
Amelia berlari sekencang mungkin dengan membawa luka di hatinya, hatinya benar-benar hancur, ketika sang suami justru memojokkannya. Suami yang dulu ia kenal begitu lembut dan penyayang, sekarang dia begitu berubah. Amelia duduk di sebuah bangku di taman, menangis sesenggukan, hatinya sangat hancur dan pedih.
Lama Amelia duduk sendiri di taman, sampai ada tangan seseorang memegang pundaknya dengan lembut.
"Amelia?" panggilnya.
Amelia menoleh ke sumber suara, ternyata Tante Celine yang memanggil. Amelia langsung menghapus air matanya, namun Celine tahu kalau Amelia sedang bersedih. Sudah kedua kalinya, Celine melihat Amelia dengan raut muka yang sedih, meskipun ia berusaha menutupinya.
"Tante Celine!" bingung Amelia, karena melihat Tante Celine disini.
"Apa yang terjadi? Apakah ada masalah? Tante tahu, kamu sedang tidak baik-baik saja!" cecar Celine.
"Nggak apa-apa kok, Tan, saya cuma ingin menyendiri," bohong Amelia.
"Jangan suka memendamnya sendiri! Tidak baik, Sayang!" saran Celine. " Sejak awal pertemuan kita, Tante tahu kalau kamu sedang memendam masalah kamu! Jika kamu mau, kamu bisa bercerita dengan Tante, mungkin beban di pundak kamu, sedikit berkurang, Sayang!" ujarnya.
"Hiks ... hiks .... hiks." Amelia hanya bisa menangis sesenggukan di dalam pelukan Tante Celine.
"Baiklah, jika kamu belum ingin bercerita! Tante paham," ujarnya sambil mengelus rambut Amelia dengan sayang. Akhirnya Amelia pun bersedia membagi bebannya dengan Tante Celine, wanita paruh baya yang sangat baik dan sangat lembut tutur bahasanya. Tante Celine merasa iba mendengar semua cerita Amelia, ia sampai menitikkan air matanya mendengar kisah Amelia, seorang wanita cantik yang sedang duduk dihadapannya.
"Tega sekali suamimu, padahal kau sedang hamil!" iba Tante Celine. "Meskipun anak yang kamu kandung bukan darah dagingnya, akan tetapi anak tetaplah anak! Dia masih suci, tidak berdosa!" terangnya.
"Sudah jangan bersedih, untuk apa kau menangisi laki-laki seperti itu! Jika kamu mau, kamu bisa bekerja di butik milik Tante," ujarnya sambil menggenggam tangan Amelia dengan lembut.
"Bukankah kamu bilang, kalau kamu membutuhkan pekerjaan? Bekerjalah di butik Tante!" ucapnya lagi.
"Beneran Tante? Saya boleh bekerja di butik, Tante?" senang Amelia.
"Tentu, Ayo ikut!" ajak Celine menggandeng tangan Amelia, menuntunnya ke butik besar, letaknya tidak terlalu jauh dengan taman. Di sana berjejer butik elit, besar, mewah dan sangat elegan. Celine mempersilahkan Amelia untuk masuk, dan memperkenalkan Amelia kepada karyawan yang lain. Bahwa Amelia adalah karyawan baru disini. Mereka semua dengan hangat menyapa Amelia dengan menganggukkan kepala mereka, tanda hormat mereka. Amelia pun merasa tidak enak, dan menyuruh mereka bersikap biasa saja.
Karyawan di sana berjumlah lima orang, semuanya karyawan wanita. Amelia sudah resmi menjadi karyawan dibutik milik Tante Celine. Tugas pertama yang diberikan Celine kepada Amelia adalah mencatat barang masuk dan barang keluar. Karena Celine merasa dirinya tidak muda lagi, sehingga agak pelupa dalam hal menghitung barang-barang. Dalam hitungan beberapa menit saja, Amelia mengerjakan tugas pertamanya dengan cepat dan teliti. Membuat Celine merasa kagum dan cocok dengan pekerjaan Amelia.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, waktunya karyawan pulang. Semua karyawan sudah pulang kecuali Amelia. Dia masih sibuk dengan menata barang-barang di gudang, padahal semua karyawan toko sudah pulang. Celine yang melihat itu, tambah semakin kagum dengan semangat dan kerja keras wanita muda itu.
"Amelia?" panggil Celine.
"Iya, Tante!" jawabnya.
__ADS_1
"Sudah sore, Ayo pulang! Besok bisa dilanjutkan lagi," ujarnya.
"Baik, Tante!" jawabnya, Amelia pun bersiap-siap untuk pulang.
"Oma?" panggil seorang gadis cilik melambaikan tangan dari arah pintu masuk mendekati Omanya, dan memeluknya.
"Sherly, Sayangnya Oma! Kamu sudah pulang, Sayang? Bagaimana hari-hari kamu di sekolah? Kamu pulang sama siapa?" cecar Omanya.
"Sudah Oma, Sherly tadi pulang diantar bis Sekolah, dan Sherly sangat senang sekali! Sherly memiliki banyak teman, Oma!" jawab Sherly, sangat lucu.
Hari ini adalah hari pertama Sherly bersekolah, dia belajar di Sekolah khusus, dimana semua muridnya berasal dari anak-anak pengusaha atau anak-anak orang kaya saja. Sekolahan itu juga dilengkapi dengan fasilitas khusus, seperti bis khusus untuk antar jemput anak-anak, tempat belajar dengan fasilitas AC, fasilitas kamar tidur, karena jika siang hari anak-anak diwajibkan tidur siang yang berkualitas, sampai menu untuk makan siang pun sangat diperhatikan di sekolah itu. Ditambah dengan tenaga pengajar khusus didatangkan dari luar negeri.
"Sherly?" panggil Amelia, saat Amelia hendak berpamitan dengan Tante Celine.
"Tante?" Sherly sangat bahagia sekali melihat Amelia, dan langsung memeluknya.
"Tante, Sherly sangat rindu! Sherly sangat senang bertemu Tante lagi," ucapnya sangat menggemaskan.
"Tante juga sangat senang bertemu lagi dengan Sherly," ucap Amelia menampilkan deretan gigi putihnya.
"Sekarang Tante cantikmu ini bekerja di butik Oma, Sayang!" jawab Omanya.
"Benarkah? Jadi setiap hari Sherly boleh bertemu Tante, Oma!" ujarnya.
"Iya, Sayang," jawab Omanya, sambil melirik ke arah Amelia.
"Sudah sore, Bagaimana kalau Tante mengantarkan kamu sampai rumah, Nak?"
"Nggak baik juga wanita hamil pulang ke sorean, kata orang dulu pamali!" jelas Tante Celine.
"Apakah di perut Tante, ada Dede bayinya?" tanya Sherly penasaran.
"Iya, Sayang, di perutnya Tante ada Dede bayinya!" ucap Amelia sambil tersenyum.
"Hore! Sherly akan segera memiliki adik," senangnya sambil berjingkrak-jingkrak. Omanya dan Amelia saling berpandangan.
"Bagaimana dia mengatakan akan mempunyai adik? Aku kan bukan ibunya!" batin Amelia. Amelia hanya geleng-geleng kepala saja, melihat tingkah menggemaskan Sherly, tapi Amelia hanya memaklumi tingkah anak kecil yang terkadang suka ceplas-ceplos.
__ADS_1
"Bagaimana? Mau kan, Tante antar pulang?" tanya Tante lagi, membuyarkan lamunannya.
"Ya suda deh, Tan! Kalau Amelia nggak merepotkan Tante!" ujarnya.
"Ya nggaklah, Sayang! Tante malah sangat senang sekali!" ujarnya.
"Apalagi Sherly, iyakan Sherly?"
"Iya, Oma! Sherly sangat senang," ucapnya. Mereka bertiga menaiki mobil dan duduk di jok penumpang, mobil dikendarai oleh sopir pribadi Tante Celine.
"Sherly itu anaknya sangat susah bergaul! Namun denganmu, dia langsung akrab!" bisik Tante Celine.
"Ehm, emang dimana orang tuanya Tante?" tanya Amelia balik berbisik.
"Ehm ..... " Tante Celine menjeda kalimatnya.
"Orang tuanya bercerai, ibunya meninggalkan Sherly saat masih bayi," jelas Tante Celine dengan raut muka yang sedih. "Dan Daddy-nya sibuk bekerja, sekarang Daddy-nya berada di Singapura! Ada proyek besar di sana! Sebenarnya Sherly sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya," terang Tante Celine.
"Lalu ibu Sherly sendiri kemana Tante?" tanya Amelia penasaran dengan cerita Tante Celine.
"Dia menikah lagi dengan duda kaya raya di Australia," jawab Tante Celine.
"Oh, begitu, kasihan anak sekecil itu kekurangan kasih sayang orang tua," batin Amelia.
"Kita ke jalan Flamboyan, Tante!" ujar Amelia.
"Itu alamat rumahmu?" tanyanya.
"Iya, Tan!" jawab Amelia.
"Pak Sony, kita ke jalan Flamboyan terlebih dahulu! Kita akan mengantarkan Amelia dulu!" perintah Tante Celine kepada sopir pribadinya.
"Baik, Nyonya!" jawab sang sopir. Dengan kecepatan sedang, mobil melaju membelah padatnya kota Jakarta. Disepanjang perjalanan tidak berhenti Sherly bercerita kepada Amelia dengan tingkahnya yang sangat lucu dan menggemaskan. Amelia sampai dibuat tertawa terbahak-bahak oleh tingkah lucu Sherly.
Mobil berhenti di depan rumah Amelia, Amelia mempersilahkan Tante dan Sherly mampir, namun Tante menolak karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Padahal Sherly merengek meminta turun dan bermain di rumah Amelia, akan tetapi Celine menolaknya dan memberikan pengertian kepada cucu kesayangannya. Akhirnya Sherly pun menurut untuk pulang ke rumah.
to be continued......
__ADS_1