
Pagi-pagi sekali Ratih sudah berdiri di depan pintu rumah suaminya. Saat Dahlia membuka jendela dan pintu, Ratih menyerobot masuk untuk menemui suaminya.
"Ratih, yang sopan kamu!" ucap Dahlia.
"Dimana Mas Arga?" tanya Ratih.
"Mau apa lagi kamu kesini?" tanya Dahlia.
"Oh, jadi ibu bahagia jika Aku dan Mas Arga berpisah?" kesal Ratih.
"Bukannya begitu Ratih. Jika, memang kalian sudah tidak memiliki kecocokan lagi, bukankah perpisahan lebih bagus!" ucap Dahlia.
"Ibu ini bagaimana? Harusnya ibu membantu Ratih untuk menyatukan kami kembali. Kenapa justru ibu mendukung keputusan Mas Arga?"
"Ratih, Ratih. Kamu memang tidak tahu malu ya!"
"Pokoknya Ratih nggak terima! Ratih akan membawa Keyla, karena Keyla adalah anak Ratih," ujar Ratih.
Saat Ratih akan mengambil Keyla di kamar, tiba-tiba Arga keluar dari dalam kamarnya. Arga menatap istrinya dengan tatapan kemarahan.
"Mau apa lagi kamu kesini?" bentak Arga.
"Aku akan membawa Kayla bersamaku, Mas. Jadi, jangan halangi aku!" ketus Ratih. Arga tersenyum sinis.
"Punya hak apa kau membawa Keyla?" bentak Arga.
"Dia adalah anakku. Tentu saja aku berhak atas dia. Lagipula dia masih kecil dia membutuhkan kasih sayang ibunya," jawab Ratih.
"Ibu? Kasih sayang? Sejak kapan kau menganggap Kayla adalah anakmu. Selama ini kau tidak pernah perduli dengan anakmu. Apakah pernah kau memberikan ASI mu kepada Kayla? Apakah pernah kau memberikan kasih sayang kepada anakmu sendiri? Kau hanya sibuk dengan urusan tidak jelasmu itu. Jangan membuatku tertawa!" ucap Arga tidak kalah ketusnya.
"Tapi, aku adalah ibu yang melahirkannya. Aku lebih berhak daripada kamu mas," jawab Ratih tidak kalah sengit.
"Atas dasar apa kau mengatakan hak kepadaku. Sedangkan dirimu saja tidak pernah memperdulikan anakmu. Sekarang kau mengatakan hak kepadaku, kau sangat lucu sekali Ratih. Aku tahu apa maumu. Kau menggunakan Kayla supaya kita bisa bersama lagi. Tapi, aku sudah lelah menghadapimu. Aku sudah cukup bersabar menghadapi kelakuanmu. Sekarang aku tidak akan mentolerir semua sikapmu kepadaku terutama kepada Kayla. Kau hanyalah sampah bagiku. Dan sampah harus dibuang ke ke tempat yang semestinya!" Murka Arga.
"Aku melakukan ini juga semua gara-gara kamu, Mas. Coba kalau kamu memberikan uang yang lebih, pasti aku tidak akan menjual tubuhku," jawab Ratih tidak mau disalahkan.
"Cih,"
"Dasar wanita tidak tahu malu. Sekarang kau mengakui semuanya. Kau memang wanita serakah. Selama Amelia menjadi istriku, semua gajiku aku berikan kepadamu. Tapi, wanita sepertimu tidak akan pernah puas. Kau akan selalu merasa kekurangan. Aku benar-benar menyesal bertemu denganmu. Aku juga sudah menyesal menikahimu. Aku memungut batu kali, dan aku sudah membuang batu berlian. Dan Kau adalah batu kalinya!" ketus Arga.
__ADS_1
"Sekarang, pergi dari sini! Jangan pernah menginjakkan kakimu di sini lagi. Kau sudah tidak diterima di rumah ini! Kau tidak pantas menjadi seorang ibu. Tunggu saja surat pengadilan yang akan datang ke rumahmu! Sekarang pergilah dari sini!" usir Arga. Arga menarik tangan Ratih dengan paksa. Dahlia sebenarnya tidak tega, bagaimanapun dia adalah ibu dari cucunya.
"Aku mohon maafkan aku, Mas! Aku memang bersalah. Tapi, aku berjanji akan berubah. Aku akan menjadi istri dan ibu yang baik. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Tolong, jangan usir aku! Keyla masih membutuhkan aku sebagai ibunya. Aku mohon, Mas!" isak Ratih.
"Sudah terlambat! Perempuan seperti kau, tidak akan pernah berubah! Pergi dari sini!" usir Arga.
BRAKK....
Arga membanting pintunya sangat keras. Membuat Dahlia terkejut. Mila juga tidak kalah terkejutnya. Dia pun keluar dan menanyakan kepada ibunya.
"Ada apa, Bu?" tanya Mila.
"Ssssstttt, tidak apa-apa. Kau di kamar saja. Kakakmu sedang sedikit emosi," suruh Dahlia kepada Mila. Dahlia tidak mau membebani pikiran Mila dengan masalah kakaknya.
"Baiklah, Bu," jawab Mila berlalu ke kamarnya.
"Mas, Buka! Buka pintunya!" teriak Ratih mengetuk pintu dengan sangat keras.
"Kamu lihat saja ya, Mas. Aku akan merebut Keyla Aku akan memenangkan hak asuh anak di pengadilan!" hardiknya.
Ratih pergi meninggalkan rumah Arga dengan perasaan jengkel dan dongkol. Karena usaha membujuk suaminya telah gagal. Dia pikir dengan mengambil Kayla akan membuat seorang Arga tidak akan tega untuk menceraikannya. Namun, ekspektasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Lagi-lagi Arga membandingkan dia dengan Amelia, membuat Ratih sangat marah.
"Sabar, Nak! Kamu jangan terlalu terbawa emosi. Justru itu akan membuat kamu hancur," tutur Dahlia.
"Bagaimana Arga tidak marah, Bu? Lihatlah kelakuan wanita itu! Dengan tidak tahu malunya mengatakan kalau dia selingkuh. Arga nggak habis pikir dengan sikapnya selama ini!" ucap Arga.
"Sudah, Nak. Sekarang kamu sarapan dulu! Bukankah hari ini kamu akan ke kantor?"
"Iya, Bu. Terima kasih banyak!" ucap Arga.
Ratih memberhentikan taksi, dan menaikinya.
"Antarkan saya ke alamat xxx," ucap Ratih.
"Baik, Nona," jawab sopir taksi.
Taksi berjalan dengan kecepatan tinggi. Di tengah perjalanan, ponselnya berdering nyaring. Dia mengangkatnya, ternyata itu adalah salah satu pelanggan yang pernah memakai jasanya.
"Hallo, Om!"
__ADS_1
"Kamu ada dimana, Sayang?" tanya pria itu.
"Taksi, Om. Ada apa?"
"Ketemuan yuk!" ajaknya.
"Dimana?"
"Di tempat biasa,"
"Baiklah, tunggu aku ya, Om! Bye ... Bye," ucapnya. Taksi pun memutar arah menuju suatu tempat.
Taksi yang Ratih tumpangi berhenti di sebuah motel pinggir jalan. Letaknya agak jauh dari kota. Dia sengaja memilih tempat itu supaya jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Setelah membayar ongkos taksi. Dia kembali menelpon pria itu. Kemudian, Ratih menunggu di bangku depan motel. Dia memperbaiki riasannya agar terlihat lebih cantik dan menarik. Karena itu adalah modal utama untuk menarik uang dari saku-saku para konglomerat.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Seorang pria paruh baya keluar dari mobil tersebut. Dia adalah Om Hans. Seorang pengusaha batu bara dari Tanah Bambu, Kalimantan Selatan.
Setiap ada bisnis di Kota J, dia akan sedikit membuang uangnya untuk mencari belaian seorang wanita muda yang cantik dan seksi. Kebetulan mereka dipertemukan di klub. Om Hans memakai jasa Ratih hanya sekali, namun karena sudah kecanduan, dia pun kembali menghubungi Ratih untuk menyervisnya.
"Om Hans, Apa kabar?" tanya Ratih memeluk pria separuh baya itu.
"Baik, Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Beginilah, Om. Aku benar-benar sedang sial," manjanya.
"Sial? Kenapa?"
"Kita ceritakan di dalam kamar saja, Om. Bagaimana?" tanya Ratih.
"Boleh, Ayo kita pesan kamar," ucap Om Hans menggandeng tangan wanita cantik itu.
Om Hans memesan kamar terbaik di sana. Meskipun tidak terlalu besar, tapi, cukup nyaman, bersih dan rapih. Ratih menggelayut manja di lengan pria tua itu.
"Apa yang ingin kau katakan, Sayang? Kenapa kau sedang sial?" tanya om Hans.
"Tentu saja aku sial. Karena hampir satu bulan ini, aku tidak bertemu dengan Om. Apakah Om tidak tahu, bahwa aku sangat merindukan, Om!" manja Ratih.
"Ha .... Ha .... Ha. Aku pikir ada masalah serius, ternyata kau hanya rindu kepadaku?" Om Hans kembali tertawa.
__ADS_1
to be continued....