
Apa yang dikatakan Amelia di meja makan membuat Mama Celine bertanya-tanya. Sepertinya Amelia ingin mengatakan sesuatu, namun gara-gara Thomas, Amelia tidak jadi menyelesaikan kalimatnya. Mama Celine memberengut kesal kepada Thomas.
"Dasar anak durhaka, kesel banget deh omah sama Daddy kamu," umpatnya di depan Aska. Aska yang mendengar umpatan Omanya hanya senyum-senyum saja bahkan berceloteh tidak jelas membuat omah Celine tertawa geli.
"Sepertinya kamu tahu kalau Oma mengumpat Daddy kamu, kamu memang cucu Oma yang pintar," puji Celine.
Ini adalah hari pertama Amelia masuk kembali ke butik mama Celine. Semua teman-temannya menyambut dirinya dengan antusias. Apalagi setelah tahu bahwa Amelia sekarang adalah menantu dari majikan mereka. Mereka sangat bahagia dan sangat mengagumi Amelia. Ada yang iri ingin mengikuti jejak Amelia, Amelia hanya terkekeh geli mendengar senda gurau mereka. Dia tidak memasukkannya di hati karena memang itu hanyalah sebuah gurauan saja.
Semua karyawan mengetahui bahwa sekarang yang mengelola butik adalah Amelia. Mereka sangat bahagia dan mereka sangat senang bisa bekerja dengan Amelia. Karena memang pada dasarnya Amelia wanita yang ramah, lembut, sopan dan tidak sombong. Bahkan Amelia menginginkan agar mereka semua menganggapnya seperti dulu. Karena menurutnya tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, antara bos dan karyawan, semuanya sama. Itulah yang membuat semua orang di sana senang bisa berteman dengan Amelia.
Mereka kembali ke pekerjaan dan tugasnya masing-masing. Seperti biasa, Vivin dan Rani bertugas di depan melayani para pelanggan. Sedangkan tiga pelayan membereskan gudang.
kalau butik sedang ramai, ke tiga pelayan itu pun membantu Vivin dan Rani melayani pelanggan. Mereka tidak perlu menunggu perintah, mereka mengetahui tugasnya masing-masing.
Hari ini butik sedang ramai. Ke lima karyawan nampak kerepotan. Amelia yang melihat itu, dia juga turut membantu. Saat sedang melayani salah satu pelanggan tetap butik ini, tiba-tiba ada dua orang wanita datang ke butik untuk membeli tas dan pakaian. Yang satu wanita separuh baya dan yang satunya lagi wanita yang sedang hamil. Tanpa melihat kearah pembeli, Amelia dengan ramah menyapanya.
"Hey, lihat siapa ini?" ucap Dahlia sinis. Ternyata kedua wanita itu adalah Dahlia dan Ratih, mereka hendak berbelanja. Amelia yang malas untuk meladeni keduanya, dia pun menyerahkan pembeli tersebut kepada Vivin. Dengan ramah Vivin menyapa Dahlia dan Ratih.
"Tunggu! Aku ini adalah pembeli, jadi, kau harus melayani ku seperti raja," ucap Dahlia kepada Amelia, membuat Ratih tertawa mengejek.
"Maaf, Bu, Saya tidak punya waktu, saya masih banyak pekerjaan!" jawab Amelia.
"Pelayan butik saja sombong banget!" ejek Dahlia. "Bagaimana kalau sudah menjadi istri pejabat?"
__ADS_1
Vivin tidak terima, bosnya diejek oleh salah satu pembeli. Dia pun langsung maju ke depan, dan menatap mereka dengan tajam.
"Apa maksud kalian semua, hah?" marah Vivin kepada dua wanita itu. Yang baru dia tahu, kalau mereka adalah mantan mertua dan mantan madu Amelia. "Anda jangan cari gara-gara disini, ya!"
"Loh, loh, kan memang benar dia pelayan toko ini. Harusnya dia bisa melayani kami seperti raja. Benarkan Ratih?"
"Iya, Bu, benar sekali," jawab Ratih.
"Jaga ucapan ibu ya! Amelia adalah pemilik butik ini, dan kami semua adalah karyawannya. Dan kami tidak terima ibu menghina bos kami!" hardik Vivin.
"Apa bos?" Dahlia tersenyum sinis. "Mana mungkin dia seorang bos?"
"Terserah ibu mau percaya atau tidak, dia adalah bos kami. Jika ibu tidak menghormatinya maka akan berurusan dengan kami. Dan sekarang silakan ibu pergi dari sini!" usir Vivin dan Rani.
"Sudah mbak Vivin, Mbak Rani, biarkan saja mereka. Kita tidak usah membuang tenaga dan membuang waktu untuk mengurusi mereka semua. Sekarang kerjakan tugas-tugas kalian kembali. Kita masih banyak pelanggan setia butik ini!" tutur Amelia.
"Baiklah kami akan pergi, lagipula kami juga tidak betah di sini,"
"Tentu saja kalian tidak betah, karena semua barang di sini barang branded dan mahal. Apakah kalian mempunyai uang untuk membelinya?" ejek Rani.
"Dasar kau! Anakku adalah seorang manajer, barang-barang di sini bagiku sangatlah murah," sombong Dahlia.
"Itu benar," timpal Ratih.
__ADS_1
"Lalu kenapa kalian memakai tas KW?" ejek Vivin. "Bukankah itu menandakan kalian tidak bisa membeli yang mahal?" ejek Vivin lagi.
"Hah, dasar wanita bermulut cabe! Omonganmu sangat pedas dan tajam,"
"Dasar nenek sihir!" olok Vivin.
"Ratih, Ayo kita pergi dari sini! Ibu sudah tidak tahan dan gatal-gatal," ucap Dahlia, sambil berlalu dari butik Amelia.
"Tapi, Bu, baju-baju dan tasnya bagus-bagus, Ratih ingin membelinya, Bu!" pinta Ratih.
"Sudah, Ayo pergi dari sini!" Dahlia menarik tangan Ratih keluar dari butik tersebut. Ratih hanya bisa bersungut-sungut saja. Karena keinginannya untuk membeli tas dan baju baru tidak membuahkan hasil. Dia sangat jengkel dan dongkol kepada ibu mertuanya.
Mereka hendak memberhentikan taksi. Suara ponsel Dahlia terus berdering, ternyata nama putranya yang tertera di kontak telepon. Arga memberitahu bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit. Dia menyuruh Dahlia dan Ratih untuk langsung ke rumah sakit, karena ada sesuatu hal yang sangat penting. Mereka takut Arga kenapa-napa akhirnya mereka langsung menuju ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Dahlia dikejutkan dengan kabar duka. Ternyata suaminya masuk ke ruangan UGD. Arga juga sudah menunggu di depan ruangan tersebut. Dia mengatakan bahwa ayahnya sudah tidak sadarkan diri, Arga pun langsung membawanya ke rumah sakit.
Beberapa menit kemudian seorang dokter keluar dari ruangan tersebut, dan mengatakan bahwa pasien bernama pak mono sudah meninggal dunia. Dahlia begitu terkejut, tiba-tiba kakinya terasa sangat lemas, dia tidak bisa menopang beban tubuhnya nya, yang akhirnya Dahlia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Dahlia menangisi kepergian suaminya, dia tidak menyangka kalau suaminya akan pergi secepat itu. Arga berusaha untuk menenangkan ibunya yang masih histeris.
Semua keluarga berkumpul di rumah Arga, adik kembarnya yang sedang kuliah di Semarang disuruhnya untuk pulang. Mereka berdua pun pulang ke kota J saat itu juga. Karena secepatnya, jenazah pak mono akan segera dimakamkan.
Suasana haru menyeruak di rumah itu, banyak para tetangga dan warga sekitar datang melayat ke rumah Dahlia. Setelah kedua anak perempuan pak mono datang barulah jenazah dimakamkan.
__ADS_1
Pemakaman berjalan dengan lancar, mereka semua pun kembali ke rumah. Dahlia masih terisak dengan menatap foto suaminya. Kedua anak perempuannya berusaha untuk menenangkan hati Dahlia. Masih sangat kentara suasana berkabung di rumah itu.
to be continued....