
Mobil mereka sampai di sebuah butik pakaian pengantin terkenal. Diego menggandeng tangan Amelia dengan mesra. Membuat iri pelayan butik yang masih jomblo. Satu pelayan menyambut kedatangan mereka dengan ramah.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya pelayan ramah.
"Tolong bantu calon istri saya memilih baju pengantin!"
"Baik. Silahkan Nona!" ajak pelayan tersebut.
Amelia mengikuti pelayan tersebut untuk memilih baju pengantin. Dia sangat malas dan tidak bersemangat. Ingin rasanya dia cepat pulang ke rumah bertemu dengan kedua buah hatinya. Tapi, Diego tidak akan membiarkan dirinya pulang sendiri. Amelia nampak mengamati sekelilingnya. Menoleh ke arah Diego yang sedari tadi memperhatikannya.
"Aku harus berpura-pura memilih baju!" batinnya. Amelia memilih kebaya warna putih dengan banyak manik-manik indah.
"Boleh saya mencobanya!"
"Boleh, Silahkan dicoba dikamar ganti!" pelayan itu menunjuk ke kamar ganti.
"Terimakasih,"
Amelia nampak berfikir, bagaimana caranya meminjam telepon untuk menghubungi Dicky. Sebuah ide timbul di otaknya.
Amelia menghapus lipstiknya dengan tisu. Setelah benar-benar bersih, barulah dia memakai baju pengantin yang dia pilih tadi.
Amelia keluar dengan memakai baju pengantin yang sangat cantik. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan pengantin tersebut. Diego sampai terpana dibuatnya. Hingga dia melongo, menatap penuh dengan kekaguman.
"Bagaimana, Pak? Apakah Anda suka?"
"Aku suka. Tapi sepertinya kurang pas ya!" ujarnya memerhatikan tiap lekuk tubuh Amelia. Amelia merasa kikuk dipandang seperti itu. Rasanya dia ingin sekali mencakar wajah pria yang ada didepannya.
"Mba, Apakah ada baju pengantin seperti ini?" tanya Diego setelah membuka galeri ponselnya. Amelia sedikit mengintip.
"Saya pernah membeli baju pengantin ini disini. Pastinya yang modelnya seperti ini masih ada dong?"
"Itu model lama, Pak. Tapi sepertinya sudah tidak keluar lagi deh, Pak! Biasanya pemilik butik ini hanya menyimpan sebagai koleksi saja, Pak!"
"Aku mau yang seperti ini. Warna dan modelnya persis seperti ini. Aku bisa membayar dua atau tiga kali lipat untuk baju seperti ini!"
"Baiklah, Nanti saya tanyakan kepada pemilik butik ya, Pak!"
"Terimakasih, Ayo kita pulang!"
"A-pa? Yang benar saja, jika memang dia memiliki rekomendasi sendiri, kenapa harus mengajakku ke sini dan menyuruhku untuk memilih?" kesal Amelia di dalam hati, "Aku rasa pria ini gila."
"Baiklah!" Amelia menghela nafasnya panjang.
"Aku ganti baju dulu, dan membetulkan sedikit lipstick ku yang berantakan!"
"Mba boleh pinjam lipstiknya nggak?" tanya Amelia kepada pelayan tersebut. Diego sedikit mengerutkan keningnya.
"Maaf, Pak Diego. Ternyata saya lupa tidak membawa lipstik!" ujarnya tersenyum.
"Kita beli saja!"
"Tidak usah. Lagian juga tempat make up jauh dari sini!" ujar Amelia sambil tersenyum. Untung disekitar sini tidak ada tempat lipstik, batin Amelia. Diego hanya mengangguk pelan.
"Boleh saya pinjam?" tanya Amelia lagi.
"Bo-leh!"
Setelah mengganti baju diruang ganti. Dia sedikit memoles bibirnya dengan lipstik. Dia nampak berfikir. Kemudian tersenyum lebar.
'HELP. HUBUNGI DICKY AGENSI MODEL. AMEL.'
Kata-kata itu yang ditulis Amelia di kaca besar yang terletak diruang ganti. Buru-buru Amelia keluar dan memberikan baju tersebut kepada pelayan. Dia juga berterimakasih kepada pelayan karena sudah mau meminjamkan lipstiknya.
"Sudah?" tanya Diego.
"Sudah," Amelia tersenyum.
"Jangan lupa pesanan saya, Mba!"
"Iya, Pak. Secepatnya Kami akan menghubungi Anda!"
"Ini buat lipstik kamu yang sudah dipakai oleh calon istri saya!" Diego menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan.
"Terimakasih banyak, Pak!" senang pelayan.
"Saya permisi!"
"Silahkan!" Amelia menganggukkan kepalanya.
"Aneh sekali!" pelayan merasa aneh dengan sikap Amelia dan pria itu.
Diego melajukan mobilnya dengan kencang. Setelah dari butik, dia juga ingin mengajak calon istrinya memilih perhiasan. Amelia hanya menurut saat Diego memilihkan perhiasan yang Diego sukai.
__ADS_1
to be continued ...
☄️☄️☄️☄️☄️
Hey² baca juga di novel Author yang lain berjudul " ISTRIKU BERBEDA"
Penggalan Cerita:
Setelah bertemu dengan Byan, entah kenapa Nathan ingin sekali mengunjungi tempat pengajian Ustadz Adnan. Dia juga ingin mendapat wejangan dari ustad muda itu membahas pernikahannya.
Mobil Nathan melaju menuju tempat pengajian Adnan. Tempatnya sepi, sepertinya tidak ada pengajian di sana. Hanya terdengar suara orang menghafal Al-Qur'an .
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam," jawab orang dari dalam.
"Eh, Mas Nathan. Mencari ustadz ya?"
"Iya, Mas,"
"Monggo. Silahkan duduk dulu! Saya panggilkan Pak Ustadz,"
"Terimakasih banyak ya, Mas,"
"Sama-sama,"
Beberapa menit kemudian, Ustadz Adnan keluar. Dia menyambut Nathan dengan hangat. Adnan merangkul Nathan layaknya saudara.
"Silahkan duduk! Senang rasanya bisa melihatmu lagi. Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah sehat, Bang," ujarnya.
"Alhamdulillah,"
"Gimana? Apakah semuanya sudah kelar?" tanya Adnan.
"Belum, Bang," ucap Nathan tersenyum tipis, kemudian menghela nafasnya panjang.
"Aku sudah menceraikan Michelle," sedih Nathan.
"Kok bisa?"
"Itulah yang harus saya lakukan sejak dulu, Bang. Agar tidak menyakitinya terus!"
"Hhhhhhhhhhhh," Nathan membuang nafasnya kasar.
"Abahnya Michelle sudah mempersiapkan surat perceraian untuk saya tandatangani, Bang. Dan beliau juga meminta saya untuk melepaskan putrinya," ucapnya, "Saya sadar, siapa saya ini. Saya hanyalah seorang pendosa yang tidak patut bersanding dengan wanita baik seperti Michelle. Saya juga seorang yang hina, yang tidak patut hidup bahagia," lirihnya.
"Kenapa kamu terus menyalahkan dirimu sendiri, Nath?" tanya Adnan, "Allah itu Maha Pemaaf bagi umatnya yang benar-benar melakukan taubat. Ingat Nathan! Allah itu sangat mencintai para pelaku maksiat yang gemar bertaubat dibandingkan orang sholeh yang tidak pernah merasa bersalah!" tandas Adnan, "Jadi, berhentilah menyalahkan diri sendiri!"
"Sangat normal jika kita penuh dosa dan penuh dengan kekurangan, Nath. Yang menjadi masalah adalah saat kita berhenti menyesali dosa-dosa yang kita lakukan dan tidak bertaubat kepada Allah! Aku malu saat dianggap baik padahal aku adalah pendosa yang hebat hanya saja Allah sedang menutup aibku!" ucap Adnan.
"Astaghfirullah. Apa yang sudah aku pikirkan. Aku telah mendzolimi diriku sendiri. Terimakasih banyak, Bang. Abang sudah mengingatkanku!"
"Itulah manfaatnya seorang saudara muslim. Mereka akan saling membantu dan saling mengingatkan!" ucap Adnan, "Saranku, perbanyaklah berdoa. Serahkan semua masalah kepada Sang Pencipta. Jika memang dia adalah jodohmu pasti akan bersatu kembali. Namun jika hanya sampai disini kisah cinta kalian, berarti kalian tidak berjodoh. Karena jika memang berjodoh Allah akan semakin mendekatkan, bukan menjauhkan."
"Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam menanti. Bersyukur atas semua kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat,"
"Iya, Bang. Nasehat Abang akan selalu ku ingat! Aku beruntung bisa mengenal Abang!"
"Ah, Kau bisa saja! Aku juga sedang proses belajar. Aku juga bukan seorang yang sempurna! Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah,"
"Aku mengerti, Bang. Terimakasih sekali lagi! Aku sangat bersemangat, Bang!" senang Nathan. Nathan sangat bahagia jika sudah bertemu dengan Ustadz muda itu. Meskipun usia mereka tergolong tidak terlalu jauh, namun Nathan sangat senang jika dinasehati ustadz muda itu. Nasehat-nasehatnya bagaikan air sejuk yang menyirami gurun gersang dan panas.
"Oya, Bang. Rencananya aku akan membuka cafe dipusat kota. Mungkin Abang punya kenalan atau santri-santri Abang yang ingin bekerja di cafe saya. Insyaallah ada lowongan untuk 6 pekerja laki-laki. Dan yang jelas mereka berniat untuk bekerja!"
"Wah, hebat kamu! Jadi, Kamu mau membuka Cafe!"
"Begitulah, Bang!"
"Sepertinya ada, dan mereka juga pasti mau! Karena, mereka memang ingin bekerja mencari nafkah untuk keluarganya,"
"Bagus itu, Bang. Abang bisa menyuruh mereka untuk datang ke alamat ini!" Nathan menyerahkan alamat Cafe miliknya.
"Memang baru pembukaan sih. Tapi, Insyaallah jika Cafe itu sukses maka akan menjadi ladang bagi mereka untuk mencari rezeki,"
"Iya, nanti coba aku tanyakan pada santri-santri ku!"
"Kapan grand openingnya?"
"Insyaallah bulan depan tepat tanggal satu, Bang. Abang dan keluarga datang ya! Saya mengundang Abang secara khusus!"
"Wah, saya jadi tamu istimewa dong!" gelak Adnan.
__ADS_1
"Iya, Bang," tawa Nathan.
"Insyaallah, Saya dan keluarga datang. Semoga Allah terus melimpahkan Rahmat, nikmat dan rezekinya kepada kamu, Wahai Saudara muslimku!"
"Amin," jawab Nathan.
Setelah melaksanakan shalat dhuhur berjamaah di tempat pengajian Ustad Adnan, Nathan pun berpamitan pulang. Masih banyak yang harus dia urus. Dia harus ke Cafe, karena hari ini kulkas besar dan Freezer pesanannya akan diantar ke Cafe.
Michelle mengerjapkan matanya. Dia nampak mengamati sekelilingnya. Umi yang melihat putrinya sudah siuman, dia langsung mendekati tempat tidur Michelle.
"Sayang, Kau sudah bangun?" senang Umi.
"Michie dimana, Umi?"
"Kamu di RS. Kamu pingsan, Sayang. Umi panik dan menyuruh Abah untuk membawamu ke sini!"
"Badan Michelle lemes, Umi,"
"Tentu saja, Nak. Kan dari kemarin kamu memang tidak makan nasi. Kamu asyik makan asinan!" kekeh Umi.
"Maafkan Michie, Umi. Michie selalu merepotkan Umi dan Abah," ujarnya.
"Kamu ini ngomong apa sih? Sama sekali kamu nggak merepotkan kami," jawab Umi bahagia, "Kamu harus makan teratur ya! Sekarang bukan kamu saja yang harus diberi makan. Tapi, baby yang ada didalam kandungan kamu juga harus makan," tutur Umi.
"Iya, Umi," sahut Michelle, "A-pa? Baby? Maksud Umi?" Michelle membulatkan matanya. Umi tahu kalau Michelle pasti terkejut mendengar kabar gembira ini.
"Iya, Baby," gelak Umi, "Sekarang diperut kamu ada kehidupan. Kamu sedang mengandung, Nak,"
"Umi sedang nggak bercanda kan?"
"Ish, Mana mungkin sih Umi bercanda!" kekeh Umi, "Bukankah ini yang kamu tunggu-tunggu selama ini!"
"Jadi maksud Umi, Michie akan menjadi seorang ibu?"
"Iya," sahut Umi Kulsum.
"Alhamdulillah," senang Michelle dengan deraian air mata.
"Umi nggak bohong kan? Umi sedang nggak bercanda kan?" tanya Michelle ingin memastikan bahwa kehamilannya benar.
"Nggaklah, Sayang. Buat apa Umi bercanda?"
"Hiks ... Hiks ... Hiks." dengan deraian air mata, Michelle menengadahkan kedua tangannya menghadap kiblat seraya berdoa kepada Allah SWT.
"Bismillahilladziilaailaaha illaa huwal haliimul kariimu rabbil 'arsyil 'azhiim. Laa ilaaha illallaahu rabbus samaawaati wa rabbul'arsyil 'azhiim."
"Dengan menyebut nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Penyabar, Yang Maha Mulia, Tuhan 'Arsy yang Agung. Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan semesta langit dan bumi dan Tuhan 'Arsy yang agung."
"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa."
"Allahummah fazh waladii ma daama fii bathnii. Wasyfihi ma'ii. Anta asy-syaafii laa syifaa'an illa syifaa 'uka syifaa 'an laa yughaadiru saqamaa."
"Ya Allah, semoga Engkau lindungi bayiku ini selama ada dalam kandunganku, Berikanlah kesehatan kepadanya bersamaku. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penyembuh. Tidak ada kesehatan selain kesehatan yang Engkau berikan, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain."
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh."
"Amin," dijawab Umi.
to be continued ...
Ayo Readers sayang, Tabur bunga dan kopinya, supaya Authornya semangat...💪💪
__ADS_1
Sun jauh dari Author.....😘😘😘