
Thomas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sekilas dia melirik ke arah kaca yang berada di dalam mobil. Dari arah kaca Thomas melihat keakraban keduanya, bagaikan ibu dan anak kandung. Di tengah perjalanan tiba-tiba Sherly merengek meminta jalan-jalan ke mall. Bocah kecil itu terus memaksa daddy-nya agar mau menuruti keinginannya. Amelia berusaha menasehatinya, tapi, kali ini Sherly sangat keras kepala. Mau tidak mau, Thomas harus mengikuti kemauan putrinya.
Mobil Thomas berhenti di sebuah Mall terbesar dan terkenal di kota J. Mereka masuk ke Mall tersebut, dan Sherly menggandeng Amelia ke toko mainan. Dia memilih mainan dan boneka, padahal mainan di rumahnya juga sudah sangat banyak.
Setelah membayarnya ke kasir, Thomas mengajak putrinya dan Amelia untuk makan, Karena perut Thomas merasa sangat lapar. Thomas memilih Restaurant dekat dengan toko mainan.
"Kita makan disini saja," ucapnya kepada Amelia dan Sherly.
"Baiklah," jawab Sherlly. Amelia pun mengangguk menuruti kemauan Sherlly.
Thomas memesan tiga porsi spaghetti carbonara, chicken teriyaki, dan tiga orange jus.
Sherly sangat menikmati makanannya. Sekali-kali Amelia menyuapi Sherly yang sangat manja kepadanya. Thomas tersenyum melihat keakraban keduanya. Saat sedang makan, tiba-tiba seorang wanita mendekat ke arah Amelia.
"Amelia?" panggilnya. Ternyata itu adalah Sari, teman kerjanya dulu.
"Sari." Mereka berpelukan, karena memang cukup lama juga mereka tidak bertemu.
"Apa kabar?" tanya Amelia.
"Alhamdulillah aku sehat," jawab Sari.
"Kau bagaimana?" tanya Sari.
"Wah, ternyata kau sedang mengandung, aku benar-benar senang kau bahagia bersama suamimu Arga," ucap Sari, Amelia menelan ludahnya kasar. Seperti ada kerikil tajam di tenggorokannya, dia enggan untuk membahas semua peristiwa-peristiwa yang sudah menorehkan luka terdalam di hatinya. Sari menoleh ke arah pria yang duduk dihadapan Amelia, dan seorang anak kecil perempuan yang disebelah Amelia.
"Oya, perkenalkan! Ini adalah Pak Thomas, beliau adalah putra dari majikan ku di butik! Dan yang ini adalah putrinya yang cantik, namanya Sherlly," ucap Amelia memperkenalkan Thomas dan Sherly kepada Sari.
"Hallo, semuanya! Senang bisa berkenalan dengan kalian," ucap Sari.
"Kami juga senang," jawab Thomas. "Apakah Nona mau pesan sesuatu, akan saya pesankan?" tanya Thomas.
"Ah, tidak perlu! Saya, sudah makan dan minum tadi," ujarnya.
"Oya, Amelia! Kemarin suamimu sempat mencarimu ke hotel! Kelihatannya dia sangat panik, dia mencari mu kemana-mana nggak ketemu! Apakah kamu ada masalah?" tanya Sari.
"Hotel," batin Thomas.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Amelia, sambil melirik ke arah Thomas. "Terima kasih atas informasinya! Aku memang sedang ada masalah dengannya, tapi aku nggak bisa cerita disini! Kita bertemu lain kali saja, nanti aku akan menceritakan semuanya kepadamu," tutur Amelia.
"Ehm, Baiklah Amelia! Itu saja, semoga kamu baik-baik saja ya? Aku sangat senang bisa bertemu denganmu!" ucap Sari.
"Terima kasih, Sari," jawabnya. Kemudian Sari berpamitan kepada Thomas dan Amelia, dia pun keluar meninggalkan Restoran tempat mereka makan.
Selesai makan, mereka semua memutuskan untuk pulang ke rumah. Sherly juga nampak kelelahan, dia tertidur di kursi belakang dengan berbantalkan paha Amelia. Sampai di rumah, Thomas membopong tubuh putrinya yang sedang terlelap, dia membopong tubuh Sherly dan meletakkannya di tempat tidur.
"Wah, dari mana kalian?" tanya Tante Celine kepada Amelia.
"Sherly menjemput Amelia dari butik, Tan! Dan dia merengek meminta jalan-jalan ke Mall," jawab Amelia.
"Oh, jalan-jalan! Bisa-bisanya dia," ujar Tante Celine terkekeh.
"Kenapa Tante?" tanya Amelia bingung.
"Tidak apa-apa," jawab Celine.
"Tan, Amelia permisi ke kamar dulu! Amelia mau mandi dan bersih-bersih," ucapnya.
"Sepertinya Sherlly sangat bahagia bila didekat Amelia, Apakah kau bisa merasakan itu?" tanya Celine kepada putranya.
"Iya, Mah! Thomas juga merasakan itu," jawabnya.
"Apakah kau tidak mempunyai rasa kepadanya?" tanya Celine.
"Ish, Mamah! Dia itu masih bersuami, jadi, tidak usah Mama menjodohkan Thomas dengan wanita yang sudah bersuami," jelas Thomas.
"Jika dia seorang janda, Apakah kau mau menerimanya?" tanya Mama lagi.
"Thomas serahkan saja kepada takdir," jawabnya, sambil berlalu pergi dari kamar Sherly.
"Itu berarti putraku ada perasaan dengan Amelia," batin Celine, dia begitu bahagia dan senang.
Sudah dua Minggu lamanya, Thomas di Indonesia. Akhirnya dia harus kembali lagi ke Jerman. Memang di sana dia juga memiliki Perusahaan sendiri, sedangkan di Indonesia adalah Perusahaan peninggalan dari mendiang Papahnya. Sekali-kali Thomas mengecek Perusahaan papahnya, tentu saja dia dibantu oleh orang-orang kepercayaannya di Indonesia.
Sherly begitu sedih atas kepergian papanya ke luar negeri, pasalnya memang dia sangat membutuhkan perhatian lebih dari sang papa. Namun karena suatu pekerjaan yang tidak bisa ditunda, terpaksa Thomas harus meninggalkan Sherly bersama Omanya.
__ADS_1
Sherly tidak mau ke Sekolah, dia hanya melamun saja didekat jendela. Amelia dan Tante Celine sudah membujuknya, namun tidak berhasil. Mungkin karena memang Sherly masih sangat merindukan daddy-nya. Tante Celine dan Amelia sampai bingung dibuatnya.
Satu Minggu kepergian daddy-nya, Sherly masih saja bersedih. Dia tidak bersemangat dan sampai sakit. Semua orang di dalam rumah sampai kalang kabut di buatnya. Terpaksa Omanya harus membawa Sherly ke Rumah Sakit. Amelia dengan setia menunggu Sherly di Rumah Sakit, tanpa meninggalkannya sedikitpun. Dia merasa khawatir dengan kondisi Sherly.
"Tante, bagaimana ini?" tanya Amelia kepada Celine.
"Tante sudah menghubungi Thomas, tapi, Thomas tidak bisa meninggalkan pekerjaannya! Karena, ada masalah di sana!" jelas Celine kepada Amelia.
"Jalan satu-satunya adalah kita ke Jerman," ujar Celine.
"Kalau begitu, Tante dan Sherly ke Jerman saja! Biar Amelia menunggu di rumah," jawabnya.
"Kau juga harus ikut, Sayang! Tante yakin, Sherly tidak akan mau ikut jika kau tidak ikut bersama kami," jelas Celine. Amelia nampak berfikir, dirinya sedang hamil, apakah tidak akan apa-apa jika berpergian jauh.
"Semuanya akan Tante urus! Kau tinggal ikut saja, tidak perlu memikirkan hal-hal yang lain," tutur Tante Celine.
"Bagaimana ya?" Amelia nampak masih berfikir.
"Apakah kau tidak merasa kasihan dengan Sherly?" sedih Tante Celine.
"Baiklah, Tan! Amelia akan ikut, Tapi, jangan terlalu lama di sana ya, Tan! Amelia kan juga harus bekerja mencari uang untuk biaya persalinan nanti," terangnya.
"Kamu tenang saja! Bahkan akan tetap Tante gaji penuh! Selama kamu ikut dan menemani Sherly," ucap Celine.
"Aduh, bukan begitu maksud Amelia, Tan! Tapi ....!"
"Sayang, ikutlah bersama kami! Anggap saja kau sedang bekerja mengasuh Sherly," mohon Celine kepada Amelia.
"Baiklah, Tan! Amelia akan ikut bersama Tante dan Sherlly," jawab Amelia.
Amelia dan Tante Celine memberikan semangat kepada Sherly agar sembuh, setelah sembuh Sherly bisa menyusul ayahnya ke Jerman. Sherly yang mendengar kabar tersebut sangat bahagia, sambil berjingkrak-jingkrak di atas kasur Rumah Sakit, dia meluapkan rasa bahagianya yang tidak terkira. Apalagi, dia akan berpergian jauh dengan Amelia dan Omanya.
"Rahasiakan kedatangan kita kepada Daddy kamu, Sayang," pesan Omanya.
"Iya, Oma!" jawab Sherly begitu bahagia.
to be continued...
__ADS_1