Amelia

Amelia
Episode 30


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Tante Celine datang ke rumah Amelia untuk mengembalikan ponsel Amelia yang tertinggal di jok mobilnya. Tante Celine masuk ke dalam, ternyata pintu depannya tidak di kunci. Tante Celine meletakkan ponsel Amelia di meja ruang tengah. Tante Celine memanggil-manggil Amelia. Dia merasa heran karena rumah Amelia sedikit berantakan. Tante Celine mencari keberadaan Amelia, ada suara wanita merintih dan menangis di dalam kamar mandi. Tante Celine pun langsung berlari ke arah kamar mandi, dia khawatir kalau Amelia jatuh terpeleset di kamar mandi. Setelah ia mendatangi arah kamar mandi, betapa terkejutnya Tante Celine melihat keadaan Amelia.


"Astaghfirullah!" Tante Celine menggoyang-goyangkan tubuh Amelia, Amelia tidak sadarkan diri.


"Siapa yang tega melakukan ini sama kamu, Sayang?" ucap Tante Celine panik. Dia keluar meminta bantuan kepada sopirnya.


"Pak Sony? Pak Sony? Tolong!" ucap Tante Celine meminta bantuan kepada sopirnya.


"Ada apa, Nyonya?" tanya Sony ikut panik.


"Tolong angkat tubuh Amelia, kita harus membawanya ke Rumah Sakit!" perintah majikannya.


"Baik, Nya!" Pak Sony pun langsung masuk ke dalam rumah, dan mengangkat tubuh Amelia. Tante Celine menunggu di mobil, karena di kursi belakang juga ada Sherly yang baru saja terbangun. Pak Sony meletakkan tubuh Amelia di kursi belakang. Sherly nampak bingung karena sedari tadi Omanya menangis dan berusaha membangunkan Tante cantiknya.


"Pak, kita ke Rumah Sakit tempat Alina bekerja!" perintahnya.


"Baik, Nya," jawab Pak Sopir. Pak Sopir menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat putri Nyonya nya bekerja. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, Pak Sony terus melihat kaca spion, karena majikannya terus menangisi keadaan wanita hamil itu.


Sampai di Rumah Sakit, seorang petugas Rumah Sakit membawa brankar untuk meletakkan tubuh Amelia. Amelia langsung dilarikan ke UGD. Sedangkan Tante Celine dan Sherly menunggu di depan ruangan UGD dengan perasaan yang cemas dan khawatir. Nampak di wajah cucunya, dia terus menanyakan keadaan Tante cantiknya.


"Apa yang terjadi dengan Tante cantik, Oma?" tanya Sherly dengan polosnya.


"Entahlah, Sayang! Oma juga tidak tahu! Oma datang, Tante Amelia sudah seperti itu," jawabnya.


"Apakah Tante dan dedek bayinya akan baik-baik saja, Oma?" tanya Sherly lagi.


"Kita berdoa saja ya, Sayang!" ucapnya lagi.


Beberapa menit kemudian Alina datang, karena ada perawat yang mengatakan bahwa mamanya datang ke Rumah Sakit membawa seorang wanita yang terluka. Pikiran Alina kemana-mana, dia pikir telah terjadi dengan mamanya.

__ADS_1


"Mama?" panggil Alina langsung berhambur memeluk tubuh mamanya.


"Alina,"


"Mama kenapa? Apakah Mama terluka?" tanya Alina cemas.


"Bukan, Sayang! Karyawan butik mama yang terluka," ujarnya. Alina mengernyitkan alisnya, dia tidak paham. Tante Celine pun menjelaskan mengenai keadaan Amelia. Alina sampai terkejut mendengar penjelasan mamanya, sebagai sesama perempuan, ia juga tidak terima kalau perempuan lain direndahkan atau pun disakiti.


"Laki-laki seperti apa dirinya? Yang tega menyakiti istrinya sendiri," kesal Alina.


Beberapa menit kemudian seorang Dokter keluar, dan memberitahukan keadaan Amelia. Dan untung saja keadaan Amelia dan bayinya baik-baik saja.


"Tidak apa-apa ibu, dedek bayinya sangat kuat! Sang ibu cuma luka luar saja! Saya sudah memberikan obat pereda nyeri! Semoga lekas sembuh ya, Bu!" ucap Dokter tersebut, dan berpamitan kepada Dokter Alina, Dokter Alina menganggukkan kepalanya.


Tante Celine menitipkan Sherly kepada Alina, ia pun masuk ke ruang UGD untuk melihat keadaan Amelia. Tubuh Amelia sudah bersih, mungkin perawat Rumah Sakit yang menggantikan bajunya. Tante Celine mengelus puncak kepala Amelia, dia tidak menyangka nasib wanita ini begitu malang.


Pukul 21.00


Arga nampak tidak tenang, ia berjalan mondar-mandir merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya. Dia begitu emosi, sehingga dengan tega melakukan hal tersebut kepada Amelia. Ratih yang melihat itu, merasa tidak senang. Pasalnya, suaminya masih memikirkan nasib Amelia. Seharusnya rencananya berhasil telah membuat suaminya membenci Amelia.


"Sayang, sudah malam! Ayo tidur!" ajak Ratih kepada suaminya.


"Aku khawatir dengan keadaan Amelia," ujarnya.


"Apa yang perlu dikhawatirkan?" tanya Ratih. "Dia akan baik-baik saja, Sayang," imbuhnya lagi.


"Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepadanya?" tanya Arga lagi.


"Tidak mungkin, Sayang! Aku yakin dia baik-baik saja!" ucapnya. "Yang harus kau perhatikan itu adalah aku! Karena aku sedang mengandung buah cinta kita," ucapnya, membelai dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan dengan sertifikat itu?" tanya Ratih.


"Aku akan menggadaikannya dan aku akan menginvestasikan uangku! Dan hasilnya akan aku bagi dua, untukmu dan untuk Amelia," ujar suaminya. Ada rasa tidak senang pada dirinya, karena dia akan berbagi lagi dengan istri pertama suaminya.


"Sayang? Kebutuhan kita itu banyak, apalagi sebentar lagi aku akan melahirkan! Tentu saja kita membutuhkan uang yang sangat banyak sekali! Dan anak yang aku kandung adalah darah dagingmu, Sayang! Tentu saja kau harus mengutamakannya! Benarkan apa yang aku katakan?" tanya istrinya.


"Kau benar, Sayang! Nanti aku akan mengurangi jatah Amelia," ucapnya. Ratih tersenyum senang, rencananya berhasil lagi.


"Ayo, kita tidur!" ajaknya, "Sudahlah, Mas! Masalah Amelia tidak usah kau pikirkan! Besok pagi kamu datang ke rumahnya! Kamu lihat keadaannya, Mas!"


"Sekarang sudah malam, mungkin saja sekarang dia sudah tidur," tambahnya lagi.


"Baiklah, Ayo," Mereka langsung naik ke atas tempat tidur, tidak ada kegiatan panas malam ini. Arga juga terlihat sangat lelah hari ini.


Keesokkan paginya, setelah sarapan Arga akan berangkat ke kantornya. Dia berpamitan kepada istri keduanya. Namun, sebelum dirinya pergi ke kantor, dia ingin melihat keadaan istri pertamanya. Dia merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Mobil berhenti di depan rumah Amelia, ia keluar dari mobil. Rumah nampak sepi, lampu depan juga belum dimatikan. Arga masuk ke dalam, rumah sepi dan tidak dikunci.


"Sayang?" panggilnya. Arga masuk, akan tetapi tidak menemukan keberadaan istrinya. Dia berlari ke arah lemari, takutnya istrinya kabur dari rumah. Ternyata pakaian istrinya masih lengkap, koper pun masih ada ditempatnya.


"Sayang?" panggilnya lagi. Masih tidak ada jawaban.


Hatinya bertanya-tanya, kemana istrinya pergi sepagi ini. Dia pun berinisiatif untuk menelfon ponsel istrinya, ternyata Amelia juga tidak membawa ponselnya.


"Kemana dia?" tanyanya dalam hati.


"Ponselnya di rumah, nggak biasa-biasanya dia meninggalkan ponselnya," batin Arga.


Cukup lama Arga menunggu istrinya, namun tidak kunjung kembali. Jam juga sudah siang, dia harus buru-buru ke kantor. Akhirnya Arga memutuskan untuk langsung berangkat ke kantor, mungkin dia akan kembali ke rumah istri pertamanya saat jam makan siang, pikirnya.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2