
Ada masalah yang harus dia selesaikan. Dia mengumpulkan semua orang-orang penting untuk rapat. Dengan cekatan Bram menyelesaikan semuanya. Selama dua jam lamanya dia mengadakan rapat dadakan.
"Ah, akhirnya selesai," ucapnya sambil menyenderkan punggungnya di kursi kebesaran yang sebelumnya milik Thomas. Bram membuka dompetnya, dan dia mengambil sebuah foto. Foto istrinya.
"Aku merindukanmu, Sayang," ucapnya, "Kira-kira kau sedang apa ya?" kemudian dia menelfon istrinya sebentar, dia ingin memastikan keadaan Alina baik-baik saja.
"Hallo, Bang? Apakah kau sudah sampai di Jerman? Kenapa tidak langsung menelfon? Apakah kau tidak tahu bahwa aku sangat cemas karena seharian tidak mendengar kabar darimu?" cecar Alina dengan banyak pertanyaan. Bram sampai menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sayang, kalau bertanya itu satu-satu. Bagaimana Abang menjawabnya?" tanya Bram, Alina hanya terkekeh.
"Alhamdulillah Abang sudah sampai di Jerman dengan selamat. Dari Bandara Abang langsung ke kantor. Abang sengaja mematikan ponsel karena Abang sedang ada rapat. Dan kau tahu, sepulang dari Indonesia sampai sekarang Abang belum beristirahat. Badan Abang rasanya capek banget," ucap Bram.
"Maafkan Al, Bang. Sebaiknya Abang beristirahat dulu. Nanti setelah badannya sudah tidak capek lagi, boleh deh Abang telfon Alina," ujarnya.
"Tapi, Abang masih merindukanmu. Tanpa kamu, Abang nggak bisa tidur. Biasanya kalau tidur Abang memeluk kamu, sekarang bantal guling yang menjadi teman tidur Abang,"
"Ih, gombal. Udah ah, Alina sedang berada di jalan mau pulang. Nanti Al, telepon lagi ya?"
"Okey, Sayang. Hati-hati di jalan," tutur suaminya.
Alina melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Mama. Hari ini dia ingin menginap, dia merasa kesepian di Apartemen tanpa suaminya.
Satu Bulan Berlalu
Sudah satu bulan lamanya, Bram masih belum kembali. Begitu banyak pekerjaan yang menumpuk membuat dirinya tidak bisa pulang. Bahkan hanya untuk sekedar menelfon istrinya saja dia harus mencuri-curi waktu.
Sepulang bekerja badannya terasa sangat lelah dan capek. Membuat dia lupa untuk menelfon sang istri. Seperti hari ini, dia lupa lagi menelfon istrinya. Membuat Alina begitu jengkel dan marah. Alina pun mengirimkan sebuah pesan untuk suaminya.
'Jika Abang sudah tidak memperdulikan Alina. Lebih baik kita hidup masing-masing. Pekerjaan Abang memang lebih penting dari istrimu sendiri.'
Alina begitu marah dengan sikap suaminya. Hari ini dia berjanji akan menelfon, hingga dini hari menunggu, ternyata tidak kunjung menelfon. Membuat hati Alina meradang, dan akhirnya dia menangis sendiri di kamar.
Kegundahan dan kegelisahan Alina, bisa terbaca jelas di mata Amelia. Sebagai kakak ipar, tentu saja dia merasa iba. Bagaimanapun seorang wanita tidak bisa menjalani rumah tangga jarak jauh
"Ada apa, Al? Aku lihat kau begitu gelisah?" tanya Amelia dengan lembut.
"Kakak ipar, aku harus bagaimana? Apakah nasib pernikahan ku akan seperti ini terus?" tanya Alina.
"Mau kamu bagaimana?" tanya Amelia.
"Tentu saja aku ingin selalu bersama dengan suamiku, Kak. Tapi, kau kan tahu, Bang Bram tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di sana!" sedih Alina.
__ADS_1
"Jika menurut Kakak. Posisi suami kamu serba salah, Al. Untuk menyelamatkan pernikahan kalian, harus ada salah satu yang berkorban," tutur Amelia.
"Begitukah Kakak?"
"He'em. Cobalah berfikir dengan tenang. Carilah solusi terbaiknya, jangan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan," tutur Amelia lagi.
"Terima kasih banyak, Kak,"
Membaca pesan yang disampaikan Alina, tentu saja membuat Bram kalang kabut. Dia berusaha untuk menghubungi Alina, namun tidak diangkat. Berkali-kali Bram melakukan panggilan video kepada istrinya, namun hasilnya tetap nihil. Sebenarnya saat ini, Alina juga sedang sibuk dengan pasiennya. Bram sangat frustasi, bahkan disaat genting seperti ini, pekerjaan semakin menumpuk.
Bangun pagi, pulang sampai larut malam. Sampai di rumah, tubuhnya sangat capek. Dia pun langsung tertidur. Niat hati hendak menghubungi Alina kembali, namun rasa lelah mengalahkan segala-galanya.
Bram melangkahkan kakinya menuju Perusahaan. Tidak ada yang istimewa, hari-harinya dilalui seperti biasa. Berangkat ke kantor pagi, pulang tengah malam. Namun dia berusaha bersikap profesional dalam melakukan pekerjaan.
Bram keluar dari kantor pukul sepuluh malam, kebetulan dia tidak terlalu capek. Rencananya, hari ini ia ingin kembali menelfon Alina. Ia ingin meminta maaf atas kesalahannya.
Mobil sampai di depan rumah. Penjaga menyambut kedatangan majikannya dengan hangat.
"Gerade nach Hause gekommen, Sir?"tanya penjaga.
"Ja, ich bin gerade nach Hause gekommen," jawab Bram.
Bram masuk ke dalam rumah. Seperti biasa dia akan disambut oleh pelayan.
"Tidak, Saya sudah makan malam di kantor," ucap Bram.
"Itu, ada .... !" belum selesai mengatakan sesuatu, Bram melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia ingin segera menelfon istrinya.
Dret ... Dret ... Dret
Bram menelfon Alina, namun suaranya sangatlah aneh. Dia berusaha untuk menelpon kembali.
"Hallo, Bang!" panggil Alina.
"Syukurlah, akhirnya kau mau mengangkat telepon dariku," ujarnya.
"Maaf, Bang. Aku sibuk," ucap Alina.
"Sayang, Tolong, jangan begini! Aku bekerja untuk masa depan kita, Sayang. Tolong kamu mengerti!" pinta Bram.
"Aku mengerti kok, Bang. Abang tenang saja, yang terpenting Abang bekerja dengan tenang. Abang tidak perlu mencemaskan, Al," ucapnya.
__ADS_1
"Jadi, kamu sudah memaafkan Abang?"
"Iya, Bang," jawab Alina.
"Alhamdulillah," senang Bram, "Terima kasih, Sayang. Kamu mau ngertiin Abang," ucapnya.
"Iya, Bang," jawab Alina. Namun suaranya semakin aneh, Bram bisa merasakan itu.
"Kamu ada dimana, Sayang?" tanya Bram.
"Di belakang mu," jawab Alina. Bram menoleh ke arah belakang, ternyata benar, itu adalah istrinya. Bram mengerjap-ngerjapkan matanya. Apakah dia sedang bermimpi atau hanya halusinasi?
"Sayang!" panggilnya.
"He'em," ucap Alina menganggukkan kepalanya, "Ini aku," ucap Alina.
"Apakah aku bermimpi?" tanya Bram.
"Sini biar aku cubit," ucap Alina. Alina pun mencubit lengan suaminya.
"Auw, Sakit, Sayang," pekiknya.
"Itu belum seberapa," ujarnya.
"Bagaimana bisa kamu disini?"
"Kenapa? Abang tidak suka Alina di sini!" tanya Alina.
"Bukan, begitu, Sayang. Tentu saja Abang suka," jawab Bram.
"Al, sengaja datang kemari. Semuanya demi Abang," ucap Alina.
"Apa? Demi Abang?" heran Bram, "Lalu, bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit?"
"Alina terpaksa harus resign. Alina sadar, salah satu di antara kita harus berkorban. Ini aku lakukan supaya rumah tangga kita terselamatkan," jawabnya. Betapa bahagianya hati Bram.
"Itu berarti kau akan menemaniku di sini?"
"Iya, Al akan menemani Abang di sini. Al ingin berbakti kepada suami, dan menjadi seorang istri yang baik," jelasnya.
"Terima kasih, Sayang. Abang benar-benar sangat bahagia," ucap suaminya langsung memeluk tubuh Alina.
__ADS_1
Perasaan rindu yang begitu menggebu-gebu, membuat Bram langsung menerkam istrinya. Tidak ada penolakan dari Alina, dia pun merasakan rindu juga terhadap suaminya.
to be continued.....