
Kabar mengenai Kakaknya yang tertangkap, sudah sampai ke telinga Dicky. Keesokkan paginya, Dicky langsung mendatangi kantor polisi.
Sungguh sangat memprihatikan nasib kakaknya. Wajahnya babak belur. Area matanya membengkak. Ada jahitan diam atas bibirnya.
Dicky mengulas senyum, "Apa kabar?"
"Baik. Seperti yang Kau lihat."
Huft ...
Dicky menghela nafasnya berat.
Tentu dia tidak tega melihat kakak satu-satunya babak belur, wajahnya tak berbentuk.
"Aku nggak habis pikir dengan pikiranmu, Bang! Bagaimana bisa Kau melakukan tindakan kriminal sperti itu? Apa yang membuatmu menjadi orang yang sangat kejam?" Dicky menoleh ke arah abangnya yang menunduk.
"Apakah karena dendam, Bang? Atau karena obsesimu dengan Amelia?"
"Dik, Lo adik gue. Jadi bantu gue keluar dari sini!"
"Untuk apa? Kejahatan yang Lo lakukan sudah melampaui batas. Lo yang menyebabkan Tante Celine meninggal."
"Itu semua gue lakukan, karena gue dendam dengan suaminya. Yang tidak mau bertanggung jawab atas kematian Monica."
"Bang, Bukankan Suami tante Celine sudah membayarnya dengan kecelakaan maut juga, lalu kenapa abang harus membalasnya ke istri dan anaknya juga?"
"Itu belum cukup, Dicky. Keluarga Williams harus merasakan semua, apa yang sudah aku rasakan."
"Itu namanya Abang egois. Demi ambisi Abang, Abang tega menyakiti orang yang tidak bersalah. Abang tega berbuat jahat kepada Pak Thomas dan juga keluarganya. Apakah sekarang abang tahu, gara-gara Abang, Amelia mengalami depresi. Dia mengalami tekanan mental karena Abang. Ketakutan. Dan juga berhalusinasi. Apakah Abang tidak merasa bersalah?"
"Apa Kau bilang?"
"Iya, Bang. Amelia sekarang berada di Rumah Sakit. Dia mengalami tekanan mental. Bahkan saat polisi menemukannya, dia nekad melukai dirinya dengan pisau buah. Dia merasa sangat ketakutan."
"Pasti, Kau bohong!"
"Jika Abang tidak percaya, Abang bisa bertanya kepada Bripda Nadhif. Dialah yang menemukan Amelia di Terminal dalam keadaan ketakutan."
Diego nampak berfikir. Sepertinya dia sedang merenungi kata-kata adiknya barusan.
Sekitar setengah jam Dicky berbicara dengan Diego. Waktu kunjungan pun berakhir. Dicky pergi meninggalkan Diego yang masih terpaku di tempat duduknya.
Sementara itu, Amelia mulai mengerjapkan matanya. Thomas bahagia melihat istrinya sudah sadar.
"Sayang?"
"Mas, Aku ada dimana?"
"Kamu ada di Rumah Sakit, Sayang!"
"Rumah Sakit. Kenapa aku dibawa ke Rumah Sakit, Mas?"
"Kamu perlu perawatan, Sayang."
"Perawatan? Aku nggak sakit, Mas. Kenapa harus dibawa ke RS?"
"Ehm. Dokter hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Sayang!"
"Oh." Wanita berparas cantik itu membulatkan bibirnya.
Apakah Amelia lupa dengan kejadian yang menimpanya?
"Mas, Dimana anak-anak? Aku sedari tadi tidak melihat anak-anak?"
__ADS_1
"Anak-anak di rumah, Sayang. Kamu jangan khawatir ya!"
Amelia tersenyum bahagia, "Mas, aku bermimpi. Kalau kamu meninggal, Mas. Kemudian aku diculik."
Apa? Jadi Amelia lupa.
Tapi kenapa dia lupa? Apa yang membuatnya lupa?
"Permisi, Pak, Bu! Saya membawa makan siang untuk Bu Amelia. Saya taruh sini ya, Pak!"
"Terimakasih, Sus!"
"Sama-sama."
"Aku suapi ya, Sayang!"
Amelia melirik ke arah mangkok, lalu memberengut kesal, "Aku nggak mau, Mas. Aku nggak suka bubur. Apakah tidak ada makanan lain?"
"Tapi, Sayang. Hanya makanan ini yang boleh kamu makan! Nanti kalau kamu sembuh, boleh kamu makan makanan yang lain!"
"Tapi aku nggak suka, Mas!"
"Iya, sudah. Nanti aku suruh Bram untuk membawa makanan yang lain. Sekarang kamu makan yang ada dulu. Karena habis makan kamu harus minum obat."
"Baiklah."
"Smart woman."
"Jadi kamu terlibat, Bang?" tanya Alina.
"Aku terpaksa, Sayang! Diego mengancamku. Jika aku tidak melakukan apa yang diinginkannya, dia akan menyakitimu. Aku hanya ingin menyelamatkan kamu dan calon anak kita. Ditambah dengan kebohongan yang Diego ciptakan bahwa keluarga Wiliiams penyebab kecelakaan maut yang terjadi kepada kedua orang tuaku. Setelah aku selidiki ternyata aku salah. Aku sangat menyesal."
"Tega kamu, Bang! Tega kamu melakukan hal itu kepada orang yang sudah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Apa yang ada di pikiranmu, Bang!" isak Alina, "Lalu bagaimana keadaan Kakak ipar?"
"Kamu tenang saja! Ada Bang Thomas yang menjaganya."
"Nggak, Sayang. Bang Thomas memang masih hidup. Dia selamat. Ada seseorang yang menyelamatkannya. Orang itu juga ikut bersama Bang Thomas. Sekarang, Bang Thomas sedang menjaga Kakak Ipar di Rumah Sakit!"
"Kok bisa?"
Tentu saja Alina bingung dengan keadaan ini. Dia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan suaminya.
"Ini adalah takdir Allah. Kita harus banyak bersyukur karena Allah masih menyayangi kaluarga kita!"
"Aku ingin bertemu dengan Kak
Thomas. Aku harus ke Rumah Sakit! Aku ingin meminta maaf. Aku sudah melakukan kesalahan besar!"
"Iya, Sayang. Tapi tidak untuk sekarang ini! Tunggu sampai keadaan Kakak ipar membaik!"
"Memangnya sakit kakak ipar separah apa sih?"
"Kakak ipar mengalami depresi, Sayang. Selama disekap oleh Diego, dia mengalami tekanan mental. Dia ketakutan dan berhalusinasi."
"A-pa?"
"Kita menjenguknya kalau dia sudah membaik!"
"Baiklah kalau begitu!"
"Bagaimana keadaan anak-anak?"
"Mereka baik. Sekarang mereka sedang bermain dengan Lina!"
__ADS_1
"Syukurlah. Aku akan menemui Lina. Aku ingin berbicara serius dengannya!"
"Baiklah, Bang. Nanti biar aku menggantikan Lina menjaga anak-anak!"
"Suruh Lina ke ruang kerja!"
"Baik. Bang!"
"Lina, Aku dengar Kau bekerja sama dengan Diego. Apakah itu benar?" tanya Bram.
"Maafkan saya, Pak. Saya terpaksa. Saya membutuhkan uang. Saya juga diancam!"
"Iya. Istri saya sudah menjelaskannya! Aku harap saat dipengadilan, Kau bersedia menjadi saksi. Karena kalau tidak, Kau akan terseret ke kasus hukum. Keluarga Williams akan menuntutmu karena sudah bekerjasama dengan musuh!"
"Iya, Pak. Saya bersedia. Tolong ampuni saya, Pak. Saya tidak mau dipenjara!"
"Kalau begitu turuti perintah saya!"
"Baik, Pak!"
Satu Minggu berlalu. Amelia sudah merasa sehat. Dia merengek meminta pulang. Dokter juga sudah mengizinkannya untuk pulang. Amelia terlihat sangat bahagia.
"Pak, jangan biarkan Bu Amelia sendiri. Bapak harus memberikan banyak waktu untuknya, agar dia merasa kalau dirinya tidak sendiri! Saya akan merujuk psikolog terbaik di kota. Mungkin dengan bantuan psikolog, Bu Amelia akan kembali seperti semula!"
"Terimakasih banyak, Dok!"
Thomas mengemasi barang-barang istrinya untuk dimasukkan ke tas. Dia senang, saat istrinya sedikit ceria dan tersenyum. Meskipun belum sembuh benar, wajah istrinya tetap saja terlihat sangat cantik.
"Selamat siang!" sapa dari luar.
"Siang! Pak Dicky!"
"Aku dengar Amelia akan pulang. Jadi aku sengaja datang ke sini!" ucap Dicky. Dicky sengaja datang bersama Arum.
"Siapa wanita itu?" tanya Amelia melihat perempuan cantik yang berdiri di belakang Dicky.
"Oh, namanya Arum. Dia adalah wanita yang menolong Pak Thomas!"
"Memangnya kamu kenapa Mas? Kenapa harus ditolong sama dia?"
Dicky bingung, lalu menoleh ke arah Thomas.
"Oh, itu Sayang. Aku hampir kecelakaan. Arum dan Pak Badi menolongku!"
"Oh, begitu!" Thomas tersenyum simpul.
"Nama saya Arum, Mba. Kata Kak Thomas, Nama Mba, Amelia!"
"Iya, Namaku memang Amelia!" kekehnya. Amelia memperhatikan gadis didepannya. Kemudian mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Arum.
"Senang berkenalan denganmu!" gelaknya.
"Mas, Aku bosan. Ayo kita pulang!"
__ADS_1
"Iya. Tunggu Bram dan Alina! Sebentar lagi mereka datang!"
Bersambung ...