
Amelia mengerjapkan matanya, ia mengamati setiap sudut ruangan ini. Ruangan yang didominasi warna putih, korden putih, semuanya serba putih. Amelia berusaha bangkit dari tempat tidurnya, tiba-tiba ada suster yang masuk ke ruangannya.
"Adakah yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Suster dengan ramah.
"Saya ada dimana, Sus?" tanya Amelia.
"Nyonya, berada di Rumah Sakit," jawab suster.
"Silahkan, sarapan paginya! Saya taruh disini," ucap suster itu, sambil mendekatkan meja untuk pasien VIP.
"Siapa yang membawa saya ke Rumah Sakit ini, Sus?" tanya Amelia sedikit bingung, pasalnya dia tidak ingat apapun, tiba-tiba saja dia sudah berada di Rumah Sakit.
"Seorang pria, tapi pria tersebut sudah pergi," jawabnya lagi.
"Oh." Amelia hendak bangun, mencari ponselnya, namun dia teringat, dia tidak membawa ponselnya saat keluar dari rumah. Dia hanya membawa dompet saja.
"Suster! Bolehkah saya meminjam ponselnya? Saya ingin menghubungi suami saya!" ucap Amelia.
"Boleh, Silahkan!" ujar suster.
"Terima kasih, Sus," ucapnya.
Dret .... Dret .... Dret
Amelia mendial nomor suaminya, namun masih belum diangkat. Hingga panggilan yang sekian kalinya, baru diangkat.
"Hallo, Mas," suara Amelia,
"Sayang, ini nomer siapa?" tanya suaminya, nafas Arga terdengar memburu, Amelia tidak tahu apa yang sedang dilakukan suaminya.
"Mas, Kamu dimana?" tanya Amelia.
"Aku di Rumah Sakit, dan aku meminjam ponsel suster di sini," ujarnya.
"Kenapa, Sayang?" tanyanya cemas.
"Kenapa kamu bisa di Rumah Sakit?"
"Perutku kram, Mas," ucapnya.
"Oke, Oke, aku akan pulang segera," jawabnya lagi. Namun Amelia nampak mendengar sayup-sayup suara seseorang.
"Siapa, Mas?" tanya Amelia, penasaran dengan suara tersebut.
"Ah, bukan siapa-siapa," bohongnya.
__ADS_1
"Sayang, maaf aku belum bisa pulang, tapi aku akan menelfon ibu untuk menjagamu di Rumah Sakit," ucap Arga.
"Kamu mau kan?" tanya Arga memastikan.
"Tapi ..... !" Amelia menjeda kalimatnya.
"Mana mungkin ibu perduli denganku, malam itu saja ibu tidak mau menolongku untuk mengantarkan ke Rumah Sakit," batin Amelia.
"Sudahlah, Mas, jika memang kamu tidak bisa," kesalnya langsung menutup sambungan telepon. Hati Amelia sangat sedih, mungkin jika ayah dan bundanya masih hidup, dia tidak akan merasa sendiri.
Tiga hari Berlalu
Amelia sudah bersiap-siap untuk pulang, dan dia menuju meja kasir untuk menyelesaikan administrasi, namun oleh pihak Rumah Sakit, bahwa tagihan perawatannya sudah dibayar lunas oleh orang yang mengantarkannya ke Rumah Sakit, Amelia sempat meminta alamat pria baik yang mengantarkannya, namun oleh pihak Rumah Sakit dilarang karena sifatnya yang rahasia, ia pun tidak mempermasalahkannya lagi. Dia berjalan ke arah pintu keluar, namun saat dirinya berjalan tanpa sengaja seseorang menabrak dirinya hingga terjatuh.
Bugh ...
"Auww," pekik Amelia, merasakan sakit di pundaknya, karena pria yang menabrak tubuhnya juga lebih besar darinya.
"Maaf, Nona, saya buru-buru," ucapnya.
"Tidak apa-apa, saya yang salah, karena kurang memperhatikan jalan," ujarnya, namun Amelia tidak memandang ke arah lawan bicaranya, ia sibuk memunguti barang-barangnya yang berjatuhan.
"Baiklah, terima kasih, sekali lagi saya minta maaf," ucap pria itu. "Saya pergi dulu, karena saya harus menemui seseorang," jawabnya sambil berlalu pergi.
Amelia kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang ke rumah, dia memberhentikan taksi tepat di depan Rumah Sakit. Sekitar 15 menit, Amelia sampai di rumah. Rumahnya masih sama seperti terakhir Amelia tinggal. Amelia sedikit membersihkan dan merapihkannya. Kemudian ia memasak untuk dirinya sendiri. Setelah matang, dia tata di meja makan. Biasanya dia akan menyantap makanannya bersama sang suami, namun sudah beberapa hari ini dia selalu sendirian. Suaminya juga nampak aneh belakangan ini, itu menurut pandangannya.
Selesai makan dan membersihkannya, Amelia mencari ponselnya, dia takut kalau-kalau suaminya menghubunginya karena khawatir.
Dia menyalakan ponselnya, namun apa yang ditakutkan hanyalah fikirannya saja, nyatanya sama sekali tidak ada notifikasi pesan ataupun panggilan masuk ke ponselnya.
"Dia bilang cuma sebentar keluar kota, ini sudah lima hari berlalu," batinnya.
"Apakah kamu tidak merindukanku, Mas? Bahkan kau sama sekali tidak menanyakan kabarku, sebenarnya kamu berada di mana, Mas?" Amelia berdialog dengan dirinya sendiri. Rasa penasaran Amelia yang ingin tahu mengenai kabar suaminya tidak terbendung lagi, ia pun memutuskan untuk menghubungi suaminya.
Dret ... Dret .... Dret
Dret ... Dret ... Dret
"Hallo," suara seorang wanita yang menyahut.
"Hallo, ini ponsel Mas Arga kan?" tanya Amelia dengan suara bergetar, karena baru saja dia mendengar bahwa yang menjawab adalah seorang perempuan.
"Iya, betul, ini siapa?" tanya perempuan itu.
"Kamu yang siapa?" tanya Amelia lagi mulai gusar.
__ADS_1
"Saya istrinya, maaf yah, mas Arganya sedang dikamar mandi!"
"Bye." Ratih tersenyum dengan liciknya.
"Aku akan memulai dengan kamu, Amelia," ucap Ratih, melihat nama kontak panggilan di ponsel suaminya.
Tut .. Tut ... Tut
Dengan gerakan cepat, Ratih menghapus panggilan terakhir dari istri pertama suaminya.
Tubuh Amelia terpaku dan bergetar, setelah mendengar suara seorang wanita di ponsel suaminya.
"Suara siapa itu? Tapi aku dengar, wanita itu mengatakan kalau dia itu istrinya," batin Amelia. "Apakah ada yang tidak ku ketahui tentang suamiku?"
Amelia merasakan sesak di dadanya, ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia pun kembali menghubungi suaminya, namun kali ini ponsel suaminya tidak aktif. Berulang kali Amelia mendial nomor suaminya, tetap saja hanya suara operator telfon yang menjawab.
"Semoga itu hanyalah suara teman sekantornya saja," batinnya lagi.
Arga baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya tersenyum sendiri, dia merasa aneh.
"Ada apa? Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Arga kepada Ratih.
"Tidak apa-apa, mas," ujar Ratih sambil tersenyum menang.
Hari ini Arga bersiap-siap untuk pulang ke rumah, karena memang sudah lima hari dia meninggalkan istri pertamanya. Dia tidak mau membuat Amelia curiga.
"Apakah mas akan pulang hari ini?" tanya Ratih.
"Iya, Ratih, kau kan tahu, aku juga memiliki istri lagi," ujarnya.
"Baiklah, aku bisa mengerti! Dan percayalah mas, aku akan selalu mengerti kamu!" ucapnya sambil membenarkan kancing baju suaminya.
"Aku pergi dulu, baik-baik disini! Aku sudah membelikan rumah baru untukmu, dan masih dalam tahap renovasi, jika semuanya sudah beres, kau akan secepatnya pindah dari Apartemen ini!" ucap Arga.
"Baik, Mas, apapun yang mas lakukan, aku akan mendukungmu, Mas!" ujar Ratih.
"Apakah mas tidak mau berpamitan dengan anak kita?" ucap Ratih, sambil mengelus-elus perutnya yang masih rata. Arga pun mendekat dan menciumi perut Ratih, membuat Ratih kegelian.
"Baik-baik diperut Mama, Sayang," ucap Arga.
Setelah berpamitan dan mencium kening Ratih, Arga pun meninggalkan Apartemen. Hati Ratih sangat bahagia, apapun yang dia inginkan oleh suaminya dikabulkan. Padahal awalnya Arga menolak pernikahannya, tetapi sekarang justru suaminya mulai berubah haluan.
"Bagus, selangkah demi selangkah perhatianmu untukku, Mas! Apalagi sekarang aku sedang hamil anakmu, aku akan menjadikanmu milikku seutuhnya," ucapnya berdialog dengan dirinya sendiri.
to be continued...
__ADS_1