Amelia

Amelia
Episode 39


__ADS_3

Arga tiba di rumah lewat tengah malam. Kakinya sangat malas melangkah ke dalam, pasti akan ada banyak pertanyaan dari istri keduanya. Dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, ternyata Ratih sudah terlelap dalam tidurnya. Arga mendekat ke arah Ratih, dia mencium kening Ratih. Betapa bersalahnya dia, seharian ini dia tidak memberikan perhatian kepada Ratih dan juga bayinya.


Arga memegang perut istrinya yang semakin lama semakin membesar. Dia pun mencium perut itu dengan sayang.


"Maafkan, Papa, Sayang! Papa sudah mengabaikan mu," ujarnya seraya berkali-kali mengecup perut buncit itu. Ratih yang merasa ada seseorang memegangi perutnya, dia terbangun dan mengerjapkan matanya.


"Mas, sudah pulang?" tanya Ratih.


"Iya, Aku sudah pulang," jawab Arga seraya berdiri, dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sembari menunggu suaminya mandi, Ratih membuatkan minuman untuk Arga. Dia meletakkan minuman tersebut diatas nakas. Suaminya baru saja keluar dari kamar mandi dan berpakaian piyama.


"Ratih membuatkan kopi untuk mas," ucapnya sambil menyodorkan segelas kopi kepada suaminya.


"Terima kasih, Sayang," jawabnya.


"Bagaimana? Apakah Amelia sudah ditemukan?" tanya Ratih kepada Arga.


"Belum, aku belum menemukannya," ucapnya. "Dia pasti sangat marah sekali," imbuhnya lagi.


"Jangan khawatir, Mas! Amelia pasti kembali," ujar Ratih memberikan pengertian kepada suaminya. Sebenarnya dia sangat enggan berucap seperti itu, dia hanya ingin menunjukkan sikap simpatik saja di depan sang suami.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang! Kamu sudah mau mengkhawatirkan keadaan Amelia," ujarnya.


"Tentu saja, aku kan sudah menganggap Amelia seperti kakak kandung ku," ujarnya.


"Aku beruntung bisa menikahimu," jawab Arga, menoel dagu istrinya.


"Apakah mas sudah makan malam?" tanya Ratih lagi.


"Sudah, Sayang, mas capek banget, lebih baik Mas langsung beristirahat saja," ujarnya.


"Baiklah," jawab Ratih. Mereka pun langsung masuk ke dalam selimut yang sama. Mereka terlelap dalam mimpinya. Ditambah efek kecapean, Arga langsung memeluk tubuh istrinya dan terdengar suara dengkuran halus suaminya.


Jerman


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju Balai kota tua Bremen. Thomas memarkirkan mobilnya di tempat parkiran. Mereka berjalan kaki sedikit untuk bisa sampai di sana. Amelia dibuat takjub kembali melihat bangunan yang sangat indah dan bernilai sejarah tinggi. Bangunannya bergaya Gothik dengan fasad renaisans mewah dan di dalamnya terdapat ruangan besar bergaya Gothik tempat diadakannya acara penting kota. Tempat ini juga memiliki ruang bawah tanah yang di ubah menjadi restoran. Bangunan yang luar biasa ini adalah salah satu situs warisan dunia yang sangat indah. Fitur yang paling menonjol pada bangunan ini adalah lukisan besar dari putusan Salomo dating. Konser regular gratis diadakan setiap Kamis malam, termasuk penyanyi vokal dan resital Orgen. Jadi di Balai Kota tua ini akan ramai jika malam hari.


Lelah berkeliling di Balai Kota Bremen, Thomas mengajak semuanya beristirahat di Restaurant yang terletak di ruang bawah tanah. Ternyata setelah masuk didalamnya, Restaurant tersebut begitu luas dan sangat ramai. Thomas menyuruh keluarganya untuk duduk di meja dekat dengan sebuah panggung kecil. Biasanya ada seseorang yang akan menyanyikan atau menyumbang sebuah lagu, dan mereka akan naik diatas panggung.


Thomas memesan lima porsi kuliner khas orang Jerman. Di tempat makan ini terkenal dengan kentang goreng yang sangat enak dan sosis bakar bersaus. Kita bisa memesan sesuai dengan selera kita, jika menginginkan sosis yang sangat pedas, maka pelayan akan menyajikan sosis saus pedas. Namun jika kita memesan sosis bakar tidak pedas, pelayan akan menambahkan daging sapi cincang yang sudah di campur dengan telur dan tepung. Di bakar juga seperti sosis, namun daging ini dibuat bundar pipih, dan biasanya di sajikan dengan kentang goreng. Sherly menikmati makanan yang terhidang di meja, sekali-kali Amelia membantu Sherly untuk memotong-motong sosis yang besar itu. Sedari tadi, Thomas hanya memperhatikan kedekatan putrinya dengan Amelia. Bram dan Tante Celine juga bisa melihat ketertarikan Thomas kepada Amelia.


Selesai makan, Thomas juga mengajak mereka untuk melihat katedral Santo Petrus, katedral ini memiliki bangunan yang sangat tua, dengan dua menara delapan puluh sembilan meter. Dari katedral ini mematahkan Cakrawala kota Bermen. Dan Thomas mengajak semuanya untuk naik ke menara tersebut. Tante Celine dan Amelia menolak untuk naik ke sana. Karena mengingat usia Tante Celine yang sudah tidak muda lagi dan Amelia juga tidak ikut naik, karena dia sedang hamil membuat aktivitasnya tidak seperti dulu. Dia membawa beban berat diperutnya yang semakin membuncit.

__ADS_1


Amelia berselfie ria dan mengajak Tante Celine untuk berfoto bersamanya. Mereka berdua berfoto di depan menara yang sangat indah. Beberapa menit kemudian, Thomas dan Sherly kembali dari menara. Tante Celine menyuruh Sherly untuk berfoto bertiga bersama Amelia dan Daddy-nya. Celine menarik tangan Bram supaya Bram bisa mengabadikan momen yang luar biasa ini. Dengan tersipu malu Amelia berfoto bertiga.


"Seperti sebuah keluarga yang lengkap," gumam Celine ketika foto berhasil diambil oleh Bram.


Setelah melihat keindahan katedral ternyata menara ini memiliki sisi seramnya. Ada delapan mumi berusia empat ratus tahun, yang disimpan di peti mati berlapis kaca, dengan panel bertuliskan nama-nama mereka. Dua adalah perwira Swedia yang tewas dalam perang tiga puluh tahun. Amelia yang melihat mumi itu merasa bulu kuduknya merinding. Thomas bisa melihat kalau Amelia ketakutan, akhirnya mengajak semuanya untuk keluar dari ruangan tersebut.


Tidak terasa ternyata hari sudah sore, Thomas mengajak semuanya untuk pulang. Jalan-jalannya bisa dilanjutkan nanti malam. Bahkan kota Bremen akan sangat terlihat indah jika malam hari, dengan hamparan salju yang tebal mengelilingi alun-alun kota Bremen. Thomas juga melihat Sherly, Mamanya dan Amelia terlihat sangat kelelahan.


Bram yang mengemudikan mobilnya. Thomas duduk di samping Bram. Sedangkan Mama Celine, Amelia dan putrinya duduk di kursi penumpang. Tidak terasa mereka sudah kembali ke rumah. Thomas menyuruh putrinya agar langsung mandi dan bersih-bersih. Amelia membantu Sherly untuk melepaskan baju dan mandi.


Sedangkan Thomas dan Bram langsung berpamitan kepada Mama untuk kembali ke kantor. Mereka berada dalam satu mobil.


"Dia wanita yang sangat cantik, sepertinya kau menyukainya," ucap Bram membuka percakapan. Thomas menoleh ke arah Bram.


"Tidak mungkin, dia masih istri orang lain," jawabnya.


"Kalau dia bukan istri orang lain, Apakah kau akan maju untuk merebut hatinya?" tanya Bram, membuat Thomas membelalakkan matanya.


"Ck, kau urus saja dirimu sendiri," cibirnya. "Sejak dulu kau menyukai Alina, tapi, kau tidak berani untuk mengungkapkannya! Jangan suka sok menasehati orang lain," ujarnya.


"Kasus kita berbeda, aku menyukai Alina, tapi, kau kan tahu bahwa aku dan Alina tidak mungkin bisa bersatu," jelasnya.

__ADS_1


"Hei, Bro! Mana Bram yang aku kenal?" ucap Thomas, "Kenapa kau jadi lembek? Apakah pesona mu sebagai Casanova sudah mulai luntur?" goda Thomas. Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di Perusahaan.


to be continued....


__ADS_2