
Satu Bulan Berlalu
Mentari bersinar menyinari bumi, burung berkicau dari ranting ke ranting. Bau khas tanah menyeruak ke indera penciuman, akibat hujan deras mengguyur bumi semalam suntuk. Sedari pagi, Amelia sudah bangun dan sibuk dengan aktivitas paginya. Dia sibuk membuat sarapan untuk pemilik rumah ini. Meskipun sudah ada juru masak di rumah ini, namun Amelia tetap bersikeras ingin memasak. Hingga sang pelayan pun akhirnya mengalah. Di sela memasaknya, dia bernyanyi dan sekali-kali meliukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Tanpa dia menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri di belakang sambil tersenyum.
"Sepertinya enak?" tanyanya. Tentu saja membuat Amelia kaget.
"Astaga," ucap Amelia, menoleh ke sumber suara. "Kamu?" Amelia sangat terkejut, dia membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Kapan Anda pulang? Kok saya tidak tahu?" tanya Amelia. Thomas tersenyum senang karena dia berhasil mengagetkan Amelia.
"Tadi pagi," jawabnya.
"Pagi jam berapa? Harusnya aku dengar," ucapnya lagi.
"Apakah kau penasaran dengan kepulangan ku? Apakah kau berharap aku cepat kembali ke Indonesia?" tanyanya dengan percaya diri.
"Ck, kok Anda kepedean banget," cebik Amelia masih melanjutkan acara memasaknya.
"Ha ... Ha ... Ha." tawa Thomas.
"Tetapi, Aku suka dengan rasa penasaranmu," ujarnya tidak tahu malu.
"Ish, Anda jangan terlalu kepedean! Siapa juga yang mengharap kepulangan Anda? Paling juga Sherly yang menanti kedatangan Anda," cibirnya.
"Sangat menggemaskan," lirihnya, namun masih bisa didengar oleh Amelia.
"Apa?" tanya Amelia membulatkan matanya.
"Tidak, tidak ada," jawabnya sambil tersenyum.
"Kau sedang masak apa?" tanya Thomas.
"Bubur ayam," jawabnya.
"Wah, sepertinya enak," ucap Thomas sambil mencolek bubur yang masih panas.
"Auw, panas," pekik Thomas memegangi tangannya.
"Ya Ampun, Anda main comot saja, bubur ini kan baru matang," ujarnya. Amelia berusaha meniup-niup tangan Thomas yang melepuh akibat bubur panas. "Tunggu disini, saya akan mengambilkan salep buat Anda," ujarnya.
"Baiklah," jawab Thomas. Tidak menunggu lama, Amelia kembali dengan membawa salep untuk luka bakar. Amelia mengoleskan salep tersebut ke jari Thomas. Tidak sengaja manik mereka saling bertemu dalam satu garis lurus. Mereka saling menatap dengan perasaan yang tidak menentu.
"Ehm, sudah selesai," ucap Amelia, mencoba mencairkan suasana. Sebenarnya dia sangat malu, apalagi tatapan Thomas mengintimidasi dirinya. Membuat pipinya memerah seperti udang rebus.
__ADS_1
"Terima kasih," ucapnya.
"Sudah selesai, aku akan menghidangkannya di meja makan," ujarnya kepada Thomas.
"Biar aku bantu," tawarnya.
"Tidak usah, Anda duduk saja!" perintahnya. Tapi, Thomas bersikeras ingin membantu Amelia.
Semua makanan sudah siap di meja makan, kini tinggal membangunkan Sherly yang masih terlelap di dalam mimpinya.
"Daddy?" teriak Sherly begitu bahagia bisa melihat Daddy-nya lagi.
"Sayang," ucap Thomas memeluk putrinya.
"Wah, sudah bangun dan juga sudah cantik," puji Thomas.
"Iya, dong, Dad! Bangun tidur, Sherly langsung mandi," jawabnya.
"Kapan Daddy pulang?" tanya Sherly. "Kok Sherly tidak tahu," ujarnya.
"Kan Daddy sengaja memberikan kejutan buat Sherlly," ujar Thomas. "Sherly senang nggak? Kan mulai sekarang Daddy akan sering-sering di rumah," ucapnya.
"Hore ... hore ," senang Sherlly. "Sherly senang sekali, Dad," ucapnya. Amelia bisa melihat rasa bahagia di hati gadis kecil itu. Akan tetapi, entah kenapa perasaannya tidak menentu semenjak kepulangan Thomas ke Indonesia.
"Oma, Daddy sudah pulang," ucap Sherly menunjuk ke arah daddy-nya.
"Kapan kamu pulang? Kok nggak ngabarin Mama?" tanya Celine.
"Kejutan dong, Mah," ujarnya.
"Alah pake kejutan segala," cebik Mamanya. "Mama tahu kok kalau kamu buru-buru pulang karena ada seseorang yang ingin kamu temui," ujar Mamanya. Thomas mengernyitkan alisnya.
"Mama memang paling tahu keinginan putranya," ujar Thomas terkekeh. Celine jadi ikut tersenyum mendengar penuturan putranya. Amelia yang tidak tahu maksud keduanya hanya berusaha tersenyum simpul.
"Wah, bubur ayam kesukaan Mama! Pasti Amelia yang memasaknya," ucap Celine. "Thomas, kamu pasti belum pernah mencicipi bubur ayam buatan Amelia, ini sangat enak," puji Tante Celine.
"Benarkah, kebetulan aku lapar," ujarnya. Thomas langsung mengambil satu mangkok bubur ayam yang sudah diracik oleh Amelia. Dia menyicipi masakan Amelia, ternyata memang benar apa yang dikatakan Mamanya, bubur ayam buatan Amelia sangatlah enak, rasanya seperti bubur ayam yang ada di Restaurant bintang lima.
"Ini enak sekali," puji Thomas.
"Kan sudah Mama katakan, masakan Amelia memang sangat lezat," puji Tante Celine.
"Ah, Tante, ini cuma bubur ayam biasa saja kok," ucapnya tersipu malu. "Silahkan dinikmati sarapannya," ucap Amelia. "Oya, Sherly, mau Tante suapi?" tawar Amelia kepada Sherly.
__ADS_1
"Nggak, hari ini Sherly mau makan sendiri," ucapnya.
"Wah, Sherly memang anak yang sangat pintar," puji Amelia.
"Oya, Nak! Bukannya hari ini kamu mau belanja baju-baju bayi?" tanya Celine.
"Iya, Tan! Kandungan Amelia sudah memasuki usia tujuh bulan lebih, dan Amelia harus menyiapkan keperluan bayi dari sekarang," ujarnya.
"Tapi?" Amelia menjeda kalimatnya.
"Tapi apa, Sayang?" tanya Celine.
"Sepertinya Amelia harus kembali ke rumah orang tua Amelia," lirihnya.
"Lho, kenapa?" tanya Celine terkejut dengan jawaban Amelia.
"Amelia sudah terlalu banyak merepotkan keluarga Tante, mungkin inilah waktunya Amelia harus pergi dari rumah ini," ujarnya. Thomas mengernyitkan alisnya, ada rasa tidak rela membiarkan wanita itu pergi dari sisinya.
"Kamu tidak pernah merepotkan, justru Tante yang selalu merepotkan kamu, Nak," ucap Celine. "Tolong jangan pergi, Nak! Kamu sudah Tante anggap seperti keluarga sendiri," ujarnya.
"Tapi, Tan,"
"Tante jangan pergi," larang Sherly. "Kalau Tante pergi, Sherly akan kesepian, Sherly mohon, Tan,"
Amelia sangat bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, dia merasa tidak enak harus serumah dengan laki-laki yang bukan suaminya. Tapi, dia tidak tahu harus mengatakannya kepada Tante Celine.
"Sudah, kamu tidak usah pergi dari rumah ini," ucap Thomas. "Kami tidak pernah keberatan kamu tinggal disini, lagipula kamu sedang hamil, Apakah kamu tidak memikirkan nasib bayi yang ada didalam kandungan kamu? Paling tidak kamu butuh seseorang untuk menemani kamu," ujar Thomas.
"Tapi!" bingung Amelia.
"Begini saja, Anggap saja aku mempekerjakan kamu untuk selalu menemani Sherly di rumah ini, Aku akan membayar kamu, dan kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa menabung untuk biaya persalinan kamu," ucapnya.
"Bagaimana bisa begitu? Aku tidak mau makan gaji buta," cibirnya. "Kalau begitu aku akan bekerja saja di rumah ini," pinta Amelia.
"Sayangnya rumah ini tidak membutuhkan pelayan, aku akan mempekerjakan orang hanya untuk menemani Sherly, titik," kata Thomas.
"Ish, pemaksaan sekali," cebik Amelia memberengut kesal, ternyata pria yang ada di depannya ini, sangat suka sekali mengatur dan memaksa. Tante Celine dan Sherly hanya menjadi pendengar yang baik.
"Sudah, Sudah, tidak usah berdebat! Amelia kau tinggal saja disini, keluarga Tante sudah menganggap mu seperti keluarga sendiri," ucap Tante Celine.
"Terima kasih banyak, Tan," ujarnya.
to be continued.....
__ADS_1