
Sudah satu Minggu lamanya, Thomas dan Amelia tinggal di puncak. Amelia merasakan perasaan yang luar biasa bosannya. Hanya berdua, dan tidak ada anak-anak yang menghibur.
Waktunya dia habiskan untuk bersantai dan berkeliling ke perkebunan strawberry milik warga sekitar. Sesekali Amelia akan membantu warga untuk memanen buah strawberry. Kemudian akan diberi satu kilo buah strawberry untuk dibawa pulang.
Seperti hari ini, Dia diberi buah strawberry. Dia bingung untuk apa buah strawberry sebanyak itu. Sedangkan di Villa, dia hanya tinggal berdua dengan suaminya.
Amelia pun memanfaatkan buah itu untuk dibuat selai strawberry. Dan lebihnya dia membuat jus strawberry untuk dirinya dan suaminya. Seketika dia teringat anak-anaknya. Saat dirinya membuatkan makanan, pasti Sherly dan Aska yang paling antusias ingin pertama yang menikmatinya.
Amelia sedikit murung. Dia heran, kenapa suaminya mengajaknya ke Villa hanya berdua. Sudah satu Minggu lamanya, kenapa suaminya tak juga mengajaknya kembali ke kota.
Tok ... Tok ... Tok
Ada seseorang yang mengetuk pintu rumah. Amelia langsung bergegas untuk membuka pintu rumah. Ternyata suaminya pulang. Tapi kali ini suaminya membawa seseorang.
"Sayang, Maaf. Aku telat!" ucapnya.
"Nggak apa-apa, Mas," maniknya menatap ke arah pria yang ada disamping Thomas. Thomas yakin saat ini istrinya sedang bingung.
"Oya. Perkenalkan Sayang. Dia Dokter Lucas. Dia ingin sedikit mengajakmu mengobrol!"
"Mengobrol masalah apa ya, Mas?"
"Ibu pasti bernama Amelia. Sangat cantik, seperti namanya!" puji Dokter.
"Terima kasih."
"Boleh minta waktunya sebentar!"
"Boleh! Silahkan masuk, Dok!"
"Terimakasih."
Dokter dan suaminya masuk ke dalam rumah. Amelia mempersilahkan Dokter tersebut duduk. Dan menyuguhkan jus strawberry yang dia buat tadi. Lumayan, jusnya berguna untuk menyuguhi tamu. Pikir Amelia.
"Ada apa, Dok? Dokter mau mengobrol apa dengan saya?" tanya Amelia mulai penasaran.
"Sabar dong, Sayang! Biar Dokter meminum jus yang kau buat dulu!" tutur suaminya.
"Oya. Silahkan diminum, Dok!" Amelia mempersilahkan Dokter tersebut melanjutkan menikmati jus strawberry yang dicampur susu. Rasanya lezat sekali.
_____
_____
Dokter Lucas membenarkan letak kacamatanya yang sedikit turun. Dia menatap ke arah Amelia. Amelia sedikit kikuk ditatap seperti itu. Dia sedikit menggeser duduknya lebih mendekat ke arah sang suami. Thomas sadar bahwa istrinya merasa tidak nyaman.
"Apakah ibu betah di Villa ini?" tanya Dokter Lucas.
__ADS_1
"Betah. Ehm ... !" Amelia sedang berfikir, "Saya ingin pulang. Saya ingin bertemu dengan anak-anak saya! Dan juga Mama!" lirihnya.
"Apakah Anda benar-benar lupa dengan kejadian beberapa bulan yang lalu?"
"Kejadian beberapa bulan yang lalu?" Amelia menoleh ke arah suaminya. Tidak ada jawaban di mata suaminya.
"Saya tidak ingat. Memang ada kejadian apa, Mas?"
"Mengenai kecelakaan yang terjadi dengan ibu mertua Anda!"
"A-pa?" Amelia terkejut, "Mama kecelakaan?"
Dia justru menoleh ke arah suaminya lagi.
"Kapan Mama kecelakaan, Mas? Kenapa? Apakah Mama baik-baik saja? Kenapa kamu nggak cerita, Mas! Ayo Mas katakan!"
"Iya, Sayang," jawab Thomas terbata.
"Lalu, Apakah Mama baik-baik saja?"
"Mama? Mama sudah meninggal dalam kecelakaan itu, Sayang!"
"A-pa?" tubuh Amelia terasa sangat lemas. Bagaimana dia tidak ingat kalau Mama Celine sudah meninggal.
Kepingan-kepingan ingatannya sedikit kembali. Jenazah yang terbakar. Mobil yang hancur. Kasus penculikan. Dan ...
Berkali-kali Amelia mengusap tubuhnya, tangannya dan lehernya. Dia bisa merasakan tangan itu menyentuh dirinya. Merabanya.
"Ti-dak! Itu tidak mungkin. Pergi! Pergi dariku! Jangan dekati aku!" Amelia berlari dan meringkuk di belakang kursi.
"Pergi!" teriaknya.
"Bu Amelia tenang! Kita bicara baik-baik. Oke."
"Aku bilang pergi!" teriaknya lagi.
"Sayang, Jangan takut! Lawan rasa ketakutan mu itu! Jangan biarkan ketakutan mu mengalahkan dirimu!"
"Pergi! Jangan mendekatiku! Aku takut! Pria itu akan datang! Pergi!" Amelia menutup matanya. Dia tidak mau melihat orang yang ada didekatnya.
"Pergi! Aku bilang pergi!"
"Oke, Saya akan pergi! Tapi, Ibu harus tenang. Oke!"
"Pergi! Pergi!"
"Baiklah, Pak Thomas. Kita bicara sebentar!"
__ADS_1
"Iya, Dok." Thomas mengikuti langkah Dokter sampai pintu.
"Begini. Istri Anda masih sedikit histeris. Dia masih belum bisa bertemu dengan seseorang yang belum dia kenal. Sementara saya akan memberikannya obat. Tolong berikan obat ini ya, Pak! Setiap mau tidur, pastikan meminum obat ini. Dan Anda coba ajak dia bicara, berkomunikasi dan mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Jadi, mau tidak mau dia harus tahu semuanya. Dan satu lagi. Teruslah disamping istri Anda. Untuk menguatkannya. Membuang jauh-jauh rasa takutnya itu!"
"Ba-baik, Dok!" jawab Thomas, "Apakah istri saya bisa sembuh?"
"Semoga ya, Pak! Semoga istri Anda sembuh!" jawab Dokter berusaha untuk memberikan semangat kepada Thomas.
Setelah kepergian Dokter. Thomas bisa menghela nafasnya berat. Dia bingung harus melakukan apa. Dia pikir, satu Minggu di Villa akan membuat istrinya jauh lebih tenang dan rileks. Nyatanya, jika dia mengingat semuanya, dia akan kembali berteriak-teriak.
"Sialan. Apa yang sudah dilakukan bajingan itu kepadamu? Sehingga membuatmu seperti itu, Sayang!" geram Thomas.
"Sayang!" panggil Thomas berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Pergi!"
"Sayang, Aku mohon! Buang jauh rasa takutmu! Sekarang Kau sudah aman. Apakah Kau tidak mau melihat anak-anak?" seru Thomas.
"Anak-anak? Dimana anak-anak ku?"
"Mereka aman bersama Alina dan Bram. Aku mohon sayang, Kamu harus kembali seperti istriku yang dulu!"
"Mama. Apakah benar Mama sudah meninggal?"
Hiks ... Hiks ... Hiks
"Iya. Mama memang sudah meninggal. Kita harus mendo'akannya ya! Saat kau sembuh dan pulang ke Kota. Kita ziarah ke makam Mama bersama-sama!"
Thomas memeluk tubuh istrinya dengan sayang. Sedih, tentu Thomas rasakan. Tapi, Thomas adalah seorang pria. Tidak mungkin dia menangis meraung-raung di depan sang istri.
"Ayo bangun!" Thomas membopong tubuh istrinya masuk ke kamar.
"Ada aku, Jangan pernah takut! Kau harus kuat demi anak-anak!"
"Tapi, Mas ... !" Thomas meletakkan jari telunjuknya di bibir sang istri.
"Ssssttttttttt." Thomas mencium bibir itu dengan mesra. Bibir yang begitu dia rindukan. Dengan segenap jiwa dan raganya.
"Ada aku. Aku tidak akan membiarkanmu ketakutan. Aku tahu, dulu Kau pun selalu merasa tertekan. Jadi, mulai hari ini, hanya kebahagiaan yang akan aku berikan. Hilangkan rasa takutmu. Ada aku, Sayang. Ada anak-anak!"
"Iya, Mas. Aku akan berusaha!" bibir Amelia bergetar.
"Bagus. Kau memang harus berusaha, Sayang. Lakukan demi Sherly dan Aska. Dan yang terpenting adalah AKU!" Thomas kembali mencium bibir istrinya dengan mesra. **********, bahkan memasukkan lidahnya ke mulut sang istri. Membuat Amelia terbuai dengan perlakuan suaminya. Namun Thomas hanya melakukan sebatas ciuman, dia belum bisa meminta haknya kepada sang istri dalam kondisi yang masih sakit.
Yang akhirnya, Thomas hanya bisa menuntaskan hasratnya sendiri di kamar mandi. Bersolo ria, jalan yang harus dia pilih.
To be continued ...
__ADS_1