Amelia

Amelia
Episode 33


__ADS_3

Sudah tiga hari ini, Arga tidak mendengar kabar dari istrinya. Arga kembali ke rumah itu untuk meminta maaf kepada istrinya, namun rumah itu masih tetap kosong. Arga melihat lemari pakaian istrinya sedikit membuka, dan dia menghampirinya. Ternyata, semua baju Amelia sudah tidak ditempatnya. Arga mengacak rambutnya sendiri, dia merasa frustasi. Dia mencari ponsel istrinya yang dia letakkan di laci meja, ponsel istrinya juga tidak ada ditempat.


"Itu berarti Amelia sempat pulang," batinnya.


"Kemana dia? Aku memang bersalah dan aku ingin meminta maaf," ucapnya, Arga berdialog dengan dirinya sendiri.


Arga mencoba untuk menghubungi istrinya, ponselnya tidak aktif. Dia juga mengirimkan beberapa pesan permintaan maaf kepada istrinya.


"Huft," Arga menghela nafasnya panjang.


"Apa yang telah aku lakukan? Pasti Amelia sangat marah dengan ku!" ujarnya.


Tiba-tiba saja dia teringat bahwa Amelia juga masih memiliki rumah orang tuanya. Arga pun bergegas pergi ke rumah mendiang orang tua Amelia, kemungkinan Amelia akan kembali ke rumah itu, pikirnya. Arga melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju rumah mendiang orang tua Amelia. Sampai dihalaman rumah Amelia, rumah itu nampak sepi, Arga pun turun dari mobilnya untuk memeriksa. Depan teras rumah itu juga sangat berdebu, tidak ada jejak sepatu ataupun sandal. Sudah jelas bahwa istrinya tidak pulang ke rumah mendiang kedua orangtuanya. Arga kembali mengacak rambutnya sendiri, dia sangat frustasi. Dia tidak menyangka kalau kesalahannya akan berujung seperti ini.


Arga pun pulang ke rumah istri keduanya dengan baju dan muka yang kusut. Dia memarkiran mobilnya didepan halaman rumah. Nampak Ratih sedang mengobrol dengan seseorang, ternyata itu adalah ibunya.


"Arga?" panggil Dahlia ketika melihat putranya dengan wajah yang masam.


"Iya, Bu," jawabnya.


"Ada apa?" tanya Dahlia. Arga mendudukkan bokongnya di sofa.


"Amelia pergi dari rumah, Bu," ucapnya.


"Pergi dari rumah? Apa sih maksud kamu?" tanya ibunya tidak mengerti.


"Amelia kabur! Dia marah sama Arga, dan semua baju-bajunya sudah di bawa," ujarnya lagi. Terbesit senyum dibibir Ratih.


"Rencana untuk menyingkirkan wanita itu berhasil," batin Ratih begitu girang.


"Oh, jadi dia memilih untuk pergi! Baguslah, kita jadi tidak usah repot-repot menyuruhnya pergi," jawab ibunya.

__ADS_1


"Kok bagus sih, Bu?" kesal Arga.


"Iya, bagus dong! Itu tandanya dia sadar, bahwa dia tidak pantas bersanding dengan seorang manager hebat seperti kamu," ucapnya lagi.


"Bu, Amelia itu adalah istri Arga! Dia sudah banyak berjasa atas kesuksesan yang Arga raih! Harusnya ibu ikut prihatin dengan kepergian Amelia!" marah Arga.


"Arga! Jika memang dia wanita yang baik, harusnya dia tidak main kabur-kaburan! Apakah wanita seperti itu bisa dibilang wanita yang baik?" tanya ibunya.


"Ini juga semua gara-gara Arga, Bu! Arga yang telah membuatnya pergi dari rumah! Karena terakhir Arga bertemu Amelia, Arga tidak sengaja memukulnya," lirih Arga.


"Apa? Kau memukulnya? Bagaimana bisa? Sebenarnya ada masalah apa sih?" tanya Dahlia penasaran, karena tidak biasa-biasanya seorang Arga memukul wanita.


"Amelia hendak mencelakai Ratih, Ibu," sela Ratih, tiba-tiba saja membuka percakapan.


"Jika saja kau tidak memulai, pasti Amelia tidak akan menyakitimu!" marah Arga kepada Ratih, karena semua berasal dari ucapan Ratih yang menyinggung hati Amelia.


"Sudah, Sudah! Kalian jangan bertengkar!" tutur Dahlia kepada Ratih dan putranya. "Ratih tidak bersalah Arga! Dia juga harus melindungi dirinya dari perempuan seperti Amelia," bela Dahlia kepada Ratih. Tentu saja Ratih sangat bahagia mendapatkan pembelaan dari ibu mertuanya.


"Tuh, kan, sudah jelas Amelia yang bersalah! Amelia sudah menyerang Ratih! Dan kamu juga tidak bersalah, jika kamu memberikan pelajaran kepada istri pertamamu itu," jelas Dahlia kepada Arga. "Kau tenang saja! Jika dia butuh uang, pasti dia akan kembali," imbuhnya.


"Bagaimana mungkin, Bu? ATM yang aku berikan kepadanya, dia mengembalikan kepada Arga! Sudah sangat jelas, dia sudah tidak membutuhkan Arga lagi!" jawab putranya.


"Bagus kalau begitu! Dengan begitu, kau bisa fokus kepada darah daging mu saja! Semua hasil keringatmu, bisa kau gunakan untuk persalinan istri kedua mu!" kata Dahlia panjang lebar.


"Hah, percuma saja aku bercerita dengan ibu! Ibu justru memojokkan ku! Jika ibu memang tidak mau membantu Arga mencari Amelia! Biarlah Arga mencarinya sendiri!" ucap Arga sambil berlalu pergi lagi dari rumahnya.


"Sayang, kau mau kemana?" tanya Ratih.


"Aku akan mencari Amelia," jawabnya.


"Tapi kau kan baru pulang? Masa akan pergi lagi," ujar Ratih.

__ADS_1


"Aku tidak peduli! Aku harus menemukan Amelia dan aku akan meminta maaf kepadanya," jawabnya, kemudian Arga melajukan mobilnya meninggalkan Ratih yang masih terpaku berdiri di sana. Ada rasa kekecewaan pada dirinya, karena suaminya belum seratus persen melupakan istri pertamanya. Dan itu berarti rencananya belum sepenuhnya berhasil.


Sedangkan di rumah Tante Celine, Amelia sudah bersiap-siap dengan baju kerjanya. Kemarin, dia baru saja membeli beberapa baju kerja untuk wanita yang sedang hamil. Baju-baju yang sebelumnya sudah tidak muat di bagian perutnya, karena memang perut Amelia sudah semakin besar dan buncit. Dia sudah tidak sabar menunggu kelahiran anaknya. Dia mengelus-elus perutnya yang buncit, jika sudah diberikan sentuhan lembut, bayi yang berada di kandungannya akan memberikan respon yang sangat bagus. Dia akan bergerak aktif ke kiri dan ke kanan, itu menjadi hiburan sendiri untuk Amelia.


Amelia belum sempat memeriksa jenis kelamin bayinya, karena menurutnya ini adalah rahasia yang istimewa bagi dirinya. Amelia sudah siap akan berangkat ke butik Tante Celine, dia berdandan sangat cantik. Dia menuruni tangga dan berhenti dimeja makan.


"Selamat pagi," sapanya kepada Tante Celine dan Sherly yang sudah berada di meja makan terlebih dulu.


"Selamat pagi, Sayang!" jawab Tante dan Sherly.


"Lho kamu mau kerja sekarang! Memangnya tubuh kamu benar-benar sudah sehat?" tanya Tante Celine khawatir.


"Iya, Tan! Amelia sudah sehat! Amelia ingin bekerja dan mengumpulkan uang yang banyak untuk biaya persalinan anak Amelia nanti," jawabnya.


"Oh, begitu!"jawab Tante Celine, "Duduklah! Sebelum ke butik, sarapan terlebih dahulu! Biar kamu kerjanya semangat!" ucap Tante Celine memberikan semangat kepada Amelia.


"Terima kasih banyak ya, Tan!" ujarnya. Amelia duduk disebelah Sherly, ternyata Sherly sedang menikmati sarapan paginya dengan tenang. Sesekali Sherly meminta Amelia untuk menyuapinya, Amelia tidak keberatan, memang pada dasarnya ia sangat suka dengan anak kecil, makanya jiwa keibuan Amelia sudah ada di dalam dirinya.


"Wah, cucu Oma pintar! Makannya habis," puji Omanya.


"Iya, dong! Kan disuapin Tante cantik," ujarnya polos.


"Tante cantik, nanti Tante nganterin Sherly ke Sekolah kan?" tanya Sherly. Amelia memandang ke arah Tante Celine.


"Iya, Sayang! Nanti kita berangkat bersama-sama ya? Oma dan Tante cantik mengantarkan Sherly ke Sekolah dulu," ujarnya.


"Asyik, nanti aku akan mengatakan kepada teman-teman bahwa aku memiliki Mama," ujarnya sangat polos.


"Hah?" Amelia dan Tante Celine saling berpandangan.


to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2