
"Bram, Suruh orang-orangmu menemukan, Diego! Cari dia ke penjuru kota. Hotel ataupun penginapan kecil. Jika tidak menemukannya juga, Cari dia di lubang semut sekalipun!" ucap Thomas setelah Bripda Nadhif berpamitan.
"Baik, Bang."
"Dan satu lagi. Cari anak-anak ku! Di rumah Diego tidak ada. Berarti Diego sudah menyembunyikan anak-anak ku!" marah Thomas.
"Pria brengsek! Aku tidak akan membiarkan dia bebas. Dia sudah menyandera istri dan anak-anakku!" geram Thomas.
"Kira-kira kemana Diego menyembunyikan Sherly dan Aska, Bang?"
"Aku tidak tahu! Tapi, Polisi juga sedang mencarinya!"
Dret ... Dret ... Dret
Ponsel Bram bergetar. Setelah dilihat ternyata, nama Alina yang ada di kontak ponsel. Wajah Bram nampak pias.
"Siapa?" suara bariton Thomas mengagetkannya.
"Alina, Bang. Alina yang menghubungi!"
"Angkatlah!" Bram mengangguk.
"Hallo, Sayang!"
"Abang, Ada dimana?"
"Aku ada di Rumah Sakit."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" Alina sangat cemas.
"Kakak ipar."
"Maksud Abang, Kak Amelia!"
"Iya, Sayang. Kalau bukan Kak Amelia, siapa lagi?"
"Alhamdulillah," senang Alina "Bang, Sherly dan Aska ada disini. Lina yang mengantarnya ke rumah!"
"A-PA?" Bram sangat terkejut, "Bagaimana bisa bersama Lina?"
"Ceritanya panjang, Nanti aku ceritakan jika kita bertemu!"
"Baiklah! Tapi mereka baik-baik saja kan?"
"Baik. Mereka baik, Bang. Setelah makan mereka tertidur!"
"Syukurlah." Lega hati Bram.
"Kakak ipar sakit apa, Bang? Kata Lina, Kakak ipar dipaksa nikah sama Diego. Diego itu siapa, Bang? Dan berita itu apakah benar kalau Kakak ipar dipaksa menikah?"
"Nanti aku ceritakan, ceritanya panjang, Sayang! Bagaimana Lina bisa mengenal Diego?" heran Bram.
"Karena Lina adalah mata-mata Diego. Dia juga yang menyebarkan fitnah di rumah. Sehingga Al mengusir Kakak ipar. Tapi, dia sudah mengakui semuanya kok, dan Lina menyesali perbuatannya, Bang!" jelas Alina, "Aku menyuruh Lina menjadi saksi!"
"Baik, Jangan biarkan Lina pergi dari rumah. Dan ingat! Jangan biarkan orang yang tidak kau kenal masuk ke rumah, kecuali Abang dan Bang Thomas!"
"A-pa? Bang Thomas? Abang sudah lupa ya! Bang Thomas kan sudah meninggal!"
Oya aku lupa! Alina kan belum tahu Bang Thomas masih hidup! Nanti sajalah aku ceritakan!
__ADS_1
"Iya, Sudah. Aku tutup telfonnya. Ingat, Sayang. Jangan buka gerbang, kepada siapapun. Kecuali aku! Dan perketat penjagaan! Karena sekarang Diego menjadi buronan polisi atas kasus penculikan dan penyekapan!"
"Ba-baik, Bang. Alina akan mengingat pesan Abang!"
"Jaga anak-anak dengan baik! Kamu mengerti kan?"
"Iya, Bang. Al mengerti!"
"Sudah dulu ya, Abang tutup teleponnya!"
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
"Bang Thomas, Anak-anak sudah bersama dengan Alina. Mereka ada di rumah!" ucap Bram kepada Thomas.
"Kok bisa?"
Bram menceritakan semua, sama persis dengan apa yang diceritakan oleh istrinya. Dia menceritakan apa yang dia ketahui, hingga Amelia terusir dari rumah. Thomas nampak mengatupkan rahangnya.
"Maaf, Bang. Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal!"
Thomas menghela nafasnya berat.
"Jangan salahkan Alina. Salahkan saja aku! Aku yang bersalah!" sesal Bram.
"Akan aku urus Kau nanti!" kesal Thomas. Bram hanya menunduk, dia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Jika memang anak-anak aman bersama Alina. Aku bisa bernafas lega. Sekarang yang harus Kau lakukan, Suruh anak buahmu mencari keberadaan Diego!"
"Ba-baik, Bang. Sekarang juga aku akan menyuruh orang-orang ku mencari Diego!"
"Pergilah! Kalau kau sudah menemukannya, cepat kabari aku!"
"Baik, Bang!"
Thomas masih menunggu Amelia sadar. Amelia tertidur pulas karena pengaruh obat tidur yang disuntikkan Dokter. Sambil menunggu, Dia membuka ponselnya yang baru dia beli. Hanya beberapa nomor yang dia simpan, termasuk nomor Bripda Nadhif, Bram dan Dicky. Sedangkan nomor yang lain, dia tidak ingat.
Seketika dia baru teringat dengan Arum. Dia meninggalkan Arum di rumah Dicky. Rumah Dicky yang satunya.
"Apakah dia baik-baik saja? Aku harus menghubungi Dicky untuk menjaganya sementara. Bagaimanapun Arum sudah membantunya hingga sampai ke kota. Setelah semua selesai. Aku akan mengantarkan dia pulang!" gumam Thomas.
Kemudian dia menelfon Dicky untuk menjaga Arum dengan baik. Tidak lupa Thomas mengucapkan terimakasih kepada Dicky yang sudah banyak merepotkannya.
"Santai saja, Pak! Arum baik-baik saja. Ada ART yang menemaninya kalau dia bosan. Saya juga sudah menyetok banyak makanan di kulkas. Bapak jangan khawatir!" ujarnya sangat santai.
"Thanks ya, Bro! Kalau masalah gue selesai, gue janji akan ganti uang Lo!"
"Astaga. Pak Thomas. Saya bilang kan nyantai saja! Saya senang membantu Anda! Jadi tidak usah memikirkan ganti rugi, Oke!"
"Thank you!"
"You are welcome."
Tut ... Tut ... Tut
Bram langsung menghubungi orang-orangnya untuk mencari keberadaan Diego. Bahkan dia juga ikut turun tangan mencari keberadaannya. Walupun lelah, dia tidak perduli. Dia ingin menebus kesalahannya dengan menemukan keberadaan Diego.
__ADS_1
Dari hotel-hotel besar, sampai hotel-hotel kecil dia cari. Losmen. Hingga terminal dan stasiun.
Bram juga bekerjasama dengan polisi untuk mencari di Bandara Soekarno-Hatta. Barangkali Diego berencana ingin kabur ke luar pulau. Tapi, nama Diego tidak terdaftar di sana. Itu berarti, Diego masih ada di dalam kota.
Polisi juga tidak tinggal diam, mereka mencari di setiap CCTV jalan raya. Dibantu oleh polisi lalulintas, memantau apabila ada pergerakan yang mencurigakan.
Sudah pukul 3 pagi. Badan Bram terasa sangat lelah. Dia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia bisa melanjutkan pencarian lagi besok. Sekarang dia harus pulang, dan beristirahat sebentar.
Pagi-pagi sekali Dicky datang menemui Arum. Membelikan sarapan untuk gadis itu. Dia ingat dengan kata-kata Thomas, kalau dia harus menjaga gadis itu dengan baik.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam. Pak Dicky!"
"Aku membawa sarapan. Apakah kau sudah sarapan?" Arum menggeleng.
"Ayo kita sarapan bareng!" ajaknya.
Arum menuruti kata-kata Dicky. Dengan malu-malu, dia duduk berhadapan persis di depan Dicky.
"Mana Bibi?"
"Dia sedang belanja ke pasar, Mas! Sampai sekarang belum pulang!" ujarnya.
"Oh."
"Ini aku belikan bubur ayam. Aku tidak tahu seleramu. Makanlah!"
"Terimakasih banyak, Mas. Arum jadi merepotkan Mas Dicky!"
"Nggak juga," sahutnya.
"Oya, Bagaimana keadaan istri Kak Thomas?" tanya Arum disela makannya.
"Aku belum tahu. Aku belum sempat menjenguknya!"
"Kok bisa ya, Istri Mas Thomas masuk Rumah Sakit?" ucap Arum, "Atau jangan-jangan istri Mas Thomas mengalami pelecehan seksual?" selorohnya.
"Ish, Jangan sembarangan kalau ngomong!" kesal Dicky.
"Tapi Mas, Arum pernah nonton sinetron lho. Di sinetron tersebut, si wanita disekap selama berbulan-bulan. Setelah bebas si wanita hamil. Ternyata saat di sekap, si wanita mengalami pelecehan seksual!" ujarnya.
"Ish, Wanita ini!" decak Dicky.
"Kalau sampai itu terjadi. Benar-benar nggak punya hati tuh penculik! Kalau ada dihadapan Arum, Arum potong tuh burungnya! Biar nggak menindas makhluk lemah seperti perempuan. Secara Arum kan juga perempuan!" gerutunya.
"Ck, Nggak tahu saja kamu. Pria penculik yang kamu bicarakan adalah kakak kandungku!" batin Dicky terkekeh geli.
"Sudah makan saja. Jangan berbicara dan berfikir yang aneh-aneh! Dan seorang perempuan jika sedang makan, dilarang BERBICARA!" tutur Dicky menekankan kata berbicara. Seketika Arum menutup mulutnya rapat-rapat. Membuat Dicky terkekeh geli dengan tingkah lucu gadis di depannya.
Bersambung ...
__ADS_1