
"Bu Amelia! Syukurlah!" senang Bripda Nadhif.
"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat! Aku tidak mau ikut kalian!" teriak Amelia ketakutan.
"Tenang, Bu!"
Semua orang berteriak karena melihat seorang wanita menodongkan senjata tajam.
"Tenang, tenang, tenang, Bu. Saya polisi!"
"Menjauh!" menodongkan pisau tersebut kepada Bripda Nadhif.
Semua orang panik, bahkan berteriak penjahat ke arah Amelia. Amelia menutup telinganya dengan kedua tangan. Dia tidak mau dikatakan sebagai penjahat. Justru merekalah yang penjahat.
"Saya polisi. Saya mencari Anda dengan Pak Thomas!"
"Apa kau bilang? Kau ingin menipuku! Suamiku sudah meninggal. Kau ingin membohongiku?" teriak Amelia.
"Tidak, Bu. Saya tidak berbohong. Pak Thomas memang masih hidup!"
"Bohong! Kau bohong!" isaknya. Kemudian Amelia tertawa terbahak-bahak.
Ha ... Ha ... Ha
"Kau ingin mengelabui ku! Aku tahu, kau orang suruhan Diego. Pria brengsek itu!" teriaknya kemudian tertawa kembali.
"Ti-dak. Aku tidak akan mudah percaya lagi padamu. Kalian semua orang jahat! Kalian semua penjahat!"
"Tenang, Bu! Saya bisa perlihatkan kartu identitas saya!" Bripda Nadhif mengeluarkan kartu identitasnya. Namun Amelia malah tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah ada lelucon yang sangat lucu.
"Pergi! Aku bilang pergi! Jangan ikuti aku lagi! Aku mau pergi jauh, sejauhnya dari Diego!"
"Dengar, Bu. Saya dan Pak Thomas mencari Anda. Pak Thomas sekarang sedang mencari anak-anak Anda di rumah Diego. Jadi tolong tenang. Saya akan membawa Anda kepada Pak Thomas!" Bripda Nadhif terus memperlihatkan kartu identitas dan surat tugasnya dari atasan.
"Bohong. Saya tahu suami saya sudah meninggal. Dan saya akan menyusulnya jika kalian terus mengikuti saya!" teriak Amelia menempelkan benda tajam itu dipergelangan tangannya.
"Bu, Tolong percayalah kepada saya! Saya memang diutus Pak Thomas untuk mencari Ibu! Lihatlah surat tugas saya. Ini asli!" Bripda Nadhif menyodorkan kertas tersebut kepada Amelia.
Amelia menangis meraung-raung karena takut dan panik. Tubuhnya bergetar hebat. Nafasnya terasa sesak. Pikirannya sudah tidak bisa sejalan dengan hatinya yang sangat terluka. Dia pun nekad mengiris nadinya. Darah bercucuran kemana-mana. Bripda Nadhif panik, dan menepis pisau itu dengan cepat. Pisau terjatuh, mengeluarkan bunyi yang nyaring ditelinga.
Tubuh Amelia ambruk, dan ditangkap oleh Bripda Nadhif. Bripda Nadhif menyuruh orang-orang untuk menyingkir. Dia harus membawa tubuh Amelia ke Rumah Sakit. Dengan kecepatan tinggi, Anak buah Bripda Nadhif mengendarai mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat. Amelia harus mendapat penanganan yang serius.
"Cepat hubungi suaminya kalau Bu Amelia sudah ditemukan, dan dibawa ke RS!" perintah Bripda kepada anak buahnya.
"Baik."
Amelia dibawa ke ruangan UGD, agar mendapatkan penanganan yang serius. Sedangkan Bripda Nadhif berjaga-jaga di luar ruangan tersebut.
"Anda yakin itu istri saya?" tanya Thomas tidak percaya.
"Iya, Pak. Dia istri Anda. Dan istri Anda berada di Rumah Sakit!"
"Baik, Saya akan langsung ke sana!"
"Amelia sudah ditemukan. Sekarang Amelia ada di Rumah Sakit Medistra. Aku akan ke sana!" ucapnya kepada Dicky dan Bram.
"Aku ikut, Kak."
__ADS_1
"Saya disini saja, Pak Thomas. Bersama para polisi yang lain. Saya akan mengurus orang-orang ini. Yang sudah terlibat dengan penculikan Amelia!"
"Terimakasih banyak, Pak Dicky. Tolong urus mereka sampai ke jalur hukum!"
"Bapak tenang saja. Saya dan polisi juga akan mencari keberadaan Diego!" ujarnya, namun sepertinya Thomas masih belum percaya.
"Meskipun dia kakak saya. Tapi perbuatannya tidaklah benar. Saya juga sangat geram atas perbuatannya! Pak Thomas jangan khawatir. Saya tidak akan melindungi saudara saya yang sudah bersalah!"
"Terimakasih. Jasa baikmu, tidak akan pernah aku lupakan!" ucap Thomas memegang bahu Dicky. Dicky mengangguk pelan.
"Saya pergi!"
"Hati-hati, Pak!" Thomas menganggukkan kepalanya.
Dengan taksi Lina membawa Sherly dan Aska ke rumah keluarga Williams. Awalnya security tidak memperbolehkan masuk. Karena security yang bekerja di rumah besar itu adalah security baru. Jadi dia tidak mengenal kedua anak itu dan pengasuhnya. Tapi Lina tidak hilang akal, dia terus mendesak security untuk memanggil Alina keluar.
"Ada apa?" Alina terhenyak. Ternyata dua anak itu adalah kedua ponakannya.
"Sherly, Aska!" Alina menyuruh security untuk membuka pintu gerbang. Alina langsung memeluk kedua bocah itu. Kedua bocah itu menangis sesenggukan mencari keberadaan Mommynya.
"Kemana Mommynya?" tanya Alina kepada Lina.
"Ceritanya panjang, Nona. Saya tidak bisa menceritakan semua ini disini!"
"Kalau begitu, Ayo Masuklah!"
Alina menyuruh pelayan untuk membantu mereka bersih-bersih, dan makan. Untungnya mereka menurut. Tidak ada perlawanan ataupun tangisan lagi. Setelah cukup diberi pengertian mereka pun menurut.
Lina sedikit ketakutan. Bibirnya terasa kelu untuk bercerita. Pasalnya dia juga terlibat atas kasus ini. Tapi, mau tidak mau dia harus menceritakan semuanya kepada Alina.
Dengan bibir bergetar, Lina menceritakan semua yang diketahui dan dicernanya. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Dari awal sampai akhir dia menceritakan semuanya. Hingga Amelia dipaksa menikah di Bali pun, Lina menceritakannya. Alina terperanjat mendengar semua cerita Lina. Tubuhnya luruh, begitu saja.
"Apa yang sudah kulakukan? Aku sudah tega mengusir kakak ipar ku sendiri. Dan mengirimnya ke neraka penderitaan!" isak Alina masih belum percaya. Alina menyuruh Lina untuk bercerita lagi, mengulang ceritanya.
"Maafkan aku, Kak. Aku bersalah!" isaknya.
"Apakah suamiku juga terlibat?" batin Alina, "Secara dia juga memfitnah Kakak ipar!"
"Lalu, Kenapa kau juga terlibat?"
"Saya terpaksa, Nona. Saya butuh uang untuk pengobatan ayah saya dikampung. Pak Diego juga mengancam saya, karena saya sudah menerima uang banyak. Saya harus melakukan semua perintahnya!"
"Apakah kau tahu, fitnahmu itu membuatku salah paham dengan Kakak ipar!" marah Alina.
"Saya tahu, Nona. Saya minta maaf! Untuk menebus kesalahan saya, Saya membantu Mba Amelia untuk membawa anak-anak kesini. Itu adalah permintaan Mba Amelia!"
"Ck, Lina. Selama ini Kakak ipar saya sangat baik sama kamu. Kenapa Kamu tega melakukan itu semua?"
"Maafkan saya, Nona!"
__ADS_1
"Sekarang katakan kepada saya. Dimana alamat Diego? Saya akan melaporkan kejadian ini kepada Polisi!"
"Tolong, Nona. Jangan bawa-bawa saya. Saya memang bersalah. Saya minta maaf!"
"Kalau begitu berikan alamatnya!"
"Baik. Saya tuliskan disini!" Lina nampak menulis di selembar kertas. Dan menyerahkannya kepada Alina.
"Dengar, Saya tidak akan melaporkan kamu, kalau kamu mau menjadi saksi atas kejahatan Diego!"
"Ba-baik, Nona!" ucap Lina tergagap.
"Sekarang, Bantu anak-anak supaya tenang! Kasihan mereka!"
"Baik, Nona!"
Alina nampak gelisah. Dia takut kalau Bram terlibat dalam kasus ini. Itu berarti dia akan sangat membenci suaminya. Ayah dari anak yang sedang dia kandung.
Berkali-kali Alina menghubungi suaminya. Tapi tidak diangkat juga. Hatinya semakin gelisah dan tidak tenang. Pikirannya traveling kemana-mana.
"Semoga saja Bang Bram tidak terlibat!" gumam Alina.
To be continued ....
☄️☄️☄️☄️
Ayo, Sayang. Dukung karya ini!!!
Dengan Like, rate bintang, bunga dan vote....🤗🤗🤗
Promosi karya aku yang lain, sambil nunggu up. Baca yang lainnya juga yuk!????

Blurb:
Menikah itu bukan satu atau dua hari. Tapi, untuk hidup sesurga. Pernikahan untuk mempersiapkan bekal yang cukup, baik lahir maupun batin, agar pernikahan menjadi pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah.
Mau tahu kisahnya, yuk kita ikuti ceritanya???
__ADS_1
Dilarang boomlike, baca pelan-pelan....😘😘