
Keesokkan Paginya
Setelah mobil suaminya tidak nampak lagi, Amelia bergegas melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik. Sebuah suara memanggilnya, membuat Amelia harus memutar tubuhnya ke sumber suara tersebut. Dia terlonjak kaget, melihat seorang pria berdiri di belakangnya.
"Pak Diego?"
"Hey, cantik," sapanya.
"Apa yang Bapak lakukan di sini?"
"Tentu saja ingin menemuimu," ujarnya santai.
"Bapak tahu kan kalau saya sudah bersuami. Jadi, saya mohon, tolong jauhi saya. Saya tidak mau ada kesalahpahaman disini!" Ucap Amelia serius, tapi, pria yang berdiri di depannya hanya tergelak senang.
"Saya tahu kalau kamu sudah bersuami. Tapi saya tidak perduli. Karena saya benar-benar sudah jatuh cinta sama kamu," ucapnya tepat ditelinga Amelia.
"Astaga," Amelia membelalakkan matanya.
"Bapak jangan macam-macam ya! Saya ini sudah berkeluarga, dan saya sangat menyayangi keluarga saya. Jadi, saya mohon menjauhlah dari hidup saya," tegas Amelia. Wanita cantik itu memutar tubuhnya, dia hendak masuk ke dalam butik. Namun tangannya ditahan oleh Diego.
"Saya tidak perduli. Selama ini apa yang saya inginkan harus saya dapatkan. Bila perlu saya akan merebutnya. Saya akan merebut kamu dari suamimu!" bisiknya tepat di telinga Amelia. Amelia menepis dengan kasar tangan pria itu. Dan ...
PLAKK ...
Tamparan keras berhasil mendarat di pipi Diego. Amelia tidak bisa menolerir kata-kata yang diucapkan oleh Diego. Menurutnya itu sudah sangat keterlaluan.
"Anda sudah tidak waras!" ketus Amelia. Diego hanya tergelak bahagia, sudah berhasil mengungkapkan perasaannya. Sambil memegangi pipinya, dia melambaikan tangan ke arah Amelia.
Amelia bergegas masuk ke dalam butik dan menyuruh para karyawan untuk melarang pria itu masuk ke butik. Tubuhnya bergetar hebat, mengingat ucapan demi ucapan Diego.
"Apakah Diego adalah peneror itu? Lalu, ada hubungan apa Diego dengan keluarga Williams? Tapi, tidak mungkin rasanya kalau Diego memiliki hubungan dengan peneror itu," Amelia bermonolog sendiri, "Bukankah Diego baru kembali dari Bali, dan Pak Dicky bilang kalau Diego menetap di sana. Lalu, Bagaimana mereka saling mengenal?"
"Ah, masalah ini membuatku pusing!" gerutunya.
Di dalam mobil, Amelia hanya terdiam. Thomas yang melihat perubahan sikap istrinya, tentu saja mengundang rasa penasarannya.
__ADS_1
"Ada apa, Sayang? Kenapa sedari tadi kau diam? Apakah ada masalah dengan pekerjaanmu?" tanya Thomas. Amelia menatap manik suaminya.
"Mas, Apakah kau kenal dengan Dicky? Kau kenal dengan kakaknya?" cecar Amelia.
"Dicky aku kenal, kalau Diego, siapa itu? Aku nggak kenal," jawab sang suami dengan mengangkat bahunya.
"Kau kenal dengan keluarganya Dicky?"
"Ish, Sayang. Ada apa sih? Sepertinya kau begitu perduli dengan Dicky," ucap Thomas merasa tidak suka.
"Ck, Mas aku serius. Ini bukan masalah Dicky. Tapi, Kakaknya,"
"Maksudmu?"
"Apakah keluarga Williams kenal dengan Diego?"
"Sepertinya tidak," jawab Thomas, "Apa yang terjadi, Sayang? Apa yang dia lakukan kepadamu?"
"Entahlah. Aku merasa sangat aneh dengan ucapannya," jawab Amelia.
"Apa yang sudah ia ucapkan kepadamu? Jujur, Sayang!" Amelia menghela nafasnya panjang.
"Apa? Sejak kapan?"
"Aku tidak tahu sejak kapan. Kami tidak sengaja bertemu di Supermarket. Ternyata dia adalah kakak Pak Dicky. Dan yang membuatku aneh, secara terang-terangan dia mengatakan cinta kepadaku, padahal dengan jelas aku mengatakan, bahwa aku sudah menikah," jelas Amelia.
"Aku akan menemuinya!" Thomas mengepalkan tangan pada stir mobil.
"Jangan, Mas. Jika kau bertemu dengannya, apa yang ingin kau lakukan?"
"Akan aku hajar dia," ucap Thomas dengan penuh amarah. Thomas membelokkan mobilnya ke arah kantor Dicky.
"Kenapa kita ke kantor Dicky?" Thomas tidak perduli dengan pertanyaan istrinya.
"Mas?" panggil Amelia, yang tidak dihiraukan oleh suaminya.
__ADS_1
Thomas keluar mobil, dan melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kantor milik Dicky. Kebetulan Dicky baru keluar dari kantor, ia melihat ke arah Thomas yang berjalan ke arahnya. Dicky sangat senang, dan tentu saja ia hendak menyambut kedatangannya.
BUGH ...
Satu bogeman keras berhasil mendarat di pipi Dicky.
"Auw," pekik Dicky memegangi pipinya.
"Ada apa ini?" tanya Dicky sambil memegangi pipinya.
Amelia langsung berlari dan mencegah perkelahian antara suaminya dan Dicky.
"Mas, hentikan! Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Katakan kepada kakak kamu, Diego. Amelia sudah memiliki suami yang sangat menyayanginya. Jadi, jangan ganggu rumah tangga kami!" murka Thomas.
"Apa maksud Anda, Pak Thomas?" tanya Dicky tidak mengerti. Dicky memang tidak tahu apa-apa.
"Mas, Aku mohon hentikan. Pak Dicky tidak tahu apapun. Ayo kita pulang!" ajak Amelia menarik lengan suaminya supaya masuk ke dalam mobil.
"Aku peringatkan sekali lagi. Katakan kepada Kakak Anda untuk menjauhi istri dan keluarga saya!" ancam Thomas.
"Maafkan saya, Pak Dicky!" Amelia bergegas menarik tangan suaminya untuk masuk ke mobil. Sedangkan Dicky dibantu karyawan lain untuk berdiri.
Thomas mendiamkan Amelia di dalam mobil. Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut suaminya. Sesekali Amelia melirik ke arah Thomas yang sedang berkonsentrasi menyetir mobil.
"Mas, aku rasa sikap kamu keterlaluan kepada Pak Dicky," ucap Amelia membuka percakapan. Thomas masih tidak bergeming. Dia masih fokus dengan mobilnya.
"Mas?" panggilnya dengan lembut.
"Aku hanya tidak suka ada seseorang selain aku yang menyukai dirimu," ujarnya. Hatinya berdesir sangat aneh, dan juga sangat bahagia. Ternyata suaminya benar-benar takut kehilangan dirinya. Amelia menggenggam tangan Thomas, dan menyenderkan kepalanya dilengan sang suami.
"Itu hak mereka, Mas. Yang terpenting, hatiku kan hanya untukmu," ucap Amelia sambil mengusap tangan suaminya.
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Jadi kau tidak perlu meragukan kesetiaan ku," ucapnya.
__ADS_1
"Iya, Sayang," jawabnya, sambil mengecup puncak kepala sang istri.
to be continued .....