
Amelia membawakan empat gelas yang, dan ia letakkan di atas meja. Di sana ada Thomas dan Bram nampak sedang berbicara serius tentang bisnis. Sedangkan Mama Celine, Alina, Sherly sedang asyik bermain dengan Aska.
Dret .... Dret .... Dret
Ponsel Bram berbunyi nyaring, lalu, dia berdiri menjauh untuk menerima panggilan tersebut. Nampak Bram sedang berbicara serius.
"Kemari, Sayang!" ucap Thomas menepuk tempat duduk disebelahnya yang kosong.
"Ada apa, Mas? Sepertinya sedang berbicara serius dengan Bram!" ucap Amelia.
"Tidak, kami hanya sedang berbicara mengenai urusan kantor saja. Tidak ada yang penting," sahut Thomas.
"Oh, gitu. Ini mas Kopinya di minum dulu, mumpung masih hangat. Kalau sudah dingin tidak enak," ucap Amelia.
"Terima kasih, Sayang," jawab Thomas.
"Al, sini minum kopi dulu!" ajak Amelia. Bukannya Amelia tidak mau menawarkan kopi kepada Mama mertua, Mama Celine sudah tidak diperbolehkan oleh Dokter untuk mengkonsumsi kopi dan teh. Pokoknya sesuatu yang berbau Caffein. Setelah selesai menelfon, Bram kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang masam.
"Bang, sepertinya aku harus kembali ke Jerman. Ada hal penting yang harus aku selesaikan!" ucap Bram.
"Hal penting apa?" tanya Thomas.
"Bisnis kita di sana ada kendala," jawabnya.
"Jadi, kau berencana kembali ke Jerman?"
"Iya, Bang," jawab Bram. Alina yang berdiri di belakang suaminya, tanpa disengaja mendengarkan ucapan Bram.
"Apa? Abang mau ke Jerman?" tanya Alina tiba-tiba.
"Al! Iya, Al. Aku harus kembali ke Jerman. Ada sedikit masalah di sana," ucap Bram.
"Kenapa Abang nggak kerja di sini saja sih? Kenapa harus balik ke Jerman?" kesal Alina.
"Itu karena .... !" belum sempat melanjutkan kata-katanya.
"Kalian para pria memang egois!" ucap Alina. Alina kesal dan meninggalkan Bram bersama dengan kakak dan kakak iparnya.
BRAKK ....
Suara pintu digebrak.
"Astaga!" kaget Bram.
__ADS_1
"Susul tuh Bram, sepertinya Alina ngambek!" ucap Thomas.
"Apa salahku?" tanya Bram menggaruk kepalanya sendiri. Thomas dan Amelia terkekeh.
"Kesalahanmu adalah kamu akan meninggalkan Alina dalam jangka waktu yang lama. Sebagai seorang wanita ataupun istri, menjalin hubungan dengan jarak jauh itu sungguh sangat sulit. Kebanyakan wanita tidak suka dengan itu. Itulah yang sedang dialami oleh Alina. Dia tidak mau menjalani hubungan jarak jauh," jelas Amelia.
"Tuh dengerin apa kata kakak iparmu!" ucap Thomas.
"Lho, tapi kan Bram ke sana untuk menyelesaikan bisnis. Jika bukan Bram, apakah Abang mau menggantikannya?" tanya Bram.
"Oh, No. Aku sudah tidak mau ke sana! Aku sudah memiliki seseorang yang selalu aku rindukan, aku memiliki dua orang anak yang membutuhkan diriku di sini. Jadi, Kau saja yang urus pekerjaan di sana!" ucap Thomas.
"Ah, sialan kau, Bang!" manyun Bram sambil berlalu masuk ke kamar.
"Sayang?" panggil Bram kepada istrinya. Ternyata Alina sedang menangis dengan menutupi wajahnya dengan bantal.
"Sayang?" panggilan mesra Bram.
"Aku akan ke Jerman sebentar saja. Lalu, aku akan kembali ke Indonesia," ucap Bram.
"Dan Abang akan kembali ke sana jika ada masalah lagi. Dan seterusnya akan seperti itu. Benar begitu kan, Bang?" isak Alina.
"Itu kan sudah resiko, Sayang. Kau tahu betul bahwa semua urusan bisnis di Jerman, Bang Thomas sudah menyerahkan semuanya kepada Abang. Jadi, mau tidak mau Abang harus menerimanya. Dan apapun itu resikonya!" jelas Bram.
"Abang ngerti. Bagaimana kau ikut saja Abang tinggal di sana?" tanya Bram.
"Tidak bisa, Bang. Pekerjaan Dokter adalah pekerjaan yang selalu aku impikan. Masa aku harus mengundurkan diri dari RS?"
"Lalu aku harus bagaimana? Abang bingung!"
"Iya, sudah kalau memang Abang harus kembali ke sana. Tapi Abang harus kembali ke Indonesia secepatnya!"
"Iya, Sayang. Akan aku usahakan secepatnya menyelesaikan semuanya!"
"Kapan Abang ke sana?"
"Secepatnya. Pulang dari Bandung, aku langsung berangkat," sahutnya.
"Secepat itu?"
"Maafkan Abang, Sayang. Tapi, Abang usahakan secepatnya kembali ke Indonesia," ucap Bram meraih kepala Alina, dan mencium keningnya dengan sayang.
"Baiklah," lirih Alina.
__ADS_1
Keesokkan Paginya
Satu Minggu sudah mereka berlibur ke Bandung. Tidak banyak tempat yang mereka kunjungi, tetapi Sherly begitu puas karena setiap hari menikmati wahana air.
Hari ini mereka semuanya akan kembali ke kota J. Semua barang-barang sudah di letakkan di bagasi mobil. Mobil melaju meninggalkan hotel dengan kecepatan sedang.
Di sepanjang perjalanan Aska tidak berhenti berceloteh. Membuat kakaknya begitu gemas ingin mencubitnya.
Tidak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di rumah. Setelah menurunkan Mama Celine, Bram dan Alina langsung berpamitan pulang. Karena rencananya, Bram akan langsung terbang ke Jerman pukul satu siang.
Alina membantu suaminya berkemas. Dia memasukkan baju-baju yang penting saja. Karena, di Jerman juga masih ada baju yang sengaja Bram tinggal.
"Sudah, Bang!" ucap Alina.
"Terima kasih, Sayang," jawab Bram. Nampak ada kesedihan di manik sang istri. Bagaimana tidak? Seperti yang sudah-sudah, Alina begitu takut, kalau suaminya akan lama meninggalkan dirinya.
"Sayang?" ucap Bram, menatap istrinya dengan penuh cinta. Kemudian Bram memagut bibir Alina dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan kembali secepatnya!" ucapnya meyakinkan Alina.
"He'em, Baiklah. Hati-hati di jalan, Bang. Aku akan terus menunggu sampai kamu pulang!" ucap istrinya.
"Iya, Sayang,"
Alina mengantarkan suaminya sampai Bandara. Hingga tubuh sang suami tidak terlihat lagi, dia pun memutuskan untuk pulang. Jujur, hatinya sangat bersedih. Banyak hal yang dia takutkan.
Alina melangkahkan kakinya ke Apartemen dengan tidak bersemangat.
"Huft," Alina menghela nafasnya berat.
"Rasanya begitu sepi tanpa kamu, Bang," ucapnya. Dia berdialog dengan dirinya sendiri.
Bram menyuruh orang suruhannya untuk menjemput dirinya di Bandara Frankfurt am main. Sekitar tujuh belas jam lebih tiga puluh lima menit, Bram menempuh jarak dari Bandara Indonesia ke Bandara Frankfurt ( Jangan protes ya, ini sudah dilihat di http:// educraft. Id 😂). Dia tidak langsung ke rumah, melainkan langsung pergi ke kantornya.
Ada masalah yang harus dia selesaikan. Dia mengumpulkan semua orang-orang penting untuk rapat. Dengan cekatan Bram menyelesaikan semuanya. Selama dua jam lamanya dia mengadakan rapat dadakan.
"Ah, akhirnya selesai," ucapnya sambil menyenderkan punggungnya di kursi kebesaran yang sebelumnya milik Thomas. Bram membuka dompetnya, dan dia mengambil sebuah foto. Foto istrinya.
"Aku merindukanmu, Sayang," ucapnya, "Kira-kira kau sedang apa ya?" kemudian dia menelfon istrinya sebentar, dia ingin memastikan keadaan Alina baik-baik saja.
"Hallo, Bang? Apakah kau sudah sampai di Jerman? Kenapa tidak langsung menelfon? Apakah kau tidak tahu bahwa aku sangat cemas karena seharian tidak mendengar kabar darimu?" cecar Alina dengan banyak pertanyaan.
to be continued....
__ADS_1