Amelia

Amelia
Episode 81


__ADS_3

Ratih memasuki rumahnya dengan perlahan. Dia takut semua penghuni rumahnya terbangun gara-gara dia terlalu berisik. Saat hendak melangkahkan kakinya menuju kamar, tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala.


"Dari mana kamu?" suara bariton membuatnya kaget. Ratih menoleh ke sumber suara.


"Mas? Kok kamu belum tidur?" tanya Ratih. Dia terlihat jelas sangat gugup di depan suaminya.


"Aku tanya, kamu dari mana?" bentak Arga.


"Aku dari rumah ayahku. Puas!" jawabnya tidak kalah keras. Arga mengernyitkan alisnya. Dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan istrinya.


"Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa tanyakan saja kepada ayah," jawabnya. Ratih berlalu ke kamar meninggalkan suaminya.


Sampai di kamar, dia langsung masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Semua bau yang menempel di pakaiannya langsung ia masukkan ke tempat cucian. Dia tidak mau sampai suaminya curiga.


Setelah Ratih mengganti pakaian dengan piyama, dia langsung masuk ke selimut untuk tidur. Arga menyusulnya, masuk ke dalam selimut yang sama dengan sang istri. Terdengar dengkuran halus, pertanda bahwa istrinya sudah pulas. Namun Arga masih saja terjaga. Dia belum bisa memejamkan mata.


Arga masih saja curiga dengan kata-kata istrinya. Hingga dia berusaha untuk memeriksa ponsel sang istri.


"Sial. Tumben ponselnya pakai sandi. Biasanya Ratih tidak pernah menggunakan sandi,' ucap Arga. Dia mengotak-atik ponsel istrinya tetap saja dia tidak mengetahui sandinya. Dia pun menaruh kembali ponsel Ratih di atas nakas.


Keesokkan Paginya


Baby Keyla terus menangis, Arga yang sedang sarapan mendengar anaknya menangis, tentu saja ia menghampirinya.


"Cup .... Cup, Sayang. Kenapa kamu menangis? Kamu lapar?" Arga berusaha untuk menenangkan Keyla. Dia menoleh ke arah Ratih yang masih tertidur. Betapa jengkel dan dongkol hatinya, justru Ratih sengaja menutup telinganya dengan bantal.


"Ratih?" panggil Arga, berusaha membangunkan Ratih. "Ratih, Bangun! Keyla menangis," ujarnya. Ratih semakin menutup telinganya dengan banyak bantal. Arga hanya menggelengkan kepalanya.


Arga berlari ke luar dengan menggendong Keyla. Dia menyerahkan Keyla kepada ibunya. Arga tidak tahu kenapa Keyla menangis terus.


"Sudah kasih susu?" tanya Dahlia.


"Bagaimana mau minum susu? Ibunya saja tidak perduli dengannya!" sungut Arga.


"Emang kemana istri kamu?" tanya Dahlia.


"Dia masih tidur," sungut Arga.


"Masih tidur. Ini sudah jam berapa?"


"Biarkanlah, Bu. Arga sangat pusing memikirkan Ratih," ucap Arga.


"Kamu harus tegas, Arga. Kamu kepala rumah tangga. Kamu jangan mau diinjak-injak terus oleh istri kamu!" tutur Dahlia. Dahlia membuatkan susu formula untuk Keyla. Namun Keyla menolak untuk meminumnya. Saat Dahlia memeriksa popok Keyla, ternyata Keyla buang air besar di sana.

__ADS_1


"Pantas saja dia menangis. Popok Keyla penuh!" ucap Dahlia.


"Benarkah?"


"Sudah, sebaiknya kamu lanjutkan sarapan saja! Urusan Keyla, serahkan kepada ibu!" Dahlia membopong tubuh Keyla masuk ke kamarnya. Dahlia membersihkan semua kotoran yang menempel di pantat Keyla, setelah bersih, barulah ia memandikan Keyla dengan air hangat.


Arga berpamitan kepada ibunya untuk bekerja. Tidak lupa dia mencium putri kecilnya yang sudah mandi dan wangi khas bayi.


"Papa kerja dulu, Sayang! Baik-baik sama nenek," ucap Arga.


"Hati-hati, Nak! Kerja yang semangat!" tutur ibunya.


"Arga, berangkat ya, Bu! Arga titip Keyla!" ucap Arga, kemudian dia berangkat ke kantor.


Dahlia melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Dia menitipkan Keyla kepada Mila.


"Mil, jaga Keyla sebentar. Ibu akan membangunkan kakak iparmu terlebih dahulu. Jam segini kakak iparmu belum bangun!" kesal Dahlia.


"Baik, Bu," jawab Mila.


Dahlia mendatangi kamar menantunya. Dan ia masih melihat menantunya tidur dengan sangat pulas di bawah selimut yang tebal. Dahlia menyibakkan selimut tersebut dan menggoyang-goyangkan tubuh Ratih agar bangun.


"Ratih, Bangun!" bentaknya. "Ratih, Apakah kau tidak tahu ini sudah jam berapa? Ayo Bangun! Jangan jadi istri pemalas Kamu! Ayo Bangun!" kesal Dahlia.


"Ada apa sih, Bu? Ratih masih mengantuk," ucap Ratih.


"Lihatlah, sudah jam berapa ini! Apakah kau tidak akan bangun? Suamimu saja sudah berangkat ke kantor. Istri macam apa kamu ini? Harusnya kamu mempersiapkan semua kebutuhan suami, tapi apa? Jam segini saja kamu baru bangun! Memangnya tadi malam kamu pulang jam berapa? Apakah kamu pulang larut malam?" marah Dahlia.


"Ratih ke rumah orang tua, Bu. Ratih bosan di rumah," jawab Ratih.


"Ke rumah orang tua kok pulangnya malam? Ibu tahu itu cuma alasanmu saja!" ketus Dahlia.


"Terserah ibu tidak percaya. Sekarang Ratih mau mandi," ucapnya sambil berlalu ke kamar mandi.


"Dasar menantu kurang ajar!" umpat Dahlia.


Ratih sudah mandi, dia mematut dirinya di depan cermin. Dia menutupi ruam-ruam merah di lehernya dengan make up. Dia berdandan sangat cantik, karena hari ini dia ada janji dengan seseorang.


Ratih keluar kamar menemui ibu mertuanya.


"Mau kemana lagi kamu?" ketus Dahlia.


"Ratih ada urusan. Tolong ibu jaga Keyla!" ucap Ratih dengan memberikan beberapa lembar uang ratusan. "Ini untuk ibu. Ibu bisa membeli semua kebutuhan Keyla dengan uang ini," ucapnya.

__ADS_1


"Tunggu! Uang dari mana sebanyak ini? Bukankah Arga hanya menjatah uang bulanan saja!" ucap Dahlia.


"Ibu tidak perlu tahu itu uang dari mana. Suamiku tidak bisa mencukupi kebutuhan istrinya, jadi, aku berusaha mencari uang dengan jalanku sendiri!" ucap Ratih. "Lagipula aku sudah mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar," imbuhnya.


"Apa?" Dahlia mengernyitkan alisnya.


"Baiklah, Ratih harus pergi. Kalau mas Arga bertanya, katakan kalau Ratih ada urusan!" ucap Ratih.


"Tapi .... !" belum menyelesaikan kalimatnya Ratih sudah pergi meninggalkan Dahlia. "Dasar menantu tidak sopan!" umpat Dahlia.



Amelia sedang sibuk di butik, kebetulan hari ini butiknya sangatlah ramai. Hingga semua karyawan di butiknya tidak ada waktu untuk bersantai-santai.



Tepat pukul empat sore, dengan terpaksa Amelia menyuruh pelanggannya untuk kembali besok, karena butik akan segera ditutup. Barulah semua karyawan-karyawannya bisa beristirahat, termasuk dirinya.


"Ah, Capeknya," ucap Fifin sambil mengelus-elus pergelangan kaki.


"Kaki ku juga sangat capek. Lihatlah, betisku bengkak," ujar Novi.


"Betismu memang sudah bengkak seperti kaki gajah," seloroh Fifin.


"Ish, Mba Fifin ini ini kalau ngomong selalu benar," jawab Novi membuat semua yang mendengarkan terkekeh geli. Amelia juga ikut tersenyum.


"Terima kasih buat semuanya yang sudah bekerja keras untuk memajukan butik ini. Sebagai imbalannya kalian akan mendapatkan bonus dua kali lipat dari gaji kalian," ucap Amelia. Tentu saja semua karyawan yang mendengarkan begitu bahagia dan bertepuk tangan.


"Wah, Keren Nyonya bos kita," ucap Novi.


"Asyik, dua kali lipat. Weekend nanti, aku mau ngajak jalan-jalan emak ke Ancol," ujar Novi begitu bahagia.


"Jalan-jalan kok ke Ancol? Memang Emak mu anak lima tahun," seloroh Rani.


"Emak saya memang sudah uzur, Mba Rani. Sifatnya sudah seperti bocah Lima tahun," jawab Novi. Semuanya terkekeh geli mendengar celotehan Novi. Novi adalah karyawan baru di butik, tubuhnya agak gemuk dan gempal, tapi tenaganya masih sangat gesit.



Semua jumlah karyawan di butik ada enam orang. Dan rencananya Amelia juga ingin menambah karyawan baru dan membuka cabang di mall mall.



to be continued.....

__ADS_1


__ADS_2