
Sudah satu Minggu lamanya mereka di rawat di RS jiwa. Hari ini Mila sudah diperbolehkan untuk pulang, karena keadaannya juga sudah agak membaik. Berbeda dengan Meli, terpaksa dia masih harus dirawat. Karena rasa trauma yang berat membuatnya berteriak-teriak terus. Terkadang Meli juga berusaha untuk menyakiti dirinya sendiri, dengan menggunakan benda-benda yang ada disekitarnya. Seperti garpu, sendok bahkan piring. Membuat petugas RS harus lebih memperketat dalam mengawasi pasiennya.
Mobil Arga melaju dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Sesekali dia melihat kaca melirik ke arah kursi penumpang, Mila menyenderkan kepalanya di bahu Dahlia. Tatapannya kosong, dia hanya diam tidak mengatakan apapun. Adik yang dulu selalu ceria, kini tidak ada semangat untuk hidup.
Sampai di rumah, Dahlia menggandeng tangan Mila masuk ke dalam rumah. Baru di tinggal satu hari, rumah sudah terlihat berantakan. Ratih sang menantu tidak mau membantu membereskan dan membersihkan rumah.
"Ratih, Ratih!" panggil Dahlia kesal.
"Iya, Bu." dari dalam Ratih nampak terburu-buru lari keluar. "Ada apa, Bu?" tanya Ratih.
"Apakah satu hari saja, kau tidak bisa membantu mertuamu ini membersihkan rumah?" marah Dahlia.
"Maaf, ya, Bu! Posisi Ratih di sini adalah menantu bukan pembantu," ujarnya.
"Ratih!" kesal Dahlia. Dahlia menoleh ke arah Mila. Kali ini dia mengurungkan niatnya untuk memarahi Ratih, karena ia tidak mau Mila merasa terganggu.
"Mila, Sayang. Kita ke kamar ya?" ajak Dahlia. "Arga, urus istrimu yang pemalas itu!" ucap Dahlia kepada Arga.
Arga menatap tajam ke arah istrinya. Ratih hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Dia tahu bahwa suaminya sedang marah.
"Apakah kau tidak memiliki perasaan iba sedikitpun kepada ibu? Dia sudah terlalu capek dan lelah. Kenapa kau tidak membantu ibu mengurus rumah?" tanya Arga sangat kesal.
"Lho, Mas. Aku di sini adalah menantu, aku bukan pembantu. Jadi, kenapa aku harus melakukan pekerjaan pembantu?" jawab Ratih.
"Kau ini seorang istri dan menantu. Jadi sudah kewajiban kamu untuk melakukan pekerjaan seperti itu!" ucap Arga.
"Lho, kenapa mas tidak menyewa jasa ART saja. Kita tidak perlu repot-repot untuk membersihkan dan membereskan rumah. Bereskan?" ucap Ratih.
"Kau ini bisanya menjawab omongan suami. Berbeda dengan Amelia. Dia tidak pernah membantah apa kata-kata suami. Dia juga bukan seorang wanita pemalas seperti dirimu. Bahkan saat dia sedang hamil saja, dia masih bisa melakukan pekerjaan rumah dan bekerja. Sedangkan kamu, membereskan rumah saja kamu ogah-ogahan. Padahal kamu hidup di rumah mertua kamu, Apakah kamu tidak malu?" marah Arga.
"Ish, Mas. Aku disini juga gara-gara kamu. Aku menikah denganmu itu ingin hidup enak. Kenapa sekarang aku harus bersusah-susah payah? Dan satu lagi ya, Mas. Aku sedang mengandung anak kamu! Darah dagingmu! Sudah pasti aku mau yang terbaik untuk diriku dan calon anak kita!" jawab Ratih. "Dan jangan pernah kamu banding-bandingkan diriku dengan dirinya. Tentu saja kami berbeda. Lihatlah, aku lebih cantik, feminim, dandananku berkelas. Tidak seperti mantan istrimu. Kampungan dan tidak berkelas!"
"Ratih!" teriak Arga tertahan.
"Kenapa? Mas mau marah dengan ku?" tantang Ratih. "Oya, dengar-dengar! Mantan istrimu sudah menikah lagi! Dan dia menikahi seorang pria kaya. Ternyata hidupnya sangatlah beruntung, lepas dari kamu mendapatkan pria kaya raya," ucap Ratih sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Apa? Benarkah Amelia sudah menikah lagi?" tanya Arga di dalam hati.
**************
Amelia menghubungi suaminya, karena sedari tadi Aska rewel. Badannya agak demam, mungkin karena efek imunisasi, tubuh Aska agak kurang sehat.
Thomas baru saja menyelesaikan meeting dengan beberapa klien, dia baru membuka ponselnya yang sengaja ia non aktifkan. Beberapa panggilan dan pesan masuk ke daftar notifikasinya. Ternyata istrinya yang menghubungi dan mengirimkan beberapa pesan. Ia membaca pesan tersebut, dan dia langsung bergegas pulang ke rumah.
Thomas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sangat khawatir dengan keadaan Aska. Dia juga tidak lupa menghubungi Alina untuk memeriksakan keadaan Aska. Alina pun langsung pulang ke rumah Mamanya untuk memeriksakan kondisi Aska.
Sampai di rumah, Thomas langsung berlari menuju kamarnya. Di kamar ternyata Amelia sedang menggendong Aska yang masih menangis.
"Sayang! Aska kenapa?" tanya Thomas.
"Sepertinya Aska demam, Mas!" jawab Amelia. Thomas memegang kening putranya, ternyata benar saja, badan Aska panas.
"Ada apa, Thom?" tanya Mama Celine melihat putranya cemas.
"Aska demam, Mah," jawab Thomas.
"Sudah, Ma," jawab Thomas.
"Assalamualaikum?" tiba-tiba Alina sudah di depan kamar.
"Walaikumsalam," jawab mereka serempak.
"Ada apa dengan Aska?" tanya Alina.
"Sedari semalam Aska rewel, badannya juga agak demam. Apakah ini karena efek dari imunisasi, Al?" tanya Amelia.
"Coba Alina periksa dulu!" Alina mendekat ke arah Aska yang terbaring di tempat tidur. Saat diperiksa, Aska terus menangis.
Selesai Alina memeriksa, barulah dia mengetahui apa penyebab Aska menangis. Badan Aska memang panas, dan sedikit bengkak pada bekas imunisasinya.
"Kenapa dengan Azka, Al?" tanya Amelia khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kakak ipar. Ini biasa terjadi kepada anak yang sudah di imunisasi. Aska menangis karena dia merasakan nyeri di bagian bekas suntikan nya. Kakak ipar bisa mengompresnya dengan air hangat supaya tidak terlalu bengkak. Nanti saya akan memberikan obat penurun panas dan pereda nyeri. Sebaiknya kakak ipar memberikan ASI eksklusif kepada Aska. Itu sangat baik bagi bayi yang sedang sakit," jelas Alina.
"Benarkah tidak ada yang serius, Al?" tanya Thomas.
"Tidak ada, Kak. Kakak tenang saja. Saya sarankan pemberian ASI eksklusif untuk Aska. Bila Aska mau, Aska bisa diberikan madu khusus bayi," ucap Alina.
"Baiklah,"
"Ini obat pereda nyeri dan demam untuk Aska," ucap Alina memberikan obat demam dan nyeri berupa sirup anak.
"Terima kasih banyak, Al," ucap Amelia.
"Semoga lekas sembuh, Kakak ipar," ucap Alina memeluk kakak iparnya.
"Baiklah, aku kembali ke Rumah Sakit. Aku masih banyak pasien," ujarnya.
"Baiklah, Sayang. Hati-hati di jalan!" ucap Mama Celine.
"Okey, Ma," jawab Alina menyalami punggung tangan Mamanya.
"Apa mau kakak antar?" tawar Thomas.
"Tidak usah kak. Aku bawa mobil sendiri,"
"Oya, Kak, Apakah Bang Bram masih di kantor?" tanya Alina.
"Iya, dia masih di kantor. Kakak menyuruhnya untuk menggantikan meeting setelah jam makan siang. Kakak nggak mungkin datang ke kantor lagi, karena kakak khawatir dengan keadaan Aska. Kalau kakak meneruskan meeting, takutnya nggak bisa konsen karena terus memikirkan keadaan Aska," jelas Thomas.
"Oh, begitu. Baiklak, Kak. Alina pergi dulu. Karena Alina langsung ke Rumah Sakit,"
"Okey, terima kasih banyak, Al,"
"Bye, Kak!"
Alina pun melajukan kendaraannya, meninggalkan rumah langsung menuju Rumah Sakit. Dan kebetulan, banyak pasien yang menunggu di Rumah Sakit.
__ADS_1
to be continued.....