
BUGH ... BUGH .... BUGH
Satu pukulan ia layangkan kepada pria bertubuh besar, berkulit gelap, pria itu tersungkur tidak berdaya. Dari arah belakang, seseorang menendang punggung Thomas. Menghajar dan menendang, namun Thomas masih bisa berdiri dan mengalahkan mereka semua. Mereka nampak babak belur, Mereka pun kalah dan lari terbirit-birit.
Nampak Thomas kelelahan, nafasnya tidak beraturan. Dia kembali ke mobil dan memutuskan untuk langsung pulang.
Thomas memarkirkan mobilnya di depan rumah, Amelia berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan sang suami. Melihat banyak luka di wajah tampan suaminya, tentu saja dia merasa khawatir.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Amelia cemas.
"Auw, sakit, Sayang!" pekik Thomas.
"Kamu terluka, siapa yang tega melakukan ini?" isaknya.
"Sudah jangan menangis. Aku tidak apa-apa! Ini hanya luka ringan saja!" jawab Thomas.
"Kamu bilang luka ringan? Babak belur begitu!" ucap Amelia sedih.
"Bang?" panggil Bram. Bram keluar karena dia mendengar suara mobil Thomas.
"Bram, kapan kamu pulang?" tanya Thomas kepada Bram.
"Tadi siang," jawabnya, "Kenapa mukamu, Bang? Kau habis dikeroyok ibu-ibu kompleks karena menggoda anak gadis mereka?" kelakar Bram. Tentu saja Thomas membulatkan matanya.
"Sialan, Kau!" cemberut Thomas, "Aku dikeroyok preman! Aku kalah jumlah, mereka berempat, sedangkan aku sendirian. Dan sepertinya mereka orang suruhan! Orang yang sama meneror keluarga kita," jawab Thomas.
"Apa? Orang itu lagi?" ucap Amelia.
"Siapa sih sebenarnya orang ini, Bang?" tanya Bram.
"Entahlah, aku tidak tahu!" jawabnya.
"Mas, Apakah lebih baik kita melaporkannya saja kepada polisi?" tanya Amelia, "Ini juga untuk keselamatan kita semua, Mas!"
"Iya, Sayang. Sebenarnya aku sudah melaporkannya kepada polisi. Dan polisi sedang berusaha mencari siapa pelakunya. Sampai sekarang belum ada kabar dari pihak kepolisian,"
"Aku takut, Mas?" ucap istrinya.
"Jangan takut, Sayang. Aku akan berusaha dengan keras untuk menjagamu dan keluarga kita. Aku rela harus kehilangan nyawa, yang terpenting kau dan anak-anak selamat," ujarnya.
"Jangan ngomong gitu dong, Mas! Aku nggak mau kehilangan kamu!" ucapnya.
"Ish, drama lagi!" beo Bram. Kemudian berlalu pergi meninggalkan pasangan itu.
"Ayo, Masuk Mas, Aku akan mengobatinya!" dengan telaten Amelia mengobati luka-luka suaminya.
"Kamu kenapa, Thom?" tanya Celine yang baru keluar dari kamar bersama Alina.
"Thomas habis dikeroyok, Mah," jawab Thomas.
"Siapa yang tega melakukan ini?" cemas Celine.
"Thomas yakin ini suruhan orang yang sama, yang sudah meneror keluarga kita!"
__ADS_1
"Sebenarnya apa sih motif orang ini? Kenapa dia tiba-tiba datang dan mengacaukan keluarga kita?" kesal Alina.
"Yang jelas, sasaran mereka adalah keluarga Williams. Mereka mengincar ku dan Alina," jelas Thomas.
"Jika memang dia mengincar keluarga Williams, berarti mama juga menjadi incarannya?" tanya Mama.
"Mungkin bisa juga, Ma!" ucap Thomas, "Makanya Thomas minta Mama atau siapapun jangan ada yang keluar rumah. Kecuali dengan penjagaan yang ketat!" tegas Thomas kepada seluruh anggota keluarganya. Mereka semua menganggukkan kepalanya.
"Sayang, Bagaimana tanganmu? Apakah masih sakit?" tanya Thomas.
"Cuma nyeri sedikit, Mas!" jawab istrinya.
"Memangnya kakak ipar juga menjadi incaran?" tanya Bram.
"Sebenarnya, yang menjadi incaran itu istri kamu Bram. Tapi, untunglah Amelia ada di tempat kejadian. Amelia menarik tangan Alina saat sepeda motor itu hendak menyerempet!"
"Berengsek, sebenarnya siapa sih mereka?" marah Bram, "Ini nggak bisa kita biarkan, Bang. Kita harus mengambil tindakan!" ucap Bram.
"Sudah. Aku sudah melaporkannya ke polisi. Aku juga sudah memperketat penjagaan di rumah dan di Perusahaan. Aku nggak mau kecolongan lagi!" ucap Thomas.
🍀🍀🍀🍀🍀
Di sebuah gudang tua, seorang pria merasa sangat geram. Dia memarahi anak buahnya, karena mereka semua tidak berhasil menyingkirkan seseorang.
"Bodoh, kalian semua!" marahnya.
"Menyingkirkan satu orang saja tidak becus! Percuma aku membayar kalian mahal!" kesalnya.
"Itu bukan alasan, bodoh!" murkanya.
"Thomas, Aku akui kau memang hebat. Tapi, aku tidak akan melepaskanmu dan keluargamu!" umpatnya di dalam hati dengan menampilkan senyum devilnya.
Sudah satu bulan berlalu, Dicky baru datang lagi ke butik Amelia. Karena beberapa Minggu yang lalu, dia ada acara fashion show di Negeri Jiran Malaysia. Dari Malaysia, dia langsung datang ke Butik untuk memberikan sedikit oleh-oleh kepada Amelia. Ternyata di butik, dia hanya bertemu dengan karyawan Amelia.
"Sudah satu bulan ini, Mba Amelia nggak ke butik," jelas Fifin kepada Dicky.
"Lho, kenapa?" tanya Dicky.
"Itu karena Mba Amelia kecelakaan," jawab Fifin.
"Kecelakaan?" kaget Dicky, "Bagaimana bisa?"
"Mba Amelia diserempet motor sama seseorang, lukanya lumayan parah," ujar Fifin.
"Lalu, Bagaimana?"
"Syukurlah, dia tidak apa-apa! Kami semua sempat menjenguknya sekali. Dan sampai sekarang belum menjenguknya lagi!"
"Boleh saya tahu alamat rumahnya? Saya juga ingin menjenguknya!" ujar Dicky.
"Ehm, Bagaimana ya?" Fifin sedang berfikir, "Kami juga belum menjenguknya lagi sih!"
"Kalau begitu, Ayo kita menjenguknya bersama-sama!" ajak Dicky.
__ADS_1
"Apa? Pak Dicky mau mengajak saya menjenguk Mba Amelia," jawabnya tersipu-sipu.
"Maksud saya kalian semua yang bekerja di sini. Ayo kita menjenguk Amelia!"
"Oh, kirain!" Fifin tersenyum malu. Karena dia pikir, Dicky mengajaknya menjenguk berdua.
"Makanya, Fin. Jangan berpikir yang tidak-tidak!" celetuk Rani. Fifin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sepulang jam dari butik, Dicky dan para karyawan butik datang menjenguk Amelia di rumah. Mobil mereka berhenti di depan gerbang. Sebelum masuk ke dalam, security memeriksa mereka dan barulah mobil mereka diperbolehkan masuk.
"Ada apa ya, kenapa kita pake diperiksa segala?" celoteh Fifin.
"Nggak tahu. Security bilang ini untuk keamanan keluarga Williams," jawab Rani.
"Williams? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi, dimana ya?" batin Dicky.
Semua karyawan butik sudah kedua kalinya berkunjung ke rumah Amelia, lebih tepatnya rumah keluarga Williams. Mereka semua nampak selalu terkagum-kagum melihat kemegahan rumah besar itu.
Amelia dan Celine berdiri di depan rumah menyambut kedatangan mereka. Karena sebelumnya mereka sudah diberitahu oleh security bahwa ada tamu yang ingin menjenguk Amelia.
"Mba Amelia?" teriak Fifin. Baru keluar dari mobil, Fifin berhambur ke pelukan Amelia. Amelia sampai terkejut.
"Fin, kamu jangan malu-maluin deh!" cibir Rani. Amelia terkekeh geli.
"Mba Amelia apa kabarnya?" tanya Rani.
"Alhamdulillah, Mba Rani, Saya sudah sembuh. Cuma terkadang nyeri sedikit!" jelasnya.
"Kami merasa ada yang kurang, karena Mba Amelia tidak ada di butik," ucap Fifin.
"Mungkin jika keadaanku sudah seperti sedia kala, aku akan bekerja lagi di butik," jawab Amelia, "Ehm, butik baik-baik saja kan?" tanya Amelia.
"Baik kok, Mba!" jawab Rani, "Cuma ada beberapa laporan yang harus Mba Amelia cek,"
"Nanti akan aku cek dari sini," jawab Amelia. Maniknya menoleh ke arah Dicky, dia baru menyadari ternyata Dicky ikut dengan mereka.
"Pak Dicky?" sapa Amelia. Dicky tersenyum dan mendekat ke arah Amelia.
"Maaf, aku baru tahu kalau kau mengalami kecelakaan," ujarnya.
"Tidak apa-apa, Pak," jawabnya.
"Ayo silahkan masuk!" ajak Mama Celine, "Kenapa mengobrol di depan?"
"Eh, ibu, Apa kabarnya?" tanya Fifin.
"Alhamdulillah saya sehat," jawab Celine sambil tersenyum.
"Kami semuanya kangen sama Ibu," celetuk Rani.
"Saya juga, Bu!" timpal Fifin. Celine terkekeh melihat semua karyawan-karyawan merindukannya.
to be continued...
__ADS_1