
Kawasan Bebas Bocil
Alina langsung memakai pakaian lingerie seksi yang sudah dipersiapkan oleh sang Mama. Dia sangat kesal dengan sang Mama. Pasalnya, semua pakaian yang ada di koper berubah menjadi lingerie yang sangat seksi. Banyak pilihan dan warna yang sangat cantik.Tinggal dia memilih ingin warna dan model seperti apa.
"Astaga, Apa-apaan ini? Kenapa semuanya seperti ini?" ucap Alina mengerucutkan bibirnya. "Ck, Mamah benar-benar jahat. Masa aku harus memakai pakaian seperti ini! Mana pakaiannya kekurangan bahan. Di dada bolong, di punggung juga bolong. Bagaimana aku memakainya? Kalau aku memakainya, aku seperti wanita murahan," berkali-kali dia mengumpat mamanya.
Terpaksa Alina memakainya. Mendengar suaminya membuka daun pintu, dia langsung berlari ke tempat tidur, dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kepala.
Bram yang baru keluar dari kamar mandi, melihat tingkah aneh istrinya, tentu saja dia langsung mendekat.
"Sayang?" panggilnya. Namun tidak ada suara dari bawah selimut. Hingga terpaksa Bram harus menarik selimut itu. Terasa susah untuk membukanya. Dia yakin, istrinya sengaja tidak membuka selimut itu.
"Sayang? Kenapa kau menutup seluruh tubuhmu dengan selimut?" goda Bram. "Apakah kau tidak mau melihat anaconda yang menggeliat-geliat di dalam kandangnya?" tanya Bram berusaha menggoda istrinya. Dia tahu kalau istrinya berpura-pura tidur.
"Sayang? Ayo buka selimutnya!"
Bram yang merasa tidak tahan, akhirnya membuka selimut itu dengan paksa. Membuat selimut itu tersingkap, dan memperlihatkan tubuh sang istri dengan pakaian yang kurang bahan itu.
"Ish, kenapa harus dibuka? Aku malu, Bang!" ucapnya, berusaha untuk merebut selimut itu dari tangan Bram.
"Kenapa harus malu? Toh, kita sudah halal," ujarnya. "Kamu sangat cantik, Sayang," ucap Bram dengan lembut. Bram menelan salivanya, melihat kemolekan tubuh sang istri.
"Tapi, aku malu Bang. Aku harus berpakaian seperti ini," ujarnya.
"Kamu sangat cantik, Sayang. Jadi, kamu tidak perlu malu,"
"Benarkah?" tanya Alina.
"He'em," di jawab anggukan oleh suaminya.
Bram mencium bibir istrinya dengan lembut. Dan memberikan sentuhan-sentuhan di daerah sensitif Alina. Membuat Alina menggelinjang kegelian dan kenikmatan.
Tidak sampai disitu, Bram juga memberikan tanda kepemilikannya di seluruh tubuh sang istri. Membuat tubuh Alina dipenuhi dengan tato merah dari suaminya. Hingga mereka sama-sama terbakar oleh birahi.
__ADS_1
Malam itu juga mereka melakukan penyatuan dengan pasangan halal. Bram sangat susah memasukkan anakondanya di lubang yang tidak pernah terjamah oleh manusia. Hingga dirinya mengalami kesulitan, berkali-kali mencoba namun hasilnya nihil. Hingga sepersekian kali, dia berusaha, akhirnya nasib baik berpihak kepadanya. Selaput dara itu berhasil dia robek dengan segala usaha dan do'a.
Sampai di titik puncak, akhirnya mereka sama-sama mencapai *******. Tubuh mereka sama-sama ambruk dan tidak berdaya. Bram merasa sangat bahagia karena anacondanya yang selama ini dia jaga mendapatkan rumah yang masih baru dan masih tersegel.
Bram mencium kening istrinya dengan sayang. Tubuhnya terasa sangat lelah, mereka pun langsung tertidur dengan pulas di bawah selimut yang sama tanpa memakai bahan secuil pun. Lingerie mahal yang dibelikan oleh Mamanya, teronggok begitu saja tanpa bentuk. Pasalnya, sebelum melakukan ritual suami istri, Bram merobek dengan paksa. Membuat lingerie mahal itu, sobek dan tidak bisa digunakan lagi.
Berbeda dengan Bram, pasangan suami istri Thomas dan Amelia tidak kalah seru. Mereka juga tidak mau kalah dengan pasangan pengantin itu. Thomas berkali-kali mengerjai tubuh istrinya, dikala Aska sedang tertidur dengan pulas. Dan kebetulan juga, Sherly si pengganggu kecil itu, tidak ada bersama mereka. Membuat Thomas begitu bahagia, dan tersenyum penuh kemenangan.
Sampai di titik pelepasan, tubuh mereka sama-sama ambruk. Amelia sudah tidak kuat lagi, karena suaminya sangat kuat mengerjai dirinya. Thomas mencium kening istrinya dengan sayang.
"Tidurlah, Sayang. Kamu pasti sangat lelah!" ucap Thomas.
"Ck, tentu saja Amel lelah, Mas!" manyunnya. Thomas hanya terkekeh geli melihat istrinya mengerucutkan bibir.
"Aku mengantuk, Mas. Aku mau tidur," ucap Amelia.
"Iya, Sayang. Ayo kita tidur!" Thomas pun menyelimuti tubuh polos istrinya dan dirinya.
Mama Celine, Thomas dan Amelia mengantarkan kepergian Bram dan Alina untuk berbulan madu ke Raja Ampat. Mama Celine sudah menyiapkan tiket dan penginapannya di Raja Ampat. Mereka mengantarkan pasangan tersebut ke Bandara.
"Jangan lupa cetak anak banyak-banyak!" pesan Mama Celine kepada pasangan pengantin baru itu.
"Ish, Mama ini! Mama pikir Alina ini adonan," ucap Alina dengan mengerucutkan bibirnya. Membuat semua orang di sana terkekeh geli.
"Mama tenang saja. Bram sudah nyicil cetak anak," ucapnya begitu saja. Membuat Alina membulatkan matanya. Dia sangat malu dengan perkataan suaminya. Pasalnya, suaminya terlalu terbuka kepada semua orang.
Setelah pasangan pengantin baru itu masuk ke dalam pesawat, barulah mereka semuanya pulang ke rumah. Sedari tadi Thomas tersenyum bahagia. Mama Celine saja sampai terheran-heran, melihat kelakuan aneh putranya.
"Kamu sudah tidak waras ya, Thom! Sedari tadi senyum-senyum sendiri. Memang apanya yang lucu?"tanya Mama Celine.
"Jelas dong Thomas bahagia, karena tadi malam Thomas kan dikasih bakpao yang sangat enak!" ucap Thomas. Mendengar penuturan suaminya Amelia membelalakan matanya. Dia tidak percaya ternyata Thomas begitu mesum.
"Bakpao? Kok Mama nggak dikasih? Kamu dikasih siapa?" tanya Mama Celine penasaran. Tentu saja Amelia yang mendengar percakapan mereka, menjadi salah tingkah. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Saat suaminya akan menjawab pertanyaan Mama Celine, dia langsung mencubit paha suaminya. Membuat Thomas mengaduh kesakitan. Dia menoleh ke arah sang istri, Amelia sudah memelototkan matanya. Membuat dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan kepada sang mama.
__ADS_1
" Ih, serem banget tatapannya! Bisa-bisa nanti aku nggak dapat jatah," batin Thomas.
"Ayo dong, Thomas, katakan kepada Mama. Mama juga ingin mencicipinya!" ucap Mama Celine.
"Sudah habis. Orangnya sudah tidak berjualan lagi!" ucap Thomas dengan tegas.
"Lho, kenapa? Katanya enak? Kok sudah tidak berjualan lagi?"
"Ah, sudah, Mah. Nanti Thomas akan carikan bakpao yang lebih enak dari yang Thomas makan," seloroh Thomas.
"Beneran ya?"
"Iya,"
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah. Thomas membantu istrinya menggendong Aska, sedangkan Mama Celine membantu Sherly turun dari mobil.
Amelia menyuruh putrinya untuk langsung mandi dan bersih-bersih. Sedangkan Thomas memandikan Aska dengan air hangat. Dengan telaten, Thomas memandikan dan memakaikan baju ke tubuh putranya. Hingga selesai, Aska terlihat wangi dan juga tampan.
"Terima kasih, Mas. Mas sudah membantu Amel memandikan Aska," ucapnya kepada Thomas.
"Sama-sama, Sayang. Mengurus anak juga kewajibanku! Kita sama-sama mengurus mereka, ya?"
"Iya, Mas. Amelia begitu bahagia dan sangat beruntung mendapatkan suami seperti mas. Bukan hanya perhatian, Mas juga sangat menyayangi anak-anak," puji Amelia.
"Tentu saja, mereka kan anak-anak ku!" jawabnya. "Apakah kau sudah mandi?"tanya Thomas kepada istrinya.
"Belum, Mas!"
"Apakah mau mas mandikan seperti Aska?" goda suaminya. Amelia langsung bergegas pergi ke kamar mandi, dan mengunci kamar mandinya.
"Selamat. Bisa-bisa dia mengerjaiku!" gumamnya.
to be continued......
__ADS_1