Amelia

Amelia
Episode 88


__ADS_3

"Om Hans, Apa kabar?" tanya Ratih memeluk pria separuh baya itu.


"Baik, Bagaimana kabarmu, Sayang?"


"Beginilah, Om. Aku benar-benar sedang sial," manjanya.


"Sial? Kenapa?"


"Kita ceritakan di dalam kamar saja, Om. Bagaimana?" tanya Ratih.


"Boleh, Ayo kita pesan kamar," ucap Om Hans menggandeng tangan wanita cantik itu.


Om Hans memesan kamar terbaik di sana. Meskipun tidak terlalu besar, tapi, cukup nyaman, bersih dan rapih. Ratih menggelayut manja di lengan pria tua itu.


"Apa yang ingin kau katakan, Sayang? Kenapa kau sedang sial?" tanya om Hans.


"Tentu saja aku sial. Karena hampir satu bulan ini, aku tidak bertemu dengan Om. Apakah Om tidak tahu, bahwa aku sangat merindukan, Om!" manja Ratih.


"Ha .... Ha .... Ha. Aku pikir ada masalah serius, ternyata kau hanya rindu kepadaku?" Om Hans kembali tertawa.


"Om, kemana saja sih nggak kelihatan?"


"Tentu saja aku bekerja, Sayang. Aku seorang pengusaha batubara di Kalimantan. Aku akan kesini jika ada perjalanan bisnis, dan setelah itu aku akan kembali ke Kalimantan. Jika, kau mau, aku bisa mengajakmu berjalan-jalan. Kamu mau, Sayang ku?" ucap Om Hans sambil menoel hidung mancung Ratih.


"Benarkah, Om? Om serius mau mengajak Ratih?" tanya Ratih.


"Tentu, Sayang," jawab Om Hans sambil meremas bongkahan pantat Ratih.


Demi untuk memenuhi segala ambisinya, Ratih bersedia menjadi budak **** pria itu. Selama satu Minggu di kota J, Om Hans memakai jasa Ratih untuk melayaninya. Sebagai imbalan, Ratih di belikan barang-barang mewah oleh Om Hans. Bahkan, Om Hans berencana ingin membelikan Ratih sebuah Apartemen.



Amelia membantu Sherly memilih pakaian yang akan dia bawa selama berlibur ke Panghegar Water Boom Bandung. Yang terletak di Bandung, bagian Selatan.


Rencananya besok, mereka sekeluarga ingin berlibur ke Panghegar Water Boom.Thomas memilih Panghegar Water Boom karena selain masih terletak di Pulau Jawa. Tempat wisata air ini juga cukup bagus untuk dikunjungi.


Thomas tidak mungkin membawa keluarganya berlibur ke luar negeri, karena melihat usia Aska yang masih kecil. Amelia juga akan menolak keras jika suaminya memilih berlibur ke luar negeri.


Keesokkan harinya, seluruh keluarga sudah siap. Mereka membawa mobil masing-masing. Bram satu mobil dengan istri dan Mama mertuanya. Sedangkan Thomas satu mobil dengan istri dan kedua anaknya.



Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Di sepanjang perjalanan, Sherly tidak berhenti bercerita, di jawab oleh Aska berceloteh lucu sekali. Membuat Thomas dan Amelia tertawa terbahak-bahak.



Thomas memberhentikan mobilnya sebentar di depan supermarket untuk membeli minuman dan makanan ringan. Sherly merengek ingin ikut bersama Daddy-nya. Terpaksa Thomas harus mengajak Sherly.


"Sayang, ambil makanan yang kau suka saja! Jangan ambil makanan yang tidak kau makan! Ingat itu!" tegas Thomas.

__ADS_1


"Yes, Daddy," jawab Sherly. Sherly mengambil trolly kecil, dan dia mengambil makanan dan minuman yang disukainya. Sekilas matanya tertuju kepada benda-benda yang menurutnya sangat menarik. Dia mengambil sikat, kaos kaki dengan gambar kuda poni dan mainan untuk Aska. Sherly mendorong barang belanjaannya ke depan meja kasir, kemudian memanggil Daddy-nya yang sedang sibuk memilih minuman.


Thomas menyusul Sherly ke meja kasir dan betapa terkejutnya dia. Melihat barang-barang yang Sherlly ambil.


"Untuk apa kamu membeli ini semua, Sayang?" tanya Thomas.


"Ini untuk aku, ini juga untuk ku dan ini untuk Aska," ucapnya dengan tersenyum.


"Huft." Thomas hanya menghela nafasnya saja.


"Kebiasaan," batin Thomas.


"Baiklah, hitung semuanya!" suruh Thomas kepada kasir.


Setelah membayar semua barang-barang belanjaan, Thomas dan putrinya kembali ke mobil.


"Kok lama banget, Mas?" tanya Amelia.


"Bagaimana tidak lama? Tuh lihat, putri cantikmu membeli apa saja di kantong kreseknya!" Amelia hanya terkekeh geli melihat suaminya cemberut.


"Cepat jalan, Sayang! Kasihan Bram, Alina dan Mama lama menunggu kalian!" ucap Amelia.


"Oke, Ayo kita lanjutkan perjalanan kita!" ucap Thomas menyemangati dirinya sendiri.


Selama tiga jam perjalanan akhirnya sampai juga di Bandung. Thomas memilih penginapan dekat dengan Panghegar Water Boom. Rencananya mereka ingin menikmati liburan di Bandung sekalian bermain wahana air. Sherly yang merengek ingin menikmati liburan di wahana air.


Thomas memesan kamar dengan tipe Family Room Deluxe dengan tiga kamar, yang masing-masing kamarnya sudah dilengkapi dengan kamar mandi dalam.


"Sherly, kamu tidur sama Oma!" suruh Thomas.


"Kenapa Sherly harus tidur sama Oma, Dad?" tanya Sherlly polos.


"Ehm, kenapa ya?" Thomas nampak berfikir.


"Karena Daddy dan Mommy mau bikin Dede bayi buat Sherly," celetuk Bram. Membuat Thomas dan Amelia membelalakkan matanya.


"Daddy dan Mommy mau buat Dede! Lalu, kenapa Dede Aska diperbolehkan di dalam?" tanya Sherly yang semakin penasaran.


"Duh, kenapa ya?" Thomas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sayang, sini, Mommy kasih tahu! Lihat, kasihan Oma tidur sendirian! Kamu sayangkan sama Oma?"


"Sayang, Mom," jawab Sherly.


"Kalau begitu, Sherly mau nggak nemenin Oma bobo?"


"Mau, Mom. Biar Sherlly saja yang menemani Oma!" ujarnya.


"Sherly memang anak yang pintar," ucap Amelia sambil mencium kening Sherly.

__ADS_1


"Yes, akhirnya Sherly tidak jadi tidur bersama kami. Bisa gawat kalau Sherly tidur bareng kita," batin Thomas begitu riang.


"Kenapa Abang senyum-senyum sendiri?" tanya Bram membuyarkan lamunan nakalnya.


"Hem, aku tahu. Abang sedang melamun jorok kan? Hati Abang begitu bahagia karena tidak ada yang mengganggu acara Abang dengan istri?" seloroh Bram.


"Ck, sok tahu banget kamu!" cebik Thomas berlalu ke kamarnya.


"Ha ... Ha ... Ha." tawa Bram pecah melihat abangnya memberengut kesal.


Thomas masuk ke kamar, ternyata istrinya sedang memberikan sumber kehidupan untuk Aska.


"Sayang, jangan dihabisin dong! Buat stok Daddy nanti malam," ucap Thomas.


"Ish, Mas, Apaan sih?" manyun Amelia.


"He ... He ... He." tawa Thomas.


"Sana mandi dulu, Mas! Gantian!" suruh istrinya penuh penekanan.


"Siip, Bos," ujar Thomas. Thomas menyambar handuk bersih yang sudah disediakan oleh pihak hotel.


Satu jam kemudian, Thomas keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya sedang menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Sedangkan Aska sudah terlelap di kasur big size-nya.


"Wah, Aska sudah tidur, Sayang?"


"He'em, sepertinya dia kelelahan, Mas!" ucap istrinya, "Ini sudah aku siapkan baju dan celana santainya, Mas. Aku taruh sini ya?"


"Iya, Sayang," jawab Thomas sedang mematut dirinya di depan cermin besar. Dia sangat mengagumi bentuk tubuhnya sendiri yang berotot, dada sixpack dengan sedikit bulu di dadanya, dan bentuk perut yang kotak-kotak.


"Pantas saja Amelia begitu senang saat aku tindih," gumamnya.


"Jangan berfikiran kotor, Mas!" ucap Amelia dengan mengerucutkan bibirnya.


"Berfikiran kotor dengan istriku sendiri tidak haram kan? Kecuali jika aku memikirkan wanita lain!" selorohnya.


"Ih." Amelia mencubit perut suaminya.


"Auww, sakit, Sayang!" pekik Thomas.


"Makanya, jangan pernah berfikir untuk melirik wanita lain. Nanti kau akan tahu akibatnya!" tegas Amelia sambil mengacungkan telunjuknya.


"Ish, Sayang, Aku tidak berani! Sudah memiliki dirimu saja, aku sudah sangat bahagia. Mana mungkin aku memikirkan wanita lain!" ujarnya.


"Awas, jika Mas melakukan itu. Aku akan memotong ular sawah milik mu!" ketus Amelia sambil berlalu ke kamar mandi.


"Ular sawah? Ya, Ampun. Aku cuma punya ini saja, Sayang. Jika kamu potong tambah pendek dong?" ucap Thomas mengejar istrinya ke kamar mandi. Namun, Amelia segera menutup pintu kamar mandi, sehingga hidung mancung Thomas sempat mencium pintu kamar mandi.


"Astaga, hidung mancung ku!" pekik Thomas memegangi hidung mancungnya.

__ADS_1



To be continued.....


__ADS_2