Amelia

Amelia
Episode 67


__ADS_3

Satu Minggu berlalu


Hubungan pasangan suami istri itu semakin mesra dan harmonis, bahkan sudah tidak malu-malu lagi memamerkan kemesraan di depan orang banyak. Tentu saja itu membuat Bram dan Alina menjadi iri.


Satu Minggu vakum di rumah, akhirnya hari ini Thomas kembali masuk ke kantor. Sebenarnya dia masih ingin berkumpul di rumah dengan istri dan kedua anaknya, tapi tuntutan pekerjaan yang sudah menumpuk, dia terpaksa harus berangkat ke kantor juga.


Thomas berpamitan dengan sang istri, dengan mengecup kening dan bibirnya. Tidak lupa juga dia menciumi kedua buah hatinya.


"Hati-hati ya, Mas! Yang semangat kerjanya!" ucap Amelia memberikan semangat kepada suaminya.


"Iya, Sayang,"


Setelah mobil suaminya sudah tidak nampak lagi barulah Amelia dan anak-anak masuk. Sepertinya Aska haus, dia pun memberikan ASI nya di dalam kamar. Sherly mengekor di belakangnya.


"Mommy, kenapa dedek bayi cuma minum susu? Kenapa belum boleh makan nasi seperti Sherly, Mom?" tanya Sherly penasaran.


"Iya, Sayang. Dedek bayi kan belum memiliki gigi dan perutnya juga belum bisa menerima makanan yang kasar," ucap Amelia kepada putrinya. Memang anak seumuran Sherly, jiwa keingintahuannya sangatlah besar.


"Sepertinya dedek Aska sudah bobo, Yuk kita keluar! Biarkan Dedek bayinya bobo," ajak Amelia kepada putrinya.


"Oke, Mom."


Meskipun sudah ada Aska, kasih sayang Amelia kepada Sherlly tidak pernah berubah. Dia selalu menyayangi Sherly seperti putri kandungnya sendiri. Hari ini Sherly ada pekerjaan rumah dari sekolahnya, Amelia turut membantu pekerjaan Sherly.


Arga tidak bisa mengumpulkan uang yang sudah dijanjikan untuk membayar hutang. Terpaksa dia harus angkat kaki dari rumahnya. Bahkan rumah yang dulu ditempati Amelia pun juga sudah diambil alih oleh rentenir.


Sekarang mereka dengan menenteng dua koper pergi ke rumah Dahlia. Dahlia begitu terkejut melihat keadaan putra dan menantunya yang berantakan.


"Arga, Ratih, Apa yang terjadi?" tanya Dahlia.

__ADS_1


"Kami di usir, Bu," ucap Arga kepada ibunya.


"Bagaimana bisa?" tanya Dahlia.


Arga pun menceritakan awal kejadiannya sampai akhir, hingga berakhir di rumah ibunya. Dahlia sangat terkejut, dia tidak percaya kebodohan yang dilakukan Arga dan Menantunya.


"Sekarang kami sudah tidak memiliki uang untuk biaya persalinan, Bu!" ucap Ratih sambil terisak.


"Arga, kamu kan masih ada Apartemen! Kamu jual saja Apartemen itu," suruh Dahlia kepada putranya.


"Apartemen itu dibeli juga sebagian besar uangnya milik Amelia, Bu," jawab Arga.


"Ah, sudahlah. Kau jual saja Apartemen itu! Lagian ya, dia tidak akan menuntut apapun dari kamu. Karena dia menyesal sudah meminta pisah dari kamu," tutur Dahlia kepada putranya.


"Nanti akan aku pikirkan lagi, Bu. Sekarang aku mau istirahat, badanku sangat lelah," ucap Arga sambil berlalu ke kamarnya yang dulu. Sedangkan Ratih mengekor di belakang suaminya.


Dua Minggu berlalu


Disaat dirinya sedang sangat pusing, Dahlia mengabarkan bahwa ayahnya masuk ke Rumah Sakit. Dia pun bergegas menyusul ke Rumah Sakit. Dokter mengatakan bahwa ayahnya kena serangan jantung. Bertambah lagi beban yang harus dia pikul.


Untuk membayar biaya Rumah Sakit, dia terpaksa menggunakan uang tabungan persalinan Ratih untuk membayarnya. Awalnya Ratih menolak, tapi, setelah dibujuk oleh Arga, akhirnya dia mau menyerahkan tabungan tersebut untuk biaya RS.


Dua Minggu di RS, akhirnya Pak Mono pulang ke rumah. Sekarang Pak Mono tidak seperti dulu, dia sering sakit-sakitan dan badannya juga kurus kering karena penyakit yang dideritanya.


to be continued....


************************************


Yuk, baca juga cerita novel yang nggak kalah seru berjudul" Hidden Rich Twins"

__ADS_1



Bab 1 :


Halwa Callista adalah seorang wanita yang sangat cantik dengan sejuta kemampuan. Dia tumbuh dan besar bersama kakek dan neneknya di Belanda. Ibunya sendiri bernama Anna William Vander sudah meninggal, saat Halwa kecil berusia dua tahun. Dia dibesarkan oleh kakek dan neneknya di lingkungan yang serba ada dan berkecukupan, atau bisa dibilang cucu dari orang kaya. Kakeknya bernama Robert William Vander, berkebangsaan Belanda namun istrinya asli orang Indonesia, bernama Reisa Wiratama Vander. Robert adalah seorang Pengusaha industri teknologi, karena sebagian besar orang Belanda terhubung dengan teknologi, dan teknologi adalah topik hangat di negara ini.


Selain industri teknologi, kakeknya juga memiliki lahan pertanian yang cukup luas. Ada berhektar-hektar lahan pertanian yang masih berjalan sampai sekarang. Dan itu juga merupakan salah satu sumber penghasilan untuk masyarakat sekitar, yang tinggal di pedesaan tersebut. Banyak diantara mereka menjadi buruh atau pekerja dipertanian Robert. Mereka sangat senang bekerja dengan Robert, karena Robert sendiri adalah orang yang sangat loyal dalam pembayaran upah karyawan.


Sejak kecil Halwa dididik oleh sang kakek dengan sangat keras, agar menjadi seorang pribadi yang kuat, tegas, dan bertanggung jawab. Itu bertujuan supaya Halwa bisa meneruskan kerajaan bisnis sang kakek. Saat kecil, ia dituntut untuk belajar di Sekolah khusus untuk anak-anak pengusaha. Yang nantinya mereka akan meneruskan Perusahaan orang tua.


Halwa kecil belajar di Sekolah tersebut dengan anak-anak dari pengusaha lain. Halwa yang memang sangat mudah dalam bergaul, dalam waktu cepat dia memiliki banyak kawan dan teman.


Robert sengaja menyekolahkan cucunya di Sekolah tersebut, agar cucunya mendapatkan ilmu dan pelajaran ekstra kurikuler yang lain, seperti ilmu beladiri, ilmu memanah, ilmu menembak, dan pelajaran menunggang kuda. Dan itu adalah pelajaran ekstrak kurikuler yang wajib diikuti oleh semua anak-anak.


Halwa memang seorang wanita, namun kemampuan dan kecerdasannya tidak diragukan lagi. Dalam kurun waktu kurang dari empat tahun, dia sudah mengantongi gelar MBA, dengan predikat terbaik. Halwa muda pun terjun di dunia bisnis sang kakek, disektor pertanian. Seiring berjalan waktu, bisnisnya berkembang pesat. Dalam waktu satu tahun, bisnisnya merambah sampai ke luar kota bahkan luar negeri. Melihat kemajuan dan keberhasilan cucunya, Robert sangat senang dan bangga. Hingga akhirnya Robert menyerahkan dan mempercayakan bisnis kepada sang cucu.


Semakin hari Perusahaan yang dikelola oleh Halwa, semakin berkembang pesat. Dia adalah pembisnis wanita yang paling muda di Belanda.


Dengan kepandaian dan kecerdasannya, ia mampu meraih predikat pengusaha wanita terbaik nomer lima. Tidak sampai di situ, ia juga dikenal sebagai wanita yang sangat baik dan ramah kepada siapapun. Sebagian penghasilannya, ia sumbangkan kepada beberapa panti asuhan, panti jompo, panti asuhan disabilitas dan panti sosial lainnya.


Disaat karir sedang naik diatas daun, nenek yang sangat disayanginya meninggal akibat penyakit yang diderita sang nenek. Sang nenek tidak dapat bertahan hidup, beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit. Halwa sangat sedih, sepeninggal neneknya. Nenek yang sudah merawat dan membesarkan, pengganti seorang ibu di dalam kehidupannya, telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya.


Kepergian sang nenek ternyata membuat kesedihan mendalam bagi sang kakek. Hingga ia jatuh sakit, terus memikirkan istri tercintanya. Kakeknya telah kehilangan separuh nyawa dan tulang sumsumnya. Satu bulan kemudian sang kakek dipanggil oleh sang Maha Kuasa.


Sebelum sang kakek meninggal, kakeknya meninggalkan sebuah kotak, dimana di dalamnya terdapat sebuah liontin dan sepucuk surat. Kakek berpesan, bahwa dirinya harus kuat dan menjadi wanita hebat. Mampu melindungi yang lemah dan menolong yang susah. Itu yang selalu diingat oleh seorang Halwa.


Halwa memandangi kotak yang ditinggalkan oleh kakeknya. Dia hanya melihat isinya sekilas. Kata kakek, kotak tersebut adalah peninggalan dari ibunya sebelum meninggal.


Halwa mencoba untuk membuka, ia sangat penasaran dengan isi dari surat yang ditinggalkan oleh mendiang ibunya.

__ADS_1


Halwa membuka kotak tersebut, disana terdapat satu buah liontin. Dimana di liontin tersebut, terdapat foto dua bayi kembar. Hatinya bertanya-tanya, otaknya diliputi oleh banyak pertanyaan. Ia pun membuka surat dengan amplop berwarna merah, surat yang ditulis oleh ibunya sendiri sebelum meninggal.


Hatinya takut, tangannya bergetar, saat hendak membuka amplop tersebut. Namun, seperti apa yang dikatakan sang Kakek, ia harus menjadi wanita yang kuat. Ia robek ujung amplop tersebut, dan mengeluarkan isinya.


__ADS_2