
Hiks ... Hiks ... Hiks
Suara tangis memenuhi kamar jenazah. Celine terbujur kaku dengan luka bakar di sekujur tubuhnya. Kecelakaan tragis tersebut membuat tubuh Celine terbakar.
"Mama?" teriak Alina merasa sangat sedih melihat keadaan Mama yang sangat dicintainya terbujur kaku.
"Tahan emosi kamu, Sayang! Ingat kamu sedang hamil!" tutur Bram.
"Mama sudah tidak ada, Bang!" isak Alina histeris.
"Mama!" Amelia baru bisa datang ke RS setelah berusaha membujuk kedua buah hatinya agar berdiam diri di rumah dengan baby sister.
"Kakak ipar," isak Alina memeluk tubuh Amelia.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Mana Mas Thomas?"
"Tenang dulu, Kak. Ayo kita duduk dulu!" ajak Bram mengajak kedua wanita tersebut duduk di luar ruangan jenazah.
"Katakan padaku, Bram. Apa yang terjadi? Dimana Mas Thomas?" isak Amelia.
"Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, jatuh ke jurang. Jenazah Mama sudah ditemukan, tapi, jenazah Thomas tidak ditemukan. Kata Polisi, kemungkinan kecil Thomas masih hidup," terang Bram.
"Ti-dak. Mas Thomas," isak Amelia, "Dimana suamiku? Dimana dia?"
"Hiks ... Hiks ... Hiks."
"Tenang, Kak. Polisi masih dalam pencarian mencari Kak Thomas. Kakak yang tenang ya! Kita harus sama-sama berdo'a," tutur Bram.
"Bagaimana aku bisa tenang?"
"Sabar, Kak. Kami juga merasa kehilangan sosok Mama dan Kak Thomas. Yang terpenting saat ini kita mengurus pemakaman Mama dulu. Kasihan Mama!" ucap Alina.
"Iya, kita urus pemakaman Mama dulu!" tutur Bram.
"Baiklah,"
__ADS_1
Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah Mama Celine di bawa mobil ambulance untuk dibawa pulang ke rumah. Banyak sekali orang yang datang untuk melayat. Dari kalangan keluarga, kerabat dan teman terdekat.
Alina nampak terpukul atas kehilangan Mama. Sempat dia pingsan, dan Bram membawanya ke kamar. Sedangkan anak-anak dibawa ke kamar, bermain bersama baby sister. Sedikitnya Sherly tahu apa yang telah terjadi di rumah besar itu. Namun dia masih agak takut melihat rupa sang nenek yang hangus terbakar akibat kecelakaan maut tersebut.
Setelah disholati, tibalah acara pemakaman dimulai. Amelia memilih tinggal di rumah, menjaga anak-anak dan Alina yang sedari tadi pingsan. Amelia juga sama halnya dengan Alina, merasa kehilangan. Tapi, dia berusaha untuk menyembunyikan kesedihan yang menyelimuti hati.
Nampak Alina sudah sadar. Amelia berusaha menenangkannya dengan memberikan segelas air minum dengan perasan lemon dan sedikit madu. Dia tahu, seorang wanita yang sedang hamil memiliki reaksi stress yang tinggi. Sebisa mungkin, Amelia berusaha untuk menenangkan hati Alina.
"Dimana suami Al, Kak?"
"Belum pulang," sahutnya, "Kakak tahu, ini adalah hari terberat kita. Tapi kita harus bersabar dan tabah menjalani semua ini. Ingat! Kamu sedang hamil, kamu harus bisa menjaga kesehatanmu. Bukankah memiliki seorang anak, dari dulu itu yang kamu inginkan?"
"Iya, Kak. Tapi bukan seprti ini yang Alina mau! Alina ingin membesarkan anak-anak dengan mama juga," isak Alina semakin sedih.
"Iya, Kakak mengerti. Tapi jika kamu tidak mengikhlaskan kepergian Mama, Mama akan sedih di sana, Al," tutur Amelia.
"Iya, Kak,"
"Sekarang yang harus kita lakukan, menyiapkan acara tahlilan nanti malam untuk Mama, dan pengajian kecil untuk mendoakan supaya Kak Thomas diberikan keselamatan,"
"Iya, Kak,"
Bram kembali dari pemakaman dengan wajah yang lusuh. Menemani istrinya yang menangis terus membuatnya lupa makan dan istirahat. Amelia menyuruh adik iparnya untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak. Guna untuk memberikan perhatiannya kepada sang suami.
"Bang, Mandi dulu ya! Alina sudah menyiapkan baju ganti dan handuk di atas kasur!"
"Terima kasih banyak, Sayang. Kamu jangan terlalu lelah. Ingat dengan kehamilanmu!"
"Mas, tenang saja! Alina ingat betul Kok!"
"Abang mandi dulu ya!" dijawab anggukan oleh istrinya.
Suara pengajian terdengar di rumah besar keluarga Williams. Berjalan dengan khidmat dan lancar hingga akhir. Selesai pengajian, sedikit Bram membagi-bagikan rezeki kepada orang-orang yang ikut pengajian dan diberikan juga kepada fakir miskin yang tinggal di sekitar komplek perumahan.
Dua Minggu berlalu, masih belum terdengar kabar dari kepolisian mengenai hilangnya Thomas. Tidak ada tanda-tanda juga mengenai Thomas. Hingga disimpulkan oleh polisi, jenazah Thomas hancur hingga ke dasar jurang.
__ADS_1
"Tidak. Itu tidak mungkin! Aku yakin, dia masih hidup. Tolong cari lagi, Pak! Saya akan bayar berapapun, yang penting dia ketemu. Meski sudah menjadi mayat sekalipun!" isak amelia sangat bersedih.
"Iya, Bu. Kami usahakan. Tapi, jika tidak ketemu, dengan berat hati kami sampaikan bahwa kami menyudahi pencarian! Besar kemungkinan, jika tubuh Pak Thomas hancur, bisa juga dimakan binatang buas. Dan kami tidak mungkin mencarinya terus! Tolong Ibu mengerti dengan kondisi anak buah saya yang sudah kelelahan!" ucap Kepala Tim SAR .
"Iya, Pak. Kami mengerti!" sela Bram memotong kalimat Amelia.
"Tapi, Bram ... !"
"Kakak tenang! Aku akan kerahkan orang-orangku untuk mnecari Bang Thomas. Bagaimanapun, Bang Thomas adalah abang kami kan!"
"Tolong, Bram. Tolong temukan Mas Thomas! Aku sangat takut, jika Sherly sampai tahu, kalau Daddy-nya!" Amelia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Iya, Kak. Aku akan berusaha untuk mencarinya!"
Bram duduk termenung di ruang kerja Thomas. Sesekali dia memainkan pulpen dan mengetuknya dua kali. Lalu, mengingat dengan jelas bagaimana mobil Thomas terjun dari jurang itu.
"Ti-dak. Bukan aku! Bukan aku yang menyebabkan kalian mati!" monolog Bram dengan menjambaki rambutnya sendiri.
# POV Bram
Aku baru saja bertemu dengan seorang pria. Mungkin usianya lebih tua lima tahun dari usia Thomas. Dia membuka sebuah rahasia yang kelam, yang tidak pernah aku ketahui selama ini mengenai keluarga Williams.
Setelah aku menemui pria itu, aku sangat marah. Awalnya aku tidak percaya, namun setelah melihat bukti-bukti yang ada membuatku naik pitam.
Entah setan dari mana. Tiba-tiba siang itu aku pergi, dari Bandung samapi Villa Bogor hanya memebutuhkan beberapa jam saja. Memang saat itu, Aku mengendarai mobil seperti orang kesetanan.
Sampai di Villa pukul 3 sore. Dengan mobil sewaan, aku mengintai mereka. Niatnya aku hanya ingin menakut-nakuti saja. Dengan memepet terus mobil milik Kak Thomas. Tidak tahunya, mobil Kak Thomas menghindari mobil lain. Dia membanting stirnya hingga oleng kesamping. Membuat mobil Kak Thomas terguling ke jurang. Dan meledak.
Aku sangat menyesal, tapi, pria itu kembali datang dan menyunggingkan senyum lebarnya. Aku sangat ketakutan. Aku pun pergi dari tempat itu, dan kembali ke Bandung.
to be continued ...
Ayo dukung penuh karya ini, dengan like dan favorit mu...
Rate bintang lima dan juga vote, ayo! Ayo! Votenya!!!!!!!
__ADS_1