Amelia

Amelia
Episode 62


__ADS_3

"Mel, buka pintunya!" pinta Thomas menggedor pintu rumah Amelia. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu membuka pintunya dan memaafkan ku!" ucap Thomas dari luar pintu.


"Aku tidak perduli," jawab Amelia. Amelia masuk ke dalam kamarnya, karena dia mendengar Aska menangis.


"Cup ... Cup, Sayang! Jangan menangis, Aska kan anak Mommy yang cerdas, yang pintar!" ucapnya kepada Aska, namun Aska tidak mau berhenti menangis.


Amelia masih bersikeras tidak mau membukakan pintunya untuk Thomas. Sedangkan diluar, awan mulai mendung dan suara gemuruh mulai terdengar. Karena awan sudah tidak mampu untuk menahan, akhirnya air mulai turun membasahi bumi.


Thomas masih setia berdiri di depan rumah Amelia, padahal hujan semakin deras dan petir menggelegar keras. Aska tidak mau berhenti menangis, padahal Amelia sudah memberikan ASI nya. Terpaksa dia harus menggendong putranya. Amelia menimang-nimang Aska di ruang tamu, seketika dia melihat Thomas masih berdiri di luar dalam keadaan kehujanan.


Membuat dirinya sangat khawatir dan cemas. Amelia sudah menyuruh Thomas pulang, namun dia menolak. Thomas akan menunggu di luar sampai Amelia memaafkannya dan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


"Dia sudah tidak waras," umpatnya. "Dia bisa sakit kalau seharian di luar!" cemas Amelia.


Meskipun petir sudah tidak terdengar lagi, namun hujan masih sangat deras. Membuat hati Amelia gelisah dan gundah gulana tidak karuan. Dia berjalan mondar-mandir sambil menggendong putranya.


"Ah, lama-lama dia bisa membuatku gila," pikirnya.


Amelia pun meletakkan putranya di tempat tidur. Dan ia langsung mengambil payung. Amelia membuka pintu rumahnya, dia melihat Thomas sedang duduk bersandar di mobil dengan mendekap lututnya.


"Astaga, dia benar-benar tidak waras!" ujarnya. Amelia melangkahkan kakinya menghampiri Thomas.


"Mas, bukankah aku sudah menyuruhmu pulang?" kesal Amelia sambil memayungi Thomas. "Cepat, bangunlah! Kamu bisa sakit, Mas?"


"Kamu sudah memaafkan ku, Mel?" tanya Thomas. Namun Amelia belum bisa menjawabnya.


"Sebaiknya kita masuk dulu! Hujannya sangat deras," ucap Amelia.


"Aku tidak mau masuk, sebelum kamu memaafkan ku!" ucap Thomas memberengut kesal.

__ADS_1


"Ish, Kau ini seperti anak kecil saja," manyun Amelia. "Ayo, masuk! Hujannya sangat deras, aku takut Aska terbangun!" serunya. Mendengar nama Aska, akhirnya Thomas menuruti perintah Amelia untuk masuk ke dalam rumah.


Amelia mengambilkan handuk bersih untuk Thomas. Kemudian dia menyuruh Thomas untuk mengganti bajunya yang basah. Sementara, Amelia memberikan baju almarhum ayahnya yang masih bersih dan jarang dipakai. Dan untungnya ukurannya pas di tubuh Thomas. Menunggu Thomas berganti baju di kamar mandi, Amelia membuatkan wedang jahe untuk Thomas. Kebetulan tadi siang dia habis belanja di Supermarket.


Thomas keluar dari kamar mandi, dia memakai pakaian almarhum ayahnya, Thomas terlihat sangat tua. Dan penampilan Thomas membuat Amelia menahan tawanya. Namun karena gengsi, dia mengurungkan niatnya untuk tertawa.


"Minumlah ini, Mas! Agar tubuhmu lebih hangat," ucap Amelia sambil menyodorkan satu gelas wedang jahe.


"Terima kasih," jawabnya.


"Apakah kamu sudah makan, Mas?" tanya Amelia. Thomas menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak masak hari ini, aku buatkan mie instan saja ya?" tanya Amelia.


"Terserah kau saja! Apapun yang kau masak, pasti aku makan," jawabnya.


Amelia pun langsung ke dapur untuk membuatkan mie rebus. Saat Amelia sedang memasak mie instan, dari arah kamar terdengar suara Aska menangis. Thomas pun buru-buru menggendong Aska, seketika Aska langsung terdiam. Seakan-akan bocah itu tahu kalau Daddy-nya yang menimangnya.


Setelah mie-nya matang, Amelia menyuruh Thomas untuk makan terlebih dahulu. Amelia tidak mau sampai Thomas sakit gara-gara tidak diperbolehkan masuk ke rumah. Thomas nampak menikmati mie rebusnya. Satu mangkok habis dia lahap.


"Terima kasih," ucapnya.


"Setelah hujannya reda lebih baik kamu pulang, Mas! Kasihan Mama dan Sherly, pasti nyariin kamu!" ucap Amelia.


"Aku nggak akan pulang, Mel, sebelum kamu memaafkan aku!" ujarnya.


"Oke, aku akan memaafkan kamu! Tapi, Tolong kamu pulang!" suruh Amelia.


"Itu berarti, kita akan melanjutkan acara pernikahan kan?" tanya Thomas.

__ADS_1


"Maksud ku bukan begitu, Mas! Aku memang memaafkan mu, tapi, aku tidak bisa melanjutkan acara pernikahan kita!" ujarnya. Seketika raut muka Thomas kembali kusut.


"Apakah kau semarah itu kepadaku? Apakah kau begitu membenciku? Apakah kau begitu kecewa kepadaku?" tanya Thomas.


"Aku belum tahu, Mas! Aku masih bingung," jawabnya.


"Baiklah kalau begitu, aku tahu jawabannya! Aku tidak akan memaksamu, jika memang kau ingin membatalkan pernikahan ini. Tapi, untuk terakhir kalinya, aku ingin bersama putraku dulu," ucap Thomas, mengambil Aska dari gendongan Amelia.


"Aska, Sayang! Anak Daddy, jadi anak yang pintar ya? Nurut sama Mommy, jagain Mommy! Mungkin Daddy tidak bisa melihat pertumbuhan dan perkembangan kamu. Mungkin setelah ini, Daddy akan kembali ke Jerman dengan Kakak Sherlly. Semoga kamu jadi anak yang pintar dan kuat," ucap Thomas panjang lebar, membuat hati Amelia terenyuh.


Amelia sengaja membiarkan Thomas bermain dan bercanda dengan Aska. Dia mengerjakan pekerjaan lain di rumah ini. Dia mencuci baju Thomas yang basah, dan langsung mengeringkannya di mesin cuci. Setelah kering, dia menyemprotkan pengharum baju hingga marata, barulah dia menyetrika baju dan celana milik Thomas. Setelah selesai, dia melipatnya dan meletakkannya di tempat tidur depan telivisi.


Amelia menengok putranya dan Thomas. Ternyata mereka tertidur sangat pulas. Seperti biasa Aska tengkurap di atas dada bidang Daddy-nya. Pemandangan yang sangat langka dan membuatnya tersenyum. Amelia pun mengurungkan niatnya untuk membangunkan Thomas.


Keesokkan paginya


Silau mentari menyeruak masuk melalui celah korden, dan mengenai matanya, membuat Amelia mengerjapkan mata dan terbangun. Dia bangkit dari tempat tidur yang terletak di depan televisi. Dia ingin melihat Thomas dan putranya. Dan ternyata, Amelia tidak menemukan Thomas di sisi Aska. Amelia mencarinya di kamar mandi dan di dapur, Thomas juga tidak ada. Dia melihat baju yang sedari tadi malam dia setrika juga sudah tidak ada. Dia pun berlari ke halaman rumah, mobil Thomas sudah tidak ada. Seketika hatinya serasa sunyi, hampa dan sepi.


"Apakah dia sudah pergi?" batinnya.


Amelia kembali ke kamar putranya yang masih terlelap tidur. Dia duduk di samping putranya, dan menemukan sebuah Black Card, uang dan surat singkat. Amelia membukanya dan membacanya dengan seksama.


Untuk Amelia,


Amelia,


Sebelumnya aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu, karena aku sudah membuat mu sangat membenciku. Aku dan Sherly akan pergi ke Jerman, supaya kau tidak perlu lagi melihat orang hina seperti aku. Aku memberikanmu sebuah Black Card, aku mohon terimalah demi Aska. Kau bisa gunakan Black Card itu untuk kebutuhanmu dan juga kebutuhan Aska. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu dan anak kita.


Thomas

__ADS_1


to be continued ....


__ADS_2