
"Kita harus ke kantor agensiku!" ucap Dicky kepada Thomas dan Bram.
"Ada apa?"
"Seorang wanita bernama Widia ingin memberitahu perihal Amelia."
"Tunggu apa lagi, Ayo cepat!" seru Thomas.
Seperti orang kesetanan, Thomas mengendarai mobil milik Bram. Bram yang saat itu duduk di samping Thomas, merasa cemas dengan keadaan Abangnya yang sudah dikuasai emosi. Dan Dicky mengekor di belakang mobil Thomas.
Dalam waktu setengah jam mereka sampai di kantor. Mereka bergegas dan masuk menemui Widia yang sedang menunggu di lobi.
"Apakah kamu yang bernama Widia?" tanya Dicky. Sambil mengatur nafasnya.
"I-iya, Pak. Saya Widia. Apakah Anda yang bernama Pak Dicky?"
"Iya, Saya Dicky. Dan ini adalah Thomas. Suami sah ibu Amelia. Dan ini iparnya bernama Bram."
"Suaminya? Jadi Anda suaminya!"
"Iya. Saya suami sahnya! Sekarang katakan dimana istri saya?"
"Tunggu. Saya tidak tahu keberadaan istri Bapak. Tapi, saya ingin sedikit bercerita!"
"Cerita apa?"
"Satu Minggu yang lalu. Ada pasangan pengantin datang untuk melakukan prewedding foto di studio tempat saya bekerja. Pemilik studio itu adalah Pak Anton. Dan dia adalah kawan baik si mempelai pria," jelas Widia.
"Siapa nama pengantin prianya?"
"Kalau nggak salah namanya Diego. Dan perempuan cantik itu bernama Amelia!"
"Iya. Itu istri saya." ucap Thomas, "Tapi, kenapa Amelia tega mengkhianati ku? Bagaimana bisa dia menikah lagi sedangkan aku masih hidup!" marah Thomas.
"Tenang, Pak Thomas. Kita dengarkan ceritanya sampai selesai!" ujar Dicky.
"Bisa dilanjutkan, Mba Widia?"
"Iya! Wajah mempelai wanita itu sangat tegang dan ketakutan. Wanita itu mengatakan bahwa pria yang akan menikahinya tidak waras! Saya paham sih, Pak. Kenapa Mba Amelia bisa mengatakan itu!" ujarnya, "Karena dari awal, saya merasa sangat aneh. Mempelai pria menginginkan foto prewedding yang sama persis dengan foto yang dulu kami buat, beberapa tahun yang silam. Bahkan dari gaun dan background-nya harus sama persis!"
"A-pa?" Dicky sedikit terkejut.
"Iya, Pak. Lalu saya bertanya kepada atasan saya. Apa alasan mempelai pria melakukan itu. Lalu, Atasan saya menjawab bahwa mempelai pria telah kehilangan calon istri yang sangat dicintainya disaat hari pernikahan. Calon istrinya mengalami kecelakaan tragis. Untuk membuat seolah-olah almarhumah hidup, dia melakukan prewedding yang sama persis dengan yang pernah dia lakukan dulu. Aneh bukan?"
"Dan yang paling mengejutkan, Mba Amelia bercerita kalau mempelai pria sudah mengancam akan mencelakai kedua anaknya, apabila Mba Amelia tidak menuruti semua keinginan laki-laki itu. Mba Amelia juga mengatakan bahwa pria itu gila. Dan meminta tolong saya, agar saya menemui Anda di sini! Begitu Pak!"
"Brengsek! Diego benar-benar keterlaluan. Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku. Akan aku bunuh dia!"
"Tenang, Pak! Kita pasti akan menemukannya!" ujar Dicky.
__ADS_1
"Apakah kau tahu alamat mereka?" tanya Bram.
"Sayangnya, saya tidak tahu. Waktunya begitu singkat untuk kami mengobrol. Karena banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan!"
"Baiklah, Widia. Saya mengucap terimakasih banyak. Mba Widia bersedia datang ke sini hanya untuk menyampaikan ini. Saya sangat berterimakasih!"
"Iya, Pak. Saya senang bisa membantu. Semoga Mba Amelia ditemukan ya, Pak!"
"Iya. Mudah-mudahan. Terimakasih atas doanya!"
"Iya, Pak."
"Kalau begitu saya langsung pamit saja, Pak. Ada keperluan penting yang harus saya lakukan!"
"Iya, Mba. Hati-hati."
"Iya, Pak."
"Aku akan ke kantor polisi!" geram Thomas, "Ini sudah termasuk kasus penculikan!"
"Iya, Pak. Itu terserah Anda! Saya menyerahkan semuanya kepada Anda!" ucap Dicky.
Diego masuk ke kamar Amelia tanpa sepengetahuan Amelia. Kebetulan Lina membawa anak-anak bermain di luar. Kamar Amelia sepi, hanya ada Amelia yang sedang merendam tubuhnya di bath tub.
Selama satu jam berendam, Amelia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan jubah mandi. Dia sangat terkejut saat melihat Diego sudah duduk santai di kamarnya.
"Ganti baju saja disini. Sebentar lagi, semua yang ada pada tubuhmu, akan aku miliki. Aku akan melihat semuanya!"
"Anda jangan kurang ajar ya!" marah Amelia.
"Semakin Kau galak semakin aku bergairah!" ucap Diego memegang tangan Amelia. Amelia berusaha untuk menepis tangan Diego, namun pegangan tangan laki-laki itu sungguhlah kuat.
"Lepaskan! Anda jangan kurang ajar!"
Diego menarik tangan Amelia, hingga Amelia lebih mendekat ke arah pria itu. Hembusan nafas pria itu sampai terasa di kulit Amelia, membuat tubuhnya merinding.
"Anda jangan kurang ajar! Saya masih sah istri Mas Thomas!" ucap Amelia.
"A-pa?"
"Ha ... Ha .. Ha." kekeh Diego.
"Kau lupa Thomas sudah mati! Dia itu sudah menjadi mayat. Dia sudah tidak ada di dunia ini!"
"Ti-dak. Saya yakin, dia masih hidup!"
Diego semakin mendekat ke arah Amelia. Membuat tubuh Amelia menabrak dinding belakangnya.
__ADS_1
"Kau mau apa?"
Dengan tatapan liar Diego terus menatap. Akal sehatnya sudah mengalahkan nafsunya. Apalagi melihat tubuh Amelia yang hanya berbalutkan jubah mandi saja. Birahi kelakiannya sudah naik ke ubun-ubun.
"Tolong, jangan lakukan itu! Kita belum sah menikah!" ucap Amelia ketakutan.
"Kau tenang saja, sebentar lagi Kau akan menjadi milikku! Menjadi istriku!"
"Ti-dak. Lepaskan aku!" berontak Amelia. Saat tubuh pria itu semakin merapat padanya.
Diego memaksa untuk mencium, dengan usaha keras Amelia memberontak. Berusaha untuk menyelamatkan kehormatannya.
"Anda sudah gila!"
"Iya. Aku memang sudah gila. Aku tergila-gila denganmu!" gelaknya semakin tidak terkontrol.
Diego menarik tangan Amelia hingga terjatuh ke kasur. Tubuh besar Diego menindih Amelia, dan mengungkung dibawahnya. Amelia merasa sangat takut. Tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong tubuh pria itu.
Diego semakin brutal. Mencium dan memberikan tanda kepemilikan di leher jenjang Amelia.
Amelia terus memberontak. Menangis dan memohon. Namun permintaan Amelia tidak diindahkan oleh Diego. Diego mencium bibir Amelia. Sedikit memaksa dengan \*\*\*\*\*\*\* dan menciumnya semakin dalam. Tidak memberikan nafas untuk Amelia, membuat nafasnya sedikit terganggu dan Amelia terbatuk-batuk.
Bukan hanya ciuman saja. Tangan Diego juga ikut bergerilya. Meremas dan memainkan bukit kembarnya. Bukan kenikmatan yang dia dapat. Tapi, sebuah penghinaan atas dirinya. Amelia merasa sangat jijik dengan apa yang dilakukan oleh Diego. Dia sangat membenci pria yang sudah merendahkannya, melecehkannya.
"Mommy!" teriak Sherly dan Aska dari luar pintu.
"Mommy!" teriak mereka lagi. Membuat Diego menghentikan aksi liarnya lebih jauh lagi.
Tok ... Tok ... Tok
"MOMMY!" teriak mereka lagi.
"SIAL!" umpatnya.
Diego beranjak dari posisinya. Dia berdiri dari tubuh Amelia. Dan Amelia langsung membenarkan jubah mandinya yang sudah tersingkap karena ulah Diego.
Diego membuka pintu. Sherly dan Aska berhambur masuk ke dalam, dan meneriakkan nama Mommynya. Lina yang sedari tadi mengekor di belakangnya, begitu terkejut melihat keadaan Amelia yang berantakan. Diego buru-buru keluar dari kamar calon istrinya.
"Mba Amelia tidak apa-apa?" cemas Lina.
Amelia berdiri. Dan dia langsung masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan kran air, dan menangis sejadinya di dalam sana.
Dia tidak menyangka, dia harus mengalami kejadian itu. Meskipun Diego belum sempat melakukan hal apapun. Tapi sebagai seorang perempuan dan istri, harga dirinya sudah di rendahkan. Kehormatannya diinjak-injak.
"Aku akan membalas semua yang sudah kau lakukan padaku! Aku membencimu Diego. Dengan segenap hatiku, Aku sangat membencimu!" ucap Amelia menangis tersedu-sedu.
Bersambung ...
__ADS_1
Mana dukungannya? Ini dukungannya...🎵🎵🎵
Tap Like, Favorit, rate bintang lima, Vote, bunga dan kopi......