
Empat bulan berlalu
Hari ini adalah acara syukuran empat bulanan Ratih di rumah Arga. Dahlia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat sempurna. Empat hari sebelum acara, Dahlia sudah mempersiapkan segala-galanya. Dari dekorasi tempat, baju untuk pasangan suami-istri yang sepadan, sampai catering makanan yang ia pesan khusus dari Restaurant terkenal.
Tamu yang diundang khusus dari ibu-ibu pengajiannya, keluarga besar dan tetangga rumah saja. Arga memang sengaja tidak mengundang teman-teman kantornya. Karena Arga khawatir, kalau teman-teman kantornya sampai tahu dengan pernikahannya yang ke dua. Karena itu akan berdampak buruk bagi karirnya. Ditempatnya bekerja, ada larangan kalau sesama karyawan dilarang saling jatuh cinta apalagi sampai menikah.
Amelia juga turut di undang, dia duduk di sebelah suaminya. Sebenarnya, dia juga tidak mau datang. Namun suaminya terus memaksa untuk datang, akhirnya dia pun datang.
Acara akan dimulai, Dahlia memanggil putranya untuk duduk di samping Ratih. Mereka menggunakan adat Jawa untuk melaksanakan acara syukuran tersebut. Hati Amelia terasa sangat perih, dikala ibu mertuanya begitu bahagia akan mendapatkan cucu kandung dari Ratih. Begitu juga suaminya, dia tersenyum begitu bahagia. Berkali-kali suaminya mencium perut buncit madunya. Sedangkan kepada dirinya, dia tidak pernah melakukan hal tersebut. Apalagi mengadakan syukuran empat bulan untuk kehamilannya. Tidak terasa buliran bening itu mengalir begitu saja. Dadanya terasa sesak, hatinya berkecamuk. Dia memutuskan untuk pergi dari acara tersebut.
Dengan perut buncitnya, Amelia berjalan tidak menentu arahnya. Sekarang kehamilannya memasuki usia 5 bulan, jarak usia kandungannya dengan madunya tidak terlalu jauh. Dia tidak perduli dengan kakinya yang lecet akibat berjalan cukup jauh. Sampai disebuah halte, dia berhenti dan beristirahat sebentar.
"Sabarlah, Sayang! Meskipun tidak ada satupun orang yang menyayangimu! Bunda yang akan menyayangimu," ucapnya sambil mengelus-elus sayang perutnya. Ada gerakan aktif di dalam perutnya, seakan ia tahu kalau bundanya sedang memberikan pengertian kepadanya.
Amelia memesan taksi online, dia memutuskan untuk pulang. Beberapa kali panggilan dari suaminya, ia abaikan. Dia terlalu malas untuk berbicara dengan suaminya.
Taksi berhenti tepat di depannya, dia masuk ke dalam taksi. Taksi melaju dengan kecepatan sedang, menuju alamat rumahnya. Sejurus pikirannya masih seputar kejadian barusan, dia masih teringat dengan jelas kebahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya. Wajah kebahagiaan ibu mertuanya dan Suaminya.
Tidak terasa taksi yang membawanya sudah sampai di depan rumah. Amelia membayarkan ongkos taksinya. Dia melangkahkan kakinya menuju rumah, ternyata sudah ada Tante Celine dan Sherly, seketika kesedihannya teralihkan.
"Sherly?" senang Amelia memeluk gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.
"Tante." tubuh Sherly menghambur ke pelukan Amelia.
"Tante kangen banget sama Sherly," ucapnya, memang sudah dua Minggu lamanya mereka tidak bertemu. Karena Sherly diantar jemput oleh papanya, hari-harinya dia habiskan bersama sang papa.
"Iya, Tan! Sherly juga kangen banget!" ucapnya sangat lucu.
__ADS_1
"Papa sudah berangkat lagi ke Singapura, untuk bekerja! Sekarang Sherly sendiri lagi," sedihnya.
"Hei, anak cantik tidak boleh bersedih! Papa Sherly bekerja kan juga buat Sherly juga," jelasnya.
"Sekarang ada Tante! Tante yang akan menjaga Sherly," ujarnya tersenyum manis.
"Dan Sherly, akan menjaga dedek bayinya," ucap gadis kecil itu, seraya mengecup perut buncit Amelia, Amelia sangat terharu dengan perlakuan bocah kecil kesayangannya. Tante Celine tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya. Mereka seperti ibu dan anak sesungguhnya. Amelia mempersilahkan Tante Celine masuk ke Rumah. Ini adalah pertama kalinya Tante Celine bertamu ke rumah Amelia.
Hari ini Amelia akan memasak makanan istimewa untuk tamunya. Sebelumnya mereka berbelanja kebutuhan untuk memasak hari ini ke Supermarket terdekat. Amelia membuat Cheese cake untuk gadis kecil kesayangannya. Amelia juga memasak ayam Krispy, Sup daging serta rolade ayam untuk makan malamnya.
Cheese cake selesai di buat, Sherly langsung mencicipinya. Dia tidak sabar ingin mencicipi kue bikinan Tante cantiknya. Dan rasanya luar biasa enak, bahkan sampai dua piring Sherly melahap habis kuenya. Omanya juga memuji kue bikinan Amelia, rasanya tidak kalah dengan Toko terkenal. Amelia melarang Sherly makan banyak kue, takutnya nanti dia kekenyangan saat akan makan malam. Sherly pun sangat menurut dengan perkataan Tante cantiknya. Kemudian Amelia mempersilahkan Tante Celine dan Sherly untuk menikmati makan malam di rumahnya.
Dengan disuapi Amelia, Sherly sangat lahap menikmati masakan Amelia, satu piring tandas tanpa sisa. Omanya sangat bahagia.
Selesai makan malam, tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu. Belum selesai Amelia mencuci piring kotor, dengan terpaksa Amelia harus membuka pintu terlebih dahulu. Ternyata yang datang suaminya dengan madunya. Amelia sangat malas menghadapi mereka berdua, karena hari ini dia sedang kedatangan tamu istimewa.
"Ehm ... Ehm ...Ehm." suara Arga, membuat Tante Celine menoleh ke sumber suara.
"Siapa kalian? Berani-beraninya membuat kekacauan di rumahku!" bentak Arga, membuat Amelia membulatkan matanya. Tante Celine hanya terdiam mendengar pertanyaan laki-laki dihadapannya.
"Mereka adalah tamu istimewaku, Mas!"
"Jangan berlaku tidak sopan kepadanya!" hardik Amelia.
"Tamu seperti apa yang kau bawa, Amelia?" tanya Ratih.
"Hanya membuat kerusuhan saja," cibirnya.
__ADS_1
"Ya, Ampun! Lihatlah, Sayang! Dia menghambur-hamburkan uangmu untuk tamu tidak jelas seperti mereka," ejek Ratih.
"Diam, kau," hardik Amelia, sambil menunjuk ke arah Ratih.
"Iya, sudah! Tante pulang dulu, Sayang!" ucap Tante Celine, membuat Amelia tidak enak hati.
"Tante, maafkan atas ketidaknyamanan ini, Tan!" mohon Amelia merasa bersalah.
"Ini bukan salah kamu, Sayang! Kamu tidak usah merasa tidak enak kepada Tante! Kamu harus menjaga diri kamu, dari orang-orang sombong seperti mereka!" hardik Tante Celine tegas. Membuat Arga dan Ratih mendelik ke arah Tante Celine.
"Sherly, Ayo kita pulang!" ajak Tante Celine kepada cucunya. Sebenarnya Sherly masih ingin bersama Amelia, namun Omanya terus memaksa Sherly untuk pulang, akhirnya Sherly menurut juga. Tante Celine keluar dari rumah Amelia, dia masuk ke mobilnya yang diparkirkan di seberang jalan dengan sopir pribadinya. Celine mendengar dengan jelas pertengkaran Amelia dengan suaminya.
"Keterlaluan kamu, Mas! Kamu sudah bertindak tidak sopan kepada tamuku!" marah Amelia.
"Apanya yang tidak sopan? Apa yang dikatakan Ratih memang benar! Kau menghambur-hamburkan uang pemberianku! Mulai sekarang jatahmu akan aku kurangi!" selorohnya.
"Aku tidak perduli dengan uang yang kau berikan kepadaku!" Amelia mengembalikan ATM yang diberikan Arga kepadanya.
"Aku menjamu tamuku dengan hasil keringatku sendiri! Aku tidak menggunakan uang pemberianmu untuk keperluan pribadiku! Semuanya masih utuh, tidak kurang sedikitpun!" kesal Amelia.
"Sekarang aku mohon, kalian pergilah dari sini!" mohon Amelia sambil terisak.
"Ayo, Mas kita pulang! Sebaiknya ATM ini aku yang simpan!" ucapnya, seraya menarik tangan suaminya meninggalkan rumah itu.
"Hiks ... hiks .... hiks." tangis Amelia.
Tante Celine yang masih berada di dalam mobil, mendengarkan semua pertengkaran suami istri itu. Hatinya semakin iba melihat penderitaan Amelia. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena masalah Amelia bukanlah kapasitasnya. Dia tidak berhak untuk mencampuri urusan rumah tangga Amelia. Dia hanya bisa berdoa, supaya Amelia bisa berpisah dengan suaminya dan mendapatkan laki-laki yang terbaik. Celine pun menyuruh sopirnya untuk menjalankan mobilnya pulang ke rumah.
__ADS_1
to be continued.....