Amelia

Amelia
Episode 154


__ADS_3

Amelia sibuk dengan pembukuan butik. Pekerjaannya begitu menumpuk. Belum lagi mengurus butik cabang Mall. Membuatnya sedikit kelelahan dan frustasi.


Untunglah Aska anak yang penurut. Ditengah kesibukannya, Aska bermain sendiri dengan Baby Sister. Setelah kelelahan, Aska tertidur di sofa. Tanpa menggangu pekerjaan Mommynya.


Amelia memforsir tenaganya supaya semua pekerjaan selesai tepat waktu. Tepat jam dua belas siang, barulah Amelia bisa meregangkan otot-ototnya. Dia sedikit menarik pinggang yang pegal akibat kebanyakan duduk.


"Ah, capeknya!" gumam Amelia. Dia menoleh ke arah sofa. Putra kesayangannya sudah terlelap, sambil mengemut ibu jarinya. Terbit senyum dibibir manis ibu muda itu.


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk!"


"Maaf Mba mengganggu! Ada tamu untuk Anda!"


"Siapa?"


"Pak Dicky," jawab Rani.


"Suruh masuk, Mba Rani!"


"Baik,"


Tok ... Tok ... Tok


"Apakah aku mengganggu?" tanya Dicky menyembulkan kepalanya di celah pintu.


"Ah, tidak. Masuklah, Kak!" Dicky melangkahkan kakinya masuk dan duduk di sofa. Dia menoleh ke arah Aska yang tertidur, kemudian dia tersenyum tipis sambil mengusap rambut Aska pelan.


"Wah, Aska sampai tertidur disini. Kasihan sekali anak ini!" ujarnya.


"Aska itu anak yang pintar. Dia tahu kalau Mommynya sedang sibuk. Dia main sendiri ditemani Lina. Karena kelelahan, akhirnya tertidur!"


"Oya, Ini aku bawakan makan siang untuk kalian. Aku tahu, Kau pasti tidak sempat untuk membeli makan. Makanya aku belikan untukmu!"


"Terimakasih, Kak. Aku tidak tahu bagaimana membalasnya!"


"Kau tidak perlu memikirkan itu semua! Bukankah aku ini kakakmu!" gelak Dicky.


"Ayo makanlah!" suruh Dicky.


Saat Amelia mendekati sofa, tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Tubuhnya terhuyung ke belakang. Secara refleks, Dicky yang ada dibelakangnya menangkap tubuh Amelia.


"Kau tidak apa-apa?" cemas Dicky.


"Kepalaku pusing, Kak. Sepertinya aku terlalu memforsir tenagaku, hingga tenaga ku terkuras habis hanya untuk bekerja!"


"Biar aku bantu!" Dicky memapah tubuh Amelia supaya duduk di sofa.


"Terimakasih, Kak,"


"Minumlah ini!" Dicky menyodorkan air mineral untuk Amelia.


"Ayo kita ke Dokter!"


"Nggak, Kak. Aku nggak apa-apa. Istirahat sebentar pasti pusingnya hilang!"


"Sepertinya Kamu itu terlalu kecapean, Mel!" ucap Dicky.


"Mungkin, Kak," jawabnya sambil tersenyum, "Aku juga terlalu frustasi memikirkan masalahku!"


"Kamu sabar ya, Mel! Kamu harus kuat!"


"Terimakasih banyak, Kak,"


"Oya, orang-orang ku sudah mulai mencari keberadaan Thomas!"

__ADS_1


"Apakah orang suruhan Kakak sudah menemukan informasi mengenai Mas Thomas?"


"Sayangnya belum," lirih Dicky, "Tapi, Aku akan terus melakukan pencarian untuk menemukan Thomas!"


"Huft, Aku kira Kakak sudah menemukannya!" sedih Amelia.


"Kamu sabar ya! Aku tidak akan berhenti sampai aku menemukannya!"


"Maaf ya Kak! Aku sudah terlalu merepotkan Kakak!"


"Nggak, Mel. Kamu nggak pernah merepotkanku. Berhenti berfikir seperti itu!"



Thomas kembali berlatih untuk berjalan. Sedikit demi sedikit ada kemajuan. Dia bisa melangkahkan kakinya satu dua langkah. Kemudian berhenti sejenak. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Tapi, dia tidak pantang menyerah. Dia ingin bisa kembali berjalan seperti dulu.


"Kak, istirahat dulu! Nih, Arum buatkan minum!" suruh Arum.


"Lihatlah, Rum. Aku bisa melangkahkan kakiku satu dua pijak!" ujarnya tanpa mengindahkan ajakan Arum untuk beristirahat.


"Kakak pasti bisa berjalan lagi! Percayalah, Kak!" ujarnya, "Sekarang, duduklah dulu! Jangan terlalu dipaksakan!"


"Baiklah. Aku duduk!" Thomas mendekati Arum yang sedang duduk di kursi risban yang sudah rapuh dimakan usia.


"Ini, Kak. Minumlah teh hangat ini!"


"Terimakasih, Rum!" jawab Thomas, "Kamu sangat baik, Rum. Pria yang memperistri kamu pasti akan sangat bahagia!" puji Thomas.


"Kak Thomas bisa saja! Mana ada pria yang mau sama Arum. Sudah jelek, anak orang miskin lagi!"


"Jangan begitu, Rum! Jodoh itu ditangan Tuhan!" tutur Thomas.


"Dulu, Aku bertemu dengan Amelia saja tidak sengaja. Istriku hanya karyawan butik Mamaku,"


"Oya, Kok bisa, Kak?"


"Maksudnya?"


"Iya, aku ini seorang duda. Dulu status dia masih istri orang!" gelaknya, "Dengan mudah dia meluluhkan hati Sherly, Anakku. Padahal Sherly itu sangat manja dan keras kepala. Dengan mudah Amelia meluluhkan hatinya!"


"Lalu?"


"Karena dia dekat dengan anakku, secara langsung kami sering bertemu. Aku pun jatuh cinta padanya!"


"Benarkah? Hubungan macam apa itu? Kok aneh sekali!"


"Jangan-jangan Kak Thomas seorang pebinor?"


"Ha ... Ha ... Ha." tawa Thomas menggelegar.


"Iya, Nggak lah!" kekehnya.


"Hubungannya dengan mantan suaminya sudah retak sejak dulu. Mereka pun bercerai!" kekehnya.


"Aku tidak perlu menceritakan kenapa Amelia sampai bercerai dengan mantannya dulu!" batin Thomas tersenyum geli mengingat masa lalunya.


"Kemudian aku memperistri dia,"


"Pasti Mba Amelia itu sangat baik dan cantik,"


"Iya, dia sangat cantik dan baik. Aku sangat mencintainya," puji Thomas, "Dia sedang apa ya? Dia pasti sangat mencemaskan ku!" gumamnya.


"Ehm, Arum nggak rela, jika Kak Thomas harus balikan lagi sama Istrinya! Arum juga sayang sama Kak Thomas," batin Arum, meremas jari jemarinya sendiri.


"Oya, Rum. Kamu sudah berhasil menghubungi istriku?"

__ADS_1


"Belum diangkat juga, Kak!"


"Aneh, Kenapa nomor Amelia justru tidak aktif disaat situasi genting seperti ini!"


"Aku tidak bisa menghubungi Bram," batin Thomas, "Saat aku kecelakaan, Bram ada disitu. Tapi, kenapa dia tidak menolongku? Kenapa Bram tega mengkhianati ku? Ada apa denganmu, Bram? Kenapa Kau tega sekali?"


"Ada apa, Kak?" tanya Arum membuyarkan lamunan Thomas.


"Eh, tidak apa-apa,"


"Setelah aku sembuh, Aku ingin pergi ke Kota. Aku ingin bertemu dengan Istri dan anakku!"


"Tapi, Kak?" sedih Arum, "Apakah Kakak akan meninggalkan Arum dan Bapak sendiri disini?" Thomas nampak berfikir.


"Tapi, Aku harus pulang, Rum! Sudah terlalu lama aku meninggalkan Istri dan anak-anakku!"


Thomas berdiri dan hendak masuk ke dalam. Tiba-tiba Arum memeluknya dari belakang. Dia terisak di punggung pria itu.


"Arum tidak mau Kakak pergi dari sini! Arum senang Kakak ada disini. Tidak bisakah Kakak tinggal saja disini. Arum sangat menyayangi Kakak!" ujarnya.


"Aku juga, Rum. Aku juga sangat menyayangi kamu!" ucap Thomas. Terbit sebuah senyum dibibir manis Arum.


"Tapi sebagai seorang adik!" imbuh Thomas sambil mengelus puncak kepala Arum.


"Kau sama seperti Alina, Adikku! Seseorang yang perlu aku jaga dan aku lindungi! Melihatmu, Aku melihat Alina, Adikku!" terangnya.


"A-pa? Adik? Hanya sebatas adik?" batin Arum, kembali mukanya ditekuk.


"Sudah malam, sebaiknya Kau tidur. Anak gadis tidak baik tidur malam-malam!" ucap Thomas seraya berlalu pergi.


"Ih, menyebalkan. Kenapa hanya adik sih? Padahal Arum mengharapkan lebih!" kesal Arum, "Sebel banget deh sama Kak Thomas!"


"Arum akan membuat Kak Thomas jatuh cinta sama Arum. Kemudian dia menikahi Arum!" senang Arum berspekulasi sendiri.



Keesokan harinya, Arum bangun lebih pagi. Dia sudah memasak untuk sarapan Bapak dan Thomas. Sarapan kali ini istimewa, dia membuat opor ayam.


Pagi sekali dia sudah menyembelih ayam, dan menjadikannya opor ayam. Selesai memasak, Arum langsung mandi dan berdandan cantik. Dia memakai baju terbaik yang dia miliki. Yang dia beli saat lebaran dipasar loak.



Satu stel dress bunga diatas lutut, dengan pita di pinggang. Bagian dadanya terlihat agak rendah, menampilkan belahan buah melonnya yang menggoda. Pria manapun yang melihat pastilah akan bertraveling liar.



Arum juga sedikit menaburkan bedak tabur yang ia beli di tukang kelontong, tidak lupa memakai lipstik dari daun jati. Rambutnya, ia kuncir menjadi satu. Memperlihatkan leher putih dan jenjangnya. Membuat Arum tampil cantik dan seksi.



Bapak sudah bangun dan mandi. Dia bersiap-siap untuk berangkat mencari rumput. Sebelum mencari rumput, Arum menyuruh Bapaknya untuk sarapan terlebih dahulu.


"Wah, tumben kamu masak ayam, Rum?"


"Iya, Nih, Pak. Arum bosan makan itu-itu saja! Sekali-kali lah kita makan ayam!" jawab Arum.


"Kamu juga tampil cantik, Rum! Tumben! Ada apa sih?"


"Masa sih? Perasaan biasa saja deh, Pak!"


"Tapi bener, Rum. Kamu tampil cantik hari ini!" Arum tersenyum bahagia. Bapaknya saja mengatakan kalau dirinya cantik, apalagi orang lain. Pikir Arum.


"Iya, sudah. Bapak cari rumput dulu ya! Hati-hati dirumah!"


"Iya, Pak!"

__ADS_1



to be continued ...


__ADS_2