Amelia

Amelia
Episode 111


__ADS_3

Untuk merayakan kepulangan Sherly, Celine sengaja membuat acara pesta barbeque yang diadakan di taman belakang rumah. Sherly begitu bahagia karena akan ada acara makan-makan bersama keluarga.


"Sayang, cepat dong bakar-bakarnya! Aku sudah lapar nih!" ucap Amelia mendekat ke arah suaminya yang sedang bakar ayam, ikan, sosis, lobster dan berbagai jenis makanan laut.


"Iya, Sabar dong! Nih lihat, semua pakaianku bau asap!" manyunnya. Amelia terkekeh geli.


"Lepas saja kemejanya, siapa suruh pakai kemeja?"


"Aku pikir kau menyuruhku untuk memasak makanan yang gampang, ternyata harus seperti ini!" manyun suaminya.


"Oh, jadi kamu nggak ikhlas Mas?"


"Aduh bisa gawat nih kalau Amelia ngambek lagi!" batin Thomas, "Nggak, Sayang. Tentu saja aku ikhlas. Untuk ratuku, aku siap melayanimu!"


ujarnya sambil tersenyum.


"Sini, biar aku bantu melepaskan kemejanya!" Amelia membantu suaminya melepaskan kemeja yang dipakainya, dan menyisakan kaos lengan pendek saja.


"Nah, kalau begini kan lebih santai," ujarnya.


"Terima kasih, Sayang," ucapnya tersenyum. Amelia membantu suaminya menyeka keringat di dahinya.


Melihat putra dan menantunya bisa mesra lagi, membuat Celine begitu bahagia.


"Akhirnya mereka bisa mesra lagi ya, Ma?" ucap Alina tiba-tiba yang datang dari arah belakang.


"Iya, Sayang. Sini duduk!"


"Al, bahagia deh, Ma. Melihat Kak Thomas sama Kakak ipar bisa akur lagi," ucap Alina.


"Mama.juga bahagia, Sayang," ucap Celine.


"Oya, bagaimana? Apakah sudah ada isinya di sini?" tanya Mama sambil mengelus perut rata Alina.


"Boro-boro ngisi, Ma. Alina sudah ngecek sampai sepuluh kali, tapi belum juga isi. Ini sudah satu bulan, malah Alina malas mengeceknya!" sedih Alina.


"Sabar, Sayang. Pasti kalau sudah waktunya, kamu pasti akan dikasih!"


"Iya, Ma," jawab Alina.


"Butuh bantuan, Bang?" tawar Bram kepada Thomas.


"Dari Mana saja sih, baru nongol!" cemberut Thomas.


"Sorry, Bang, tadi ada urusan sebentar," jawabnya.


"Nih, bantu bakar sisanya!" suruh Thomas.


"Beres, Bos!" Bram menggantikan Thomas membakar ikan dan sosis.


Thomas duduk bersama Celine dan Alina, sedangkan Amelia sedang sibuk menata makanan yang sudah matang di meja besar.


"Wuih, sepertinya enak banget. Akhirnya aku bisa makan ayam bakar dengan sambal hijau," ucap Amelia sambil menelan ludahnya sendiri.


Setelah semuanya matang, mereka makan bersama-sama di taman belakang rumah. Aska yang memiliki rasa keingintahuan yang besar, dia mendekati orang-orang dewasa, dan meminta makan kepada Mommy nya.


"Aaaaaaaaaa." Amelia menyuapi putranya dengan tangannya sendiri.


"Ayo sama Daddy!" ajak Thomas kepada putranya.


HOEK ... HOEK .... HOEK

__ADS_1


Tiba-tiba saja Alina merasakan mual di perutnya, dia langsung berlari ke arah kamar mandi. Bram yang melihat itu, langsung menyusul istrinya ke kamar mandi.


"Sayang, kau tidak apa-apa kan?" tanya Bram.


"Kayaknya aku masuk angin deh, Bang. Badanku lemes banget!" ujarnya.


"Kita ke Rumah Sakit ya, Sayang?"


"Nggak mau ah, aku kan Dokter. Ngapain pergi ke Rumah Sakit. Kalau badanku meriang aku bisa beli obat di apotik," ucapnya.


"Yakin?"


"He'em," jawab Alina dengan anggukan.


"Kalau begitu kamu istirahat saja di kamar. Mungkin kamu kecapean, kita kan baru sampai di Indonesia!"


"Iya, Bang!" jawabnya.


Bram mengantarkan istrinya ke kamar. Dia juga membantu Alina menggosokkan minyak angin di tubuh sang istri.


HOEK ... HOEK ... HOEK


Alina kembali memuntahkan semua isi perutnya, apalagi kalau dia mencium aroma yang sangat menyengat, pasti dia akan langsung muntah.


"Kenapa dengan Alina, Bram?" tanya Celine saat Bram sedang membuatkan teh hangat untuk istrinya.


"Masuk angin, Ma," jawab Bram.


"Bawa saja ke dokter, masuk angin jangan dibiarkan begitu saja, Bram!"


"Bram sudah mengatakan itu kepada Alina, namun Alina menolaknya, Ma," jawab Bram.


"Nggak tahu, Ma!" ucapnya.


"Sayang?" panggil Celine ingin melihat keadaan putrinya, "Mama panggilkan dokter ya? Tuh, lihat! Wajah kamu sangat pucat, Mama khawatir dengan keadaanmu, Al?"


"Nggak usah, Ma. Sebentar lagi Al pasti akan baik-baik saja!"


"Kamu yakin?"


"Yakin,"


Semalaman Alina tidak bisa tidur. Perutnya terasa semakin mual, kepalanya terasa pusing.


"Bang?" panggilnya kepada Bram.


Melihat suaminya tertidur pulas, Alina pun ke kamar mandi sendiri. Saat keluar dari kamar mandi, lantainya agak licin dia pun terpeleset.


BRAKKK ...


BRUGH ....


"Auw," pekik Alina.


Ada sesuatu yang merembes dari pangkal pahanya, suatu cairan berwarna merah.


"Apa ini?"


"Bang?' teriak Alina saat perutnya terasa sangat sakit. Teriakan Alina membuat Bram terbangun, dan dia langsung mencari keberadaan istrinya. Dia baru tahu, kalau ternyata istrinya terjatuh dilantai.


"Sayang?" kaget Bram dan langsung membopong tubuh istrinya.

__ADS_1


"Kamu berdarah, Sayang," ucapnya.


"Perutku sakit, Bang!" pekik Alina.


"Kita ke Rumah Sakit ya?" Al mengangguk.


"Sakit," pekik Alina.


Karena panik Bram hendak membawa istrinya ke Rumah Sakit. Mama yang mendengar keributan di kamar Bram, langsung mencari tahu apa yang terjadi. Celine ikut panik melihat putrinya yang dibopong dan merintih kesakitan.


"Ada apa, Bram?"


"Alina terpeleset di kamar mandi, Ma!" jawab Bram, "Bram akan membawanya ke Rumah Sakit,"


"Kok bisa sih?" cemas Mama.


"Nanti menjelaskannya,"


"Okey, Mama ikut," ucap Mama.


Malam itu juga, Bram langsung membawa Alina ke rumah sakit.


Bram mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Dia sangat khawatir dengan kondisi istrinya, apalagi melihat darah di pangkal paha Alina. Membuat banyak pertanyaan di otaknya.


Sampai di rumah sakit, Alina langsung dibawa ke ruang UGD. Alina langsung mendapatkan perawatan dari dokter. Sedangkan Bram dan Celine menunggu di luar ruangan UGD.


"Apa yang terjadi, Bram?" tanya Celine.


"Alina terpeleset di kamar mandi, Ma!" jawab Bram.


"Kok bisa sih?"


"Bram kurang tahu, tiba-tiba Alina sudah dalam kondisi seperti itu. Bram panik dan langsung membawanya ke rumah sakit,"


"Hah." Celine menghela nafasnya panjang.


Setengah jam kemudian seorang dokter keluar dari ruangan UGD.


"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dok?" tanya Bram begitu panik.


"Istri Anda mengalami pendarahan," jawab dokter.


"Apa? Pendarahan? Apakah istri saya sedang hamil, Dok?" tanya Bram.


"Apakah Anda tidak tahu kalau istri Anda sedang hamil muda?"


"Tidak, Dok. Saya tidak tahu!"


"Jadi begini, Pak. Istri Anda sedang hamil. Dan karena kejadian tersebut, istri Anda mengalami pendarahan. Untungnya janinnya baik-baik saja. Namun kandungannya lemah. Jadi, istri Anda harus lebih berhati-hati lagi!" jelas Dokter, "Nanti akan saya rekomendasikan Dokter khusus kandungan, supaya bisa memeriksa kondisi istri Anda!"


"Baiklah, Dok. Terima kasih banyak!"


"Mari, saya permisi dulu!" ucap Dokter.


"Ma, Alina hamil. Itu berarti Bram sebentar lagi akan punya anak. Alina pasti sangat bahagia," ucap Bram.


"Iya, Bram. Tapi, kandungan Alina lemah. Kau harus membantu menjaga kandungan istrimu!" tutur Mama.


"Iya, Ma," senang Bram.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2