Amelia

Amelia
Episode 120


__ADS_3

Semilirnya angin malam, menerpa wajah seorang wanita cantik yang sedang duduk di teras menunggu suaminya. Akhirnya Amelia memutuskan untuk datang ke acara fashion show guna memenuhi undangan dari rekan bisnis. Dan dia tidak sendiri, Thomas akan ikut bersamanya melihat acara fashion show tersebut.



Amelia berdandan sangat cantik sekali, dengan gaun bunga-bunga dan rambut yang terurai indah. Dia juga menenteng tas ditangannya.


"Sayang, kau sudah siap?" tanya Thomas.


"Astaga, Mas. Aku sudah siap dari tadi. Apakah kau tidak lihat? Mas sendiri kenapa lama sekali? Aku sampai menjadi makanan nyamuk diluar," manyun istrinya. Thomas terkekeh.


"Maaf, Sayang. Aku cari baju yang pas, dan aku harus terlihat gagah dong!" jawab suaminya membuat Amelia pusing tujuh keliling. Amelia tahu betul sifat suaminya. Kalau ada pria yang berusaha untuk mendekati istrinya, dia akan tampil mempesona dan cool.


"Ah, Untuk siapa? Apakah agar terlihat gagah didepan wanita cantik di luar sana?" cebik Amelia.


"Iya, nggaklah. Aku nggak mau kau berpaling dariku, hanya karena teman priamu itu lebih muda dan gagah!" ujarnya.


"Astaga, Sayang. Aku jadi mellow," ucap Amelia tersipu-sipu malu, "Aku sangat mencintaimu, Mas. Jangan pernah meragukan cintaku! Aku tidak akan pernah berpaling darimu meskipun kau sudah menua dan keriput. Aku akan selalu mencintaimu. Dan aku ingin menua bersamamu. Hingga kita menjadi kakek dan nenek bersama," ujar Amelia. Thomas terharu mendengar perkataan istrinya.


"Terima kasih, Sayang," jawab Thomas.


Memang usia Thomas empat tahun lebih tua dari usia istrinya, namun bagi Amelia tidaklah masalah. Karena cinta tidak memandang usia.


Thomas menjalankan mobilnya menuju tempat tersebut. Di sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya Thomas berbicara romantis kepada sang istri, membuat Amelia tersipu-sipu malu.


Tidak terasa mobil mereka sampai di tempat tujuan. Mereka turun dari mobil, dan tempat tersebut terlihat sangat ramai.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan memasuki tempat acara. Seorang penjaga mempersilahkan mereka untuk masuk, dan mereka duduk di kursi barisan paling depan.


Acara fashion show akhirnya dimulai juga. Satu persatu model, berjalan di atas catwalk dengan melenggak-lenggokan tubuhnya. Memamerkan keindahan cara berjalan mereka di atas catwalk, dengan memakai baju dari butik milik Amelia. Para model yang memiliki bakat dan keterampilan akan dipilih di dunia industri. Mereka akan menjadi yang terpilih di antara ratusan model.


Dicky melihat Amelia yang sedang duduk sendiri di kursi barisan paling depan. Dan kebetulan Thomas suaminya sedang pergi ke kamar mandi. Dicky mendekati Amelia yang nampak serius memperhatikan model-model tersebut berjalan diatas catwalk.


"Sudah lama?" tanya Dicky tiba-tiba membuat Amelia kaget.


"Eh, Pak Dicky," ucap Amelia sambil berdiri, "Baru saja, Pak,"


"Aku senang, Kau bisa datang kemari. Akhirnya Kau memenuhi undanganku, Aku sangat bahagia!" ucapnya.


"Iya, Pak," jawab Amelia menganggukan kepalanya.


"Ayo, kita duduk di sana! Disana akan lebih jelas melihatnya!" ajak Dicky hendak menggandeng tangan Amelia. Namun tiba-tibaThomas datang, dan mencekal tangan Dicky. Membuat Dicky menoleh ke arahnya.


"Bisa tidak, kau tidak menggandeng istri orang!" ketus Thomas.


"Apa? Siapa Anda?" tanya Dicky. Memang Dicky tidak mengetahui kalau Amelia sudah menikah.


"Saya suaminya," jawab Thomas penuh penekanan.

__ADS_1


"Apa?" Dicky nampak sangat terkejut.


"Maaf, Pak Dicky. Saya datang bersama dengan suami saya," ucap Amelia.


"Jadi kamu sudah menikah?" heran Dicky.


"Iya, Saya memang sudah menikah," jawab Amelia.


"Perkenalkan ini suami saya. Namanya Thomas Williams. Dan, Sayang ini yang sering aku ceritakan. Namanya Pak Dicky," ucap Amelia memperkenalkan keduanya.


"Sayang, ini sudah malam. Sebaiknya kita pulang!" ujar Suaminya merasa tidak senang dengan pria didepannya.


"Benar juga. Oya, Maaf Pak. Saya harus pulang. Ini sudah malam. Saya takut, anak saya menangis karena mencari Mommynya," ucap Amelia.


"Anak, Jadi, dia juga sudah memiliki anak," batin Dicky.


"Bye,"


Dicky tidak percaya kalau wanita yang dikaguminya sudah memiliki suami dan anak. Dia pikir Amelia seorang gadis yang belum menikah. Seketika dia merasa tidak bersemangat.


Di dalam mobil, Thomas hanya diam sambil menyetir mobil. Amelia tahu kalau suaminya sedang cemburu. Amelia juga tidak berani membuka percakapan, dia pun ikut terdiam seribu bahasa.


"Kenapa dia pakai pegang-pegang tangan segala sih?" ketus Thomas.


"Pak Dicky maksudnya?"


"Dia cuma mau mengajak ku duduk di depan, supaya aku lebih dekat melihat para model itu," jawab Amelia.


"Mulai sekarang, kamu tidak usah bekerja sama lagi dengan pria itu," tegas Thomas.


"Lho, kenapa, Mas?"


"Apakah kok tidak melihat matanya? Dia menatapmu dengan tatapan intens. Aku yakin, dia menyukaimu!"


"Ish, Kamu jangan berpikiran negatif dulu, Mas!"


"Aku tidak berfikiran negatif, Sayang. Aku seorang pria, aku bisa merasakan kalau dia menyukaimu!"


"Tapi, aku tidak bisa begitu saja memutuskan kerjasama ini. Karena, aku sudah terikat kontrak dengannya," jawab Amelia.


"Aku bisa membayar ganti ruginya," ucap Thomas.


"Bukan begitu juga, Mas. Aku tahu kau memiliki segalanya. Jika aku memutuskan kerja sama secara sepihak, mereka akan berfikir aku bukanlah orang yang profesional?"


"Aku tidak perduli, Sayang. Aku tidak mau kau terlalu dekat dengannya!"


"Huft." Amelia menghela nafasnya panjang. Masalah rasa cemburu suaminya, memang Amelia harus sedikit mengalah.

__ADS_1


"Nanti akan aku pikirkan. Kamu tenang saja ya, Mas! Meskipun dia tertarik denganku, yang terpenting aku kan tidak," jawab Amelia, "Lagipula aku sudah memiliki keluarga yang sangat aku cintai. Memiliki kamu, Sherly, Aska dan Mama. Kalian semua adalah kesayanganku," ujarnya.


Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah. Thomas membuka pintu mobilnya, dan memperlakukan istrinya seperti Ratu. Dia membopong tubuh Amelia ala bridal style.


"Astaga, Mas. Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Amelia.


"Tidak ada orang pun!" ucap Thomas membopong tubuh istrinya masuk ke dalam rumah.


"Tapi bagaimana kalau ada yang melihat?" ucap Amelia.


"Ini sudah malam, Sayang. Tidak ada yang melihat," jawab suaminya.


"Ish, kau ini kebiasaan," manyun Amelia. Thomas hanya terkekeh.


"Malam ini kau cantik sekali. Aku jadi gemas ingin memakanmu!"


"Mas pikir aku donat," cebiknya.


Thomas meletakkan tubuh istrinya disofa, dan menindihnya. Menciumi bibir merah merona itu dengan gemas.


"Mas, hentikan! Apa yang kau lakukan? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?"


"Ini sudah malam. Semuanya sudah tidur," ucap Thomas santai. Thomas kembali mencium bibir itu. ******* dan menyesapnya, menyesap hingga bibir itu membengkak.


"Astaga. Apakah kalian tidak bisa melakukan hal itu dikamar saja?" ucap Bram. Membuat mereka berdua begitu terkejut. Thomas beranjak dari tubuh istrinya.


"Sialan kau! Mengganggu saja!" kesal Thomas. Amelia terlalu malu, akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kamar. Bram tertawa terbahak-bahak, melihat reaksi kakak iparnya. Namun Thomas terlihat sangat kesal.


"Bang, kau kan bisa melakukannya di kamar! Kenapa harus disini sih?" ucap Bram terkekeh melihat raut muka Thomas dilipat seperti koran lecek.


"Aku pikir semua orang tertidur. Ternyata sudah malam seperti ini ada pengganggu yang masih berkeliaran," cebik Thomas.


"Ah, aku tidak bisa tidur, Bang!" Bram mengacak rambutnya sendiri.


"Kenapa? Muka macam baju belum disetrika!" ejek Thomas.


"Iya, Bang. Aku sedang bingung. Aku seharusnya kembali ke Jerman. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Tapi, Alina tidak mau ditinggal. Aku bingung!"


"Kenapa kau tidak ajak saja Alina pergi ke sana?"


"Kandungannya masih belum kuat, Bang. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Alina dan kandungannya. Abang kan tahu, dia sangat menginginkan anak,"


"Baiklah, Nanti akan aku coba bicarakan ini dengan Alina. Sekarang tidurlah, ini sudah malam! Aku mau melanjutkan bikin anak dengan istriku sayang, Bye!" ucap Thomas berlalu pergi.


"Ish, Abang mesum!" umpat Bram. Bram kembali pusing memikirkan masalahnya. Dia sangat bingung, dan belum memberikan keputusan apapun.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2