
Malam Hari
Thomas ingin mengajak putrinya berjalan-jalan di malam hari, dia ingin menghabiskan waktunya untuk putri kesayangan. Namun Sherly juga ingin Amelia ikut bersamanya. Amelia sudah menolak, tapi Sherly terus memaksa dan merengek. Akhirnya Amelia pun mengalah dan mengikuti ajakan Sherly. Sherly juga mengajak Omanya, tapi Omanya menolak karena dia sudah sangat lelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan tubuhnya sudah terlalu tua untuk sekedar berjalan-jalan. Mereka pun berjalan-jalan bertiga saja ke sepanjang sungai Weser. Pemandangan di malam hari sungguh sangat memukau meskipun ini sedang musim salju. Mereka semua memakai pakaian yang sangat tebal untuk pelindung tubuh disaat musim seperti ini. Amelia di buat takjub hanya dengan melihat lampu-lampu di sepanjang sungai dengan hujan salju yang sangat indah. Sherly juga tidak kalah antusiasnya, dia begitu bahagia dan gembira berlarian di sepanjang jalan. Ini adalah pertama bagi mereka merasakan dinginnya salju menerpa ke kulit mereka jika disentuh. Sekali-kali Amelia berselfie ria bersama Sherly, mengabadikan momen yang belum pernah terjadi di dalam hidupnya.
Sherly menarik-narik tangan daddy-nya agar ikut berfoto bersama mereka. Thomas pun tidak menolak, mereka berfoto bertiga mengabadikan momen kebersamaan mereka. Amelia mengunggah foto tersebut di sosmed pribadinya, dan status diponsel. Lelah berjalan-jalan, Thomas mengajak mereka beristirahat di sebuah cafe terbuka, yang terletak di sepanjang sungai Weser. Thomas membeli jajanan khas Jerman yaitu roti bretzel dan tiga gelas coklat panas. Di musim salju seperti ini, sangat pas menikmati coklat panas khas Jerman.
"Bagaimana, enak?" tanya Thomas kepada Sherly.
"Enak, Dad?" jawab Sherly sambil menikmati roti bretzel yang sangat enak dengan ditaburi wijen dan biji bunga matahari. Bentuknya yang unik seperti pita dan berwarna coklat, membuat Amelia tidak bisa menahan air liur.
"Makanlah! Kenapa hanya dilihatin saja?" tanya Thomas kepada Amelia.
"Eh, iya, Maaf," ujarnya.
"Apakah ada kata lain selain kata maaf?" tanya Thomas membuat Amelia tersipu malu.
"Apa?" tanya Amelia, justru balik bertanya. Melihat Amelia yang gugup, membuat hiburan tersendiri bagi Thomas. Karena wajah paniknya itu, sangatlah lucu bagi Thomas. Thomas tersenyum geli.
"Makanlah! Makanan seperti ini tidak ada di Indonesia," ucapnya lagi.
"Terima kasih," jawab Amelia. Ternyata memang rasanya sangat enak, dan sangat pas di lidah. Tidak terlalu manis, dan aroma bijih wijennya sangat gurih, dipadukan dengan minuman coklat panas.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Thomas tiba-tiba, karena sudah terlihat membesar bagian perut Amelia.
"Lima bulan lebih, mau jalan enam bulan!" jawab Amelia.
"Bolehkah aku menyentuhnya?" pinta Thomas.
__ADS_1
"Apa?" Amelia membelalakkan matanya terkejut dengan permintaan aneh Thomas, tentu saja dia sangat malu dan canggung.
"Apakah boleh?" tanyanya lagi, dijawab anggukan kepala oleh Amelia. Ada sensasi yang luar biasa di dalam hatinya, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Thomas mengelus perut Amelia yang sudah cukup besar.
"Sepertinya bayi laki-laki," ucapnya. "Dulu, saat mommy nya Sherly hamil, bentuk perutnya menonjol ke atas, dan dia sering mengalami morning sick ness! Saya lihat bentuk perut kamu lebih kedepan, Apakah kamu pernah mengalami morning sickness?" tanyanya.
"Saya memang tidak mengalami morning sicknees," jawabnya.
"Saya yakin, anak yang ada di dalam kandungan kamu, anak laki-laki!" yakinnya.
"Benarkah, Tuan? Bagaimana Anda tahu?" tanya Amelia.
"Kebetulan Mommy nya Sherly seorang Dokter kandungan, jadi saya belajar banyak darinya," jelasnya.
"Oh, begitu," ucap Amelia ber'oh ria. Nampak senyum mengembang di bibir wanita itu, Amelia sangat cantik sekali jika tersenyum.
"Tuan, sepertinya Sherly kelelahan!" ucap Amelia.
"Bisa tidak jangan panggil Tuan?" pinta Thomas.
"Lalu saya harus panggil apa?" tanya Amelia.
"Kamu bisa memanggil namaku saja!" ujarnya.
"Aduh, nggak sopan, Tuan! Masa saya harus panggil nama!" timpal Amelia gugup. "Bagaimana kalau Bapak saja?" kata Amelia menawar.
"Kapan saya menikah dengan ibu kamu?" ujarnya. "Apakah saya begitu tua, hingga kamu panggil saya Bapak?" tanyanya.
"Bukan begitu, Pak! Maksud saya ....!" Amelia menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Panggil saya, Mas! Atau Abang juga boleh," ujar Thomas sambil tersenyum. Amelia bingung harus menjawab apa.
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah milik Thomas, dia langsung meletakkan putrinya di tempat tidur. Amelia mengekor di belakang Thomas. Kelihatannya Tante Celine juga sudah masuk kamarnya untuk beristirahat.
"Beristirahatlah! Ini sudah malam, sepertinya kau juga sangat kelelahan! Kasihan baby-nya," tutur Thomas.
"Terima kasih, Pak! Maksud saya Mas," jawabnya sambil menunduk, membuat Thomas tersenyum senang.
"Baiklah, aku juga akan beristirahat! Jika perlu sesuatu aku ada dikamar sebelah," ujarnya, sambil berlalu dari kamar putrinya. Amelia tidak berani menatap mata Thomas, karena jantungnya akan berdetak dengan cepat jika ia menatapnya. Amelia menutup pintu kamarnya, dan menguncinya.
"Astaga, Ada apa dengan jantungku? Kenapa rasanya mau copot?" batinnya. "Hei, Amelia! Kau masih istri Arga, ingat itu!" ucap Amelia berdialog dengan dirinya sendiri.
Amelia membuka ponselnya hendak melihat foto-foto dirinya dan juga Sherly. Namun banyak sekali notifikasi panggilan dan pesan dari suaminya, ia pun mengabaikannya. Rasanya sudah terlalu sakit, jika dia harus menerima perlakuan dari sang suami dan madunya. Dia memblokir nomor suaminya, agar suaminya tidak terus-menerus menghubunginya. Dia butuh waktu untuk melupakan semuanya, dia juga butuh ketenangan jiwa dalam hidupnya. Yang sekarang ia pikirkan, dia hanya ingin fokus kepada buah hatinya sampai kelahirannya nanti. Tiba-tiba dia teringat dengan peristiwa yang kelam, yang menjadi puncak dari kehancuran rumah tangganya. Dari peristiwa kelam itu, menghancurkan segala-galanya, membuat ia harus kehilangan kedua orang tuanya, kehilangan harga diri dan kehormatan. Tidak terasa air matanya menetes, membasahi wajah cantiknya.
"Ayah, bunda! Amelia sudah bertekad ingin berpisah dari Mas Arga! Semoga keputusan Amelia benar adanya," ucapnya pada diri sendiri.
Disisi lain, Arga begitu menyesal. Semua panggilannya tidak ada yang dibalas oleh Amelia. Bahkan sekarang dia memblokir nomornya, padahal hanya inilah satu-satunya alat komunikasi antara dirinya dan istri pertamanya. Kemudian dia teringat dengan akun sosmed milik Amelia, Arga pun membuka akun Sosmed milik istrinya. Dia begitu kaget, karena Amelia sedang berfoto-foto dengan seorang anak kecil di sebuah jembatan dengan kelap-kelip lampu bertebaran salju, dan ia yakin bahwa istrinya sedang tidak berada di Indonesia.
"Dimana Amelia sekarang?" tanyanya dalam hati. "Dan anak kecil ini? Bukankah anak yang tempo hari datang ke rumah," batinnya.
Arga membuka semua foto-foto yang disimpan di akun sosmed milik istrinya, dan dia begitu terkejut, karena Amelia berfoto bertiga dengan seorang laki-laki, namun sengaja fotonya Amelia samarkan. Dimana ditengah-tengah mereka ada anak kecil itu.
"Siapa laki-laki ini? Kenapa istriku bisa berfoto dengan seorang laki-laki? Padahal dia masih sah istriku?" kesal Arga. "Apakah karena kamu marah, sehingga kamu bisa berbuat Zina dibelakang ku," tanyanya dalam hati.
Seketika itu, Arga begitu emosi. Dia membuang semua dokumen-dokumen yang berada di meja hingga berserakan.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mengkhianati pernikahan kita! Aku tidak terima! Aku butuh penjelasan," kesalnya.
to be continued....
__ADS_1