
Butik cukup ramai, hingga pukul 5 sore Amelia baru selesai berkemas. Semua pelanggan yang sudah menjadi langganan tetap butik ini, meminta dilayani khusus oleh pemiliknya. Dengan terpaksa Amelia harus turun tangan. Pasalnya, langganan butik ini adalah salah satu ibu pejabat. Cukup lama, beliau menjadi langganan tetap butik ini. Dari pertama mama Celine yang memegang butik, hingga diturunkan ke Amelia.
Sedangkan Sherly sudah dijemput oleh sopir, dan diantarkan langsung ke butik. Amelia bersyukur memiliki anak-anak yang penurut dan pintar. Hanya sekali dia memberikan pengertian. Mereka langsung paham bahwa Mommy nya sedang sibuk. Mereka pun bermain berdua dengan ditemani Baby sister.
Mereka sampai di rumah hampir petang. Alina sudah menunggu kedatangan kakak iparnya di ruang tamu. Raut muka Alina menunjukkan raut muka yang kesal, rasanya sangat tidak enak dipandang.
"Kak, Aku ingin berbicara dengan kakak sebentar!" ketusnya.
"Ada apa?"
"Jangan disini, Kak! Aku ingin kita berbicara serius!"
"Baiklah,"
"Lina, Tolong mandikan anak-anak dengan air hangat. Lalu, suruh mereka makan dan istirahat!"
"Baik, Bu!"
Amelia mengikuti langkah Alina ke ruang kerja suaminya. Entah apa yang ingin Alina bicarakan dengannya. Amelia tidak tahu.
"Al, menyuruh kakak ke sini, karena ada sesuatu yang ingin Alina katakan!"
"Iya, Kakak siap mendengarkan!"
Alina mengeluarkan HP-nya, sepertinya dia sedang mencari sesuatu digaleri foto HP-nya.
"Ini, Kak!" Alina menyodorkan HP-nya ke arah Amelia. Ternyata itu adalah foto dirinya dengan Dicky. Amelia mengerutkan keningnya.
"Darimana kamu mendapatkan foto ini?"
"Itu tidak penting, Kak. Sekarang bisa Kakak jelaskan?"
"Al, kamu salah paham! Kakak dan Pak Dicky adalah teman. Dulu, kami sempat bekerjasama dalam urusan pekerjaan. Itu tidak lebih!" terang Amelia.
"Jika memang hanya urusan pekerjaan, kenapa kalian terlihat sangat mesra? Berpegangan tangan segala!" decih Alina, "Ingat, Kak! Kak Thomas memang sudah tidak ada. Tapi, kan belum ada setahun! Masa kakak sudah menjalin cinta lagi!"
"Sungguh, Al. Aku dan Pak Dicky tidak ada hubungan apa-apa, selain pekerjaan,"
"Iya, Semoga saja perkataan Kakak benar!" ketus Alina beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Alina! Tiba-tiba dia terlihat sangat marah!" sedih Amelia.
Disisi lain, Dicky nampak melamun memikirkan kata-kata Amelia. Dia masih belum percaya, Kakaknya Diego nekad berbuat itu. Perbuatan Diego kepada Amelia, membuat Dicky penasaran dan ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dengan sang kakak.
Sore itu juga, Dicky langsung melajukan kendaraannya untuk pulang ke rumah. Dia ingin mengorek informasi dari kakaknya. Dengan sangat kencang Dicky melajukan kendaraannya.
Sampai di depan halaman rumahnya, Dicky buru-buru masuk ke dalam. Dia mencari keberadaan Diego, ternyata Diego belum kembali. Entah kemana orang itu pergi, kakaknya tidak pernah mengatakan tujuannya.
Dicky memasuki kamar kakaknya. Dia sangat penasaran dengan kamar kakaknya. Yang selama ini selalu ditutup rapat, tidak ada seorangpun yang boleh memasukinya, bahkan saat ART ingin membersihkan kamar tersebut, Diego melarang keras ART membersihkannya.
Dicky membuka perlahan pintu kamar. Ruangan yang gelap dan pengap, sangat tidak nyaman tercium di indera penciuman. Kemudian dia nyalakan saklar lampu sebagai penerangan.
__ADS_1
Dicky terkejut melihat banyak foto terpasang di dinding. Foto Amelia. Dan yang paling membuatnya terkejut, banyak gambar koran bekas yang terpasang di dinding. Dicky mendekati gambar tersebut dan mengamatinya. Gambar sebuah kecelakaan. Namun yang membuat Dicky aneh, semua foto itu adalah foto kecelakaan lalu lintas beberapa tahun yang silam.
"Bukankah ini Monica? Jadi foto kecelakaan itu adalah foto saat Monica kecelakaan. Lalu, Apa hubungannya dengan keluarga Thomas?" monolog Dicky.
"Tunggu, Tunggu!"
To be continued ...
Penasaran dengan kelanjutannya??????😂
Tekan Like ....👍
Tekan Love ...♥️
Tekan Bunga ...💐
Tekan kopi....☕
Mampir juga di "OM I LOVE YOU"
Penggalan Cerita:
"Aku sudah cukup bersabar!" ucapnya, di dampingi mama yang berusaha menenangkan papa.
"Bacalah!" papa menyerahkan sepucuk surat yang barusan ia terima.
Astrid membacanya, dia terpaku membaca surat itu. Surat yang menjelaskan bahwa Yuda tidak mau menikah muda, dia masih ingin bersenang-senang, Masa depannya masih panjang, Yuda juga menjelaskan bahwa ia belum sempat mengobrak-abrik mahkota Zee.
Dia meminta maaf harus meninggalkan pernikahannya.
Bagaimana bisa dia pergi di saat semuanya telah di sepakati ?
Yuda putranya telah meninggalkan tanggung jawabnya, Yuda putranya menjadi seorang pengecut dan mencoreng nama Nalendra, nama besar keluarga papanya .
"Bagaimana ini?"
"Bagaimana dia pergi saat semuanya sudah di persiapkan?"
"Bagaimana kalian bisa mendidik seorang baj******n di rumah kalian?" semuanya terdiam merasa bersalah.
Astrid dan suaminya hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa malu, kecewa dan sedih.
"Biarkan putraku yang menggantikan!" ucap Oma tiba-tiba, membuat yang mendengarnya kaget bukan kepalang.
"Di surat itu,Yuda bilang! dia tidak sempat menyentuh mahkota putrimu kan?"
"Jadi aku yakin! Yuda tidak menyentuhnya!"
"Kenapa Anda bisa percaya dengan perkataan, ba*******n itu?" tanya papa.
"Aku tidak yakin! tapi aku yakin putri mu tidak akan berbohong!"
__ADS_1
"Tanyakan padanya? Apakah Yuda melakukannya atau tidak!"
"Bila jawabannya tidak! Aku akan menyuruh putraku Alan untuk menikahinya!" tegas Oma Sarah.
"Baiklah, Aku akan bertanya!" Roger dan istrinya segera menemui Zee, dan bertanya langsung kepada Zee.
Sedangkan Alan, menatap sedih mamanya.
Alan mengerti, kenapa mama sampai melakukan hal itu.
Dia sudah cukup mendengar lontaran kata-kata kasar yang di tujukan pada keluarganya.
"Mama, percayakan kepada ku!"
"Mama tenanglah!" Alan menggenggam lembut tangan wanita berkeriput itu.
"Zee?" panggil papa.
Papa menjelaskan masalah surat itu , Zee nampak terpukul dan sedih.
"Sekarang papa tanya! Apakah Yuda sempat melakukan hubungan itu kepada mu?" papa menatap tajam, meminta kepastian kepada Zee.
"Sumpah demi Allah, Pah!"
"Meskipun bibir dan tubuh Zee tidak suci, tapi mahkota Zee masih utuh! Zee masih menjaga mahkota Zee dengan baik!" papa memeluk putri nya dengan sayang, papa mencium kening Zee dengan deraian air mata.
"Untuk menyelamatkan pernikahan ini, menikahlah dengan Om nya Yuda!" ucap papa.
JEDERRR
Zee sangat tidak percaya, papa menyuruh Zee menikahi om-om.
Hatinya sangat terpukul, apakah untuk menyelamatkan kehormatan keluarga, Zee harus menikah dengan Om-om.
"Pa, Zee tidak mau menikah dengan om-om?" rengek Zee.
"Papa terpaksa, Nak?"
"Hiks.... hiks.... hiks!" tangis papa.
"Papa sudah tua!"
"Papa ingin melihatmu bahagia!" Zee benar-benar tidak tega melihat papa yang sangat di sayangi nya harus menangis dan bersedih memikirkan nasib dirinya.
"Baiklah, Pa! Zee bersedia!"
"Semoga Zee bisa menjalani pernikahan tanpa cinta ini!" sedih Zee.
"Apakah om itu bersedia menikah dengan Zee?" tanya Zee tiba-tiba.
"Merekalah yang merencanakan ini semua!" jawab papa.
__ADS_1
"Baiklah, Pa!" jawab Zee.
Bersambung ...