
Amelia memasuki rumah dengan langkah yang malas, sebenarnya dia sangat enggan untuk pulang. Namun dirinya tidak tahu mau pergi kemana. Dia membuka pintu rumahnya, rumahnya masih sama seperti tadi pagi ia tinggalkan. Dia memandang foto pengantin yang terpajang di ruang tamu, tidak terasa air matanya menetes. Amelia mengambil foto tersebut dan meletakkannya di laci meja. Ia menghapus air matanya yang setiap hari harus mengalir menangisi laki-laki yang sudah tidak perduli dengannya.
Tok .... tok .... tok
Seseorang mengetuk pintu rumahnya, Amelia beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu tersebut. Ternyata ibu mertuanya yang datang. Dahlia memaki-maki Amelia dengan kata-kata yang kasar. Amelia tetap diam saja, dia masih menghormati Dahlia sebagai mertuanya.
"Dasar kau wanita tidak tahu diri! Dasar ja*****ng, sekarang kau mencoba untuk menyakiti Ratih dan calon cucuku! Aku tidak terima kau menyakiti cucuku," hardiknya.
PLAKKK ....
BUGH ....
PLAKKK .....
"Sakit, Ibu!"
"Auw, sakit,"
"Hiks ... hiks ..... hiks." tangis Amelia.
"Sakit ibu, Tolong lepaskan!" pekiknya. Dahlia sangat marah setelah mendengar Ratih mengadu kepadanya, bahwa Amelia berusaha untuk menyakiti dirinya dan bayinya. Berkali-kali Dahlia menampar Amelia dan menjambak rambutnya, hingga Amelia mengaduh kesakitan. Nampak pipinya yang putih dan mulus berwarna kemerahan akibat tamparan keras dari ibu mertuanya. Setelah Dahlia puas, dia pun pergi begitu saja tanpa berpamitan.
"Hiks .... hiks .... hiks." tangis Amelia. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, pipinya terasa perih dan panas. Untungnya kandungan Amelia baik-baik saja. Ia mengelus perutnya dengan sayang.
"Sabarlah, Sayang! Bunda akan menjagamu dengan baik," ucapnya.
Amelia berjalan ke kamarnya, dia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Badannya terasa sangat sakit, ia pun mengurungkan niatnya untuk mandi. Dia hanya mengganti bajunya dengan baju bersih, ia mengelapkan air hangat ke sudut bibirnya. Rasanya perih, namun hatinya lebih perih dari luka di bibirnya.
Selesai mengoleskan salep disudut bibirnya, Amelia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Dia memandang ke langit-langit kamarnya, dia tidak menyangka kalau nasib pernikahannya akan seburuk ini. Ia pun kembali menitikkan air matanya. Tanpa terasa matanya sangat berat, dia pun tertidur dalam keadaan perut yang kosong.
__ADS_1
Pagi harinya, Amelia merasa perutnya sangat lapar, dia pun terbangun. Dia membuka isi kulkas dan memasak makanan seadanya. Dia membuat nasi goreng sosis dan telor mata sapi. Amelia menikmati sarapan paginya dengan lahap. Selesai sarapan, dia mandi dan bersih-bersih, karena ia akan kembali bekerja di butik Tante Celine.
Selesai mandi dan bersiap-siap, dia keluar dari kamarnya. Amelia terlihat sangat cantik, dengan dress bunga-bunga warna hijau laut. Dia hendak keluar, namun tiba-tiba suaminya datang.
"Mau kemana?" tanya Arga kepada Amelia.
"Aku mau berangkat kerja, Mas," jawabnya.
"Bekerja? Kenapa tidak meminta izin terlebih dahulu?" ketusnya.
"Bagaimana aku bisa meminta izin kepadamu, Mas? Kau sendiri sangat sibuk dengan madumu!" hardik Amelia.
"Tapi, kau adalah istriku! Dan seharusnya kau meminta izin kepada ku!" ketusnya lagi.
"Oke, kalau begitu, aku meminta izin kepadamu untuk bekerja! Kamu puas sekarang!" ucapnya.
"Apakah uang yang aku berikan tidak cukup?" tanyanya mulai melunak.
"Apa kau bilang?" tanya Arga tidak percaya.
"Apakah kau ingin bercerai denganku?" tanya Arga penuh selidik.
"Kamu tidak bisa memberikan keadilan bagiku, Mas! Lebih baik ceraikan aku!" lirih Amelia.
"Tidak! Jangan pernah kamu mengatakan hal itu! Aku tidak mau menceraikanmu! Dan tidak akan pernah ada kata cerai diantara kita!" tegas Arga.
"Lalu apa mau mu, Mas? Aku sudah cukup terluka bertahan di pernikahan ini! Aku mohon ceraikan aku, Mas?" pinta Amelia.
"Cukup Amelia! Jangan pernah kamu meminta cerai dariku, karena tidak akan pernah
__ADS_1
terjadi! Aku mencintaimu, aku juga menyayangi Ratih! Aku tidak bisa memilih satu diantara kalian! Aku mohon mengertilah!" bentak Arga, sambil berlalu pergi meninggalkan istri pertamanya begitu saja. Amelia menangis sedih, tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Kamu tega melakukan ini padaku! Bahkan kamu tidak perduli dengan luka disekujur tubuhku!"
"Hiks .... hiks .... hiks." tangis Amelia. Amelia beranjak dari tempatnya, ia menghapus air matanya.
Dia memberhentikan taksi, hari ini dia tetap akan berangkat bekerja. Tidak perduli suaminya akan marah kepadanya. Dia tidak mau terus bergantung kepada suaminya. Dia harus mencari kesibukan sendiri, untuk melupakan sedikit masalahnya. Taksi berhenti di depan butik, setelah membayar ongkos taksi, ia turun dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam butik. Amelia menyapa semua karyawan di sana. Mereka memandang heran kepada Amelia, karena mereka melihat banyak bekas luka diwajah cantik wanita itu.
"Amelia? Ada apa dengan wajahmu? Kamu terluka?" tanya Rani, salah satu karyawan butik Tante Celine.
"Eh, itu, tidak apa-apa! Aku hanya terjatuh!" bohongnya.
"Benarkah? Kamu yakin itu cuma luka karena jatuh?" tanya Rani lagi, penasaran.
"Iya, ini cuma luka kecil saja," ucap Amelia sambil berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian Celine datang, semua karyawan menyapa bos-nya dengan menundukkan kepala. Seperti biasa, sebelum bekerja Celine akan memberikan sedikit ceramah untuk karyawan-karyawannya, termasuk kepada Amelia. Celine lakukan supaya para karyawan yang bekerja di tempatnya, selalu bersemangat dan cekatan dalam bekerja. Celine adalah sosok seorang bos yang sangat baik namun tegas. Ia tidak pernah membeda-bedakan karyawannya. Celine sudah menganggap semua karyawannya seperti keluarganya sendiri.
Butik yang Celine kembangkan adalah butik yang terkenal dari bebagai kalangan atas. Hanya orang-orang kalangan atas saja yang bisa membeli baju dan tas dari butik Celine. Wanita paruh baya ini sangat menyukai barang-barang branded, semua kualitas barang yang dia jual adalah barang branded semua. Yang nilai jualnya sungguh sangat fantastis, namun selalu ramai dikunjungi oleh para orang kaya dan ibu-ibu sosialita.
Setelah memberikan sedikit ceramah, Celine menyuruh seluruh karyawannya untuk bekerja kembali. Satu orang memegang bagian kasir, dua orang bagian gudang, dan dua orang lagi melayani para pembeli. Dan Celine memberikan tugas kepada Amelia untuk mengecek pembukuan di kantornya. Amelia mulai memeriksa pembukuan dengan teliti, dengan cepat Amelia menyelesaikan tugasnya, kemudian ia memberikannya kepada Tante Celine. Celine memeriksa kembali pembukuan tersebut, ia sangat puas dengan hasil kerja Amelia. Tidak ada sedikitpun angka yang salah, semua hitungannya tepat dan benar.
"Bagus sekali, Nak! Tante lihat kamu sangat berbakat! Apa pendidikan terakhirmu?" tanya Tante Celine.
"SMA, Tante! Amelia hanya lulus SMA," jujurnya. Celine baru menyadari kalau wajah cantik Amelia terdapat banyak luka lebam, dan sudut bibir yang sedikit pecah. Celine memegang dagu Amelia dan mengamati setiap lukanya.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Celine penasaran. Amelia nampak sangat pucat dan sedih, Celine bisa melihat itu.
"Katakanlah?" tanyanya lagi.
__ADS_1
to be continued......