Amelia

Amelia
Episode 47


__ADS_3

"Begini saja, Anggap saja aku mempekerjakan kamu untuk selalu menemani Sherly di rumah ini, Aku akan membayar kamu, dan kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa menabung untuk biaya persalinan kamu," ucapnya.


"Bagaimana bisa begitu? Aku tidak mau makan gaji buta," cibirnya. "Kalau begitu aku akan bekerja saja di rumah ini," pinta Amelia.


"Sayangnya rumah ini tidak membutuhkan pelayan, aku akan mempekerjakan orang hanya untuk menemani Sherly, titik," kata Thomas.


"Ish, pemaksaan sekali," cebik Amelia memberengut kesal, ternyata pria yang ada di depannya ini, sangat suka sekali mengatur dan memaksa. Tante Celine dan Sherly hanya menjadi pendengar yang baik.


"Sudah, Sudah, tidak usah berdebat! Amelia kau tinggal saja disini, keluarga Tante sudah menganggap mu seperti keluarga sendiri," ucap Tante Celine.


"Terima kasih banyak, Tan," ujarnya.


"Thomas, temani Amelia membeli baju-baju bayi," perintah Mamanya.


"Nggak usah, Tan! Amelia bisa pergi sendiri," ucapnya.


"Jangan dong, Sayang! Terlalu berbahaya," ucapnya.


"Nanti akan aku antarkan," ucap Thomas.


"Baiklah," ucap Amelia tidak bisa menolak keinginan pria menyebalkan itu.


"Hore, nanti Sherly mau ikut," ucapnya.


"Oke, Sayang, kamu boleh ikut," ucap Thomas.


Sekitar jam sepuluh siang, mereka berangkat ke mall. Kali ini Thomas yang mengendarai mobilnya sendiri. Amelia duduk di samping Thomas, sedangkan Sherly duduk di belakang. Dia menolak untuk duduk di depan, karena tempatnya tidak seluas di belakang.


"Oya, Sebenarnya pertemuan kita ini memang sudah digariskan oleh Allah," ucapnya tiba-tiba. Amelia merasa sangat bingung, dia mengernyitkan dahinya.


"Apakah kau ingat saat tiba-tiba saja kau jatuh pingsan tepat di depan mobilku?" tanyanya. Amelia mengingat-ingat, saat dirinya memang pernah jatuh pingsan tepat di depan mobil seseorang. Dan orang itu juga yang telah membawanya ke Rumah Sakit.


"Apakah kau pria itu?" tanya Amelia terkejut.


"He'em," jawab Thomas. Amelia langsung menutup mulutnya, dia tidak percaya bahwa sebelumnya mereka memang pernah bertemu. Namun saat itu Amelia sedang dalam keadaan pingsan.

__ADS_1


"Ya Ampun," ujar Amelia. "Terima kasih banyak, Anda sudah menyelamatkan saya waktu itu, dan juga sudah membayarkan biaya Rumah Sakit, Terima kasih, nanti saya ganti uangnya," ucapnya. Thomas tersenyum manis.


"Tidak perlu, Kau simpan saja uangnya," ujarnya.


"Jangan begitu, saya sudah banyak merepotkan orang-orang, terutama keluarga Anda," ucapnya.


"Uangku tidak akan habis kalau cuma membayar biaya Rumah Sakit," ucapnya.


"Ish, dasar sombong!" desisnya.


Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di parkiran mall. Sherly langsung turun dan sangat senang. Dia menarik tangan Amelia supaya jalannya lebih cepat lagi. Mereka mencari toko khusus menjual keperluan bayi. Dan mereka berhenti di sebuah toko perlengkapan bayi yang sangat lengkap. Amelia memilih beberapa baju untuk anak laki-laki, karena memang diprediksi oleh Dokter anak laki-laki yang ada dikandungan Amelia. Ternyata, Thomas juga sangat antusias memilih baju-baju untuk anak yang dikandung Amelia. Dari baju sampai celana, kaos kaki dan kaos tangan bayi, dia yang memilihkannya untuk bayi Amelia.


"Lihatlah, ini bagus bukan?" tanya Thomas kepada Amelia.


"Kenapa banyak sekali? Aku tidak cukup uang untuk membeli pakaian sebanyak itu!" bisik Amelia kesal, karena memang harga perlengkapan bayi di toko ini lumayan mahal. Padahal dia sudah merencanakan, kalau dia akan membeli sesuatu yang penting-penting saja, dan sisanya dia akan membeli barang-barang second untuk baby-nya.


"Kau tidak perlu khawatir, nanti aku yang bayar," ucapnya.


"Tapi barang-barang disini sangat mahal," bisiknya ke telinga Thomas.


"Tapi, nanti Anda tidak akan memotong gaji saya kan?" tanyanya.


"Ck, kau ini?" cebik Thomas.


"Daddy, lihatlah!" kata Sherly menunjuk ke arah box bayi itu. "Box bayi itu lucu banget, Sherly suka! Ayo Daddy belikan itu untuk dedek bayi yang ada diperut Tante Amelia," rengek Sherly.


"Oke, Ayo kita beli," ujar Thomas.


"Apa? Tapi ini mahal banget," lirih Amelia lagi.


"Sudahlah kau diam saja, biar aku yang akan membayarnya," kesal Thomas, karena sedari tadi Amelia berbisik, dan tentu saja itu membuat bulu kuduknya berdiri.


"Tapi, aku tidak mau berhutang budi kepada Anda," ucapnya.


"Kau ini berisik sekali, sangat cerewet!" cibir Thomas. "Aku yang akan membayarnya, kau tenang saja," kesal Thomas. Thomas pun membayar semua barang-barang belanjaan Amelia di tempat kasir dengan kartu kreditnya. Dan barang-barang tersebut akan di antar besok harinya dengan mobil box yang sudah disediakan oleh toko.

__ADS_1


Selesai dari toko perlengkapan bayi, Sherlly merengek meminta daddy-nya ke toko mainan. Disana Sherly memilih banyak mainan yang sangat lucu dan menggemaskan. Dia juga membeli mainan untuk anak laki-laki. Entah kenapa, Thomas begitu antusias memilih barang-barang untuk anak Amelia.


Keluar dari toko mainan, Thomas mengajak Amelia dan Sherly untuk makan siang di mall. Perutnya terasa lapar dan keroncongan. Mereka memilih Restaurant yang memiliki o tempat untuk bermain anak-anak. Thomas memesan tiga porsi nasi goreng seafood dan orange jus. Mereka menikmati makan siangnya di mall. Sekali-kali mata Sherly menatap ke arah tempat bermain, Thomas melarang Sherly bermain sebelum makanannya habis. Dengan cepat Sherlly menghabiskan nasi goreng di piringnya, barulah dia bermain.


"Berapa usia kandungan mu?" tanya Thomas.


"Tujuh bulan lebih, Kenapa?" tanya Amelia.


"Tidak apa," jawabnya. "Bolehkah aku menyentuh perutmu?" pinta Thomas.


"Apa?" permintaan Thomas sungguh sangat aneh, Amelia sampai terkejut dibuatnya.


"He'em," ucap Amelia, menganggukkan kepalanya. Thomas menyentuh perut Amelia, dan tiba-tiba ada pergerakan yang sangat aktif di dalam perutnya.


"Sepertinya anakku sangat menyukai Anda, Lihatlah! Dia sangat aktif," kata Amelia tersenyum bahagia.


"Kau benar, bayi yang ada di dalam perutmu terus menendang," ucap Thomas. Entah kenapa dia merasakan ada ikatan yang tidak bisa dia pahami. Namun ikatan ini sungguh sangatlah misteri baginya. Ada rasa bahagia yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.


Lelah bermain, Sherlly meminta untuk pulang ke rumah. Sepertinya putri kecilnya sudah bosan dan jenuh. Thomas pun memutuskan untuk pulang, dia melihat Amelia juga nampak terlihat kelelahan. Saat hendak masuk ke mobil, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang. Ternyata dia adalah suaminya.


"Mas?" Amelia sangat terkejut.


"Oh, ternyata kamu sudah terang-terangan mengumbar kemesraan kamu di tempat umum?" cebiknya. "Dengan laki-laki yang bukan suami kamu," teriaknya.


"Bukan seperti itu, Mas!" jawab Amelia, "Dia hanya menemani ku untuk membeli keperluan bayi," ujar Amelia.


"Ck, dasar wanita murahan! Kau berani berjalan dengan pria lain, padahal kau masih sah istriku," marah Arga.


"Hentikan!" teriak Thomas. "Kenapa kau begitu kasar dengan perempuan?" tanya Thomas. Ini adalah pertama kalinya Thomas dan Arga bertemu.


"Bukan urusan kamu!" bentak Arga. "Dasar tidak tahu malu, dia masih sah istriku," marah Arga hendak memukul wajah tampan Thomas. Thomas menghindar dan membela diri dari serangan Arga. Adu pukul dan jotos pun terjadi,


Amelia hanya bisa berteriak meminta tolong kepada security untuk memisahkan mereka.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2