
Dua hari kemudian
Setelah mendengar penjelasan dari Syamsul, dan menerima bukti berupa surat keterangan dari Rumah Sakit, Dahlia nampak marah dengan perbuatan putranya. Dia tidak menyangka kalau putranya melakukan perbuatan terlarang itu, padahal statusnya bukanlah seorang yang lajang.
"Bu, telfon Arga!" ucap suaminya.
"Iya, Yah! Ini Ibu sedang berusaha menghubungi Arga! tapi tidak diangkat-angkat!" jawab Dahlia.
"Ya, sudah, kirim pesan saja, Bu!" ujar suaminya lagi.
"Baik, Yah!" pungkas Dahlia, Dahlia pun mengirimkan pesan kepada putranya untuk segera datang ke rumahnya, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Arga yang baru selesai mandi, sayup-sayup mendengar ponselnya sedari tadi berbunyi. Dia pun langsung mengambil ponsel tersebut, Arga nampak mengerutkan keningnya setelah membaca pesan dari ibunya.
"Siapa, Mas?" tanya Amelia.
"Ibu, Sayang! Mas harus ke rumah ibu sekarang, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan!" ucapnya.
"Baiklah, tapi hati-hati ya, Mas!" ujar Amelia.
'Iya, Sayang! Aku akan secepatnya pulang! Jaga dirimu baik-baik!" ucap Arga, dia pun langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya.
Perjalanan ke rumah Dahlia, tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena memang tidak terlalu jauh.
Arga memarkirkan mobilnya dihalaman rumah ibunya. Dia melihat ada sepeda motor yang terparkir di halaman, Arga pun masuk memberikan salam. Dirinya nampak terkejut melihat sudah ada Ratih dan laki-laki separuh baya sedang duduk di ruang tamu.
Sekilas Arga menoleh ke arah Ratih, namun Ratih hanya menundukkan kepalanya saja.
"Arga, duduk!" perintah ibunya, Arga pun duduk di sofa kosong, disamping ayahnya.
"Ada apa ini?" tanya Arga bingung.
"Kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Dahlia.
"Iya, dia adalah salah satu karyawan Arga di kantor!" ujarnya.
"Lalu kenapa?"
"Apakah kamu punya hubungan dengannya?" tanya Dahlia lagi.
__ADS_1
"Tidak! Mana mungkin Arga memiliki hubungan dengan wanita lain, ibu kan tahu, kalau Arga sudah beristri!" elaknya.
"Jika memang kamu tidak memiliki hubungan dengan wanita ini, bagaimana wanita ini bisa hamil anakmu?" murka Dahlia, sambil memberikan surat keterangan dari Rumah Sakit itu. Arga membacanya dengan seksama, dia sangat terkejut dengan hasil tesnya yang menyatakan Ratih positif hamil. Keringat dingin membasahi keningnya.
"Apakah kau ingin menyangkalnya, Bapak Arga yang terhormat?" seru Syamsul.
"Anakku hamil, dan kaulah yang bertanggung jawab atas semua ini! Jadi aku minta, nikahilah anakku!" tegasnya.
"Mana mungkin saya menikah lagi, saya sudah memiliki istri! Dan saya tidak mungkin menceraikannya!" jelasnya.
"Kamu tidak perlu menceraikan istrimu, tetapi saya hanya meminta kamu menikahi anak saya! Dia sedang mengandung anak kamu! Apakah kamu tega, membiarkan anak ini lahir tanpa seorang ayah disisinya?" tanyanya lagi.
"Arga, ibu sangat kecewa dengan tindakanmu! Keluarga kita, tidak ada yang memiliki sikap bejat seperti kamu! Kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita ini, lagipula wanita ini hamil anak kamu, darah daging kamu! Kamu harus menikahinya!" tegas Dahlia.
"Tapi, Bu .. ?"
"Ibu nggak mau tahu, kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya, jangan bikin ibumu ini malu!" potong Dahlia.
"Lagipula anak yang dikandung Amelia bukan darah dagingmu, justru kau harus lebih memperhatikan anak yang dikandung Ratih, karena dia darah dagingmu, cucu ibu!" pungkasnya lagi.
Arga menjambak rambutnya sendiri, dia sangat frustasi. Dia melirik ke arah Ratih, namun masih menunduk tanpa berkata apa-apa.
"Apa? Istrinya hamil anak orang lain!" batin Ratih.
"Oke, aku akan bertanggung jawab! Tapi, aku hanya akan menikah siri dengan Ratih! Tidak ada pesta dan tidak ada resepsi! Aku tidak mau kalau Amelia sampai tahu!" tegasnya.
"Okey, Ratih setuju!" ucap Ratih, tiba-tiba membuka suara.
"Kamu yakin, Nak?" tanya Syamsul pura-pura cemas.
"Iya, Pak, Ratih ikhlas, yang terpenting anak ini lahir dan diakui oleh ayah kandungnya sendiri!" imbuhnya polos.
"Baiklah, sudah diputuskan Arga akan menikahi putri Pak Syamsul, jadi Anda jangan khawatir!" ucap Dahlia.
"Dua hari lagi, mereka akan menikah secara Agama, dan semuanya akan saya persiapkan!" ujar Dahlia lagi.
"Baiklah, Bu! Sekarang saya sudah tenang dan tidak perlu marah-marah lagi seperti tadi," ucapnya, " Saya juga meminta mahar untuk anak semata wayang saya, berlian hati saya!" katanya lagi.
"Mahar? Mahar apa yang ingin Bapak minta untuk Ratih?" tanya Dahlia.
__ADS_1
"Saya ingin mas 500 gram, rumah, dan motor!" imbuhnya, Ratih dan Arga yang mendengar membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Anda ingin memeras keluarga saya!" tuding Arga.
"Baik, saya akan kabulkan!" potong Dahlia lagi.
"Ibu?" kesal Arga.
"Arga, duduk!" perintah ibunya.
"Baiklah, kami pihak laki-laki setuju! Kalian akan mendapatkan mahar yang kalian minta!" tukas ibunya, tentu saja Syamsul tersenyum sumringah.
Setelah acara diskusinya selesai, Arga memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia bingung harus mengatakan apa kepada istrinya. Di lain sisi, dia juga tidak mungkin membiarkan anak yang sedang dikandung Ratih tidak memiliki sosok ayah. Arga memukul-mukul stir mobilnya, dia sangat frustasi dan bingung.
Tidak terasa mobilnya sudah berhenti di depan rumah, namun dia sangat enggan untuk turun. Dia sedang menyesali segala perbuatannya, merutuki kebodohannya, sebentar lagi dia akan menikahi wanita lain, sebentar lagi dia akan memiliki istri lagi.
Amelia yang mendengar suara mobil suaminya, namun tidak melihat suaminya masuk kedalam rumah, akhirnya memutuskan untuk keluar.
Amelia menghampiri mobil suaminya dan sedikit mengetuk-ngetuk kaca jendela mobilnya.
"Mas?" panggilnya, Arga menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Sayang," jawabnya.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Amelia.
"Oh, iya, aku lupa!" jawab suaminya, namun Amelia masih menatapnya curiga, seperti ada yang disembunyikan suaminya.
"Ayo, masuk! Aku lelah, ingin beristirahat," ujarnya.
"Apakah mas sudah makan malam?" tanya Amelia.
"Sudah, Sayang, tadi di rumah ibu," jawabnya lagi.
"Oh," ujar Amelia, Arga tidak mau melihat istrinya curiga, akhirnya untuk sedikit melupakan kecurigaan istrinya, Arga membopong tubuh istrinya masuk ke kamar.
Arga membelainya dan menggelitik perut istrinya, membuat Amelia tertawa kegelian. Sampai akhirnya mereka melakukan ritual suami istri yang membuat Arga sedikit melupakan masalahnya.
Bangun dari tidurnya, Amelia merasakan pegal-pegal di seluruh tubuhnya. Namun perutnya merasa lapar, semalam dia belum makan malam, karena diajak olahraga malam oleh suaminya hingga dini hari. Dia memakai pakaiannya kembali, melangkah menuju dapur.
__ADS_1
Amelia menghangatkan lauk pauk dan sayurnya di microwave, setelah agak hangat dia menyendokkan nasi ke piringnya. Amelia makan dengan sangat lahap, anehnya selama dia hamil, dia tidak merasakan mual ataupun pusing. Nafsu makannya juga bertambah, biasanya Amelia menghabiskan satu centong nasi, sekarang dia harus makan dua kalinya. Belum lagi makan buah-buahan, dalam satu hari dia akan menghabiskan setengah kilo buah apel dan pir.
to be continued....