
"Sekarang kamu duduk ya, biar Mama yang mengurus semuanya!" ucap mertuanya. Terpaksa Amelia kembali ke tempat suaminya duduk. Thomas yang melihat istrinya kembali lagi, hanya tersenyum saja.
"Kan sudah aku bilang. Pasti Mama akan melarang kamu untuk bercapek-capek ria. Dia tidak akan rela kalau menantunya tuh jatuh sakit karena kecapean," ucap Thomas.
"Ish, Mas kok ngomongnya gitu!" manyun Amelia. Thomas hanya terkekeh geli melihat sang istri memajukan bibirnya sampai sepuluh centi, namun masih tetap sangat cantik.
"Aska sama Mommy dulu ya! Daddy mau mengambil minuman," ucap Thomas sambil menyerahkan Aska kepada istrinya.
"Mas mau kemana?" tanya Amelia.
"Mas ambil minuman dan makanan dulu! Sekalian cari Sherly," jawabnya.
"Sherly sepertinya sedang bermain dengan anak-anak di situ, Mas!"
"Oke, kamu tunggu di sini. Aku mau ambil minuman dan cari Sherly!"
"Buruan, Mas. Acaranya akan segera dimulai!" ucap istrinya.
Beberapa menit kemudian, acara di mulai. Amelia duduk dengan memangku putranya, di sampingnya ada Mama Celine dan Sherly. Sedangkan Thomas duduk bersama dengan kedua mempelai dan penghulu. Pasalnya, di sini Thomas sebagai wali dari mempelai perempuan.
Penghulu menjabat tangan mempelai pria, dan bertanya kepada keduanya, apakah mereka sudah siap atau belum. Dengan keyakinan penuh, mereka menganggukkan kepalanya.
"SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU SAUDARA BRAM NUGROHO BIN HENDRA SETIAWAN NUGROHO ALMARHUM, DENGAN ANAK SAYA BERNAMA ALINA WILLIAMS BINTI FERDINAND WILLIAMS ALMARHUM, DENGAN MAS KAWIN PERHIASAN MAS DAN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DI BAYAR TUNAI!" ucap Pak Penghulu.
"SAYA TERIMA NIKAHNYA ALINA WILLIAMS BINTI FERDINAND ALMARHUM DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!" jawab Bram dengan sekali tarikan nafas tanpa terputus, dengan suara yang lantang, sampai setiap dinding memantulkan suaranya ke telinga orang-orang.
"SAH!"
"SAH." dijawab serentak oleh para tamu undangan di situ. Mereka bertepuk tangan dengan riuhnya, turut merasakan kebahagiaan kedua pasangan pengantin baru itu.
Setelah acara ijab qobul selesai, dilanjutkan dengan resepsi, kedua mempelai duduk di kursi pelaminan. Seorang ustadz memberikan tausiyahnya kepada semua orang yang hadir. Selesai acara, satu persatu orang meninggalkan tempat dengan memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
Thomas dan Amelia juga ikut memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Mereka saling berpelukan, ikut merasakan kebahagiaan Bram dan Alina.
"Selamat ya, Al. Aku turut bahagia, akhirnya kalian bisa bersama juga!" ucap Amelia.
"Terima kasih banyak kakak ipar," jawab Alina sambil memeluk kakak iparnya. Kemudian gantianThomas yang memberikan ucapan selamat kepada adiknya. Thomas memeluk adiknya dengan sayang. Akhirnya Alina dan Bram bisa bersatu. Amelia juga memberikan ucapan selamat kepada Bram. Bram yang begitu bahagia, tanpa dia sadari hendak memeluk tubuh istri abangnya, membuat Thomas melototkan matanya.
__ADS_1
"Jika Kau memeluknya, aku pastikan tangan ini menghajar wajahmu yang tampan itu!" ucap Thomas tiba-tiba, membuat Bram mengurungkan niatnya untuk memeluk Amelia.
"Ck, Abang ini pelitnya minta ampun. Sudah tua saja masih cemburu!" sungutnya. Membuat Amelia dan Alina terkekeh geli.
"Hanya aku yang boleh memeluknya!" tegasnya.
"Ck," desis Bram.
Selesai acara, mereka semua menginap di hotel. Mama Celine sudah menyiapkan tiga kamar VIP untuk keluarganya menginap di hotel. Kali ini Sherly memilih tidur dengan Omanya. Mama Celine sangat senang dengan permintaan cucunya. Apalagi Daddy-nya. Sedari tadi Thomas senyum-senyum sendiri. Pikirannya traveling kemana-mana.
"Akhirnya aku bisa berbulan madu lagi dengan istri ku. Ah, senangnya, Sherly tidak menjadi pengganggu," batin Thomas sambil tersenyum menampilkan deretan giginya yang putih seperti di iklan Pepsodent.
"Abang gila ya? senyum-senyum sendiri," ucap Bram membuyarkan lamunannya.
"Sialan, kau ini!" cebiknya. Bram tertawa geli.
Bram memasuki kamar pengantin. Yang sudah di dekorasi oleh pihak hotel sedemikian rupa. Banyak bunga-bunga bertebaran di sana sini. Lilin di gelas-gelas yang sangat cantik, dimana asap lilin itu mengeluarkan bau aromaterapi yang sangat wangi dan segar.
"Bang, Al, mandi dulu!" ucapnya kepada suaminya yang baru saja ia nikahi.
Alina melepaskan baju pengantinnya, dengan menyisakan pakaian dalam yang melekat di tubuh seksinya. Bram yang melihat pemandangan indah itu, menelan salivanya sendiri. Dia tidak menyangka, dibalik kaos longgar yang sering dipakai Alina. Tersimpan sesuatu yang sangat menggoda imannya.
Alina langsung menyambar handuk bersih yang sudah disediakan pihak hotel. Dia merendam tubuhnya di bathtub yang besar.
"Ah, segarnya," ucap Alina. Sekali-kali dia menenggelamkan kepalanya, kemudian muncul lagi ke permukaan.
"Kakiku benar-benar lelah. Seharian berdiri menyambut tamu, bisa-bisa betisku membesar," ucap Alina mengerucutkan bibirnya. Dia memejamkan matanya, sambil menikmati air yang merendam tubuh mulus nan moleknya.
Tiba-tiba saja ada tangan kekar yang menggerayangi tubuhnya. Sontak Alina terkejut dan hendak berteriak. Setelah menoleh ke arah samping, ternyata Bram.
"Abang! Al, pikir tadi siapa!" ucap Alina memberengut kesal.
"Maaf, Sayang. Habisnya, kamu mandinya sangat lama. Abang menyusul kamu, deh," jawabnya tanpa merasa berdosa. Ternyata Bram sudah tidak memakai pakaian. Karena niatnya, dia juga ingin mandi.
"Iya, sudah. Al, sudah selesai," ucapnya hendak meraih handuk.
"Tunggu!" Bram menarik tangan Alina, sehingga terjatuh tepat dipangkuan suaminya.
__ADS_1
"Ish, Abang, Apaan sih?" ucap Alina berusaha melepaskan pelukan suaminya. Bram terkekeh geli.
"Kau sudah membangunkan anaconda, Sayang," bisik Bram tepat di telinga istrinya.
"Apa? Anaconda?" teriak Alina membekap mulutnya sendiri. "Mana anaconda nya? Al, takut!" Alina semakin mempererat pelukannya ke tubuh sang suami. Dia tidak menyadari bahwa dirinya masih dalam keadaan polos.
"Dibawah mu," jawab suaminya.
"Apa? Dibawah? Abang, cepat singkirkan anaconda nya! Alina takut, Bang!" wajah Alina terlihat pucat pasi, dia semakin mempererat pelukannya. Bram tertawa terbahak-bahak, melihat keluguan istrinya.
"Kenapa tertawa, Bang? Istri sedang Ketakutan malah tertawa," kesal Alina.
"Habisnya kamu lucu," ucap Bram masih saja menertawakan Alina. "Anaconda yang Abang maksud adalah anaconda yang kamu duduki, Sayang," ucapnya tanpa merasa malu. (Sepertinya urat malu Bram sudah putus deh,,,🤔🤔🤔🤣🤣).
"Apa?" Alina merasakan benda keras yang bergerak-gerak di bagian pantatnya. Sontak dia menabok dada Bram yang sangat mesum. Alina langsung menyambar handuk dengan mengerucutkan bibirnya. Namun tangannya di tahan oleh sang suami. Membuatnya jatuh kembali dipangkuan Bram.
"Lepaskan!" teriak Alina berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Kenapa? Kita sudah halal? Jadi kita bisa melakukan hubungan suami istri tanpa ada yang menggangu," ucapnya.
"Ish, dasar tidak tahu malu," cebik istrinya.
"Kenapa harus malu? Aku hanya mengatakan hal seperti itu kepadamu!" jawab Bram.
"Ah, tapi aku takut Bang!" ucapnya.
"Kenapa takut?" heran Bram.
"Punyamu benar-benar seperti buyutnya anaconda, Bang!" jawab Alina terkekeh geli.
"Apa?" Bram melihat anaconda miliknya. "Apa kau mau mencobanya?" goda Bram.
"No," jawabnya, Alina berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan suaminya. Dia menggigit tangan Bram, hingga Bram mengaduh kesakitan. Kemudian Alina mengambil handuk, dan berlari keluar kamar mandi.
"Awas kau ya! Akan aku buat kau tidak bisa bangun!" ucapnya.
to be continued.....
__ADS_1