
Bram sudah siap dengan pakaian kantornya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Dia duduk di ruang makan, sembari menunggu Alina mengganti baju.
"Bang, kok nggak di makan?" tanya Alina yang baru keluar dari kamar.
"Menunggu kamu, Sayang," jawab Bram. Lalu, Alina duduk di sebelah suaminya. Menyendokkan nasi goreng di piring suaminya.
"Ayo, Bang, cicipi masakan ku! Ini adalah masakan pertama ku, Bang. Kamu adalah orang yang beruntung bisa mencicipi masakan ku," ujarnya.
"Baiklah," Bram mencoba nasi goreng yang dibuat Alina. Dia nampak mengernyitkan alisnya.
"Enakkan, Sayang?" tanya Alina. Bram hanya mengangguk saja. Kemudian dia juga mencicipi Omelette buatan istrinya. Dia berusaha menelan omelette yang rasanya sangat aneh itu.
"Gimana, Bang? Enak nggak masakan buatan istrimu? Enakkan? Nggak kalah sama Chef Arnold dong?" cecar Alina dengan banyak pertanyaan.
"Enak, Sayang. Kamu coba dulu, ya? Kamu pasti sangat suka?" ucap Bram.
"Baiklah. Tentu saja ini sangat enak. Karena nasi gorengnya aku masukkan bumbu rahasia," ujarnya. Alina menyendokkan nasi ke piringnya, kemudian ia mulai memasukkan satu suapan ke mulutnya, dan tiba-tiba saja dia memuntahkannya.
"Hoek, kenapa rasanya begini?" ucap Alina. Bram terkekeh geli.
"Gimana rasanya?" tanya Bram masih saja terkekeh.
"Kenapa rasanya aneh, Bang?"
"Justru Abang yang harusnya bertanya, Apa yang kamu masukkan di masakan mu?" tanya Bram.
"Semuanya, Bang. Ada merica bubuk, ketumbar bubuk, dan bahan-bahan yang lain. Aluna juga menambahkan gula dan garam, tapi, tidak tahu mana yang garam dan mana yang gula. Aku masukkan semuanya saja!" ucap Alina.
"Astaga, Sayang, memangnya di kelas memasak kau tidak di jelaskan perbedaan gula dan garam?" cebik Bram.
"Di jelaskan, Bang. Cuma keduanya sama-sama halus dan berwarna putih! Jadi, aku masukkan semuanya saja," jawab Alina. Bram hanya geleng-geleng kepala saja.
"Haduh, punya istri Dokter kayak gini amat yah," batin Bram.
Bram pun sarapan dengan omelette yang dibuat istrinya, lumayan lah buat pengganjal perut, meskipun rasanya hambar alias tidak ada rasanya. Karena Alina lupa tidak memberikan garam atau bumbu penyedap ke dalam masakannya. Padahal Omelette yang dibuat Alina terlihat sangat menggugah selera, namun untuk rasanya, benar-benar kacau.
Mereka berangkat bersama dengan menggunakan mobil Alina. Setelah mengantarkan Alina ke Rumah Sakit, Bram langsung berangkat ke kantor. Jarak ke kantor tidaklah terlalu jauh, dengan menempuh waktu dua puluh menit, Bram sudah sampai di depan Perusahaan milik Williams.
Amelia membantu suaminya memakaikan dasi. Terkadang dengan jahilnya, sang suami sengaja berjinjit supaya Amelia juga ikut berjinjit. Membuat Amelia ngedumel, dan terkadang mencubit pelan perut sixpack suaminya.
__ADS_1
"Hentikan, Mas! Kau membuatku terlambat ke butik!" sewot Amelia. Melihat bibir Amelia yang mengerucut seperti Piramid Mesir, dengan gerakan cepat Thomas mencium bibir istrinya.
"Mas?" manyun Amelia. Thomas hanya cekikikan melihat istrinya tambah sewot.
Mereka berdua menuruni tangga dengan mesra, menuju ruang makan. Di meja makan sudah ada Mama, Sherly dan Aska yang berada di stroller.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Amelia.
"Wah, kalian sudah berbaikan?" tanya Mama Celine.
"Sudah, Ma," jawab Amelia.
"Jadi saran yang Mama kasih berhasil dong?" tanya Mama Celine.
"Saran? Saran apa, Ma?" tanya Thomas melirik ke arah Mamanya.
"Saran itu Mas, bahwa sebentar lagi Sherly akan libur sekolah yang lumayan lama," jawab Amelia tiba-tiba.
"Oh," jawab Thomas hanya ber'oh ria.
"Saran Mama sangat sukses, sekarang anak Mama berubah menjadi singa jinak. Tapi, seluruh badan Amelia pegal-pegal," bisik Amelia kepada Celine. Membuat Celine terkekeh geli.
"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Thomas heran, "Kenapa harus berbisik-bisik?"
"Tanya saja kepada Thomas," jawab Mama Celine. Amelia tersenyum simpul.
"Sudah siang, Ayo berangkat, Sayang. Nanti kita terlambat!"
"Iya, Mas! Sherly, Ayo bawa tasmu!" suruh Amelia.
Setelah berpamitan dengan Mama Celine dan mencium pipi gembul Aska, Mereka pun meninggalkan rumah. Thomas mengantarkan Sherly ke Sekolah terlebih dahulu, barulah giliran mengantarkan istrinya ke butik.
"Oya, Mas, rencananya aku ingin membuka cabang baru di Mall. Bagaimana menurutmu, Mas?" tanya Amelia.
"Bagus," jawab Thomas, " Aku akan selalu mendukung semua keputusan kamu. Asalkan kamu bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan," jawab Thomas.
"Jadi, Mas setuju?"
"Aku adalah orang nomer satu yang akan selalu mendukung kamu!"
__ADS_1
"Terima kasih banyak ya, Mas. Aku janji, sebisa mungkin aku akan membagi waktuku,"
"Oya, Sayang. Sebentar lagi liburan Sekolah hampir tiba. Bagaimana kalau kita sekeluarga liburan?" tanya Thomas.
"Bagus tuh, Mas. Aku sih setuju saja," sahut Amelia, "Enaknya kemana ya, Mas?"
"Kita pikirkan itu nanti," jawab Thomas, "Rencananya aku ingin mencari tempat untuk liburan dan juga untuk honeymoon kita, Sayang," imbuhnya.
"Hah, Honeymoon? Mas ini ada-ada saja!" sahut Amelia, "Kita ini bukan pengantin baru, Mas. Buat apa kita Honeymoon?"
"Lho, Apa salahnya? Setelah kita menikah, aku tidak sempat mengajakmu honeymoon karena melihat usia Aska yang masih kecil. Sekarang ini adalah kesempatan kita untuk berbulan madu sekalian liburan keluarga. Bagaimana menurutmu?"
"Terserah kamu saja, Mas. Amelia menurut saja," jawab Amelia.
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan butik. Setelah menyalami tangan suaminya, Amelia pun bergegas masuk ke butik. Dia disambut hangat oleh karyawan-karyawannya.
"Selamat pagi, Nyonya Bos," sapa Fifin dan Rani bersama-sama.
"Pagi, Mba Fifin, Mba Rani," jawab Amelia. Memang panggilan Nyonya Bos sudah melekat sejak Amelia menjadi menantu Mama Celine.
"Wah, Nyonya Bos benar-benar beruntung. Karena, setiap hari Pak Bos mengantarkan Nyonya Bos untuk bekerja," seloroh Fifin.
"Mau gimana lagi Mba Fifin, saya kan nggak bisa naik mobil. Kalau saya naik mobil sendiri, bisa-bisa saya nabrak," jawab Amelia sambil tersenyum. Semuanya tertawa bersama.
Bagi Amelia tidak ada jarak pemisah antara orang kaya dan miskin. Dimatanya semua sama. Dia juga pernah menjadi orang yang tidak memiliki apapun, tidak memiliki keluarga dan tempat. Namun, Tuhan begitu menyayanginya dengan caranya sendiri, dia dipertemukan kembali dengan pria yang pernah sangat dia benci di dalam hidupnya. Namun pria itu juga yang sudah membuat dirinya seperti Ratu.
to be continued......
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"***Sesuatu yang kita benci, padahal amat baik bagi kita, boleh jadi sesuatu yang kita suka, padahal itu amat buruk bagi kita. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS Al-Baqarah 216***)"
__ADS_1
"***Saat Allah mengambil satu kebahagiaan yang ada padamu, Allah juga menyiapkan kebahagiaan dalam bentuk yang lain***."