
"Selamat pagi, Pak!" sapa Siska.
"Pagi, Siska,"
"Oya, Pak. Ini ada paketan buat Anda!"
"Dari siapa?"
"Tidak ada nama pengirimnya, Pak. Tapi, ini ditujukan untuk Anda!" Siska menunjuk tulisan nama CEO.
"Baiklah, Terima kasih banyak!" jawab Thomas. Thomas berlalu masuk ke dalam kantor dengan membawa paketan tersebut.
Dia meletakkan paketan tersebut di mejanya. Thomas duduk di kursi kebesarannya, dia membuka berkas-berkas pekerjaan dan membuka email yang masuk di laptopnya.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!" Siska menyerahkan berkas-berkas kepada Thomas untuk ditanda tangani.
"Ini, Pak!"
"Apa ada lagi?" tanya Thomas.
"Sudah semuanya, Pak!" jawab Siska.
Thomas menoleh ke arah paket tersebut. Dia sangat penasaran dengan isinya. Dia pun membuka paket itu, betapa terkejutnya dia.
Paket tersebut berisi boneka yang berlumuran darah. Dimana di situ ada tulisan ancaman yang ditujukan untuk dirinya.
"Siapa yang melakukan ini?" Thomas meremas kertas tersebut. Dia mendial nomor sekertarisnya.
"Siska, Siapa yang menerima paket tadi pagi?" marah Thomas.
"Bagian resepsionis, Pak. Ada apa, Pak?" cemas Siska. Mendengar suara atasannya, dia bergidik ngeri.
"Suruh ke kantorku, Sekarang!" tegas Thomas.
"Bbbbaik, Pak," ujar Siska ketakutan.
"Ada apa ya? Suaranya Pak Thomas kok seperti orang yang sedang marah?" gumam Siska.
Beberapa menit kemudian, petugas resepsionis datang. Nampak jelas petugas itu ketakutan.
Tok ... Tok ... Tok
"Masuk!" suara bariton Thomas terdengar menggema.
"Bapak memanggil saya?"
"Iya," tegasnya, "Siapa nama kamu?"
"Rian, Pak,"
"Apakah kamu yang menerima paket pagi ini?"
"Iya, Pak," jawabnya lagi.
"Kamu tahu siapa orangnya?"
"Tidak tahu, Pak. Seorang kurir datang dan menyerahkan paket tersebut," jawab Rian.
"Baiklah, terima kasih. Kamu bisa kembali bekerja!" suruh Thomas.
"Baik, Pak," ucap Rian mohon undur diri.
Thomas membuang paket tersebut ke tempat sampah. Dia mengerahkan beberapa orangnya untuk menjaga dan mencegah orang mencurigakan masuk ke Perusahaan.
__ADS_1
Thomas menoleh ke arah jam dinding, jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang, waktunya dia makan siang.
Seperti biasa, Thomas akan datang ke butik untuk mengajak makan siang sang istri. Dia pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju butik.
Amelia dan Alina sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Thomas. Mereka sedang menghibahnya, karena Thomas datang terlambat.
Beberapa menit kemudian, mobil sang suami sudah terlihat, Amelia melambaikan tangannya ke arah Thomas. Thomas memberhentikan mobilnya diseberang jalan, terpaksa kedua wanita cantik itu harus menyeberang jalan.
Saat mereka hendak menyeberang, tiba-tiba ada motor melaju dengan sangat kencang ke arah Alina. Amelia yang berjalan di belakangnya, melihat kejadian tersebut, dia menarik cepat tangan Alina untuk mundur. Dan tubuh Amelia lah yang terserempet motor. Amelia terpental, siku tangannya menyentuh jalanan beraspal.
CHIIIIIT ......
BRUKK ....
BUGH ....
"Auwwww," pekik Amelia.
"Kakak ipar!" teriak Alina.
"Sayang?" teriak Thomas dari dalam mobil. Thomas langsung keluar dari mobilnya, dan berlari menuju istrinya.
"Auwwww," pekik Amelia memegangi tangannya yang berlumuran darah.
"Sayang, Kau terluka!"
"Woi, berhenti kau!" marah Thomas menatap tajam ke arah pesepeda motor itu. Pesepeda motor tersebut bukannya meminta maaf atau menolong, dia malah tersenyum lebar. Kemudian dengan cepat dia melajukan kembali motornya dengan kecepatan tinggi.
"Brengsek!" marah Thomas hendak mengejar pesepeda motor tersebut.
"Auwwwew," erang Amelia lagi. Thomas tidak jadi mengejarnya, karena dia tidak tega melihat istrinya yang mengerang menahan sakit. Siku tangan Amelia berlumuran darah.
"Alina, Awas, Kakak akan membawanya ke Rumah Sakit!"
"Iya, Kak,"
Sampai di Rumah Sakit, Amelia mendapatkan perawatan langsung dari Dokter. Dan setelah beberapa kali pemeriksaan, syukurlah tidak ada yang serius dengan lukanya. Hanya siku tangannya yang terluka parah. Hari itu juga, Amelia diperbolehkan untuk pulang.
Thomas mengantarkan istri dan adiknya pulang ke rumah. Celine heran, karena jam seperti ini anak-anaknya pulang ke rumah.
Thomas memapah istrinya yang baru keluar dari mobil. Karena jalannya terlalu lambat, dia pun memutuskan untuk membopong tubuh sang istri.
"Mas, Apa yang kau lakukan?"
"Sudah, diam saja! Kau terluka, jadi jangan bergerak!" ucapnya.
"Thomas, Ada apa ini?" cemas Celine karena melihat tangan Amelia diperban.
"Nanti Thomas ceritakan, Ma!" ucapnya.
"Al, Ada apa?" tanya Celine kepada putrinya.
"Kakak ipar diserempet motor, Mah," jawab Alina.
"Kok bisa?"
"Sebenarnya dia akan menyerempet Alina, Mah," sahut Thomas tiba-tiba yang baru saja keluar dari kamar.
"Apa?" Celine tersentak kaget.
"Aku melihat dengan jelas, orang itu hendak menyerempet Alina. Jika Amelia tidak menarik tangannya, mungkin Alina yang celaka, Ma," jelas Thomas.
"Apa? Kenapa mereka mau menyerempet Alina?" heran Mama, "Apakah kamu punya musuh, Sayang?"
"Tidak, Ma. Al, merasa nggak punya musuh," sahut Alina.
__ADS_1
"Lalu, Apa alasan orang itu ingin menyerempet mu?"
"Saat di kantor, Thomas juga mengalami kejadian yang aneh, Mah," ucap Thomas.
"Kejadian aneh apa?"
"Pagi tadi Thomas mendapatkan satu kotak paket. Setelah Thomas membuka, ternyata isinya boneka yang berlumuran darah. Dan di dalamnya terdapat satu carik kertas yang berisi ancaman. Bukankah itu aneh, Ma?"
"Bagaimana bisa? Apakah kau juga punya musuh?"
"Thomas juga tidak pernah merasa memiliki musuh," jawab Thomas.
"Lalu siapa yang melakukan itu semua?"
"Entahlah, Thomas tidak tahu. Dan Thomas akan mencari tahu segera!" jawab Thomas.
"Kamu harus berhati-hati, Nak!" tutur Celine.
"Mama tidak usah khawatir. Aku sudah menambah penjagaan di Perusahaan. Dan untuk sementara ini, biarlah Amelia di rumah saja hingga sembuh," tegas Thomas, "Dan kamu, Al, Kakak minta jangan keluar rumah dulu! Mereka juga mengincar mu!"
"Baik, Kak,"
"Apakah kamu sudah melapor ke Polisi?" tanya Celine.
"Tentu saja Thomas akan melaporkan kepada Polisi. Mama jangan khawatir ya, Mah!"
"Bagaimana Mama nggak khawatir? Anak-anak Mama dalam bahaya!" ujarnya.
"Nyonya?" teriak Tuti, salah satu ART di rumah besar tersebut. Thomas, Celine dan Alina keluar menghampiri suara keributan dari ART itu.
"Ada apa?"
"Itu, Nyonya!" tunjuk Tuti ke sebuah kantong kresek yang tergeletak di lantai.
"Apa itu?" tanya Celine.
Thomas mendekat ke arah kantong kresek tersebut, dia membukanya dan langsung menutupnya kembali. Celine yang penasaran, dia juga ikut membuka kantong tersebut. Keluarlah bau yang tidak sedap dari kantong kresek hitam itu. Bahkan Celine dan Alina sempat muntah-muntah. Ternyata di dalamnya terdapat bulu ayam yang baunya sangat tidak sedap. Thomas menyuruh Tuti untuk membuang kantong kresek tersebut ke tempat sampah depan.
"Tuti, Kau dapatkan kantong kresek itu dari mana?" tanya Celine.
"Menggantung di pintu gerbang, Nyonya," jawab Tuti.
"Siapa yang menaruh kantong kresek itu di sana?"
"Entahlah, Ma. Thomas tidak tahu," jawab Thomas.
"Pak Udin?" panggil Thomas kepada penjaga gerbang.
"Iya, Pak," jawabnya berlari ke arah Thomas.
"Apakah kau tahu siapa yang menaruh ini di depan gerbang?" tanya Thomas.
"Saya tidak tahu, Pak. Sedari tadi perut saya sakit, terpaksa saya harus bolak-balik ke kamar mandi. Dan saya tidak melihat ada kantong itu di depan gerbang. Maafkan saya, Pak!" ujarnya.
"Dengar, Pak Udin! Perketat penjagaan rumah ini, karena ada yang mencoba menteror keluarga saya. Saya harap bapak bisa lebih berhati-hati, jangan membiarkan orang asing masuk ataupun sekedar berbicara dengan Bapak! Jangan juga memberikan informasi mengenai keluarga ini. Bapak mengerti?" tegas Thomas.
"Siap, Pak!" jawab pak Udin.
"Ayo, Mah. Kita masuk ke dalam!" ajak Thomas ke mamahnya.
"Iya, Thom,"
Mereka semuanya masuk ke dalam. Thomas memasuki ruang kerjanya. Dia memeriksa laptopnya yang terhubung dengan cctv di setiap sudut rumah, tidak ada yang mencurigakan, semuanya normal. Kecuali cctv yang mengarah ke gerbang, terlihat dengan jelas seorang pria menaruh kantong kresek itu di depan gerbang.
"Dia sengaja menaruh kantong keresek itu didepan rumahku," gumam Thomas tidak berkedip melihat layar laptopnya.
__ADS_1
to be continued.....