
Bram mencari penginapan kecil di sana. Agar mereka bisa berlibur sekaligus menikmati honey moon kedua mereka. Di balkon hotel, pihak hotel menyiapkan makan malam berpenerangan lilin dengan cakrawala Kota Frankfurt yang menakjubkan. Alina sangat kagum melihat keindahan Kota tersebut di malam hari.
"Indah banget ya, Bang!" ucap Alina.
"Kau suka?" tanya Bram.
"Iya, Bang. Aku suka banget. Ini adalah kota yang sangat indah dan romantis," jawabnya.
"Syukurlah kalau kau suka," ucap Bram, "Aku ingin merayakan honey moon kedua kita disini, Sayang. Supaya setelah kita pulang. Semoga ada kabar baik di sini!" ucap Bram sambil meraba perut Alina yang masih datar.
"Iya, Bang. Semoga saja ada kabar gembira ya, Bang," ucap Alina.
Di Kota Frankfurt inilah mereka memadu kasih, menikmati bulan madu dengan suasana yang sangat romantis.
Keesokkan paginya, Alina mengerjapkan mata merasakan silau sinar matahari yang masuk lewat celah jendela. Dia merasakan berat dibagian perutnya, ternyata tangan kekar Bram yang melingkar di pinggang.
Alina beranjak dari tempat tidur, dan mengenakan jubah mandi. Dia langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Dia merasa sangat gerah dan lengket di bagian intinya. Apalagi, semalam suntuk habis dikerjai sang suami.
"Ah, segarnya!" Alina merendamkan tubuhnya di bathtub. Sambil mengelus-elus perutnya yang masih datar, dia membayangkan kalau sepulang dari bulan madu dia langsung hamil. Rasanya dia sangat bahagia, tanpa dia sadari Alina senyum-senyum sendiri.
"Cepatlah datang di perut Mama, Sayang! Mama menunggu kehadiranmu di perut Mama," ucapnya sambil berfantasi.
Tanpa Alina sadari ada yang mengusap-usap buah melonnya, membuatnya terkejut dan hampir melayangkan tinjunya. Ternyata itu adalah tangan Bram.
"Abang?" teriaknya. Bram hanya terkekeh geli melihat Alina memberengut sebal.
"Kita ulangi lagi yuk!"
"No, tubuh Alina capek dan pegal-pegal. Bakpao milik istrimu ini juga sudah membengkak! Jadi, jatah Abang besok lagi!" manyunnya.
"Iya, Iya," ucapnya terkekeh geli.
"Kita mandi bersama ya?" ucap Bram sudah menceburkan diri di bathtub yang muat untuk dua orang.
"Apa?" Alina menghela nafasnya panjang. Karena itu pertanda tidak baik, pasti suaminya akan meminta jatahnya kembali.
INDONESIA
__ADS_1
Setiap hari hubungan ayah dan anak itu semakin merenggang. Pasalnya, Sherly selalu merengek ingin bertemu dengan Mommy kandungnya. Membuat Thomas sangat kesal dan jengkel.
Hubungan Amelia dan Sherly juga sedang tidak baik. Dia merasa kalau Amelia adalah penyebab utama kenapa Daddy-nya bersikap demikian.
"Pokoknya aku mau ketemu Mommy Clara. Aku ingin Mommy kandungku. Sejak kecil, Sherly tidak merasakan kasih sayang Mommy. Jadi biarkan Sherly bersama Mommy!" teriaknya kepada semua orang.
"Sherly, jaga sikap kamu! Daddy tidak akan membiarkan kamu bersama wanita ular itu. Dia bukan Mommy yang baik. Jadi, kamu tidak usah memikirkannya lagi!" bentak Thomas tidak kalah sengit. Itulah yang setiap hari Amelia dengar, dari pertengkaran keduanya. Membuat Amelia sangat bersedih dengan sikap Sherly.
"Sabar, Nak! Jangan di ambil hati! Sherly sedang marah saja. Mamah benar-benar tidak tahu apa yang meracuni pikirannya!" ucap Celine berusaha membuat hati Amelia tenang.
"Amelia tidak bersedih, Ma. Amelia hanya merasa bersalah. Seharusnya kita sebagai orang tua bisa mengabulkan semua keinginan anak-anaknya. Sherly hanya menginginkan Mommy kandungnya. Apakah kita tidak bisa mengabulkan permintaannya?" tanya Amelia.
"TIDAK!" tegas Thomas. Tiba-tiba saja suaminya sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Mas?" kaget Amelia.
"Aku tidak setuju jika harus mempertemukan Sherly dengan Clara. Karena aku tahu, pasti ada maksud dengan kedatangannya kemari. Aku cuma tidak tahu apa itu?" ucap Thomas.
"Tapi, Mas. Mana ada seorang ibu tega akan berbuat jahat kepada anaknya sendiri? Amelia yakin, Clara sudah berubah!" jawab Amelia.
"Keputusanku tetap sama, Sayang! Aku tidak akan merubah keputusanku!" ujarnya.
Satu Minggu Berlalu
Amelia hendak membangunkan Sherlly untuk bersekolah. Saat dia menggoyangkan tubuh anaknya, Sherly nampak menggigil. Amelia pun memegang kening Sherlly, dan suhu badannya sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang, kau demam?" panik Amelia. Kemudian ia buru-buru memanggil suaminya.
"Mas?" panggilnya.
"Ada apa, Sayang?"
"Mas, Sherly badannya panas. Sepertinya Sherly sakit!" cemas Amelia.
"Apa?"
"Ayo, Mas!" ajak Amelia kepada suaminya untuk melihat keadaan Sherly di kamar.
__ADS_1
Thomas meletakkan tangannya di dahi putrinya, dan benar apa yang dikatakan Amelia kalau Sherly sedang sakit.
"Sayang, panggil Dokter supaya datang ke rumah!" suruh Thomas.
"Baik, Mas!"
Amelia pun buru-buru menelpon Dokter anak agar segera datang ke rumahnya. Mama Celine yang melihat bahwa menantunya sedang gelisah dia pun bertanya. Amelia menjelaskan keadaan Sherly yang sedang sakit. Mama Celine pun panik dengan keadaan cucunya.
"Apakah kau sudah memanggil Dokter?" tanya Mama Celine kepada Amelia.
"Sudah, Ma. Amelia sudah memanggil dokter untuk datang ke rumah ini!"
Mama Celine langsung menyusul ke kamar Sherly. Setengah jam kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Sherly.
Selama lima belas menit, Dokter memeriksa tubuh Sherly.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Thomas sangat cemas.
"Sherly hanya demam biasa. Saya akan menuliskan resep agar bapak bisa langsung membelinya di apotek,"
"Baik, Dokter. Terima kasih banyak!" ucap Thomas.
Thomas pun mengantarkan Dokter sampai pintu depan. Sekaligus dia membeli obat di apotek. Sembari menunggu suaminya membeli obat di apotek, Amelia berusaha untuk membangunkan Sherly supaya Sherly mau makan. Namun Sherly menolak dengan keras, kali ini kata-katanya begitu ketus. Membuat hatinya sangat sedih.
"Jangan dipikirkan, Nak! Sherly sedang sakit, makanya dia bersikap demikian," ucap Mama Celine berusaha untuk menghibur hati Amelia.
"Terimakasih banyak, Ma. Mama memang mama mertua yang sangat baik. Amelia sangat menyayangi mama," ucap Amelia.
"Mama juga sangat menyayangimu. Mama sudah menganggapmu seperti anak mama sendiri,"
"Terima kasih banyak, Ma,"
Tiga hari berlalu akhirnya Sherly sembuh, badannya sudah tidak panas. Dia juga sudah mau makan bubur, walaupun sedikit, namun lumayanlah untuk ukuran anak sakit. Amelia menyuapi Sherly dengan sayang. Dia sudah menganggap Sherly seperti anak kandungnya sendiri.
"Mommy?" panggilnya.
"Iya, Sayang,"
__ADS_1
"Sherly hanya ingin seperti anak yang lain. Memiliki Daddy dan mommy kandung. Kemudian mereka mengantarkan Sherly ke sekolah. Mengajak Sherly berjalan-jalan di mall, di taman dan kemanapun Sherly mau mereka selalu berada di samping Sherly. Apakah Sherly salah, Mom?" tanya Sherly kepada Amelia membuat hatinya sedikit tercubit. Sedih, itu yang sekarang Amelia rasakan. Ternyata selama ini, kasih sayang yang dia berikan tidak cukup untuk mengobati rasa rindu Sherly kepada mommy kandungnya. Itu wajar sih, karena Sherly masih terlalu kecil untuk mengerti sebuah hubungan dan kasih sayang. Tidak terasa air matanya meleleh begitu saja. Ada sesuatu yang terenggut dari dirinya.
to be continued......