Amelia

Amelia
Episode 27


__ADS_3

Sepulang dari butik, Amelia merasakan badannya sangat lelah. Ia merebahkan tubuhnya di kasur, sejurus ia memandang foto pernikahannya yang ada di meja. Dia begitu merindukan belaian lembut suaminya, ia begitu merindukan perhatian-perhatian kecil suaminya. Sekarang dia sudah tidak bisa merasakan itu semua, sikap suaminya benar-benar sudah berubah total. Tidak terasa air matanya mengalir begitu saja.


Amelia berdiri dan membuka lemarinya, dia mengambil kemeja suaminya. Ia peluk dan ia cium kemeja suaminya, hatinya serasa hampa, dia begitu merindukan belaian sayang suaminya. Bagaimanapun juga Amelia wanita normal, dia butuh penyaluran. Nyatanya, dia hanya bisa melihat video nakal di channel Youtubenya.


Untuk menepis pikiran kotornya, ia pun memutuskan untuk merendam tubuhnya di bathtub. Badannya terasa sangat segar, rasa lelah dan letihnya seketika menghilang. Sekitar dua puluh menit, Amelia berendam di bathtub. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang sangat memekik telinga, ia pun menyudahi acara mandi sorenya. Ia bergegas memakai baju gantinya, dan langsung membuka pintu. Ternyata yang datang adalah suaminya dan Ratih, ia terlalu malas untuk menemui mereka.


"Kenapa lama sekali?" tanya Arga.


"Buat apa kalian kesini lagi?" ketus Amelia.


"Sayang! Kenapa kau ketus sekali?" tanyanya. "Tentu saja aku ingin menemuimu," imbuhnya.


"Untuk apa? Apakah mas ingin memamerkan kemesraan di depanku?" ketus Amelia lagi.


"Bukannya begitu, Sayang! Niat mas kesini baik, mas ingin mengajakmu jalan-jalan! Ayo kita jalan-jalan, mas akan mengajak kalian makan di Restaurant!" ucap Arga, membuat Amelia mengernyitkan alisnya.


"Tenang saja, Sayang! Hari ini mas mendapatkan bonus besar! Jadi kita akan makan di Restaurant mahal," ujarnya.


"Hah, aku malas sekali! Apalagi aku harus melihat wanita ular seperti dia," ejeknya, sambil melirik ke arah Ratih. Ratih yang mendengar langsung melotot ke arah Amelia hendak menerkam.


"Kau," tudingnya, namun Arga mencegah Ratih untuk mengatakan sesuatu kepada istri pertamanya. Karena, dia yakin pasti akan ada pertengkaran diantara mereka.


"Sayang? Aku tahu aku bersalah, maka dari itu, aku ingin memperbaiki hubungan kita," ucapnya.

__ADS_1


"Hubungan seperti apa? Bukankah hubungan kita memang sudah hancur, semenjak wanita itu datang ke kehidupan kita?" cebiknya.


"Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya! Aku ingin kalian akur! Aku yakin, kalian bisa akur," ucapnya lagi panjang lebar. Lumayan lama Arga membujuk istri pertamanya, akhirnya Amelia pun menurut ikut bersama mereka, makan malam di Restauran yang paling mahal.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah Restaurant termahal dan termewah di kota Jakarta. Arga menggandeng kedua istrinya masuk ke dalam Restauran. Restaurant yang sangat mewah dengan aneka makanan western food. Mereka memilih meja dekat dengan kolam ikan. Selain suasananya nyaman, pemandangannya juga terlihat indah. Ada kolam air mancur dan banyak ikan di kolam tersebut.


Pelayan memberikan buku menu kepada pelanggannya. Arga menyuruh Amelia untuk memilih makanan yang ia sukai, namun dia menyamakan makanannya dengan makanan suaminya. Sedangkan Ratih, memesan banyak makanan. Menurutnya, ia sangat asing dengan makanan tersebut, jadi ia wajib untuk mencicipi dan mencobanya.


Pelayan membawa tiga porsi Beef Wellington dengan menu tambahan steik dan mushroom Risotto. Mereka menikmati makan malamnya dalam diam, hanya suara garpu dan sendok saja yang terdengar. Amelia nampak tenang menikmati makan malamnya, dengan lihai ia menggunakan garpu dan pisau makannya. Berbeda dengan Ratih, ia agak susah menggunakan pisau dan garpu. Menurutnya, makan seperti itu sangat merepotkan. Ia pun memakan steak dengan menggunakan kedua tangannya, tentu saja membuat seorang Arga malu.


"Sssttt, Bisakah kau makan dengan tenang?" bisik Arga kepada istri keduanya, membuat Amelia menahan tawanya.


"Aku tidak biasa makan dengan pisau dan garpu," ujarnya dengan berbisik pula.


Acara makan malam pun selesai tanpa pertengkaran. Arga pun hendak membayar bill makanan tersebut. Setelah melihat jumlah billnya, dia begitu terkejut dengan harga yang sangat fantastik. Sedangkan uang yang ada di dompetnya hanya uang satu juta rupiah, ia juga tidak membawa uang cash lainnya. Dia menyuruh Ratih untuk mengambil uang di ATM, ternyata di dekat Restaurant tersebut tidak ada ATM. Arga sangat kebingungan saat itu juga, mau meminjam Ratih, ternyata semua uang bulanan yang diberikannya habis tanpa sisa. Arga pun sempat kelabakan dan malu.


Amelia mengeluarkan sejumlah uang kepada pelayan untuk membayar billnya, dan menyuruh pelayan tersebut mengembalikan uang suaminya.


"Mas, jika kau tidak memiliki uang! Tidak usah sok-sokan mengajak kami ke Restaurant mahal," sindir Amelia.


"Terima kasih, Sayang! Nanti uangnya aku ganti," ucapnya.


"Tidak usah! Anggap saja aku membayar semua kebaikanmu kepadaku!" tegas Amelia, sambil berlalu pergi.

__ADS_1


"Sayang? Tunggu! Kau mau kemana?" tanya Arga.


"Aku akan naik taksi saja!" ujarnya, Amelia langsung menaiki taksi yang berhenti tepat di depannya. Ratih menghampiri suaminya.


"Apakah mas Arga memberikan uang bulanan yang sangat besar ke Amelia?" tanyanya sambil memberengut kesal.


"Tidak," jawabnya.


"Jika tidak, kenapa uangnya banyak sekali?" tanya Ratih mencurigai suaminya.


"Mana aku tahu! Bukankah ATM yang aku berikan kepadanya sudah ada padamu! Berarti dia memiliki uang sendiri dari hasil kerjanya selama ini," kesal suaminya. Ratih agak kesal ternyata setelah ATMnya diambil,


"Pokoknya aku tidak mau, kalau kamu memberikan uang bulanan lebih besar kepadanya! Ingat, Mas, aku yang sedang hamil darah dagingmu! Bukan Amelia! Entah anak siapa yang dia kandung," ejeknya.


"Iya, aku tahu! Lagi pula, bukankah ATM Amelia ada padamu! Itu berarti, aku belum memberikan uang bulanan padanya," ucap Arga.


Setelah mengantarkan Ratih pulang ke rumah, Arga langsung bergegas ke rumah istri pertamanya. Hari ini dia berencana ingin menghabiskan malamnya dengan istri pertamanya. Dengan kecepatan tinggi, ia melajukan mobilnya menuju rumah Amelia. Sampai di rumah Amelia, terlihat lampu rumah istri pertamanya masih menyala.


"Pasti Amelia belum tidur," batinnya. Arga turun dari mobilnya, dan mengetuk pintu rumah istri pertamanya. Amelia begitu terkejut dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Dengan senyum smiriknya Arga memeluk tubuh Amelia, tentu saja mendapatkan penolakan keras dari sang istri. Amelia berusaha mendorong tubuh suaminya.


"Kamu sudah gila ya, Mas?" tanya Amelia, karena sikap suaminya hari ini sangatlah aneh.


"Kenapa? Bukankah aku suamimu?" tanyanya.

__ADS_1


to be continued....


__ADS_2