padahal hanya sekali ba*******ngan itu menyentuhnya.
"Itu tidak mungkin!"
"Hiks .... hiks .... hiks!" tangis Amelia.
"Bagaimana nasib pernikahanku? Mengetahui aku sudah tidak suci saja, suamiku begitu jijik melihatku! Apalagi setelah mengetahui aku hamil anak orang lain?" batin Amelia, dunianya serasa hancur.
"Apa?" reaksi ayah sangat kaget.
"Kalian tidak bisa menjawabnya kan? Sudahlah Pak Rahman! Semuanya sudah jelas, kalian semua memang seorang penipu! Kalian semua memang pembohong besar! Bagaimana kau bisa mendidik putrimu, kalau kelakuan orang tuanya seperti kalian?" hina Dahlia.
"Arga, sebaiknya kau ceraikan saja istrimu! Dia hanyalah wanita hina, tidak perlu kau melanjutkan pernikahanmu!" tegas Dahlia.
"Tapi, Bu?" Arga tidak tahu harus berbicara apa, dia terlalu syok mendengar kabar ini.
"Ayo, kita pulang! Untuk apa kita disini! Cepat pulang!" Dahlia menarik tangan Arga, untuk keluar dari kamar istrinya. Arga menuruti kemauan ibunya, hatinya bingung harus bagaimana.
Amelia menangis tersedu-sedu, hatinya benar-benar sakit, Bunda memeluknya dengan erat. Ayahnya pun demikian, ayahnya hanya bisa memberikan dukungan untuk Amelia, dia hanya bisa diam dihina dan dicaci oleh besannya. Memang semua kejadian ini adalah kesalahannya. Andaikata dia tidak memaksa putrinya, untuk melanjutkan pernikahannya, mungkin Amelia tidak sesakit dan sesedih ini.
Tiba-tiba ayahnya merasakan pening di kepalanya, bunda tahu kalau suaminya sedang tidak baik-baik saja. Bunda pun mengajak suaminya pulang, namun bunda juga merasa bingung, pasalnya tidak ada yang menjaga Amelia di Rumah Sakit.
"Bunda, pulang saja! Amelia sudah baikan, kasihan ayah!" ucap Amelia kepada bundanya.
"Kamu yakin tidak apa-apa bunda tinggal sendiri di Rumah Sakit?" tanya bunda.
"Iya, Bun! Bunda tenang saja! Amelia sudah baikan kok, sudah sehat!"
__ADS_1
"Sekarang ayah dan bunda pulang saja! Biarkan ayah istirahat di rumah, kasihan ayah, Bun!" ujar Amelia.
"Kamu yakin tidak apa-apa, Nak?" tanya ayah.
"Iya ,yah!" jawab Amelia.
Sebenarnya Amelia juga sedang tidak baik-baik, dia butuh seseorang untuk menghiburnya, namun menahan ayah dan bundanya di Rumah Sakit, Amelia tidak tega.
Setelah Amelia membujuk ayah dan bundanya, Akhirnya mereka menurut juga untuk pulang, dengan berat hati ayah dan bunda meninggalkan Amelia sendiri di Rumah Sakit.
Ayah pulang ke rumah dengan mengendarai motor, bunda duduk di belakang membonceng ayah.
Cuacanya kurang mendukung, tiba-tiba hujan deras mengguyur kota, bunda menyuruh suaminya untuk berteduh sebentar, namun suaminya menolak, suaminya terus saja melajukan motornya menerobos hujan yang sangat deras.
Kata-kata besannya masih terus terngiang di telinganya. Sampai di belokkan, ia tidak menyadari ada sebuah truk besar berhenti di depan, ayah mengerem motornya secara mendadak, membuat tubuh bunda terpelanting ke aspal dan kepalanya membentur aspal dengan keras, bunda mengeluarkan darah begitu banyak.
Sedangkan motor ayah menabrak truk didepannya, kecelakaan pun tidak terelakkan.
CHIIIIIT..
BRUGH..
Amelia hendak mengambil gelas untuk minum, tenggorokannya terasa kering, namun tangannya tidak bisa menjangkaunya, hingga gelas yang hendak diambilnya jatuh dan pecah.
Amelia mempunyai firasat yang tidak baik. Tiba-tiba hatinya begitu gelisah, pikirannya tidak tenang. Amelia mencoba untuk menghubungi ayah dan bundanya, namun ponselnya tidak aktif.
Sedangkan di sebuah club malam, Arga nampak termenung. Hatinya sama-sama hancur, harusnya dia bahagia dengan pernikahannya, justru sebaliknya.
Arga menenggak segelas wine, untuk melupakan masalahnya. Dia tidak mau terlalu mabuk, akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Arga menjalankan mobilnya, namun dirinya tidak ingin pulang ke rumah, dia juga masih enggan bertemu dengan istrinya. Sampai akhirnya Arga mengarahkan mobilnya menuju Apartemen. Dengan sempoyongan Arga memasuki Apartemen.
Tok...tok...tok
CEKREEK
"Pak, Arga?" ucap Ratih terkejut melihat penampilan bosnya yang berantakan, Arga menjatuhkan tubuhnya, Ratih menangkapnya, dia memapah tubuh besar Arga masuk ke dalam Apartemen.
"Ada apa, Pak?"
"Kenapa bapak mabuk?" tanya Ratih cemas.
"Aku harus bagaimana?"
__ADS_1
"Wanita yang aku cintai, hamil dengan pria lain!" ucapnya, bicara melantur.
"Ayo, duduk!" ucap Ratih memapah tubuh bosnya agar duduk di sofa.
"Saya ambilkan air dulu!" ucap Ratih meninggalkan bos-nya sendiri di ruang tamu, Ratih ke dapur untuk membuatkan air perasan lemon, air ini sangat baik untuk menghilangkan rasa pusing ketika mabuk.
Dengan telaten Ratih memberikannya kepada Arga, dengan menggunakan sendok, air lemon berhasil masuk ke mulut Arga.
Huft..
"Ada apa dengannya?" batin Ratih. Ratih mengamati wajah bosnya.
"Hmm, sangat tampan!" gumamnya.
"Aku memang tampan!" ujarnya, ternyata Arga bisa mendengar ucapan Ratih, padahal Ratih hanya bergumam lirih, dia jadi sangat malu.
Arga menatap manik Ratih, sangat dalam. Hingga tidak sadar, Arga mencium bibir rasa mint itu. Ratih tidak menolak, karena memang dari awal Ratih sudah memiliki perasaan untuk bosnya.
Ratih menikmati setiap ******* bibir bos-nya, bahkan tangan nakal bos-nya yang menjelajahi bukitnya pun tidak dia tolak.
Sentuhan demi sentuhan yang dia terima, membuat hasratnya bergejolak. Arga membopong tubuh Ratih ke tempat tidur.
Sampai akhirnya, Arga mengambil dengan paksa mahkota yang masih tersegel itu. Ratih hanya menikmati sentuhan demi sentuhan Arga, bahkan menikmati rasa sakit di bagian intimnya. Ratih menangis karena mahkotanya sudah terenggut, ada rasa sedih dan sedikit bahagia. Dia menoleh ke samping, bos-nya langsung tertidur pulas setelah menikmati goanya. Ratih pun ikut tertidur disampingnya.
Keesokkan paginya, Arga terbangun. Masih sedikit pusing di bagian kepalanya. Sekilas Arga mendengar suara tangisan disampingnya, dia menoleh ke sumber suara. Tenyata itu adalah Ratih.
Arga juga menyadari bahwa dirinya sudah merenggut mahkota milik Ratih tadi malam, Arga benar-benar merutuki kebodohannya.
Gara-gara dirinya mabuk, dia telah melakukan suatu kesalahan besar.
Hiks...hiks.....hiks
"Maafkan aku, Ratih!" ucap Arga, merengkuh tubuh Ratih yang masih polos.
"Aku janji, Aku akan bertanggung jawab!" janji Arga.
"Benarkah, Pak! Bapak mau menikah dengan saya?" tanya Ratih memastikan.
"Iya, Ratih! Saya berjanji!" ujarnya sambil memeluk tubuh Ratih yang masih polos, karena terjadi gesekan-gesekan diantara kulit keduanya, membuat gairah mereka bangkit kembali, mereka pun mengulangi kegiatan panas tersebut sampai berkali-kali.
to be continued.....
__ADS_1