Amelia

Amelia
Episode 52


__ADS_3

Operasi berjalan dengan sangat lancar, bayi terlahir dengan selamat dengan proses caesar. Amelia masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, karena masih dalam pengaruh obat bius. Alina membantu Amelia mengganti bajunya dengan baju Rumah Sakit, bajunya sangat kotor bercampur dengan noda darah, barulah Amelia dipindahkan ke ruang rawat.


Thomas mengurus ruang rawat Amelia, dan Dia memilih ruangan VIP untuk Amelia. Masih dalam keadaan pingsan, dia dipindahkan ke tempat tidur yang bersih di ruangan VIP tersebut.


Kabar Amelia melahirkan sudah sampai ditelinga Tante Celine. Kabar ini membuat Tante Celine terkejut sekaligus bahagia. Dia langsung buru-buru menyusul ke Rumah Sakit bersama Sherly. Sherly sudah tidak sabar ingin melihat dedek bayinya.


Sampai di Rumah Sakit, Sherly menarik tangan Omanya agar jalannya agak dipercepat. Karena dia tidak sabar ingin berjumpa dengan Tante Amelia dan baby-nya. Di ruang resepsionis kebetulan Celine bertemu dengan Alina.


"Al?" panggil Celine kepada putrinya.


"Mama," Alina mencium punggung tangan mamanya.


"Dimana ruang rawat Amelia?" tanya Celine.


"Mari Alina tunjukkan," jawabnya. Mereka berjalan melewati koridor Rumah Sakit dan menaiki lift ke lantai dua. Di ujung lorong, di sanalah ruangan VIP, tempat Amelia dirawat. Alina mengetuk pintu kamar, ternyata di dalam Thomas masih setia menunggu.


"Daddy?" teriak Sherly.


"Sssssttttt." Thomas memberikan tanda ke Sherly agar pelan-pelan berbicara, karena Amelia masih belum sadarkan diri.


"Pelan-pelan, Tante Amelia masih tertidur," ucapnya. Sherly terkekeh dan dia menganggukkan kepalanya.


"Thom?" panggil Celine kepada putranya. Alina juga masuk ke ruangan Amelia, dia memeriksa keadaan Amelia.


"Sebentar lagi juga bangun!" ucap Alina.


"Dimana baby-nya?" tanya Celine.


"Sementara ada di ruangan NICU, Mah! Karena baby Amelia memerlukan perawatan khusus! Amelia mengalami pendarahan hebat saat melahirkan, baby-nya mengalami benturan saat masih di dalam kandungan," jelas Alina.


"Bagaimana bisa terjadi, Thom?" tanya Celine menoleh ke arah Thomas. Thomas pun menceritakan awalnya sampai Amelia harus mengalami pendarahan. Celine sangat terkejut, dan untunglah Thomas secepat kilat membawa Amelia ke Rumah Sakit, hingga nyawa Amelia dan anaknya bisa tertolong.


Hingga pukul empat sore, barulah Amelia tersadar dari tidur lelapnya paska operasi. Amelia mengerjapkan matanya, perutnya terasa nyeri mungkin bekas jahitan yang masih basah. Dia mengamati sekelilingnya, ternyata dia sudah berada di Rumah Sakit. Dan orang-orang yang perduli dengannya sedang berkumpul di kamar.

__ADS_1


"Sayang, Kamu sudah bangun?" tanya Tante Celine sedang menggendong bayi.


"Tan, Apakah itu anak Amelia?" tanyanya.


"Iya, Sayang! Ini adalah bayimu, dia sangat tampan," ucap Tante Celine mendekat ke arah Amelia. Amelia belum bisa untuk menggedongnya, karena bekas operasinya masih terlalu basah dan pergerakannya pun dibatasi.


Amelia melihat sekelilingnya, ternyata Thomas masih setia menjaganya. Thomas tidak berani mendekat, dia takut kalau Amelia akan marah jikalau tahu bahwa sebelum berangkat ke pengadilan, Thomas mengikutinya.


"Tante?" panggil Sherly.


"Sherly," jawab Amelia.


"Tante, dedek bayinya sudah lahir, dia tampan sekali," ucap Sherly.


"Benarkah?" ujar Amelia, "Kakak Sherly juga sangat cantik," puji Amelia.


"Tapi, Kok Tan, dedek bayinya kok mirip sama Daddy waktu kecil?" ucap Sherly sekenanya.


"Nak, akan kau berikan nama apa untuk bayi tampan ini?" tanya Celine kepada Amelia.


"Askara Abdar Syahrizki, panggilannya Aska, Tante," ucap Amelia.


"Wah, nama yang sangat bagus! Sekarang namamu Baby Aska," ucap Celine gemas. Celine terus menciumi pipi merah baby Aska. Kini giliran Sherly, merengek ingin mencium baby Aska. Celine mendekatkan baby Aska ke arah Sherly. Dia sangat senang dan terus menciuminya, namun baby Aska hanya menggeliatkan tubuhnya saja.


Hari sudah malam, waktunya Celine dan Sherly berpamitan pulang. Sebenarnya Amelia juga menyuruh Thomas untuk pulang, tapi, Thomas menolak. Dia bersikeras ingin menemani Amelia di Rumah Sakit. Sherly juga enggan untuk pulang, namun setelah Celine membujuknya akhirnya Sherly menurut.


Setelah kepergian Mama dan putrinya, suasana canggung kembali terjadi. Ada getaran aneh di dalam hati keduanya, entah getaran apa itu, belum bisa didefinisikan.


"Mas?" panggil Amelia kepada Thomas. Thomas pun menghampiri tempat tidur Amelia.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Thomas.


"Tidak," jawabnya. "Aku hanya ingin berterima kasih kepada Mas, karena sudah membawa saya ke Rumah Sakit! Mungkin jika tidak ada Mas, nyawa saya dan anak saya tidak selamat," ujarnya, Thomas tersenyum. "Tapi, bagaimana bisa tiba-tiba Mas muncul dan menolong saya?" tanya Amelia tiba-tiba.

__ADS_1


"Apakah Mas mengikuti saya sampai pengadilan?" tanya Amelia penuh selidik.


"Aku memang mengikuti kamu sampai kantor pengadilan, dan juga menunggu kamu sampai selesai persidangan," jawabnya. "Tapi, saat hendak pergi, Aku melihat kamu sedang berdebat dengan mantan suami kamu, Aku pun mengurungkan niat untuk pergi, hingga aksi saling menarik itu," jawabnya panjang lebar.


"Astaga, jadi dia menungguku?" batin Amelia.


"Tapi, Kenapa Mas mengikutiku?"


"Ish, Apakah harus aku jelaskan lagi? Aku khawatir dengan keadaan kamu," kesalnya.


"Kenapa?" tanya Amelia lagi.


"Ck, Karena aku menyayangimu! Dan aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu," terangnya.


Ada rasa senang yang tidak bisa di lukiskan, namun ada rasa takut untuk memulai sebuah hubungan yang baru. Amelia terus memandangi wajah tampan Thomas hingga dia tersenyum sendiri.


"Apakah aku terlihat tampan, sampai kau tidak berkedip melihatku?" tanya Thomas kepedean.


"Ck, dasar kepedean," sungut Amelia, membuat Thomas tersenyum bahagia.


"Aku benar-benar bahagia bisa melihatmu tersenyum seperti ini, Aku juga bahagia saat bersamamu. Sungguh aku tidak bisa menahan apa yang aku rasakan saat ini. Satu Minggu tidak berjumpa denganmu aku serasa seperti orang gila. Dengarkan aku baik-baik, Amelia, Aku sangat mencintaimu, menikahlah denganku. Jadilah ibu untuk Sherly, aku juga akan menyayangi Baby Aska seperti anakku sendiri, Terimalah aku, Mel," ucap Thomas penuh harap.


Amelia tidak mampu mengatakan apapun kepada Thomas, lidahnya terasa sangat kelu. Ada rasa bahagia dan nyaman saat berada disisi Thomas, tapi dia tidak tahu apakah itu cinta atau sebuah perwujudan rasa terima kasih saja.


"Bagaimana Amelia? Apakah kau mau menerima ku?" tanya Thomas lagi membuat Amelia tersudut.


"Huft," Amelia menghembuskan nafasnya panjang.


"Aku tidak tahu harus menjawab apa? Karena bagiku ini terlalu cepat," ucapnya. Kemudian Thomas beranjak dari tempat duduknya, ia hendak melangkah keluar dengan wajah yang masam. Namun tangan Thomas ditariknya agar duduk kembali di kursi itu.


to be continued......


Apa yang akan dikatakan Amelia, baca terus........🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2