Amelia

Amelia
Episode 94


__ADS_3

Setelah berpakaian rapih, terpaksa dia harus check out sendiri. Namun betapa terkejutnya dia, ada biaya-biaya lain yang harus dia bayar. Seperti biaya pemesanan makanan selama dua Minggu, biaya laundry dan minibar.


"Astaga, kenapa mahal sekali?" tanya Ratih kepada pihak hotel.


"Ini yang memesan teman Anda. Katanya Anda yang akan bertanggung jawab untuk semuanya," jawab pihak hotel.


Seketika tubuh Ratih tidak bertenaga, kakinya begitu lunglai, seperti tidak ada tulang.


"Aku telah ditipu! Dasar bule bre*****sek, sialan. Mereka sudah menipuku!" geramnya.


Terpaksa Ratih harus menguras tabungannya untuk membayar itu semua. Dia begitu jengkel dan sangat marah.


"Aku benar-benar sangat sial. Kenapa sih hidupku begitu sial?" tanyanya kepada dirinya sendiri.


Dia pulang ke rumah dengan raut muka yang masam. Ibunya yang melihat itu, tentu saja khawatir.


"Ada apa, Nak? Apakah kau ada masalah?" tanya ibunya lembut.


"Tidak ada apa-apa, Bu," jawabnya sambil berlalu ke kamar.


Beberapa jam kemudian Baron datang sambil berteriak-teriak.


"Ratih?" teriaknya.


"Ada apa, Yah?" tanya Ratih yang baru saja mandi.


"Katakan kepada Ayah, Apakah benar, kau sudah ditipu?" bentaknya.


"Iya, Ratih memang sudah ditipu dan ini semua gara-gara ayah! Coba saja kalau ayah berhati-hati dalam mencari pelanggan, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini! Sekarang Ratih benar-benar telah rugi bahkan Ratih sudah mengeluarkan banyak uang untuk mereka! Mereka hanyalah bule-bule kere, tidak memiliki uang sepeser pun. Ratih benar-benar menyesal menerima tawaran ayah! Pokoknya Ratih tidak mau melakukan perbuatan itu lagi!"


"Tidak bisa! Kamu harus terus melakukannya. Hanya dengan menjual diri, kamu memiliki banyak uang. Kamu ingin pekerjaan seperti apa lagi?" marah Baron.


"Apa menjual diri?" kaget ibunya yang tiba-tiba datang dari arah dapur.


"Jadi, selama ini pekerjaan yang kamu geluti, menjual tubuh kamu pada pria-pria hidung belang?" marah ibunya.


"Maafkan, Ratih, Bu!" isaknya.


"Kenapa, Nak? Kenapa kau jadi seperti ini?" sedih ibunya.


"Hiks .... Hiks ..... Hiks."

__ADS_1


"Ibu tidak menyangka kau melakukan perbuatan nista itu, Nak! Sejak kapan kau bekerja seperti itu? Katakan Ratih? Jangan diam saja!" bentak ibunya.


"Sejak, Ratih masih menjadi istrinya Mas Arga," lirihnya.


PLAKKK ....


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Ratih, hingga keluarlah darah segar di sudut bibirnya. Dia tidak menyangka, ibunya akan sangat marah. Baron juga sangat terkejut dengan tindakan istrinya.


"Hiks ... Hiks .... Hiks."


"Ibu, ibu, tidak pernah mengajarimu untuk menjual tubuh kamu. Kenapa kau tega melakukan hal itu? Bahkan saat kamu masih menjadi seorang istri Arga? Kenapa Ratih, Hah?" bentak ibunya, "Dimana pikiran kamu? Kamu itu seorang ibu? Katakan, Ratih, hah?"


"Ibu telah gagal mendidik kamu. Ibu telah gagal menjadi seorang ibu. Bunuh saja ibumu ini!" ibunya menarik tangan Ratih, agar Ratih mencekiknya.


"Hiks ... Hiks .... Hiks."


Lalu, ibunya menatap ke arah Baron dengan tatapan mata yang sangat tajam. Matanya memerah, menahan amarah di dadanya.


"Kau ayah seperti apa, Hah? Dengan tega menjual anak kamu sendiri? Kenapa harus anak kamu yang dijual? Kenapa kau tidak menjualku saja, Bangsat?" murkanya. Ibunya mengambil pisau yang tergeletak di meja dan hendak menusukkan di tubuh suaminya.


"Ibu, hentikan!" Ratih ketakutan.


"Dasar bajingan! Selama ini aku diam, sekarang aku tidak akan diam!" marahnya.


"Rasakan ini!" pisau itu menembus pundak suaminya. Mengalirlah darah segar di situ.


"Martha! Ah, sakit!" pekik Baron.


"Ibu, Hentikan!" tangis Ratih.


"Maaaaartha, Maafkan aku!" ucap Baron terbata.


"Aku tidak akan menyesal melakukan ini, Mas. Aku menyesal, kenapa tidak dari dulu aku melakukan ini?" ujarnya.


"Rasakan ini lagi!" sekarang pisau itu menembus perut suaminya. Mengalirlah darah segar di sana. Seketika Baron langsung mati ditempat, dengan luka menganga di pundak dan perutnya.


"Ayaaaaaah!" teriak Ratih.


"Tidak, Ayaaaaah, Banguuuuun!" teriak Ratih.


"Hiks .... Hiks .... Hiks."

__ADS_1


Tetangga yang mendengar teriakan Ratih, datang secara bersamaan. Mereka begitu terkejut dengan kejadian itu. Baron sudah tidak bernyawa, mengeluarkan darah segar dimana-mana. Ratih menangis sesenggukan di dekat mayat ayahnya, sedangkan Martha duduk terpaku, hanya diam mematung. Salah satu tetangga memanggil polisi.


Satu jam kemudian polisi dan ambulans datang. Tubuh Baron dibawa oleh mobil ambulans ke rumah sakit, sedangkan Martha dibawa polisi untuk ditahan. Begitu juga Ratih, dia juga dibawa ke kantor polisi untuk menjadi saksi. Di dalam mobil polisi, Ratih masih saja menangis sesenggukan.


Duka menyelimuti rumah Ratih, ayahnya dinyatakan meninggal di tempat oleh pihak RS. Sedangkan ibunya, menjadi tahanan di Kantor Polisi. Tentu saja ini adalah duka terbesar di dalam kehidupannya. Satu persatu orang sudah meninggalkannya.


Tepat pukul tiga sore, Baron dimakamkan di tempat pemakaman umum. Ratih tidak berhenti menangis di pemakaman ayahnya. Salah satu tetangga sudah membujuknya untuk pulang, namun ia masih ingin tetap di sana.


"Ratih?" seseorang memanggilnya dari arah belakang. Ratih menoleh ke sumber suara, ternyata itu adalah mantan suaminya.


"Mas Arga!" tubuh Ratih berhambur ke pelukan Arga. Dia menyenderkan kepalanya di dada bidang Arga.


"Ayah meninggal secara mengenaskan. Ibu yang melakukannya," ujarnya.


"Kamu yang sabar. Mungkin itu yang terbaik untuk kalian semua. Dan Apakah kau tidak tahu, kalau ini semua adalah teguran dari Allah," tutur Arga.


"Kok kamu bilang begitu, Mas?"


"Coba kamu instrospeksi diri kamu! Masih ada waktu untuk bertobat. Aku harap kau paham dan mengerti, Ratih?"


"Tapi, Mas?"


"Maaf, Aku harus pergi. Keyla sedang demam, kasihan Ibu sendiri di rumah," ujarnya.


"Mas, Bolehkah aku bertemu Keyla?" tanya Ratih lirih.


"Perbaiki diri kamu dulu. Maka akan aku ijinkan kau bertemu dengan Kayla!" ucapnya.


"Baiklah," kata Ratih sedih. Sekarang, Arga begitu dingin kepadanya. Tidak ada rasa empati untuk dirinya. Bahkan, saat sekarang dia sendiri di makam, Arga sama sekali tidak mengajaknya untuk pulang. Justru mantan suaminya meninggalkan Ratih di makam sendiri.


Satu Minggu berlalu setelah kejadian itu, rumah Ratih sangatlah sepi. Dia meratapi nasibnya kembali. Ia merasa bersalah dengan ibunya. Sekarang ibunya sudah menjadi seorang tahanan. Sesekali, Ratih menjenguk ibunya di kantor polisi.


"Bagaimana kabar ibu?" tanya Ratih.


"Baik," ketus ibunya.


"Ini Ratih bawakan makanan kesukaan ibu. Ratih sendiri yang memasak," ucap Ratih.


"Kamu tidak perlu bersusah payah untuk ibu. Ibu tidak perlu ditengok oleh anak durhaka seperti dirimu. Ibu sungguh sangat kecewa dengan sikapmu! Seperti gelas yang pecah tidak akan kembali utuh!" ucap ibunya, sangat menyentil di hati. Lalu, Martha berlalu pergi dari tempat itu, tanpa membawa makanan yang dibawa oleh putrinya.


Hati Ratih begitu sakit. Dia tidak menyangka ibunya begitu kecewa dan sangat membencinya. Begitupun hati Martha, sebenarnya dia juga sangat sedih dengan tindakannya sendiri. Dia melakukan itu semua agar Ratih bisa berubah menjadi wanita yang lebih baik.

__ADS_1


to be continued........


__ADS_2