Amelia

Amelia
Episode 131


__ADS_3

Sepulang dari Supermarket, Diego langsung pulang ke rumah. Ada dua kantong kresek di tangannya. Dia berjalan melewati Dicky yang sedang menonton televisi. Melihat Abangnya tidak menyapa, Dicky mengekor di belakang.


"Bang?" panggilnya.


"Dicky," lirihnya. Dia sempat terkejut dengan kedatangan Dicky secara tiba-tiba.


"Abang, dari mana?" tanya Dicky.


"Oya, nih aku belanja bahan-bahan makanan. Sepertinya aku lihat kulkasnya kosong," jawabnya.


"Oh, itu, iya aku sibuk. Aku tidak sempat ke Supermarket," sahut Dicky.


"Aku taruh meja dapur, ya!" ujarnya.


"Okey, Bang. Thanks, ya!" jawab Dicky.


"Aneh, Bang Diego terlihat sangat aneh," batin Dicky.


Diego menaiki lantai dua, kamarnya terletak di lantai dua. Dia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Menatap langit-langit kamarnya sambil membayangkan wajah Amelia. Wanita cantik yang ditemuinya di Supermarket.


"Thomas, Ayahmu sudah mengambil Monica dariku. Sekarang giliran mu! Aku akan mengambil Amelia dari sisimu!" ucapnya menyeringai licik. Tidak terasa matanya tertutup, Diego sudah berada di alam mimpi.


🌠🌠🌠🌠


Mentari pagi bersinar cerah. Dengan gagahnya bersinar terang, menyinari bumi. Suara burung berkicau riang menyambut hangatnya sinar matahari. Mereka bersorak-sorai bahagia mendapatkan anugerah dipagi hari.


Bukan hari yang spesial, namun sangat istimewa untuk wanita cantik itu. Dia sudah bangun pagi menyiapkan segala sesuatunya untuk pergi ke butik. Dia juga sudah menyiapkan baju kantor suaminya.


Jam sudah menunjukkan pukul enam. Amelia membangunkan suaminya dengan lembut. Menciumi seluruh wajah sang suami, dan menggelitik hidung mancung Thomas, adalah hal yang rutin ia lakukan ketika membangunkan sang suami.


"Masih mengantuk, Sayang," ucapnya, sambil menarik selimut hingga kepala. Amelia terkekeh geli melihat tingkah laku suaminya.


"Astaga, Mas. Katanya hari ini ingin lari pagi!" ujar Amelia.

__ADS_1


"Hem, besok sajalah," sahutnya dengan suara khas orang bangun tidur.


"Iya, sudah, kalau tidak mau! Jangan salahkan aku ya kalau bangun kesiangan!" ucap Amelia. Amelia hendak beranjak dari tempat duduknya, namun pinggangnya ditahan oleh sang suami, hingga dia terduduk kembali.


"Mas, kenapa sih?" manyun Amelia.


"Sayang, Kamu mau kemana? Kamu harus bertanggungjawab dulu!" ujar Thomas.


"Bertanggung jawab apa sih?"


"Kamu tidak sadar, sedari tadi kamu menggodaku!" ucap Thomas.


"Oh, itu, Aku cuma berusaha untuk membangunkan kamu saja, Mas. Tidak bermaksud yang lainnya!" jawab Amelia.


"Karena kamu sudah membangunkan atasnya, yang bawah juga ikut terbangun, Sayang!" ucap Thomas sudah mulai nakal.


"Hah, Kamu jangan mesum deh, Mas. Ini masih pagi, kalau anak-anak bangun bagaimana?" manyun istrinya.


"Mereka nggak akan bangun," sahutnya. Thomas menarik tangan istrinya ke kamar mandi. Tahu kan apa yang dilakukan suami istri kalau sudah mandi bersama. Wkwkwkwk ...


Amelia membantu memasangkan dasi suaminya. Melihat istrinya berjinjit, Thomas membungkukkan badannya, menyetarakan tingginya dengan sang istri.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya sambil mengecup kening sang istri.


"Sama-sama," sahutnya.


Setelah menyelesaikan sarapan, mereka berpamitan kepada Mama Celine. Meminta doa kepada orang tua adalah hal yang baik saat mau bekerja. Itu yang selalu mereka tanamkan di pikiran dan hati kedua pasangan halal tersebut.


Tidak lupa Amelia berpamitan kepada buah hatinya, menciumnya dengan sayang. Aska yang sudah sangat pintar, awalnya dia merengek meminta ikut serta. Namun, setelah diajak bermain oleh baby sister, akhirnya dia lupa dengan permintaannya.


Mereka pun berangkat bersama dengan dikawal oleh beberapa bodyguard di belakang mobil mereka. Thomas mengantarkan Sherly ke Sekolah terlebih dahulu, barulah dia mengantarkan istrinya ke butik.


"Mas, aku kerja ya!" ucap Amelia.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Hati-hati, nanti aku menjemputmu! Tunggu aku, ya!" ucap Thomas.


"Iya, Mas," sahut istrinya. Tidak lupa mencium punggung tangan suaminya. Itu adalah suatu kewajiban bagi dirinya sebagai seorang istri.


Setelah mobil suaminya sudah tidak nampak lagi, barulah Amelia masuk ke dalam butik. Semua karyawan menyambut kedatangannya dengan bahagia.


"Selamat datang kembali ke butik, Mba! Kami sangat senang Mba Amelia bekerja lagi. Kami sangat merindukan Mba Amelia," ucap semua karyawannya.


"Aku juga sangat merindukan kalian semua. Terima kasih banyak ya, atas kerja sama kalian. Akhir bulan saya pastikan kalian mendapatkan bonus dari butik atas usaha keras kalian selama ini!" ucap Amelia.


"Yeay, Asyik, kita dapat bonus," sahut mereka riuh. Mereka nampak sangat bahagia.


Setelah beramah tamah dengan karyawan-karyawannya, barulah dia memasuki kantornya. Kantor yang selama ini sangat dirindukannya. Tempatnya bekerja dan berkumpul bersama teman-teman.


Dia sedikit memeriksa pekerjaanya, dan memeriksa email-email yang masuk di laptopnya. Banyak sekali berkas yang harus ditandatangani, dan laporan yang belum sempat ia periksa. Semuanya menumpuk jadi satu di mejanya. Belum lagi harus menjawab email dari para pelanggannya.


"Hah, capeknya!" gumamnya sambil meluruskan pinggangnya.


TRING ....


Sebuah notif pesan masuk ke ponselnya. Amelia membuka notif tersebut, tenyata dari Dicky.


..."Selamat Siang, Amelia. Senang rasanya bisa mendengar kalau kamu sudah bisa bekerja lagi di butik. Saya ingin mengabarkan, kalau agensi saya membutuhkan baju-baju formal. Karena acara kali ini bertema Pakaian Formal Wanita. Apakah Nona Amelia bisa merekomendasikan baju yang pas untuk acara saya nanti? Kalau bisa secepatnya hubungi saya. Dan kalaupun ada, Nona bisa langsung ke agensi saya untuk memberikan sampelnya. Terima kasih banyak,"_ pesan singkat dari Dicky....


Amelia nampak sedang berfikir. Tidak mungkin dia memesan langsung ke luar negeri, mengingat waktunya tidak akan cukup, meskipun dengan pengiriman barang yang super kilat. Dia mengingat-ingat, dulu, saat dia masih menjadi karyawan di butik ini, Mama mertuanya pernah memamerkan baju formal wanita di depan etalase toko, bajunya cukup sederhana namun sangat elegan, menurut Amelia. Di buat oleh teman Mama Celline sendiri. Bukan perancang terkenal, tetapi semua baju yang dikeluarkan olehnya memiliki nilai jual yang tinggi. Bajunya bermotif batik asli dari Pekalongan. Bahannya lembut dan halus.


Amelia menyuruh karyawannya untuk mengambil salah satu baju tersebut di rak khusus penyimpanan. Dia akan memberikan sampel kepada Dicky. Dia yakin, Dicky pasti sangat suka dengan modelnya. Bajunya menarik dan unik, itulah yang membuat nilai plus dari baju tersebut.


Amelia menyimpan satu di paper bag untuk sampel. Rencananya, siang ini dia akan mendatangi kantor agensi milik Dicky. Lebih cepat lebih baik, menurutnya.


Amelia mengirimkan notifikasi pesan kepada suaminya, bahwa siang ini dia ada urusan penting dengan Dicky. Awalnya, Thomas tidak setuju kalau istrinya datang sendiri ke kantor Dicky. Namun, setelah Amelia menjelaskan bahwa dia ada urusan pekerjaan, dan akan datang dengan Rani barulah Thomas mengizinkannya. Tentunya harus di dampingi bodyguard yang Thomas sewa.


Mau tidak mau akhirnya Amelia mengikuti perintah sang suami. Dia tidak mau berdebat dengan suaminya, karena jika itu dia lakukan, urusannya akan panjang dan bertele-tele.

__ADS_1


Dengan menggunakan mobil yang dikirim dari kantor bersama dengan sopirnya, Amelia dan Rani berangkat ke kantor agensi milik Dicky. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk datang ke sana. Karena, memang jaraknya tidak terlalu jauh.


to be continued....


__ADS_2