
Satu bulan berlalu, keadaan mulai aman. Aksi teror tiba-tiba menghilang begitu saja. Tidak ada jejak yang ditinggalkan pelaku. Semuanya kembali normal dan baik-baik saja.
Amelia merasa sangat bosan berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Hari ini dia merengek kepada sang suami, ingin kembali bekerja seperti dulu. Sudah lama pula butik dibiarkan saja, tanpa ada pemantauan yang jelas. Dan pekerjaan Amelia di kantor terbengkalai begitu saja.
Mendengar rengekan istrinya, akhirnya Thomas memperbolehkan istrinya kembali bekerja. Dia juga tidak tega, melihat dan mendengar istrinya merengek.
"Ayolah, Mas. Boleh ya aku bekerja lagi? Hampir dua bulan aku tidak datang ke butik. Semua pekerjaanku terbengkalai. Aku juga nggak enak harus menyuruh Mba Rani bolak-balik dari butik ke rumah, dan kembali lagi ke butik. Lalu, Bagaimana tanggung jawab aku kepada Pak Dicky coba? Aku nggak enak, Mas!" mohon Amelia. Entah kenapa mendengar kata Dicky, telinganya sangat panas.
"Sayang, jika kamu bekerja hanya untuk menemui si Dicky itu, lebih baik bekerja di rumah saja!" kesal Thomas.
"Hah!" Amelia melongo. Dia mencoba menetralisir kata-kata yang salah dalam ucapannya. Dia baru tersadar, suaminya paling sensitif jika mendengar nama Dicky di obrolan mereka.
"Maksudnya bukan begitu, Sayang," ucap istrinya mendekat ke arah suaminya. Dia memegang lengan kekar sang suami, dan menyenderkan kepalanya di sana.
"Aku ingin bekerja seperti dulu. Aku bosan jika hanya berdiam diri di rumah. Kamu kan tahu, sekarang ada dua butik yang harus aku kelola. Tentunya tanggung jawab aku lebih besar. Belum lagi tanggung jawab aku kepada Agensi milik Pak Dicky. Aku nggak enak, Mas!" terang istrinya panjang lebar, "Aku hanya ingin bersikap profesional saja!" Thomas nampak berfikir, dia mengerutkan keningnya.
"Baiklah, Aku akan mengizinkanmu bekerja. Tapi, ada syaratnya?" ucap Thomas.
"Syarat? Syarat apa sih, Mas?"
"Selama di butik, kamu akan dikawal oleh beberapa bodyguard. Kemanapun kamu pergi, pokoknya harus dikawal oleh bodyguard. Bagaimana?" Amelia juga nampak sedang berfikir.
"Baiklah. Tapi, bodyguard yang Mas sewa tidak boleh masuk ke butik. Dan jangan menunggu di depan pintu! Apa kata pengunjung, jika, ada pengawal di depan, mereka akan berfikir macam-macam!" tutur istrinya.
"Baiklah, Aku setuju!" ucap Thomas.
Obrolan mereka terhenti saat kedua buah hatinya merengek meminta sesuatu.
"Mommy, Aka au inum cucu!" ucap Aska sangat menggemaskan. Usia putranya sudah menginjak satu tahun lebih, namun suku kata yang diucapkan sudah mulai banyak, memang sih belum terlalu jelas. Tapi, Amelia masih bisa memahami apa maksud kata-kata putranya.
Amelia sengaja membiasakan putranya minum susu formula. Dengan begitu sedikit demi sedikit, Amelia bisa menyapih Aska lebih awal.
"Sherly juga mau minum susu kotak," rengek kedua anaknya.
"Sepertinya, susu mereka habis deh, Mas!" ucap Amelia kepada suaminya.
"Oya. Nanti aku ke supermarket," jawab Thomas.
"Ndak au. Aka aunya cekalang," rengek Aska.
__ADS_1
"Sherly juga, Dad!" Thomas dan Amelia saling berpandangan. Ternyata diusia mereka yang terus bertambah, pertumbuhan dan perkembangan mereka sangatlah cepat, anak-anak semakin pintar saja. Membuat Thomas dan Amelia terkekeh.
"Baiklah, Daddy mau ke Supermarket. Kalian tunggu saja di rumah! Okey," ucap Thomas.
"Sherly ikut, Dad!" ucap Sherly menunjuk tangannya ke atas.
"Aka uga ikut!" ucapnya, mengikuti gerakan sang kakak.
"Jangan, Sayang. Kalian tunggu saja di rumah. Kalian mau apa? Nanti pasti Daddy beliin!" ujar Thomas.
"Tapi, Daddy nggak tahu kami mau apa! Pokoknya kami mau ikut!" teriak Sherly sambil merengek.
"Mas, Mungkin mereka jenuh di rumah terus. Makanya mereka berdua merajuk ingin ikut ke Supermarket! Biarkan mereka ikut," bujuk Amelia. Thomas nampak berfikir.
"Baiklah, Kalian boleh ikut!" ucap Thomas, "Sayang, kamu juga ikut aku!" ajak suaminya.
"Iya, sudah. Aku ganti baju dulu," jawab Amelia.
Kedua bocah itu begitu girang setelah mendengar mereka akan ikut ke Supermarket. Dengan lucunya mereka berjingkrak-jingkrak senang. Amelia tersenyum geli, pasalnya, kedua bocah pintar itu sangat pandai merayu sang Daddy.
Mereka semua menaiki mobil yang terparkir di halaman rumah. Amelia duduk di depan bersama suaminya yang sedang menyetir, sedangkan dua bocah itu duduk di kursi penumpang.
Sampai di depan perkiran, mereka semua turun. Amelia mengambil trolly, diikuti oleh kedua kakak beradik itu. Sedangkan suaminya mengekor di belakang mereka.
"Mommy, Aka au itu!" tunjuk putranya.
"No, itu bukan untuk anak kecil. Itu untuk orang dewasa!" ucap Amelia. Manik Aska mengarah pada minuman bersoda.
"Mommy, Aka au itu!" tunjuknya lagi.
"No, Sayang. Kita beli cemilan ini saja. Ini nggak berbahaya buat pencernaan mu. Ini juga enak. Cocok dimakan untuk anak-anak seusia kalian!" tutur Amelia. Amelia mengambil biscuit, keripik tanpa digoreng, minuman kaleng bebas gula, dan buah-buahan yang paling penting.
"Mas, Aku ke sana dulu!" ucap Amelia. Thomas mengangguk. Thomas dan kedua buah hatinya pergi ke tempat sabun dan shampo. Sedangkan Amelia ke rak susu. Banyak sekali stok susu yang dia beli dengan ukuran besar. Dia juga mengambil susu kotak untuk putrinya. Sherly paling suka rasa coklat dan strawberry.
Saat berbalik arah, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyenggolnya. Membuat semua barang-barang yang ia pegang terjatuh ke lantai.
BRUKK ...
"Aduh," pekik Amelia.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja," ucap seorang pria. Pria tersebut membantu Amelia memunguti barang belanjaannya.
"Tidak apa-apa, biar saya bereskan sendiri!" dengan segera Amelia mengambil barang-barang belanjaannya yang tercecer di lantai.
"Terima kasih banyak," ucap Amelia dengan ramah.
"Sekali lagi saya meminta maaf," ujarnya.
"Tidak apa-apa," jawab Amelia tersenyum manis.
"Perkenalkan, nama saya Diego," ucap Diego, "Boleh saya tahu nama, Nona!"
"Amelia," jawabnya, "Maaf ya, saya buru-buru. Saya harus mencari suami dan anak-anak saya," ucapnya sambil berlalu pergi.
"Tunggu ... !" belum selesai melanjutkan kalimatnya, Amelia sudah menjauh dari tempat Diego berdiri.
"Hem, istrinya Thomas cantik sekali," gumamnya dengan menyeringai lebar.
Amelia mencari keberadaan suami dan anak-anaknya.
"Katanya ke tempat sabun, Kok tidak ada?" gumam Amelia, "Ish, mereka itu kemana sih?" Amelia berjalan melewati tempat sabun, dan berbelok ke arah tempat mainan anak. Dan benar saja, mereka bertiga berada di sana.
"Mas?" panggil Amelia.
"Sayang," jawabnya tersenyum.
"Aku cari-cari ternyata disini," manyun Amelia.
"Maafkan aku, Sayang. Anak-anak minta mainan. Aku nggak tega, mereka merengek terus!" ujarnya.
"Iya, sudah. Setelah membeli mainan kita langsung pulang ya! Mommy capek banget," ucapnya.
"Okey, Mom," senang mereka.
"Sudah semuanya? Ayo kita ke kasir!" Thomas mengambil alih trolly yang di dorong istrinya. Lumayan banyak juga barang-barang yang mereka beli. Satu trolly besar hampir penuh dengan barang-barang belanjaan.
Dari kejauhan Diego nampak mengamati keluarga bahagia itu. Dia tersenyum kala mengingat kejadian tadi, saat dengan sengaja menabrak wanita berparas ayu itu.
to be continued .....
__ADS_1